SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
PANJI BERTEMU AINI DAN MENOLAK AJAKAN WILDA


__ADS_3

Malam minggu suasana diskotik Rolex sangat ramai sekali. Banyak muda - mudi dari kalangan atas, juga dari kalangan pengusaha kaya dan banyak juga orang - orang Asing yang lagi mencari hiburan malam.


"Edi, jagain Panji dulu ya, aku mau ke kamar mandi," ujar Wilda kemudian berlalu.


Suasana dentuman musik membuat Edi tidak begitu faham atas ucapan Wilda. Edi pun asik dengan kesenangannya sendiri.


Dalam posisi setengah sadar setengah tidak... Sambil mengoyang - ngoyangkan kepalanya, Panji perlahan - lahan mundur kebelakang dan berhenti di samping meja yang tak jauh dari mejanya sendiri.


"Aini, lihat pemuda itu, dia mabuk berat," kata temannya yang duduk sambil geleng - geleng kepala.


Kalau di lihat dari senyum dan gaya dugemnya... Dia tidak mabuk minuman keras, terapi ngeflai akibat pengaruh inex no 1," kata Aini.


"Kelihatannya... Pemuda itu asik sekali."



Ketika Panji berdiri sambil geleng - geleng kepala di meja Aini... Tiba - tiba salah satu pengawal Aini mendorong tubuh Panji hingga agak menjauh. Namun Panji mendekati meja Aini kembali. Ketika salah satu pengawal Aini hendak mendorong Panji... Tiba - tiba Aini berkata,


"Stooop! Biarkan pemuda itu. Jangan bikin ribut di sini, bisa panjang urusannya."


"Tuan putri... Kami khawatir akan terjadi hal - hal yang tidak di inginkan terjadi pada Tuan putri."


"Wilda... Rokok!! Minta rokok," ujar Panji kemudian tangannya menjulur ke meja Aini.


"Pengawal! Biarkan dia," perintah Aini.


"Ini Bang rokok nya," kata Aini kemudian menyelipkan sebatang rokok di bibir Panji, lalu Aini menyulutnya.


Ketika cahaya meneranggi wajah Panji... Aini berkata lirih,


"Hemm cakep banget pemuda ini."


Tak lama kemudian, Panji dugem sambil berjalan ke belakang bersandar tembok, dekat kamar mandi.


Dalam keadaan ngeflai parah... Panji selalu di awasi oleh keamanan yang ada di setiap sudut ruangan, demi keselamatan pengunjung dan ketenangan diskotik.


Sementara...


Wilda yang dalam kondisi ngeflai, membiarkan Panji asik dengan sendirinya.


"Aku mau ke kamar mandi dulu," kata Aini kepada para pengawalnya.


"Baiklah Tuan putri," kata dua orang pengawal kemudian mengikuti Aini dari belakang.


Melihat dua orang keamanan ngobrol dengan Panji yang lagi jongkok... Aini yang kebetulan lewat melihat wajah Panji tersorot lampu penerangan Toilet, lalu berkata lirih,


"Bukankah itu pemuda yang minta rokok tadi? Ada masalah apa dia dengan keamanan?"


"Ada apa Pak," tanya Aini setengah mabuk.


"Gak ada apa - apa Non," jawab salah satu keamanan,


"Mas ini kelihatannya sedang ngeflai berat dan terpisah dari teman - temannya, jadi kami keamanan mau membantunya untuk mengantar ke meja teman - temannya."


"Ini teman saya Pak," kata Aini berbohong,


"Dia tadi pamit ke kamar mandi."


"Baiklah Non, silahkan," kata dua keamanan sambil mempersilahkan ke kamar mandi.


"Ayoo Bang ke kamar mandi," ajak Aini lalu menarik tangan Panji agar keamanan melihat seperti temannya .


"Tuan Puri," kata pengawalnya.


"Diam kalian," kata Aini membentak.


Panji pun berdiri lalu merangkul pundak Aini menuju kamar mandi. Setelah tersorot terangnya lampu kamar mandi... Panji pun silau dan mulai agak sadar.


"Bang... Cuci muka dulu biar enakkan, kencing sekalian biar reaksi inexnya berkurang," kata Aini menuntun Panji ke pintu kamar mandi laki - laki.


Setelah kencing dan cuci muka... Panji mendengar suara hatinya "Wudhu lah dan bacalah dzikir Duh Gusti Allah."


Setelah mendengarkan bisikan hatinya... Panji melepaskan sepatunya, kemudian wudhu di dalam kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi... Hati Panji melantunkan wirid Duh Gusti Allah, pemberian Mbah Wali Jabat.


