SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
MAYA KE JAKARTA DAN PEMBALASAN LINDA


__ADS_3

Di rumah sakit Wiliam,


"Anak muda jaman sekarang hobi nya dugem dan main narkoba.


Mentang - mentang anak orang kaya, kemana saja orang tuanya, apa gak memperhatikan keadaan anak - anaknya," ujar Bu Dokter,


"Teman Nona ini tidak apa - apa, tidak ada luka sama sekali, mungkin dia jatuh tidak bisa menjaga keseimbangan tubuh nya. Dia butuh istirahat, setelah pengaruh ekstasi di tubuh nya hilang... Dia akan sadar."


"Baiklah dokter, terimakasih banyak,* ujar Wilda dengan rasa tidak percaya omongan dokter.


Setelah dokter pergi... Buru - buru Wilda membuka kaos Panji dan memeriksa luka tusuk dan melihat juga meraba wajah Panji,


"Aneh..!!


Perasaan semalam di dalam diskotik aku melihat Panji di tusuk di samping ku, kemudian di pukuli hingga tersungkur?


Setelah aku periksa... Tidak ada lukanya, bahkan wajahnya pun masih utuh, tidak bengkak.


Sakti bener nieh Mas Panji.


Lebih baik aku kasih susu beruang saja biar Mas Panji sadar."


"Kring...! "


Iya Jefri... Bagaimana," angkat telpon Wilda.


"Bos... Pelaku penikaman Tuan Panji di diskotik HR adalah konspirasi antara kepala keamanan diskotik dengan kelompok geng narkoba, mereka balas dendam atas peristiwa semalam," ujar Jefri,


"Ada yang sedikit menganjal Bos..! Ketua pengedar jaringan narkoba ini di lindungi oleh Heri, keponakan dari keluarga konglomerat Han.


Kalau kita berurusan dengan keluarga Han... Maka kita harus berurusan dengan kelompok Tiger."


"Kerjakan yang rapi..!


Masalah urusan dengan kelompok Tiger... Kita sebagai organisasi besar jangan takut," perintah Wilda,


"Kita hadapi bersama."


"Baiklah Bos," ujar Jefri kemudian mematikan telepon.


Siang di rumah sakit,


"Mas... Bangun," ujar Wilda.


Begitu Panji membuka mata... Wilda langsung menyodorkan susu beruang,


"Minum dulu biar pengaruh inex di tubuh mu hilang."


Setelah menengak dua kaleng susu beruang... Panji berdiri,


"Wilda... Kamu bayar biaya klaim rumah sakit, aku tunggu di kamar A-1."


"Baiklah Mas."


Begitu Panji hendak masuk ke dalam kamar... Panji mendengar pembicaraan Jefri dengan dokter spesialis,


"Dokter... Sudah aku transfer uangnya ke no rekening mu, tolong rahasia kan identitas pemuda yang luka tembak ini."


"Tenanglah Jef, kita kan teman baik, aku sudah mengatur semuanya, para dokter pembantu mempercayai kalau pemuda ini adalah intelijen polisi," ujar Dokter temanya Jefri.


Begitu keluar... Jefri kaget melihat Panji berdiri di depan pintu,


"Tuan Panji... Katanya..?


"Panggil nama ku Godfather saja, biar tidak ada orang yang tau nama asliku," ujar Panji,


"Nanti aku transfer uang ke nomer rekening mu, sebagai rasa terimakasih telah membantu ku."


"Baiklah Godfather, terimakasih sebelumnya," kata Jefri.


Wilda yang baru datang terkejut melihat Jefri di depan Panji, apalagi memanggil Panji dengan Godfather,


"Apakah Mas Panji punya nama panggilan lain..?"


"Iya Direktur Wilda, mulai saat ini... Panggillah Godfather," jawab Jefri,


"Kalau begitu aku pergi dulu, selamat siang."


"Tunggu..!


Berikan nomer rekening mu sama Wilda," ujar Panji.


"Baiklah Godfather, habis ini aku sms, selamat siang," kata Jefri.


Panji masuk ke kamar VIP mendekati atnton yang sudah sadar dan sudah bisa duduk dan berdiri,


"Selamat siang Anton...


Aku Godfather."


"Selamat siang kembali," ujar Anton yang curiga.


"Tenanglah, aku bukan polisi. Aku yang menyelamatkan hidup mu dua hari lalu," ujar Panji.


Melihat wajah Panji... Anton baru teringat,


"Iya iya aku ingat sekarang. Saya sangat berterimakasih sekali, tanpa pertolongan Godfather... Mungkin hari ini aku sudah mati."


"Ini Hp Satelit mu, ini no telpon Iwan, ini no Telpon ku," ujar Panji,


"Ini No rekening mu dan ATM mu, di dalam ATM itu ada uang 100 juta.


