SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
PERCERAIAN AINI


__ADS_3

Di hadapan Panji... Raja jin Damdami tidak berkutik.


"Raja Damdami... Aku beri kesempatan sekali lagi, kalau kamu membiarkan pekerja bekerja dengan tenang... Dan kamu tidak menganggu proyek milik istri ku, aku akan melepaskan mu. Kalau kamu masih menggangu proyek milik istri ku... Maka aku akan menghukum mu."


"Baiklah Tuan, aku berjanji tidak akan menganggu para pekerja proyek lagi."


"Dimas Naga... Lepaskan rlRaja Damdami," ujar Panji.


"Baiklah Gus."


"Raja Damdami... Aku minta, kamu membebaskan ruh ketiga anak perawan itu, biarkan mereka kembali ke keluarganya.


Kedua...


Kamu dan seluruh rakyat mu, jangan pernah lagi mengganggu bangsa manusia.


Jika kamu melanggar perintah ku... Aku akan mengurung mu di dalam kawah Gunung Kelud."


"Baiklah Tuan, saya berjanji akan menuruti perintah Tuan."


"Sekarang... Kembali lah ke alam mu," ujar Panji,


"Aryo Jagad, Gesang Madrid dan kamu Dimas Naga... Kembali lah.


Jika aku membutuhkan bantuan mu, maka, aku akan memanggil mu."


"Sendiko dawuh Gus," ujar ketiga pengikut Panji kemudian pergi.


*


Hotel Lili.


Wilda... Mari kita pergi," ujar Panji yang berdiri di depan meja,


"Sudah jam 9 malam, aku ingin istirahat sejenak."


"Baiklah Mas.


Pak Heru... Tolong antar kami ke hotel."


"Baik Bu, saya sudah siapkan kamar hotel untuk ibu," ujar Pak Heru kemudian menghidupkan mesin mobil.


Setelah Dldi hotel mandi membersihkan badan, Panji dan Wilda menikmati makan malam di restoran hotel.


Ketika lagi menikmati makan malam... Tiba - tiba ada 3 ruh mendatangi Panji, dan berdiri di hadapan meja makan.


"Selamat malam Tuan..."


"Selamat malam juga," jawab Panji,


"Kamu siapa dan mau apa?"


"Kami adalah 3 ruh gadis perawan korban tumbal jembatan kirkit 140 tahun yang lalu.


Kami kesini menemui Tuan, untuk mengucapkan terimakasih kepada Tuan.


Berkat kebaikan Tuan... Kami telah di bebaskan dari lingkaran goib kerajaan kirkit."


"Iya iya, sama - sama.


Berapa umur kalian sekarang?"


"Umur kami 149 tahun Tuan.


Tuan... Kalau tidak keberatan, bisakah Tuan menebus kebebasan siksa di alam Ruhaniah?"


"Baiklah, setelah ini... Akan aku tebus kebebasan kalian di alam Ruhaniah.


Agar kalian bisa hidup bahagia di alam selanjutnya," ujar Panji,


"Kamu tunggu ya, aku masih menyelesaikan makan malam bersama istri ku."


"Baiklah Tuan."


"Mas... Ngobrol sama siapa," tanya Wilda.


"Sama arwah korban tumbal jembatan Kirkit.


Kalau sudah selesai... Mari kita ke kamar."


"Baiklah Mas, aku bayar dulu."


*


Di Balkon hotel... Panji duduk di sebuah kursi sambil menikmati kepulan asap rokok.


Sementara... Ke 3 arwah itu duduk di lantai.


Sambil merokok, Panji menghubungi Syeh Abdul Jalil guru nya,


"Assalamualaikum Syeh..."


"Waalaikumsalam Gus."


"Syeh... Bagaimana cara membebaskan ruh supaya tidak tersiksa di alam Ruhaniah?"


"Kamu bacakan wirid surat Al ikhlas 100 ribu, di hadiahkan untuk ruh tersebut.


100 ribu itu hanya untuk 1 ruh saja Gus."


"Baiklah Syeh, terimakasih atas petunjuknya.


Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam."


Setelah wudhu... Panji duduk bersila, lalu melantunkan wirid surat Al ikhlas 300 ribu.


