SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
JIN KAMPUNG DAN PERTANDA MIMPI


__ADS_3

"Non Maya...


Makan malamnya sudah siap."


"Baiklah Bik, makasih ya Bik."


"Kak... Ayo kita makan malam, sudah jam 9.


Habis makan, kita tidur."


"Baik," kata Panji kemudian berdiri.


***


Pamit.


"Kak... Bangun, l" katanya mau ke bandara. Tiketnya jam 10:15 loh, ini sudah jam 9."


"Iya," jawab Panji kemudian bangun lalu mandi.


Setelah sarapan... Panji pamit,


"Maya... Kakak berangkat dulu ya, doakan Kakak selamat."


"Iya Kak, Aamiin...


Kok pake celana pendek dan kaos oblong sih..?


Besok kalau kakak pulang, aku belikan jas biar keren.


Masak presiden Direktur Hening Group kok kayak gini modelnya?"


"Di sana baju dan celana kakak banyak.


Jas juga ada.


Oh iya... Besok aku bawah dokumen - dokumen penting perusahaan, kamu simpan di rumah sini saja.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Maya sambil salim cium tangan.


***


Kota Tangerang.


Setelah turun dari pesawat... Panji berjalan menuju ruang tunggu.


Tiba - tiba..


"Mas..!"


"Hai Wilda," sahut Panji kemudian mendekat lalu berpelukan.


Setelah melepaskan pelukannya, Wilda berkata,


"Kamu itu Mas, sulit di bilangin, selalu pake celana pendek dan kaos oblong.


Bagaimana kalau di lihat relasi kerja ku..?


Gak malu kamu, aku istrimu jadi gunjingan di kalangan pengusaha..?


Mas ini kan sudah berkeluarga, punya istri..."


"Iya...


Nanti ganti pake kemeja, jas dan celana."


Setelah berada di dalam mobil,


"Mang, ke kota Tangerang ya, ke proyek Moll Striet."


"Baiklah Non."


Tak lama kemudian,


Mobil memasuki proyek pembangunan Moll.


"Mari Mas, disana pohon jambunya," ujar Wilda sambil mengandeng lengan Panji.


"Selamat siang presiden Direktur," sapa manajer lapangan PT Java.


"Siang juga Pak," sapa Wilda,


"Mari ikut saya, tunjukkan pohon jambu yang angker itu..."


"Baiklah Non Wilda."


Setelah berada di lokasi... Panji duduk di sebuah kayu di bawah pohon,


"Wilda... Menjaulah."


Setelah menyulut rokok marlboro... Panji menerawang pohon jambu yang tidak sebegitu besar.


Setelah menerawang dengan seksama, Panji berkata lirih,


"Ternyata pohon jambu itu adalah istana jin.


Di jaga ratusan pasukan bangsa jin.


Pantesan yang menebang pohon pada mati.


Tempat ini dulu... Adalah tanah liar yang rumbut tak terurus.


Baiklah,


Akan aku ajak negosiasi saja dulu."


Begitu Panji berjalan mendekati pohon jambu... Ratusan pasukan jin itu bersiap siaga hendak menyerang Panji.


Tetapi, pasukan jin penjaga itu berfikir 2x ketika melihat cahaya kemilau keluar dari cincin Taji Kubro yang melingkar di jari kiri Panji.


"Aku ingin ketemu dengan raja kalian, aku datang baik - baik," kata Panji.


"Ada apa kamu manusia mencari ku," teriak Raja Jin.


"Jin Kampung...


Aku ingin negosiasi dengan mu.


Tempat ini mau di bangun Moll sama istri ku.


Aku harap... Kamu dan rakyat mu pindah.


Aku mau mencarikan tempat yang layak untuk mu."


"Aku tidak mau..!


Mau apa kamu..!


Ini tempat ku sejak lama, kampung halaman ku.


Kalau kamu memaksa menebang pohon ini, akan aku bunuh kamu, dan akan aku celakakan semua pekerja proyek ini..!"


"Gini saja...


Kamu boleh tinggal disini, tetapi kamu jangan ganggu manusia lagi.


Dan pohon jambu ini akan tetap aku tebang.


Kamu cari istana lagi sekitar sini."


"Tidak mau, pergilah sebelum aku berubah pikirkan."


"Hemmm,


Anggel tuturane, gak bisa diajak Negosiasi.


Baiklah, jangan menyesal kamu.


Aryo Jagad..! Hadirlah, aku butuh bantuan mu."


"Assalamualaikum Gus...


Sendiko dawuh.


Apa yang harus saya kerjakan," ujar Aryo Jagad sambil membungkukkan badan.