Lusa kamu pergi ke Jakarta, kerjalah ikut aku saja. Dari pada jadi pengedar narkoba sedikit uangnya, dan besar resikonya. Masalah tempat tinggal... Nanti Iwan yang akan mengurusnya."


"Tetapi... Kerja apa di Jakarta," tanya Anton.


"Untuk sementara... Di Jakarta kamu kerja sebagai pengawal.


Nanti iwan yang mengatur pekerjaan mu," jawab Panji.


"Baiklah Godfather, sebagai balas budi, aku akan kerja dengan mu," kata Anton.


"Wilda... Mari pergi, Anton aku pergi dulu, sampai ketemu di Jakarta," ujar Panji.


Malam itu di sebuah perumahan mewah... Ada 4 orang anggota gengster dan 2 keamanan diskotik sedang duduk di kursi dengan kondisi tangan dan kaki terikat.


"Ternyata kalian pelaku penusukan dan penganiayaan Tuan Godfather dan kekasih gelapnya di dalam diskotik," ujar Jefri,


"Kalian telah melukai orang yang salah..!"


"Ampuni kami Jef..!


Kami tidak tau kalau Godfather adalah orang penting," kata salah satu genster.


Melihat kebengisan dan kekejaman kelompok Mafia Kaisar... Ke 6 anggota gengster dan keamanan diskotik sangat ketakutan sekali.


"Gito..!" seru Jefri.


"Siap Bos..!!"


"Aku ingin ke enam anjing ini duduk selamanya di kursi roda, dan bikin tangan kanannya tidak berfungsi," ujar Jefri,


"Ambillah uang ini untuk pesta setelah pekerjaan kalian selesai."


"Baiklah Bos," sahut Gito kemudian memukulkan pipa besi ke lutut para gengster hingga terdengar jeritan, lolongan kesakitan.


Gito dan 8 lainya kemudian memukulkan pipa besi ke lengan dan pundak kanan para gengster hingga remuk dan patah tulang.

__ADS_1


"Kalian akan cacat seumur hidup, ini akibatnya kalau kalian salah menganiaya orang.


Terimalah balasannya ha..!" ujar Gito,


"Mari kita buang anjing - anjing ini di pinggir jalan, lemparkan saja sampah ini."


Setelah melakukan penyiksaan... Jefri dan Gito terbang ke Jakarta tengah malam.


Sementara...


Jam 11 malam Panji pamit,


"Wilda... Aku pulang dulu ya, ada perlu sebentar, besok pagi aku ke sini lagi."


"Gak usah kesini Mas, jam 9 pagi aku harus terbang ke Jakarta," kata Wilda.


"Baiklah," ucap Panji kemudian memeluk Wilda.


Sesampai di rumah... Panji melihat Papa dan Mama nya tidur di kamar,


"Untung adikku belum tidur, jadi ada yang membukan pintu," ujar rpanji pelan.


Ketika masuk ke kamar, Panji melihat Maya melihat Tv baru antena parabola,


"Assalamualaikum..."


"Salam..!!" jawab Maya setengah marah,


"Kamu dari mana saja..!


Tega sekali meninggalkan aku sendirian.


Apa kamu punya selingkuhan..?*


Mendengar Maya yang cerewet, Panji hanya tersenyum saja, lalu duduk di sebelahnya.


"Bau parfum cewek mana ini...?


Kamu tidak pernah kan pakai parfum," selidik Maya.


"Belum jadi istri galaknya minta ampun hahaha, apalagi kalau sudah jadi istri," ujar Panji,


"bisa mati muda diriku.


Ini HP satellite untuk mu, agar kamu bisa menghubungi ku."


"Darimana dapat Hp Satelit ini..? I


ni kan mahal, Papa ku saja tidak membelikan aku HP satellite," kata Maya.


"Tadi siang habis ngobati seorang bos, di kasih hadia Hp satelit, juga di kasih uang, lumayan bisa buat makan sebulan," ujar Panji berbohong.


"Emang kamu jadi paranormal," tanya Maya setengah tidak percaya.


"Iya, kan dulu aku belajar di pondok pesantren," ujar Panji,


"Eh..! Sejak kapan kamu bisa membalas salam ku tadi, kamu kan Nasrani..?"


Emang kalau Nasrani gak bisa gitu..?


Kak... Aku lapar, aku pinggin makan dan santai di Mcdonald," kata Maya.


"Baiklah, mari kita pergi tetapi naik motor ya," ujar Panji.


"Kayaknya naik motor lebih romantis," ujar Maya kemudian mengandeng lengan Panji.


***


Setelah menghidupkan mesin motor milik adiknya... Panji melajukan motor dengan kecepatan sedang. Sementara Maya memeluk tubuh Panji dari belakang dengan manja sambil menyandarkan kepalanya di bahu belakang.