Tak seberapa lama... Cahaya hitam yang menyelimuti tubuh ke 3 ruh itu berubah menjadi putih.


"Sekarang... Kalian pergilah, aku sudah menebus kebebasan kalian di alam Ruhaniah," kata Panji.


"Baiklah Tuan, kami sangat berterimakasih sekali.


Suatu saat... Kami akan membalas kebaikan Tuan," ujar ke 3 arwah itu kemudian terbang ke alam Ruhaniah.


"Mas... Gak pingin tidur dengan ku," sapa Wilda.


"Nanti habis solat Subuh saja ya..? Aku masih ada suluk ritual khusus.


Kamu istirahat saja dulu sambil nonton tv parabola."


"Baiklah Mas," ujar Wilda kemudian menyalahkan Tv.


Sementara... Panji solat di kamar sebelah kamar ruang tamu.


Melihat Tv parabola... Wilda sangat terkejut sekali, karena ada berita kriminal yang mengaitkannya nama organisasi The Bluss.


"Masih dalam penyelidikan pihak kepolisian," gumam Wilda pelan,


"Ada 6 preman terminal Joyoboyo luka parah, patah kaki dan tangan yang terbaring di rumah sakit.


Hemmm... Jangan - jangan pelakunya Anton si Naga Selatan, karena dia panglima perang organisasi The Bluss wilayah Jawa Timur, dan markasnya ada di Surabaya.


Lama sekali aku tidak pernah kumpul sama anggota organisasi The Bluss.


Berita yang aku dengar... Katanya organisasi The Bluss sudah bubar.


Apa itu hanya isu saja ya..?


Coba aku tanya kan pada suami ku nanti, dia kan ketua organisasi The Bluss, mengantikan Ledy."


***


Adzan Subuh terdengar sayub - sayub, lalu Panji mengakhiri dzikirnya, dan mendekati Wilda yang tertidur pulas,


"Wilda... Vagun sayang, solat Subuh dulu."


Merasa pipinya ada yang mencubit... Wilda membuka kedua matanya,


"Eeeh suamiku."


"Ayo bangun solat Subuh dulu."


"Baiklah Mas," ujar Wilda kemudian bangun lalu mengambil air wudhu.


Setelah selesai solat, Panji merebahkan badan di tempat tidur.


"Mas, mau minum kopi panas..? Kalau mau aku pesankan."


"Boleh boleh," sahut Panji lalu bangun kemudian duduk di balkon hotel.


Tak lama kemudian... Pelayan hotel mengantar secangkir kopi hitam dan secangkir teh hangat juga pisang goreng.


Sambil menikmati secangkir teh, Wilda berkata,


"Mas... Ada berita di Tv tadi, katanya, pihak kepolisian akan menyelidiki kasus penganiayaan 6 preman yang terluka parah di terminal Joyoboyo Surabaya. Anggota organisasi The Bluss di curigai sebagai pelakunya.


Apa kasus ini kamu Mas, pelakunya..?"


"Iya, aku yang bertanggung jawab atas kasus itu.


Tetapi... Ke 6 preman itulah sebenarnya yang salah.


Menurutku, pihak kepolisian akan sulit mengungkap kasus ini. Selain kasusnya kecil. Organisasi The Bluss sulit di lacak, karena... Anggota nya tidak berkumpul di satu tempat, dan tidak saling mengenal kecuali petingginya saja."


"Mengapa tidak kamu bubarkan saja organisasi The Bluss," tanya Wilda.


"Kalau di bubarkan... Kasihan anggota bawah dan menengah, mereka mengandalkan hidup dari pekerjaan di bidang jasa keamanan dan pengawalan.

__ADS_1


Kalau aku bubarkan... Bagaimana nasib mereka selanjutnya. Mereka juga punya anak istri.


Kalau anggota kalangan atas sih, enak saja, mereka banyak uangnya.


Lagian... Organisasi The Bluss banyak menghasilkan uang kas ratusan juta perbulan."


"Iya ya... Di setiap proyek PT Java saja pasti ada anggota organisasi The Bluss," kata Wilda,


"Oh iya Mas...