"Dari mana kamu, kok pake celana pendek gak pake baju..?


Raja jin penguasa Alas Blandong kok modelnya kaya gini..?"


"Tadi saya mandi di sungai Gus. Karena Gus memanggil tiba - tiba... Saya tidak sempat ganti baju kebesaran."


"Nanti rambutnya di potong yang rapi. Rambut panjang sepinggang kayak pendekar saja..!"


"Sendiko dawuh Gus.


Siap di laksanakan."


"Apa Tanggerang ini wilayah kekuasaan mu..?"


"Sendiko dawuh Gus, benar.


Dari Jakarta hingga ke ujung kulon Banten... Adalah wilayah kekuasaan saya."


"Tolong... Nasehati anak buah mu itu, raja jin kampung.


Aku mau menebang pohon jambu, tetapi tidak boleh, malah dia mau membunuh ku."


"Baiklah Gus," jawab Aryo Jagad kemudian menoleh.


Begitu menoleh... Aryo Jagad melihat ratusan jin pada sujud di tanah ketika mengetahui kehadiran Aryo Jagad Raja jin penguasa kerajaan Alas Blandong.


"Siapa lurah nya," tanya Aryo Jagad.

__ADS_1


"Saya paduka...


Ampun... Maafkan saya paduka, Ampun.


Saya tidak tau kalau manusia ini junjungan paduka."


"Sini..! Berdiri mendekat," kata Aryo Jagad.


"Aryo Jagad... Jangan di hukum mereka.


Suruh pindah saja, dan perintahkan jangan pernah mengganggu pekerja proyek ini."


"Baiklah Gus."


"Kalian pindah cari istana lain.


Dan jangan sekali - kali mengganggu pekerja proyek sini," kata Aryo Jagad.


"Baiklah paduka, terimakasih atas kebaikan paduka."


"Berterima kasihlah pada Tuan Panji, karena Tuan Panji berbuat baik pada kalian.


Jika Tuan Panji memerintahkan bunuh... Aku bunuh kalian semua!"


"Baiklah paduka.


Terimakasih Tuan Panji..."


"Sekarang pergilah, carilah istana baru," kata Panji,


$Aku mau menebang pohon jambu ini."


"Baiklah Tuan," seru ratusan bangsa jin kemudian pergi.


"Aryo Jagad... Lergilah, lanjutkan kalau mandi.


Terimakasih bantuannya. Jangan lupa potong rambut biar ganteng. Kalau ganteng kan banyak yang naksir."


$Sendikoh dawuh Gus Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam."


Setelah mengambil kapak milik pekerja... Panji langsung menebang pohon jambu yang tidak seberapa besar.


Tak lama kemudian, pohon itu roboh.


Melihat pohon jambu roboh... Para pekerja yang melihat jadi terheran.


"Wilda... Mari kita pergi," ajak Panji.


"Sebentar ya Mas, aku mau bicara sama manajer lapangan sejenak."


***


"Mari Mas, kita pergi," ajak Wilda.


Setelah berada di dalam mobil... Panji berkata,


"Mau kemana kita..?"


"Kita istirahat di hotel saja ya..? Aku kengen sekali sama kamu, aku ingin berduaan sama suamiku," kata wilda manja.


"Baiklah."


"Mas... Aku lelah sekali mengurus bisnis ini. Harus selalu bepergian.


aku pingin punya sekretaris untuk mengurus semua bisnis ku," kata Wilda.


"Kamu telpon Leni saja, dia mahasiswi manajemen bisnis.


Dia orang ku. Sekarang dia kerja jadi manajer pemasaran di PT Holding Real Estate.


"Baiklah, nanti ketemuan saja di Bandung.


Ini Mas, aku kasih hadiah kalung untuk mu," kata Wilda kemudian memakaikan kalung di lehernya.


"Kalung apaan nieh..? Kok terbuat dari tali sepatu, liontin nya kunci lagi."


"Kalung ini mahal loh Mas, talinya saja aku beli di kota London Inggris, harganya sekitar 4 jutaan.


Talinya anti api, dan sulit putus walau di gunting sekalipun.


Karena terbuat dari serat pilihan.


Jangan sampai hilang, dan jangan di lepas atau di berikan orang lain."


"Iya...


ini liontin kunci bagus banget."


"Itu gantungan kunci dari bahan Titanium, harganya Trilyunan."


"Hahahaha..!


Mahal sekali, masak gantungan kunci harganya Trilyunan..? Kayak harga Hotel Hening."


"Iya...


"Baiklah, aku ucapkan terimakasih atas hadiahnya, walau aku tidak tau apa ke istimewanya kalung ini."