Sambil berjalan pelan, Panji mulai agak ingat, dan berkata lirih,


"Sudah 1 tahunan aku tidak pernah ke Diskotik dan tidak pernah nelan inex juga minum Vodca. Begitu minum sedikit saja... Jadi ngeflai berat."


Begitu melewati meja Aini, Aini menyapa Panji,


"Bang, gimana!! Sudah enakkan?!!


"Minumlah susu beruang ini, untuk menetralkan pengaruh Inex dan Alkohol di dalam tubuh mu," kata Aini menyodorkan kaleng susu beruang.


"Terimakasih Mbak," ujar Panji menerima sekaleng susu beruang,


"Apakah kamu temannya Wilda? Kok menyapa ku dan memberi sekaleng susu beruang!!"


"Bukan," jawab Aini,


"Kenalkan, nama ku Aini."


"Aku Panji. Aku permisi dulu ya."


"Iya bang," kata Aini.


"Tuan Putri sepertinya mabuk berat, kita harus hati - hati dan harus ekstra menjaganya," kata salah satu pengawalnya.


"Hai Panji, dari mana aja?!! Kira'in di culik janda muda," ujar Wilda.


"Wilda, ayoo pulang," ajak Panji.


"Masih jam 2 Panji!! Bubarnya kan jam 5 Pagi," kata Wilda,


Tetapi, karena kamu baik hati... Baiklah kita balik.


Edi, Devi..! Aku balik dulu ya? Mau nemani Panji pulang.


Kalian lanjut deh, da da..."


"Ok, Wilda, Panji," kata Edi sambil mengacungkan jempol.


Setelah keluar dari Diskotik Rolex di lantai 7... Panji dan Wilda naik taxi. Tak lama kemudian, taxi pun sampai di depan Losmen Kartika.


Setelah turun dari taxi... Panji berkata,


"Wilda, di seberang jalan itu kayaknya ada gerobak soto ya?"

__ADS_1


"Iya, itu ada soto ada nasi goreng dan bubur ayam," kata Wilda,


"Panji mau makan?"


"Iya Wilda biar badanku normal dan sehat," jawab Panji,


"Kamu makan juga, biar sehat."


"Baiklah," kata Wilda kemudian mengandeng lengan Panji lalu menyeberang jalan.


Tak lama setelah makan soto dan minum teh hangat, Panji dan Wilda kembali ke Losmen.


"Wilda, kamu nginap sini saja," kata Panji,


"Istirahat tidur disini. Setelah keadaan mu sehat dan segar... Baru kembali ke kos - kossan besok."


"Hemmm, merayu ya?? Kamu pinggin tidur dengan ku ya? pinggin bercinta," goda Wilda,


"Baiklah, aku tidur sini sama kamu."


***


Setelah berada di kamar Losmen, Panji mandi membersihkan diri. Sementara Wilda duduk bersandar pada kursi di bawah cendela yang terbuka.


Sambil menikmati kepulan Asap rokok Dunhill... Tak sengaja Wilda melihat tumpukan uang di samping tas Eiger yang tergeletak di atas meja.


Sambil mendongakkan kepala, Wilda berkata lirih,


"Wau, banyak banget uangnya Panji!! Dari mana dia dapat duit? Apa dia anaknya pejabat..? Atau anaknya pengusaha?"


Sambil membuka pintu kamar mandi... Panji berkata,


"Ruli, Buruan mandi, lalu tidur istirahat."


"Panji..! Ruli siapa?!! Nama ku Wilda bukan Ruli."


"Sory sory!! Tak kira Ruli teman ku," ujar Panji tersenyum.


"Ya Allah... Lupa aku, kalau sekarang aku bersama Wilda di Jakarta, kata Panji dalam hati.


"Kamu gak mandi Wilda," tanya Panji kemudian duduk bersandar di kursi bawah cendela dekat Wilda.


"Iya ini mau mandi dulu," kata Wilda,


"Panji, kamu pakai sarung kayak anak pesantren aja, hahaha."


Ketika Wilda mandi... Panji menyulut rokok kemudian berkata lirih,


"Ternyata Wilda itu sangat cerewet sekali, hehehe.


Dia gadis cantik, bicara apa adanya, asal nyeplos, dan pemberani.


Di raut wajahnya tersirat rasa kesedihan yang sangat dalam, tetapi di sembunyikan di balik tawa dan cerianya.


Kelihatannya... Dia gadis yang baik hati, hanya saja, mungkin salah pergaulan dan hatinya seperti memikul beban yang sangat berat."


"Panji, ayo tidur," ajak Wilda sambil keluar dari kamar mandi tanpa busana, kemudian mendekati Panji.


"Tuan Panji," goda Wilda,


"Tuan Panji... Ayoo kita santai di atas ranjang."


