
Sambil berdiri di depan musolla... Panji melihat Mbah Sanusi sedang sibuk mengadu ayam jago dengan beberapa pemuda, setelah menyulut rokok Panji berkata lirih,
"Sudah hampir Magrib kok masih ngadu ayam..? Apa gak sadar kalau dirinya itu sudah tua!
Ah, biarin saja, lebih baik aku tunggu di teras musolla."
Setelah duduk beberapa saat, Panji di kejutkan oleh suara orang setengah tua yang baru saja menyelesaikan solat Asar,
"Mas, cari siapa..?
Sepertinya kamu bukan warga desa ini?"
"Sedang mencari Mbah Sanusi pak, itu orangnya sedang adu ayam," ujar Panji,
"Iya Pak, saya dari Surabaya."
"Oh... Iya, iya.
Hati - hati kalau berteman dengan Mbah Sanusi," kata Bapak setengah tua,
"Mbah Sanusi itu kurang sehat akalnya.x
"Maksudnya kurang sehat gimana Pak," tanya Panji.
"Dia gila Mas," ujar Bapak setengah tua itu pergi berlalu.
"Apakah kamu Panji dari Surabaya," tanya gadis cantik sambil membawah handuk dan peralatan mandi.
"Iya benar, aku Panji.
Kamu siapa?"
"Aku Jamilah, putri bungsu Mbah Sanusi.
Silahkan mandi, kamar mandinya ada di sebelah musolla, ini handuknya ini peralatan mandinya."
"Terimakasih," ujar Panji,
"Oh iya, kalau boleh tau..?
Tetapi kamu jangan tersinggung.
Apa benar Ayah mu itu gila..?
Tadi aku di peringatkan oleh salah satu warga desa ini."
Sambil menatap tajam wajah Panji, Jamilah tersenyum sinis,
"Orang - orang di desa sini semua menganggap Ayah ku gila, bahkan orang seluruh pasar juga menganggap Ayah ku gila, karena... Kelakuan Ayah ku beda dengan orang normal umumnya.
Tetapi...
Menurut ku, Ayah ku orang normal tidak gila.
Ayah ku setiap hari memberi nafkah dengan baik dan cukup, bisa menyekolahkan anak - anaknya hingga kuliah, bahkan sekarang kakak ku tinggal di pesantren sudah 5 tahun. Kakak perempuan ku sekarang kulia di kota Bandung.
Ayah ku mengerti dan mengenali anak - anaknya, jika Ayah pergi keluar rumah... Dia bisa pulang dan tau jalan.
Ayah ku juga tau siapa istrinya.
Bahkan Ayah ku bisa memilih ibu ku yang cantik menjadi istrinya.
Kalau Ayah ku gila... Mana mungkin Ayah ku menikahi ibu ku yang cantik, dan orang gila tidak akan bisa membuat anak secantik diri ku."
"Sekarang silahkan mandi, ini pesan dari Ayahku.
Aku mau menyiapkan makan malam untuk mu," ujar Jamilah agak kesal kemudian pergi.
"Hahaha... Kalau orang gila... Mana bisa membuat anak secantik diri ku, jawaban yang lucu.
Tinggal jawab tidak gila saja jadi panjang jawabannya," ujar Panji,
"Tetapi memang cantik sih anak Mbah Sanusi ini."
Adzan Magrib berkumandang, dengan peneragan lampu tempel, Panji melaksanakan solat berjamaah.
Setelah solat Panji kembali duduk di teras musolla.
Sambil melihat rumah gubuk bambu milik Mbah Sanusi, Panji berkata lirih,
"Kemana Mbah Sanusi ini, aku dari sejak sore di biarin di musolla, mana gelap lagi, listrik belum masuk ke desa ini."
__ADS_1
"Mas Panji... Ayo ikut ke rumah, kita makan malam," ujar Jamilah yang tiba - tiba berdiri di depan musolla.
Setelah berada di ruang tamu, Panji bersalaman dengan ibunya Jamilah.
"Jamilah... Siapa dia," tanya Ibunya Jamilah,
"Apa dia pacar kamu?"