Tak lama kemudian, setelah memarkir motor Panji mengandeng tangan Maya berjalan menuju meja di ruang terbuka.


"Kamu jadi aneh deh, biasanya kamu yang selalu memesan untuk ku, apa ini peraturan jadi paranormal," kata Maya kemudian memesan makan.


Tak lama kemudian,


"Ini kak aku pesan kan kopi sama berger untuk mu," kata Maya kemudian duduk menghadap Panji,


"Kak Panji...


Aku harus bagaimana ini..? Masak aku gak sekolah?!!"


Setelah menyeruput kopi panas dan menyulut rokok marlboro... Panji memandang wajah Maya dan berkata lirih,


"Kamu tambah cantik saja... "


"Ah basi rayuan mu, gak ada kata - kata lain apa cara merayuku," kata Maya.


"Hahaha..!


Sebentar aku pikir dulu," ujar Panji.


"Kelamaan, jawab bagaimana aku ini selanjutnya... Sekolah apa kerja..?


Aku gak punya uang sama sekali, aku juga gak mau tinggal sama Papa Mama kamu, malu tau," kata Maya.


"Ada solusinya, tapi kamu harus nurut sama aku, bagaimana," ujar Panji.


"Baiklah, aku akan nurut," kata Maya.


"Baiklah, tunggu sebentar, aku telpon dulu," ujar Panji.


Setelah memencet no Hp dan tersambung,


"Iwan..?"


"Iya Godfather."


"Kamu di mana sekarang..?"


"Aku di Jakarta bersama Youri, tadi pagi jam 9 aku berangkat naik pesawat."


"Apa kamu sudah menyewa dua apartemen," tanya Panji.


"Sudah, aku juga sudah membeli mobil dan motor seperti pesan Godfather," ujar Iwan.


"Baiklah kalau begitu.


Besok sore kamu jemput Maya istri ku di bandara jam 12 siang, besok kamu kontak Hp saja sama Maya," perintah Panji,


"Oh iya..!


Kamu urus surat pindah sekolah Maya di Surabaya ya, kamu bisa suruh orang lain untuk mengurusnya."


"Baiklah Godfather."


"Kak... Mamu bilang istri mu, emang kapan kita nikah," tanya Maya.


"Dasar crewet, itu hanya pura - pura kamu sebagian istri ku.


Kamu besok ke bandara naik pesawat ke Jakarta," ujar Panji.


"Apa..! Ke Jakarta...?


Ngapain juga ke Jakarta," kata Maya.


"Kamu itu terlalu di manja sejak kecil, jadi begini nih," ujar Panji,

__ADS_1


"Kalau pingin jadi istri ku... Kamu harus nurut sama aku."


"Baiklah baiklah, aku nurut. Lalu aku ngapain di Jakarta," kata Maya.


"Di Jakarta kamu melanjutkan sekolah, dan tinggal di kos - kossan.


kamu belajar mandiri, cuci baju sendiri masak sendiri dan apa - apa kamu kerjakan sendiri di kos - kossan, " ujar Panji.


"Apa..?!!!


Sungguh menyedihkan hidup ku," kata Maya.


"Jangan cerewet..! Nurut sama aku," ujar Panji.


"Iya iya nurut, tetapi dari mana kamu dapat uang untuk mencukupi kebutuhan hidup ku di Jakarta yang serba mahal," tanya Maya.


"Nanti setiap bulan aku transfer uang, dan ada teman ku yang akan mengurus segala keperluan juga kebutuhan mu," jawab Panji,


"Nanti aku sewa mobil rental untuk mengantar mu sekolah".


"Baiklah, aku percaya sama calon suami ku," kata Maya,


"Mari kita pulang, sudah jam 02 dini hari, besok kamu juga ke Jakarta."


Jam 11 siang setelah di Bandar Juanda,


"Kak... Aku berangkat dulu ya," kata Maya kemudian memeluk Panji erat - erat.


Sambil meneteskan air mata Maya melanjutkan kata - katanya,


"Kakak jaga diri baik baik di jalan, jaga kesehatan. Jangan pernah tinggalkan aku sendirian, semoga kita bisa hidup bersama selamanya sampai akhir hayat.


Aku jalan dulu ya kak, doa kan Maya."


"Hati - hati yaa semoga selamat sampai tujuan," kata Panji.


"Ingat ya..!


Jangan selingkuh, da da," kata Maya sambil melambaikan tangan.


"Iya gak selingkuh, cuma simpanan saja," goda Panji.


Setelah Maya masuk ke ruang tunggu, Panji melangkahkan kaki keluar bandara.


Sambil berjalan Panji berkata lirih,


"Lelaki mana yang tidak suka perempuan cantik, apalagi ****.


Kyai saja banyak yang mempunyai istri 4, apalagi aku..?