"Wilda... kalau kamu capaik atau ngantuk... Tidurlah dulu, nanti aku menyusul."


"Bener nieh... Gak mau bercinta sama aku," tanya Wilda sambil melangkah lebih dekat ke arah Panji, lalu mencium Panji.


Melihat reaksi Panji yang tenang dan diam sambil tersenyum... Wilda pun berdiri lalu melangkah mundur, lalu mengenakan celana pendek dan kaos. Setelah itu Wilda duduk bersandar di kursi bawah cendela.


"Baru kali ini, ada lelaki menolak aku ajak bercinta.


Apakah tubuh ku kurang sexi bagi Panji?


Apakah wajah ku kurang cantik bagi dia... Atau aku kurang menggairahkan!! Penolakkan Panji ini adalah suatu penghinaan bagi ku. Aku merasa terhina sekali di hadapannya," kata Wilda dalam hati,


"Dia lelaki yang pantas untuk di jadikan suami."


"Panji, mengapa kamu menolak ajakan ku untuk bercinta!! Apakah kamu tidak ingin menikmati tubuh ku," tanya Wilda.


"Bukannya aku tidak mau bercinta menikmati tubuh mu, aku juga lelaki normal," jawab Panji,


"Tetapi... Aku sudah berjanji kepada Nenek Sa'adah, kalau aku tidak akan berzina dengan perempuan siapapun.


Aku harus menepati janji ku. Lelaki mana yang tidak ingin bercinta dengan gadis cantik seperti mu?"


"Oh... Gitu ya!! Kira'in aku tidak menggairahkan," kata Wilda,


"Berarti... Kamu benar - benar tulus ya, membelikan aku banyak baju, mahal - mahal lagi. Kamu benar - benar ikhlas mentraktir ku makan."


"Wilda... Aku membelikan baju kamu, juga mentraktir mu makan, mengajak kamu jalan - jalan, bukan niat aku untuk meminta imbalan tubuh mu," kata Panji,


"Kamu minta baju, ya aku belikan, kamu minta traktir makan ya aku traktir, itu karena aku punya uang, dan aku ikhlas. Kalau tidak punya uang... Yaa gak mungkin aku memenuhi permintaan mu."


"Panji... Boleh aku memeluk mu," tanya Wilda kemudian berdiri lalu memeluk Panji erat - erat dan berkata,


"Panji... Maafkan aku yaa? Aku sudah berprasangka buruk pada mu. Sekali lagi aku minta maaf."


"Sudahlah Wilda, duduklah kembali, aku tidak mempermasalahkan semua itu, dan aku sudah memaafkan mu," kata Panji,


"Kalau kamu ngantuk... Tidurlah. Kamu setiap hari tidur di sini juga gak apa - apa."


"Terimakasih Panji, aku jadi malu sama kamu," ujar Wilda,


"Kamu orangnya baik banget. Banyak lelaki menyakiti hatiku juga menghina dan merendahkan ku, hanya kamu lelaki yang sangat baik kepada ku. Memperlakukan ku dengan hormat. Oh iya? Siapa itu Nenek Sa'adah?"


"Beliau adalah orang yang sangat menyayangi ku, dan orang merawat ku," jawab Panji.


"Kalau Ruli... Siapa,?!!" tanya Wilda.


"Ruli adalah sahabat ku, dia-lah yang sering menemaniku kemana saja," kata Panji.


"Panji sudah punya pacar," tanya Wilda.


"Punya Wilda, Maya namanya, anak Surabaya juga.


Mulai dari SMP aku menjalin hubungan dengannya.


Tetapi... Sudah hampir setahun aku tidak pernah bertemu dengan Maya," jawab Panji.

__ADS_1


"Tak kira belum punya pacar kamu," kata Wilda,


"Kalau seandainya kamu masih sendiri... Aku mau jadi kekasih mu, hehehe."


"Wilda... Kita berteman saja, mau gak," tanya Panji.


"Boleh, gak apa - apa," kata Wilda.


"Hemmm, kamu kerja di mana," tanya Panji.


"Aku kerja di Bar Panji, menemani para tamu. Aku baru kerja juga, kira - kira 6 bulanan, itu pun terpaksa, makanya aku jarang masuk kerja, males setiap hari kerjanya mabuk terus. Kadang melayani tamu hidung belang di hotel," kata Wilda meneteskan air mata,


"Pinginnya kerja yang lain, tetapi gimana lagi, sulit cari kerjaan. Seandaikan ada kerjaan... Gaji nya pas - passan buat makan saja."


"Kalau Wilda mau... Kerja ikut aku saja," kata Panji.


"Kerja apa?!! tanya Wilda.


