
Melihat uang satu kantong plastik... Kyai Danwari percaya sambil manggut - manggut.
"Pak Dhe, Hanan mau ke makam dulu sama kak Aisyah."
"Baiklah Gus.
Kamu suruh Pak Toni saja, dia tukang yang sering betulin bangunan pesantren."
"Baiklah Pak Dhe. Ayo kak Aisyah.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah berada di rumah Pak Toni, Aisyah berkata,
"Pak Toni... Kira - kira habis berapa membuat atap dan dinding untuk makam di pesantren?"
"Bahannya apa Nyai..?"
"Lantainya dari marmer dan dinding nya dari kayu jati ukir, atap nya dari genting cor."
"Habis banyak Nyai, yang mahal itu marmer nya dan dinding kayu jati ukir," kata Pak Toni,
"Untuk kayu jati ukir itu saja... Kemungkinan 30 juta. Lantai marmer nya 20 jutaan.
Paling semuanya habis 50 jutaan lah Nyai."
"Baiklah Pak Toni," ujar Hanan,
"Saya ingin makam mbah wali Kukun juga di bangun. Tempatnya di pojok makam.
Ini ada uang 50 juta. Saya percayakan pada Pak Toni untuk beli bahan. Untuk ongkos tukang dan bahan lainnya, besok ya Pak, uangnya."
"Baiklah Gus, terimakasih atas kepercayaan nya."
"Sama - sama Pak Toni.
Berapa lama Pak, kira - kira selesainya..?"
"Kalau di kerjakan 2 tukang dan 4 kuli, 1 bulanan Insallah selesai Gus. Tetapi itu hanya pendopo makam loh Gus. Belum permintaan lainnya."
"Baiklah Pak Toni saya permisi dulu. Bangunan lainnya menyusul saja," kata Hanan,
"Kalau bisa tambah tukang dan kuli ya pak, biar cepat selesai."
"Baiklah Gus, kalau begitu saya akan beli bahan untuk kerja besok."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
***
Kota Bandung.
Kring..!
Hp Maya berdering. Setelah tersambung,
"Siang Maya..."
"Siang juga Aini."
"Maya... Kamu di mana?
Ini aku lagi mau ke rumah sakit Harapan. Kelihatannya, aku mau melahirkan."
"Alhamdulillah...
Baiklah Aini, sekarang juga aku terbang ke kota Bandung. Ini aku lagi istirahat di hotel Atlanta Jakarta."
"Loh, kenapa gak istirahat nginap di king hotel milik ku, atau di hotel Hening milik Mas Panji..?"
"Di Hotel Atlanta saja, dekat sama makam Mbah Wali Dirjo, tinggal nyebrang."
"Oh gitu, ya sudah, aku berangkat dulu ya.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah ganti baju... Maya keluar kamar bersama Altar Mila menuju resepsionis untuk membayar administrasi.
"Mila... Kamu telpon agen tiket pesawat ke Bandung untuk sekarang."
"Baiklah Nyonya," ujar Mila kemudian menelpon agen sambil melunasi tagihan hotel.
Melihat Ruli berjalan di lobi bergandengan dengan seorang lelaki... Maya menyapa,
"Ruli..?
Bukankah kamu Ruli istrinya mas Panji..?"
"Apa kamu Maya..?"
"Iya aku Maya, juga istrinya Mas Panji. Mengapa kamu jalan bergandengan tangan dengan lelaki lain..?"
"Maaf ya Maya...
Aku dan Panji sudah tidak ada hubungan apa - apa. Kami sudah bercerai. Dan lelaki ini adalah suamiku."
"Oh begitu ya...
Kamu tau keadaan Mas Panji sekarang..?"
"Aku tidak mau tau tentang kabar Panji suami mu," kata Ruli dengan wajah angkuh,
"Biar gini, biar gitu persetan!"
"Sombong amat. Sudah lupa asal usul mu..!
Bagaimana pun, Mas Panji sangat berjasa sekali terhadap kesuksesan mu saat ini."
"Sudahlah...
Lupakan masa lalu. Yang penting hidup ini saat ini. Jangan campuri kehidupan ku, dan jangan ungkit ungkit masa lalu ku."
"Ingat kata - kataku. Sebentar lagi kamu akan mengemis - ngemis kepada ku juga pada Mas Panji suami ku, karma itu pasti akan datang," kata Maya kemudian pergilah meninggalkan Ruli dan suaminya.
***
Kota Bandung.
Jam 4 sore pesawat lending di Bandara Hasanuddin Bandung.
Maya dan asisten Mila langsung menuju rumah sakit Harapan.
Setiba di depan ruang kamar vip persalinan, Maya uluk salam,
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Non Maya," jawab Kakek Cahyadi.