"Iya ibu, dia pacar ku," sahut Jamilah asal ngomong.
"Siapa namanya dan di mana rumahnya?"
"Ibuk ini cerewet amat sih,
Dia bernama Panji Ketawang buk," bisik Jamilah,
"Rumahnya Surabaya, dia keponakan nya Bupati Kebumen."
"Apa!" teriak ibunya,
"Darimana kamu kenal dia ha?"
"Di kenalkan teman ku Buk, melihat kecantikan ku, Panji langsung jatuh cinta dan main ke rumah," asal ceplos Jamilah,
"Katanya dia pingin ketemu Ayah, dia bilang ingin melamar ku.
Bagaimana Buk..?
Apa ibu setuju..?"
"Ibuk sih setuju setuju saja, apalagi dia keluarga Bupati Kebumen.
Tetapi semua keputusan ada di Ayah mu."
"Makanya ibu diam saja, kalau ibu banyak tanya, bisa - bisa dia takut sama ibu dan tidak jadi melamar ku," ujar Jamilah.
"Baiklah baiklah, ajak dia makan malam dulu," ujar ibuk Jamilah,
"Mari Nak makan dulu di dalam sama Jamilah."
"Terimakasih Bu," kata Panji.
"Ayoo Mas, masuk sini," ajak Jamilah,
Lauk pauknya ambil sendiri ya?"
Sambil melihat menu di meja makan, Panji berkata lirih,
"Rumah Mbah Sanusi ini terbuat dari gubuk bambu, tetapi menu di meja makan kayak di restoran, ada udang Kalimantan, rendang daging sapi muda, sop buntut, kerang juga jamur dan ikan gurami bakar serta opor ayam.
Ada yang aneh dengan keluarga Mbah Sanusi, jangan jangan seperti rumah Nyai Sa'adah Banten."
Dengan penerangan beberapa lampu tempel, Panji menikmati santap makan malam bersama Jamilah.
Sambil sesekali mencuri pandang wajah Jamilah... Panji berkata,
"Tadi kamu bilang apa sih sama ibuk mu, kok bisik - bisik?"
"Aku bilang, kamu datang ke sini mau melamar ku," ujar Jamilah.
"Apa?"
"Sambil menuangkan es jeruk, Jamilah berkata,
"Sudah gak usah pakai terkejut, nikmati makan malam saja. Ini minumlah es jeruk biar awet muda."
*Jamilah adalah anak Indigo putra ke 3 dari 3 bersaudara.
Dia tinggal di kos - kossan di kota Kebumen agar tidak pulang pergi ketika sekolah.
Selain sekolah SMA kelas 2, Jamilah juga sekolah Teater Seni Drama, dia juga les privat Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Mandarin.
Kebetulan dia pulang karena rindu sama Ayah dan ibunya juga untuk meminta uang untuk kebutuhan pendidikan di kota.
"Jamilah... Di rumah mu, apakah setiap hari kamu makan seperti ini," tanya Panji.
"Iya Mas, setiap hari Ayah ku pergi entah ke mana, ketika pulang... Ayah sering membawah bahan makanan, dan ibuk ku lah yang memasaknya," ujar Jamilah,
"Ini terjadi sejak aku masih SD.
Aku tau mengapa kamu bertanya seperti ini. Rumah gubuk, Ayah ku hanya seorang pengangguran tetapi setiap hari bisa makan enak dan mewah.
Lalu... Dari mana dapat uang untuk membelinya?
__ADS_1
Iya kan..?"
Mendengar ucapan Jamilah... Panji tersentak kaget, namun Panji tetap tenang, walau Jamilah bisa menebak isi hatinya.
"Mas Panji... Aku tinggal di kota, aku kos. Sekarang aku pulang karena rindu sama Ayah dan ibu ku, aku juga mau minta uang sama Ayah untuk kebutuhan tinggal di kota," ujar Jamilah,
"Tadi Ayah ku bilang tidak punya uang sama sekali, katanya taruhan adu ayam sore tadi kalah banyak."
"Lalu... Hubungannya sama aku apa," tanya Panji.