Aku ingin mendirikan pabrik pengolahan kayu di Samarinda.


Bagaimana pendapat Mas?"


"Bagus, gak apa - apa buka saja. Pokoknya... Sesibuk apa pun, kamu jangan ningalin solat 5 waktu.


Hemmm, bagaimana kalau aku ikut nanam saham 49%?"


"Gak usah nanam saham Mas, nanti aku dirikan perusahaan pengolahan kayu di kota Pontianak atas nama mu.


Tetapi... Modalnya dari kamu ya? Hehehehe."


"Iyaaaa...


Biar Jeje asisten ku yang mengurusnya.


Ayoo kita tidur, aku mulai ngantuk nieh."


***


Surabaya.


Siang itu... Asisten Jeje sangat sibuk sekali mengurus bisnis perhotelan yang sebulan lalu di belinya.


Siang itu juga... Asisten Jeje mendatangi rumah Maya yang baru di belinya di sebuah perumahan sederhana.


"Selamat siang," sapa Jeje kepada seorang pembantu Maya.


"Selamat siang juga Pak."


"Ibu Maya ada..?"


"Ibu Maya lagi di yayasan Pak."


"Boleh minta alamat nya?"


"Boleh Pak."


Setelah mencatat alamatnya... Asisten Jeje meluncurkan ke yayasan Nusantara.


Setelah memarkir mobilnya, asisten Jeje memasuki halaman yayasan dan melihat Maya sedang ngobrol dengan pengurus.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam Pak Jeje," jawab Maya,


"Silahkan duduk."


Setelah duduk, asisten Jeje berkata,


"Nona Maya... Saya kemari menawarkan suatu pekerjaan.


Kalau Nona Maya bersedia... Saya akan memberikan pekerjaan sebagai direktur Hotel di Surabaya."


"Terimakasih Pak Jeje, maaf, saya tidak bisa. Karena saya harus mengurus yayasan sambil bisnis perhiasan. Sorenya saya juga kuliah Pak."


"Baiklah Nona, kalau begitu... Saya permisi dulu.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Maya.


Setelah asisten Jeje pergi... Maya meneteskan air matanya sambil berkata,


"Pasti Mas Panji yang menyuruh asisten Jeje. Walau Mas Panji telah aku sakiti hatinya... Dia masih saja berbuat baik kepada ku.


Semoga Tuhan mempersatukan aku dan dia lagi.


Maafkan aku ya Mas..."


*


Kring..!


Hp Panji berdering, setelah tersambung,


"Selamat siang Godfather."


"Ini aku, Wilda istrinya, sebentar aku bangunkan dulu.


Mas... Ada telpon dari asisten mu."


"Godfather... Posisi Direktur Hotel Hening masih kosong, karena, Nona Maya tidak mau menerima tawaran itu.


Kalau di izinkan... Saya ingin mengangkat Godfather sebagai presiden Direktur Hening Group.


Agar Godfather dapat mengendalikan semua perusahaan yang Tuan punya."


"Terserah kamulah, kamu atur saja ya.


Nanti malam kita ketemu di Surabaya, aku masih sibuk dengan istri ku."


"Baiklah Godfather," ujar asisten Jeje kemudian menutup telponnya,


"Hemmm, repot kalau bicara sama Godfather ini."


***


Setelah sibuk seharian, jam 6 malam, asisten Jeje sedang berkumpul dengan beberapa orang di restoran Hotel Hening Surabaya.


Panji yang baru saja keluar bandara langsung menuju Hotel Hening dengan Wilda istri ke 3 nya.


Tak lama kemudian, sebuah taxi berhenti di depan hotel. Setelah membayar sopir taxi, Panji dan Wilda memasuki hotel menuju restoran.


Melihat Panji dan Wilda memasuki restoran... Asisten Jeje membungkukkan badan sambil menyapa,


"Selamat malam Godfather...


Silahkan duduk."


Setelah duduk, Panji menyulut rokok marlboro, kemudian berkata,


"Bagaimana..?"


"Perkenalkan, ini Tuan Panji, presiden Direktur Hening Group," ujar asisten Jeje kepada beberapa orang.