Setelah sungkem, Maya berkata, "Bagaimana kek dengan Aini. Apa sudah melahirkan..?"
"Masih dalam proses Maya. Duduklah, sebentar lagi juga sudah selesai."
Tak lama kemudian, Aini keluar dari ruang persalinan dengan dua bayi yang di gendong dua orang suster.
"Selamat Tuan, cucu Tuan kembar putra dan putri," kata dokter.
"Alhamdulillah...
Terimakasih dokter."
"Selamat ya Aini...
Semoga putra putri mu menjadi anak yang berbakti," ujar Maya.
"Aamiin," sahut Aini tersenyum bahagia.
***
__ADS_1
Kota Purwakarta.
Tok tok tok..!
Mendengar pintu terketuk... Panji membuka kedua matanya lalu berdiri dan membuka pintu.
"Selamat sore Tuan," ujar seorang pelayan losmen.
"Sore juga."
"Ini jatah makan siang untuk Tuan."
"Bawa masuk saja," kata Panji.
"Baiklah Tuan," ujar pelayan kemudian meletakkan talam di atas meja, lalu keluar.
"Mata ku ngantuk sekali. Heran aku. Tidur dari semalam hingga sore hari masih saja ngantuk."
Setelah menikmati makan di kamar, Panji berkata lirih,
"Hemmm, rokok habis, uang habis. Lebih baik aku jual jam Rolex ini saja, kemudian keluar kamar.
Sore itu Panji berjalan menelusuri trotoar kota Purwakarta. Tiba - tiba ada seorang lelaki setengah baya berpakaian lusuh duduk sambil merokok di trotoar pinggir jalan menyapa Panji.
"Gus... Jam nya di jual berapa itu..?"
Mendengar pertanyaan seorang gelandangan, Panji sangat terkejut dan menghentikan langkahnya.
Melihat wajah kyai Abdul Latif Tuban sang wali Mastur... Panji langsung uluksalam, lalu duduk kemudian salim dan mencium tangan kyai Abdul Latif.
"Berapa kamu jual jam tangan mu itu," tanya kyai Abdul Latif sang wali gila asal Tuban.
"Dulu... Waktu beli di Jogja, harganya kalau gak salah 24 juta kyai. Kalau kyai senang dengan jam ini, silahkan ambil saja untuk kyai, gratis," kata Panji sambil melepas jam tangannya kemudian menyodorkan ke kyai Abdul Latif.
"Hahahaha..!
Emang aku miskin kamu kasih gratis, ha..!!
Kamu sudah gak punya apa - apa, butuh uang, kok masih ngasih barang gratis ke aku.
Kamu jual berapa, kamu bilang!"
"Tidak kyai. Untuk kyai ambil saja, beneran gratis."
"Masih saja sombong ngasih gratis."
"Terserah kyai sajalah, mau di beli berapa saja akan saya terima."
"Baiklah, aku beli 1 juta bagaimana?"
"Iya kyai, tidak apa - apa," jawab Panji.
Setelah merogoh kantong saku celana kumalnya... Di tangan kyai Abdul Latif menggenggam uang baru lembaran 10 ribuan.
'Ini ambillah, habis solat Magrib aku tunggu di kota Indramayu," kata kyai Abdul Latif kemudian memakai jam Rolex milik Panji.
"Kyai... Apa saya boleh tanya sesuatu..?"
"Tanyalah, gratis."
"Mengapa aku sekarang kok ngantuk an..? Tidur dari jam 7 malam, bangun jak 4 sore."
"Itu proses kesembuhan mu Gus. Kepala mu habis terbentur keras. Jadi, semakin kamu banyak tidur, urat saraf halus di kepala mu akan perlahan - lahan singkron kembali. Kembali ke jalur asalnya.
Semua itu butuh proses."
"Apa kyai bisa mengobati luka dalam di kepala ku..?"
"Hahahaha..!
Guru mu saja tidak berani mengobati mu. Bahkan kyai Jabat pun tidak berani mengobati mu, apalagi aku?"
"Mengapa guru ku tidak mau mengobati ku, padahal guru ku mampu dan bisa?"
"Bukan bagiannya," sahut kyai Abdul Latif,
"Yang bisa mengobati luka di kepala mu adalah seorang wanita dari kabupaten Indramayu. Makanya kamu aku suruh kesana."
"Siapa dia dan dimana alamatnya, kyai..?"
Sekarang kamu berangkat ke kabupaten Indramayu," kata kyai Abdul Latif.
"Baiklah kyai," ujar Panji kemudian sungkem dan pergi ke losmen lagi.
Sesampainya kamar losmen... Panji terkejut melihat jam Rolex nya ada di atas meja.