Jangankan kyai, Nabi Daud saja istrinya 99, begitu saja masih ingin nambah istri satu lagi, apalagi aku..?


Tetapi..!


Aku sudah berjanji sama Nyai Sa'adah untuk tidak berhubungan badan dengan perempuan mana pun kecuali istri ku.


Kalau aku melanggar janji ku... Maka semua ilmu yang aku miliki akan hilang.


Gawat sekali sumpah Nyai Sa'adah itu.


Hahahaha..!


Bodoh sekali diri ku waktu itu, aku telah di kelabuhi juga di bohongi oleh Nyai Sa'adah dan Kyai Jabat.


Ternyata Kyai Jabat dan Nyai Sa'adah itu bangsa ruh. Dulu aku mengira manusia."


Waktu terus berlalu, Panji meneruskan perjalanan jalan kaki ke ujung timur pulau jawa.


Sementara...


Maya sudah berada di kos - kossan yang pernah Panji tempati dulu di belakang Hotel Atlanta.


"Mas Iwan... Ini tempat kos siapa, kok ada Komputer, Kulkas, Ac sower televisi dan banyak buku," kata Maya.


"Ini tempat kos Godfather, Nyonya.


Semua barang yang ada di kos - kossan adalah milik Godfather. Kos - kossan ini di bayar setahun sekali, dan listrik sudah ada yang membayar nya setiap bulan," ujar Iwan.


"Siapa Godfather itu..?


Namanya kayak judul Film Mafia italia saja. The Godfather yang artinya Panutan Para Mafia," kata Maya.


"Maaf Nyonya, saya tidak bisa memberi tau siapa dia Godfather itu, karena Tuan Godfather tidak ingin identitasnya di ketahui banyak orang.


Pesan suami Nyonya, kalau ada kepentingan atau keperluan yang mendesak... Nyonya bisa menghubungi saya lewat telpon," ujar Iwan.


"Baiklah, sampaikan rasa terimakasih ku pada Tuan Godfather," kata Maya,


"Sekarang kulkas kosong, aku ingin beli daging sapi muda, ayam, telor dan lain lain.


Tolong antar aku untuk belanja di supermarket.


Kalau boleh... Aku pinjam uang mu dulu, karena uang ku tidak cukup. Nanti kalau suamiku tranfer uang... Akan aku ganti."


"Nyonya Maya belanja saja, ambil apa keperluan nyonya, nanti biar saya yang bayar," ujar Iwan.


"Tidak mau, aku hanya mau makan minum dari uang suami ku saja. Pinjamin saja uangnya ya, nanti suami yang ganti," kata Maya.


"Baiklah Nyonya," ujar Iwan kemudian menyerah kan uang 1 juta.


Waktu terus berlalu, tak terasa Panji sudah berada di kabupaten Malang.


Malam itu Panji sangat lelah dan istirahat di sebuah musolla di pinggir jalan di kabupaten kecamatan Dampit. Setelah solat sunnah malam... Panji merebahkan badannya kemudian tertidur pulas.


Adzan subuh terdengar berkumandang. Setelah melaksanakan solat subuh, Panji melanjutkan perjalanannya.


Sementara...


Hari pertama sekolah pasca sakit.


Jam 1 siang sepulang sekolah, Linda membuntuti mobil Dea.


Hari ini... Linda sekolah mengendarai mobil sendiri.


Begitu di jalan yang sepi... Linda menabrak mobil Dea dari belakang dengan kecepatan tinggi.


"Bruak..!"


Terdengar suara benturan yang sangat keras. Mobil Dea langsung oleng dan menabrak pohon di tepi jalan dan terguling.


Buru - buru Linda keluar dari mobil lalu mendekati Dea yang tubuhnya terpental di tepi jalan.


Melihat wajah Dea duduk tersimpu wajah nya penuh darah... Dengan cepat Linda mengayunkan kunci inggris ke pundak Dea, kemudian Linda mengayunkan kunci inggris beberapa kali ke siku dan lengan Dea hingga remuk tulangnya.


"Prak prak prak prak!" benturan kunci inggris yang terbuat dari baja dengan tulang siku lengan juga bahu terdengar.


Jeritan juga lolongan kesakitan terdengar sejenak kemudian Dea pingsan di pinggir jalan.


Melihat jalan yang sepi buru - buru Linda masuk mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sambil mengendarai mobil Linda tertawa sambil berkata,


"Rasain lu, ini balasan karena kamu telah menampar ku berkali - kali dengan teman - teman mu.


Kamu dan teman - teman mu telah berkali - kali menendang perut dan kepala ku hingga aku mengeluarkan darah dan pingsan.


Pembalasan itu lebih kejam, sekarang kedua tangan mu cacat seumur hidup.

__ADS_1


Ini baru permulaan..!"


__ADS_2