Setelah berada lobi Hotel,


"Mang sopir... Mang sopir ke kota Bandung dulu ya, atau Mamang istirahat pulang di Sukabumi. Besok aku ke Bandung soalnya."


"Baiklah Non Wilda."


"Selamat sore Tuan Panji," sapa Pak Erik manajer Hotel Hening Jakarta.


"Sore juga Pak Erik.


Tolong ambilkan kunci, dan antar aku ke kamar ku.


Sekalian siapakan makan siang ya."


"Baiklah Tuan Panji.


Silahkan ikuti saya. Habis ini, makan siang akan diantar."


Tak lama kemudian,


"Silahkan istirahat Tuan."


"Baiklah, terimakasih Pak Manajer."


Setelah menikmati makan siang, Panji dan Wilda renang, setelah itu istirahat.


***


Yayasan kasih ibu.


Malam itu... Seperti biasa.


Setelah ngaji membaca Al qur'an di Musolla, Maya tidur sendirian.


Tiba - tiba... Tengah malam Maya terbangun dengan terengah - engah kaget, lalu duduk di kursi taman samping kamar,


"Hemmm...


Mimpi buruk sekali, bertanda apa ya..?


Mimpi jalan di padang pasir di serang badai angin.


Lalu ketemu gunung. Aku berjalan menaiki gunung hingga di puncak. Dalam perjalanan naik gunung itu, aku berjumpa banyak macam - macam binatang buas.


Ketika aku hendak jatuh kejurang, ada seorang wanita yang menyelamatkan ku, karena gelap, aku tidak tau wajahnya.


Aku juga melihat dua Ekor Harimau putih mati di puncak gunung.


Walau aku selamat dari incaran binatang buas... Namun tubuh ku penuh luka.


Iya iya..


Aku ingat..!!!


yang terakhir, aku naik kapal. Di tengah samudera... Kapal itu tiba - tiba terbelah. Banyak orang mati tenggelam.


Aku pun juga tenggelam, namun, tiba - tiba kak Panji suami ku datang berenang, lalu menyelamatkan ku, hingga tiba di pantai.


Setelah itu, aku diajak terbang oleh suami ku.


Haduuuuh... Baru kali ini aku mimpi aneh.


Pertanda apa ini..?


Lebih baik aku tidur lagi, masih ngantuk."


Jam 11 siang pesawat lending di Bandara kota Bandung.


Setelah berada di dalam mobil, Panji berkata,


"Wilda... Nanti jam 7 malam Leni ngajak ketemu di cafe Dodo di Net Plaza.


"Baiklah Mas, aku mau langsung ke perusahaan ya."


"Baiklah, kalau begitu aku mau ke apartemen Intan."


Tak lama kemudian, Panji sudah berada di pintu apartemennya,


Ting Tung..!


Setelah pintu terbuka,


"Heee, kamu Mas," ujar


Bela berteriak kecil sambil memeluk Panji.

__ADS_1


Setelah menutup pintu... Bela membuatkan secangkir kopi.


"Ini Mas kopinya."


"Altar Mila sudah kembali dari kota Batam..? Kok sepatutnya ada."


"Sudah Mas, tadi malam dia datang. Sekarang dia masih tidur di kamar."


"Tumben jam segini masih tidur..?"


"Mungkin kelelahan."


"Kamu gak kuliah..? Kok jam segini ada di apartemen."


"Lagi malas kuliah mras, capek semua badan ku."


"Aku mau solat dzhuhur dulu ya. Buatkan aku indomie sayur."


"Baiklah Mas."


Setelah melepas cincin Taji Kubro dan melepaskan celana nya... Panji mandi dan bersuci.


Selesai solat dzhuhur... Panji melantunkan Dzikir ismudzat pelan - pelan.


Ketika berdzikir... Panji meneteskan air matanya.


Mata batin Panji melihat sesuatu, lalu berkata lirih,


"Innalillahi wa Innalillahi rojiun...


Mbah Wali Dirjo sebentar lagi akan tutup usia.


Syeh Abdul Jalil juga akan meninggal dunia.


Dan baru saja tadi malam Spiderman Al- Jawawi juga meninggal dunia.


Benar apa yang di katakan Syeh Hamdani."


Ketika menghentikan dzikir nya, dan berdoa... Panji melihat Maya menggendong nya di malam yang gelap.


Selesai solat dan dzikir... Panji menikmati indomie sayur di temani Bela yang duduk di samping nya.


Sambil makan, Panji berkata,


"Bangunkan Altar Mila."


"Baiklah Mas," jawab Bela kemudian beranjak.