"Salam kenal Tuan Panji," ujar beberapa orang sambil berdiri.


"Salam kenal juga," jawab Panji,


"Siapa mereka..?"


"Ini adalah Nona Kayla, Direktur baru Hotel Hening Tuan.


Ini para manager baru yang mengurus Hotel di Jakarta Bandung Surabaya dan Bali."


"Jeje... Kamu hubungi Devi sahabat ku, suruh Devi membuka cafe di Hotel Hening.


Ini no telponnya."


"Baiklah Tuan."


"Kayla... Mungkin aku jarang datang ke kantor, kecuali ada hal yang sangat penting sekali.


Sebagai Direktur... Aku minta kamu urus hotel dengan baik dan benar.


Kalau ada masalah... Kamu bisa menghubungi Jeje asisten ku, dia sangat ahli di bidang bisnis, khususnya bisnis perhotelan."


"Baiklah Tuan, saya akan bekerja lebih keras, agar hotel bisa berjalan dengan baik."


"Jeje... Aku ingin di pulau Batam, Mataram dan kota Semarang juga kota Medan di dirikan Hotel Hening.


Besok... Kamu urus."


"Baiklah Tuan. Besok saya akan pergi ke pulau Batam untuk survei lokasi."


Kring..!


Hp Panji berdering.


"Aini,"ujar Panji kemudian mengangkat Hp,


"Iya Aini..."


"Mas... Ada di mana..?"


"Ada di Surabaya, ada apa Aini..?"


"Aku hamil Mas, Mas kapan ke rumah..?


Aku ingin ketemu kamu Mas, ada yang perlu aku bicarakan."


"Sekarang jam setengah tujuh. Jam 10 nanti aku sampai rumah mu.


Aku lihat dulu jadwal penerbangan malam ke Jakarta."


"Baiklah Mas, nanti kabari aku ya, kalau berangkat."


"Baiklah Aini," jawab Panji lalu mematikan telepon.

__ADS_1


"Asisten Jeje... Pesankan tiket pesawat ke Jakarta untuk 2 orang.


Kalau bisa jam 7 atau jam 8."


"Baiklah Tuan.


Jadwal penerbangan ke Jakarta malam hari ada jam 19:15, jam 20:15 jam 21:15."


"Pesan yang jam 19:15."


"Baiklah Tuan, silahkan kita pergi ke bandara Juanda. Karena waktu kita mepet sekali."


"Baiklah," jawab Panji kemudian berdiri,


"Selamat bekerja ya... Semoga sukses."


"Iya Tuan," jawab para menager baru.


***


Kediaman keluarga Hong Shi.


Jam 20:30, pesawat lending di Jakarta.


Setelah keluar dari bandara, seorang pemuda menyapa Wilda,


"Selamat malam presiden Direktur...


Mobil ada di depan, silahkan."


"Baiklah Mas, lalu" jawab Wilda kemudian menuju mobil.


Setelah melaju kurang lebih 30 menit, Panji berkata,


"Mas sopir... Turun sini saja."


"Baiklah Tuan," jawab sopir kemudian pelan - pelan menghentikan mobil di tepi jalan.


"Wilda... Aku pergi dulu ya."


"Baiklah Mas," jawab Wilda kemudian mencium tangan Panji dan memeluk erat - erat.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Wilda,


"Jalan Mas."


"Baiklah Bu."


**


Di depan pintu gerbang... Panji berdiri sambil memukul pagar kode memanggil satpam.


"Mencari siapa Mas," tanya salah satu satpam.


"Aku Panji, suaminya Non Aini.x


Mendengar nama Panji... Buru - buru satpam itu membuka pintu,


"Maaf Tuan Panji, silahkan masuk," ujar satpam itu sambil membungkukkan badan.


"Terimakasih Pak," ujar Panji kemudian berjalan menuju rumah mewah.


Setelah memencet bel... Oak Hong Shi membukakan pintu,


"Eeeh... Mas Panji, silahkan masuk."


"Terimakasih Pa," jawab Panji kemudian masuk rumah.


"Siapa Pa," tanya mamanya Aini.