"Jam Rolex ku di kembalikan oleh kyai Abdul Latif. Hebat juga kekeramatan kyai gila itu," ujar Panji sambil memakai jam Rolex kemudian pergi ke resepsionis losmen.
"Mbak... Mau bayar sewa kamar, atas nama Panji. Berapa Mbak..?"
"Maaf Tuan, sudah di bayar barusan."
"Siapa yang membayarnya..?"
"Maaf Tuan, saya tidak tau namanya. Ciri - cirinya... Orangnya berpakaian seperti gelandangan.
Oh iya, ini ada titipan tiket Trevel untuk Tuan, dengan Tujuan kota Indramayu."
"Di mana alamat kantor trevel ini," tanya Panji sambil menerima tiket.
"Trevel dari losmen ini Tuan. Bapak tadi telah mencarter mobil mini bus untuk tujuan kota Indramayu.
Jadi... Hanya Tuan saja penumpang nya."
"Kapan bisa berangkat ke kota Indramayu Mbak..?"
"Sekarang juga bisa Tuan."
"Berapa jam Mbak dari kota Purwakarta ke kota Indramayu..?"
"Sekitar 3 jam Pak."
"3 jam," kata Panji lirih,
"Tadi kyai Abdul Latif menunggu ku di kota Indramayu sehabis solat Magrib. Sekarang jam 5 sore. Setengah jam lagi sudah Adzan Magrib.
Apa bisa..? Mobil trevel ini sampai kota Indramayu setengah jam..!
Dasar wali gila. Kalau kepala ku gak sakit, pasti aku kerjain ganti!"
"Baiklah Mbak, kalau begitu sekarang juga aku mau berangkat."
"Baiklah Tuan, akan saya panggilkan sopirnya. Kalau mobilnya sudah siap itu di depan losmen," kata si mbak kemudian memanggil sang sopir.
Tak lama kemudian,
"Mari Tuan Panji, silahkan masuk mobil," kata pak sopir
Setelah menghidupkan mesin mobil, pak sopir melajukan mobil perlahan - lahan menuju arah pinggiran kota.
Setelah menyulut rokok jie sam sue, si sopir berkata dalam hati,
"Tumben gas mobil ini ringan sekali. Tarikannya terasa enteng, gak seperti biasanya. Aneh..!
Apa habis di servis ya..?
Tetapi yang servis juga aku biasanya.
Loh..! Baru menyulut rokok kok sudah sampai kecamatan Pamanukan Subang..?"
Karena penasaran... Mas sopir berhenti di pinggir jalan dan bertanya kepada beberapa orang.
Setelah itu, mas sopir kembali ke mobil. Melihat Panji tidur, si sopir kembali melajukan mobilnya.
Sambil menghisap rokok, sang sopir berkata lirih,
"Iya, benar ini kecamatan Pamanukan kabupaten Subang. Orang yang aku tanya juga bilang ini daerah Pamanukan Subang.
Aneh..! Baru menyulut rokok dan menghisap beberapa kali sudah sampai sini..?"
Tak lama kemudian si sopir terkejut kaget sekali lalu berkata,
"Loh..! Kok sudah sampai pasar patrol Indramayu..?
__ADS_1
Rokok sebatang belum habis kok sudah sampai kabupaten Indramayu ya..!
Jangan jangan... Tuan Panji penumpang ku ini makhluk halus.
Tidak tidak, dia manusia bukan jin."
"Tuan Panji... Tuan pranji..."
"Iya mas sopir," sahut Panji kemudian bangun membuka kedua matanya.
"Mas, sudah sampai pinggiran kota Indramayu."
"Jam berapa sekarang Pak," tanya Panji.
"Belum Adzan Magrib Tuan."
"Apa..!
Belum Adzan Magrib," ujar Panji kaget kemudian menyulut rokok marlboro.
"Cepat sekali mas nyopir nya..!"
"Gak tau juga Tuan, tiba - tiba sudah sampai kabupaten Subang, tiba - tiba sudah sampai pasar patrol Indramayu.
Saya yang nyetir mobil juga bingung..!
Biasanya juga 3 jam baru sampai kota Indramayu. Ini kok setengah jam kurang sudah sampai pinggiran kota Indramayu?"
Mendengar kata - kata si sopir yang heran penuh tanda tanya... Panji diam saja sambil menikmati kepulan rokok marlboro, dan berkata dalam hati,
"Ini pasti kelakuan kyai Abdul Latif si wali gila itu."
"Tuan mau turun di mana..?"
"Turun di Alun - Alun kota saja Pak."
"Baiklah Tuan."
****
Kota Bandung.
“Maya... Kamu kasih nama anak - anaknya Mas Panji ya," ujar Aini sambil berbaring.
"Kasih Nama Ahmad Hening Al Ghifari saja. Adiknya kasih nama Nisa Hening fanani."