"Kan aku sudah melayani mu, menyiapkan handuk peralatan mandi, masak untuk mu bahkan aku menemani mu makan malam.
Menuangkan nasi dan minum untuk mu. Mengajak mu ngobrol," ujar Jamilah,
"Jadi... Aku minta bayaran!"
"Hahaha... Rernyata yang gila bukan Bapaknya tetapi anaknya, hahaha," kata Panji dalam hati.
"Mengapa tersenyum, aku tau di dalam tas mu ada uang 100 juta, ada kaos baru, dan ada Hp satelit," ujar Jamilah,
"Hanya para pejabat dan pengusaha kaya saja yang bisa memiliki Hp satelit.
Selain Hp nya mahal... Bayar bulannya juga jutaan.
Hanya saja kamu menyamar berpakaian jelek, jadi orang awam tidak mengetahui kalau kamu itu pemuda kaya raya."
Sambil menyembunyikan rasa heran dan keterkejutan nya... Panji berkata,
"Apakah kamu mempunyai ilmu penerawangan, hingga kamu bisa tau isi tas ku?"
"Aku ini indigo sejak kecil, jadi aku bisa mengetahui hal yang goib dan tersembunyi," ujar Jamilah,
"Aku tau, kamu punya uang di ATM 230 juta, bahkan ****** ***** kamu warna hitam, merk Wawa, celana pendek dengan bandrol paling mahal, tetapi sayang lama tidak ganti celana pendek, waktunya di cuci hahaha.
Baunya bisa bikin sakit kepala tau!"
Dengan agak kesal, Panji berkata,
"Baru indigo saja sudah banyak tingkah.
Dalam 5 menit... Aku bisa mengambil ilmu indigo mu."
Apa..!
Kamu tidak punya ilmu apa - apa kok mau sok ngambil ilmu indigo ku," ujar Jamilah,
"Kalau bisa mengambil ilmu indigo ku... Kamu akan aku jadikan guru spiritual ku, dan aku akan menuruti semua perintah mu."
*Walau Jamilah memiliki indigo... Namun semua ilmu Panji tertutup rapat di dalam dirinya, hanya orang tingkatan wali saja yang bisa melihat ilmu Panji yang notabene adalah ilmu pemberian para wali.*
Setelah selesai makan dan menyeruput kopi, Panji menyulut rokok lalu berkata,
"Beneran apa yang kamu ucapkan barusan..?"
"Beneran, silahkan kalau kamu mampu, ambil ilmu indigo ku," ujar Jamilah.
"Baiklah, kalau sampai ingkar janji... Kedua mata kamu akan buta," ujar Panji,
"Bismillahirrohmanirrohim
Dengan keberkahan Mbah Wali Hasan Salak, aku ingin mengambil ilmu indigo milik Jamilah bin Sanusi,"
Setelah itu Panji menyentuh cincin Taji Kubro yang ada di tangan kirinya,
"Taji Kubro... Kamu tau kan apa yang barusan aku ucapkan?"
Seketika itu, dari dalam cincin mengeluarkan cahaya hijau mengarah ke tubuh Jamilah. Dalam hitungan detik, ilmu indigo milik Jamilah pindah masuk ke dalam cincin Taji Kubro.
Tiba - tiba tubuh Jamilah lemas, kakinya gemetar, matanya kosong menatap Panji.
"Ternyata... Kamu bisa, be benar apa yang di katakan Ayah ku, bahwa kamu adalah tamu agung dan tamu istimewa," ujar Jamilah lirih,
"Siapa kamu sebenarnya?"
"Makanya memilki ilmu indigo jangan sombong dan suka mempermainkan orang," ujar Panji,
"Ingat janji mu, dan ingat sumpah mu.
Ini aku beri uang 25 juta untuk biaya sekolah dan hidup di kos - kossan.
Setelah lulus sekolah, temui orang ini, ini Nama dan Alamat nya.
Suatu saat... Aku akan mengembalikan ilmu indigo mu.
__ADS_1
Sekarang aku ingin bertemu dengan Ayah mu."