"Kerja menemani aku selama di Jakarta," kata Panji,


"Mau gak!! Kalau mau... Aku bayar kamu sebulan 50 ribu.


Gimana?"


"Yang benar kamu Panji?" kata Wilda terkejut,


"50 ribu ya..? Sebulan!"


"Iya," kata Panji.


Baiklah dil kalau gitu, aku mau," ujar Wilda,


"Dari pada kerja di Bar sebulan hanya 15 ribu.


Lalu kerjanya gimana?"


"Kamu datang seperti orang kerja pada umumnya.


Datang ke kamar Losmen jam 8 Pagi, pulang jam 4 Sore," ucap Panji,


"Makan minum, jajan, rokok aku yang tanggung semua.


Pokoknya kamu terima bersih 50 ribu perbulan."


"Aku mau tidur dulu ngantuk," kata Panji lalu berdiri dan merebahkan badannya di atas ranjang,


"Wilda... Kalau mau tidur, tidur sini saja di sebelah ku."


"Aku mau balik ke kos kossan aja ya? Dekat sini kok, di belakang Losmen," kata Wilda,


"Sekalian balikin barang belanjaan."


"Iya Wilda, silahkan," ujar Panji kemudian tertidur.


"Hemm, sudah tidur si Panji, lebih baik aku balik kos saja, istirahat, sudah hampir subuh," kata Wilda dalam hati, "Percuma juga tidur sama Panji, pasti di cuekin."


Waktu terus berlalu tak terasa jarum jam menunjukkan pukul satu Siang. Sementara, di kamar Losmen yang dingin ber-Ac, Panji masih tertidur pulas.


***


Tok tok tok!


"Panji," panggil Wilda kemudian masuk ke kamar. Melihat Panji masih tertidur pulas... Wilda membuka cendela, lalu duduk bersandar kemudian menyalahkan rokok.


"Panji," seru Wilda agak keras.


"Eeh, kamu Wilda, dari mana kamu," tanya Panji kemudian menarik selimut.


"Dari kos - kossan," jawab Wilda,


"Panji... Malah berselimut, ayoo bangun.


Apa yang harus aku kerjakan? Ini hari pertama kerja sama kamu."


"Kamu telpon ke dapur, pesan kopi, sekalian kamu pesan juga," ujar Panji kemudian bangun dan mandi.


"Baiklah," kata Wilda kemudian menghubungi pihak Losmen.


Setelah mandi... Panji duduk di bawah cendela kemudian menikmati kopi hangat bersama Wilda.


"Panji, tuh baju kotor taruh di keranjang, biar gak berserakan," kata Wilda.


"Kamu kan cewek!! Yaa dari pada gak ngapa - ngapain, Mending di bersiin kamar ini, bajuku di cucuin sekalian," kata Panji tersenyum.


"Aku bukan pelayan losmen loh ya," kata Wilda,


"Aku sesuai perjanjian kerja, aku hanya menemani mu saja."


"Siapa yang bilang kamu pelayan losmen," kata Panji tersenyum,


"Aku bilang dari pada gak ngapa - ngapain, itu pun kalau kamu mau. Kalau gak mau... Ya gak apa - apa."


"Oh gitu ya," kata Wilda.


"Aku ingin jalan - jalan ke Statistik Mall, temani aku ya," kata Panji kemudian berdiri,


"Ayoo Wilda."


"Baiklah," kata Wilda kemudian berdiri lalu mengikuti langkah Panji.


Setelah melewati beberapa blok pertokoan... Panji pun memasuki Statistik Mall menuju lantai 4, lalu menuju galeri toko perlengkapan muslim. Setelah membeli ruko dan sebuah tasbih... Panji pun mengajak Wilda jalan - jalan menelusuri trotoar kembali.


Ketika melihat tempat kursus computer... Panji berkata,


"Wilda, ikut aku masuk ke tempat kursus computer.


Aku ingin kamu pintar mengoperasikan computer."


"Gak mau Panji, lagian ngapain sih kursus computer," ujar Wilda sewot.


"Kalau begitu... Bagaimana kalau kamu kursus memasak atau menjahit," tanya Panji.


"Gak mau Panji, aku gak mau kursus apapun," kata Wilda.


"Hemmm, baiklah kalau begitu, kita balik ke losmen aja," kata Panji.


Setelah sampai di depan losmen Kartika... Panji berkata,

__ADS_1


"Ini sudah jam 5 Sore, Wilda kembali saja ke kos - kossan ya? Dan besok Pagi kembali lagi ke losmen untuk kerja."


"Baiklah Panji, aku balik dulu ya," ucap Wilda kemudian berlalu.


__ADS_2