"Anak mantu pulang."


"Apa..! Sampah itu kesini lagi..?!!!


Ngapain juga dia kesini..!


Benci sekali aku melihatnya.


Menantu gak tau malu, gak tau diri, gak berguna.


Dasar miskin," ujar mamanya Aini, kemudian berdiri untuk mengambil sesuatu di dalam laci.


"Assalamualaikum Aini..."


Aini yang lagi membaca di dalam kamar terkejut melihat Panji suaminya.


"Waalaikumsalam Mas," jawab Aini kemudian mencium tangan Panji lalu memeluk nya.


Baru saja duduk di sofa kamar... Tiba - tiba terdengar suara Mamanya memanggil,


"Aini..!"


"Iya Ma... Ada apa sih kok teriak - teriak."


"Mama ingin bicara dengan sampah suami mu.


Mama ingin bicara sama kamu dan Papa mu juga."


"Baiklah Ma," jawab Aini kemudian mengajak Panji ke ruang keluarga.


"Ada apa Ma..?"


"Panji..! Aku ingin kamu tanda tangan di bawah materai.


Ini surat perjanjian hitam di atas putih.


Aku ingin..! Kamu menceraikan Aini malam ini.


Kamu juga tidak punya hak asuh atas anak yang di kandung Aini saat ini.


Dan..! Jangan pernah temui Aini lagi."


Mendengar kata - kata Mamanya... Aini sangat marah sekali.


Ketika Aini hendak berkata," Panji berkata lebih dulu,


"Aini... Sabar ya.


Bagaimana pun, dia adalah Mama mu, dia yang melahirkan mu juga yang membesarkan mu.


Jadi... Kamu harus patuh dan taat juga harus menghormati orang tua mu."


"Baiklah Mas," jawab Aini sambil menahan amarah.


"Buruan kamu tanda tangani.


Ini ada cek sebesar 2 Trilyun untuk mu, agar kamu tidak jadi gelandangan."


"Baiklah Ma, aku akan tanda tangani, agar keluarga ini bahagia," ujar Panji kemudian menandatangani surat perjanjian.


Setelah menandatangani surat perjanjian di atas matrai... Panji berkata,


"Aini... Maafkan aku ya, jadilah anak yang berbakti pada orang tua.


Kalau kamu kangen... Kamu bisa menemui ku kapan saja."


"Baiklah Mas," jawab Aini sambil menangis kemudian memeluk Panji.


"Jangan sok romantis..! Silahkan kamu pergi, dan bawah cek ini."


Setelah melepaskan pelukan Ain... Panji berjalan keluar rumah tanpa menoleh dan berkata apa - apa.


"Satpam..! Cepat kemari."


"Baiklah Nyonya," jawab salah satu satpam dengan berlari kecil.


"Kejar gelandangan itu, berikan cek ini, cepat..!!"


"Baiklah Nyonya," sahut satpam kemudian berlari mengejar Panji yang berjalan keluar perumahan.


"Tuan Panji..! Tuan Panji," panggil satpam yang berjalan cepat.


"Ada apa Pak," tanya Panji kemudian menghentikan langkah nya.


"Ini... Saya di perintahkan Nyonya besar untuk menyerahkan cek pada Tuan Panji," jawab satpam yang terengah - enggah."


"Baiklah, walau aku tidak butuh... Siapa tau uang ini kelak akan berguna," ujar Panji kemudian menerima cek sebesar 2 Trilyun,


"Terimakasih ya Pak."


"Sama - sama Tuan Panji."


Sambil berjalan keluar perumahan Elit, Panji berkata,


"Ternyata... Garga diri ku sangat Mahal ya..?


2 Trilyun. Bisa untuk makan 7 turunan gak bakal habis, Hehehehe.


Mamanya Aini memang konglomerat, dia memiliki 100 hotel yang tersebar di beberapa Negara.


Teapi...


Gusti Allah lebih kaya.


Gusti Allah tidak tidur, penghinaan akan di balas penghinaan.


Itulah karma, hukum sunnahtullah.

__ADS_1


Hemmm... Dorong ngeloni bojo wis di usir, Nasib ku."


__ADS_2