"Bagus juga tuh namanya."
"Aini... Aku besok kembali ke Surabaya ya. Aku harus mengurus yayasan di sana.
Lagian... Mas Panji sulit untuk temukan.
Biar anggota organisasi The Bluss yang mencarinya."
"Apa kamu tidak nginap saja di rumah ku, sehari dua hari sambil menunggu ku pulang."
"Baiklah, aku temani kamu hingga pulang. Setelah itu aku aku pulang ke Surabaya."
***
Kota Indramayu.
Setelah solat Magrib di masjid yang tak jauh dari alun - alun, Panji menikmati secangkir kopi dan kepulan asap rokok di sebuah warung pinggir jalan alun - alun.
Tiba - tiba kyai Abdul Latif sudah ada di samping Panji, dan berkata,
"Gus, mari ikuti aku jalan kaki."
Melihat kyai Abdul Latif berada di sampingnya... Panji sangat terkejut, lalu berkata,
"Baiklah kyai.
Bikin kaget saja, dasar wali gila!"
Melihat kyai Abdul Latif berjalan sangat cepat seperti terbang, Panji akhirnya membaca mantra ilmu lipat bumi untuk mengimbangi kecepatan jalan kaki kyai Abdul Latif.
Tak lama kemudian... Kyai Abdul Latif berhenti, lalu berkata,
"Gus... Di pinggir pantai Glayem ini, ada sebuah rumah yang halamannya ada pohon beringin, dan ada musholla nya.
Pergilah ke sana, temuilah Nyai Farah. Nyai Farah sedang menunggu mu.
Dialah orang yang mempunyai bagian untuk mengobati luka dalam di kepala mu.
Aku ingin pulang dulu mau ngopi."
"Baiklah kyai, Assalamualaikum," jawab Panji kemudian pergi.
Setelah menemukan rumah yang halamannya ada pohon beringin... Panji masuk lalu mendekati musholla.
"Assalamualaikum," ucap Panji.
"Waalaikumsalam," jawab Nyai Farah yang lagi wirid di dalam musholla,
"Gus, wudhu dulu, kamu imami solat Isak ya. Ini sarung dan baju baru mu."
"Baiklah Nyai," jawab Panji kemudian pergi wudhu, lalu memakai sarung hijau dan baju putih
Setelah solat Isak berjamaah... Panji mendengar bisikan goib suara Nyai Farah,
"Gus... Lakukan Dzikir Diatas Tirai di tujukan untuk ahli kubur dan Masyarakat kabupaten Indramayu.
Kemudian hadiakan surat Al Fatihah satu juta untuk alam semesta beserta isinya. Lalu Hadiahkan sholawat jibril satu juta untuk orang - orang yang tersesat."
"Baiklah Nyai," jawab Panji kemudian bertawasul, lalu melantunkan Dzikir Diatas Tirai.
Setelah dua jam, pranji mengakhiri wiridnya dan menutup dengan doa.
"Gus... Silahkan makan dulu bersama saya."
"Baiklah Nyai," jawab Panji terus mengikuti Nyai Farah masuk ke dalam rumah menuju ruang makan.
Setelah duduk,
"Mari Gus silahkan makan yang kenyang."
"Iya Nyai," jawab Panji terus mengambil nasi dan lauk.
Sambil makan... Panji mencoba untuk menerawang keadaan rumah Nyai Farah. Namun, ketika berusaha menerawang, kepalanya terasa sakit.
"Sakit kepalanya ya Gus," kata Nyai Farah tiba - tiba.
"Iya Nyai."
"Jangan di pakai memikirkan hal - hal yang sulit dan rumit dulu. Konsentrasi makan ya?"
"Iya Nyai."
Di saat makan malam... Panji mendengar riuh suara perempuan menghafalkan alfia di musholla.
"Nyai... Suara siapa itu..?"
"Itu suara santri ku Gus, mereka sedang menghafalkan Alfiah di musholla depan."
Baru selesai makan malam... Nyai Farah mendapat pesan goib,
"Assalamualaikum Nyai..."
"Waalaikumsalam sryeh Hamdani
Ada kabar apa untuk ku..?*
"Innalillahi wainnalillahi rojiun.
Syeh Abdul jalil Al Qurtubi telah wafat malam ini bakda solat Isak
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Syeh.
Alhamdulillah, Innalillahi wa Innalillahi rojiun."
"Gus... Duduklah di bawah sini," ujar Nyai Farah yang duduk di kursi ruang makan.
__ADS_1
Setelah Panji duduk di atas lantai, Nyai Farah membuka botol minyak sambung.
Setelah mengoleskan minyak sambung di kedua telapak tangan... Nyai Farah kemudian memijat kelapa Panji pelan - pelan.