"Selamat siang Godfather,* sapa Altar Mila kemudian salim mencium tangan Panji.


"Mila... Ada dimana dokumen surat kepemilikan Hotel Hening..?"


"Ada di lemari Godfather.


Semua dokumen perusahaan ada di lemari kamar Godfather."


"Tolong masukkan tas ya... Akan aku bawah ke Surabaya, aku akan menyimpan nya di rumah Maya istri ku."


"Baiklah Godfather."


"Habis ini... Temani aku dulu ke rumah Nona Aini."


"Baiklah Godfather, aku mandi dan ganti baju dulu," jawab Mila.


Selesai makan... Panji menyeruput kopi. Sambil menikmati kepulan asap rokok, Panji menulis cek sambil menunggu Mila.


"Bela...


Ini cek 1 Milyar untuk mu, pakailah uang ini untuk usaha.


Besok, aku akan pergi agak lama."


Mendengar perkataan Panji... Bela agak heran, lalu menerima cek sebesar 1 milyar,


"Terimakasih ya Mas...


Kebaik kan mu telah membuat ku jatuh cinta," ujar Bela kemudian memeluk Panji erat - erat.


Setelah melepaskan pelukannya, Bela berkata,


"Mas mau pergi kemana..?"


Belum sempat menjawab... Tiba + tiba Mila muncul dan berkata,


"Godfather...


Saya sudah siap."


"Mila...


Ini cek 1 milyar untuk mu, terimalah.


Pakailah uang ini untuk usaha membangun kos - kossan dan ruko."


"Baiklah Godfather, terimakasih banyak atas kebaikan nya."


"Mari kita pergi," ajak Panji.


***


Dalam perjalanan... Di dalam mobil, diam - diam Panji menerawang masa akan datang, tentang apa yang di lihatnya.


Walau Panji melihat dengan jelas kejadian akan datang... Panji tidak berkata apa - apa, hanya meneteskan air mataya, sambil berkata dalam hati,


"Sebelum semuanya terjadi... Aku akan mempersiapkan semuanya.


Sehebat - hebatnya seseorang, tidak akan bisa menembus garis takdir kepastian gusti Allah, begitupun guru - guru ku."


Setelah memarkir mobilnya... Panji keluar dari dalam mobil lalu berjalan menuju pintu rumah,


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam Mas," jawab Aini kemudian salim dan langsung memeluk Panji erat - erat.


"Eeeh, Nak Panji," sahut Kakek Cahyadi,


"Ayoo masuk."


"Iya Kek," jawab Panji.


Melihat ada Mama nya Aini dan Pak Hong Shi di ruang keluarga... Panji langsung duduk di ruang tamu.


"Duduk sini Aini, di samping ku."


"Iya Mas."


"Perut nya semakin besar ya..? Bayi nya mau lahir ini...?"


"Iya Mas, kata dokter... Bulan depan lahir," jawab Aini bahagia,


"Besok... Kalau melahirkan, Mas tungguin aku di rumah sakit ya?


Biar aku ada tidak khawatir."


"Baiklah Aini, kamu telpon saja, aku pasti datang."


Setelah temu kangen... Jam 7 malam Panji pamit,


"Kakek...


Panji mau pamit dulu."


"Iya Nak Panji, sering - sering menjenguk Aini ya?"


"Iya Kek.


Aini... Aku pergi dulu ya," kata Panji lalu memeluk Aini penuh kasih sayang,


"Jangan menangis Aini...


Walau kita tak lagi bersama, aku tetap mencintai mu."


"Iya Mas.


Tetapi... Hati ku sangat khawatir sekali malam ini.


Kamu hati - hati ya?"


"Iya Aini.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Mila...


Mari kita pergi ke Net Plasa."


"Baiklah Godfather."


Sambil nyetir mobil... Panji berkata,


"Besok... Kamu pergi ke Surabaya ya. Antarkan dokumen yang ada di lemari ke Maya istri ku.


Bilangin, suruh menyimpan dokumen itu baik - baik."


"Iya Godfather."


Setelah memarkir mobil di area parkir Net Plaza, Panji mengambil dompet untuk membayar parkir,


"Aduuuuuh..! Dompet ku ketinggalan. Aku tadi ganti celana pendek kok tidak aku ambil dompetnya!


Cincin Taji Kubro juga ketinggalan di meja kamar waktu aku mandi tadi."


"Apa perlu saya ambilkan dompet dan cincin nya sekarang juga, Tuan..?"

__ADS_1


"Gak usah Mila, entar malam juga ke apartemen kok.


Kamu bayar parkirnya kalau begitu."


__ADS_2