SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
PESANTREN SHINOBI


__ADS_3

Kaula Lumpur Malaysia.


Di sebuah Villa


"Asieten Mikel..." panggil Tuan Markus muda.


"Iya Bos..."


"Apa kamu mendengar berita kematian Wilda istri Godfather, ketua organisasi The Bluss...?"


"Iya Bos.


Nyonya Wilda mati kecelakaan akibat tabrak lari. Pelakunya adalah kelompok Han dan organisasi Tiger Surabaya.


Tetapi... Ketua The Tiger tinggal di Hongkong Bos.


Godfather ketua organisasi The Bluss sudah seminggu ini telah hilang bagai di telan bumi.


Tetapi... Anehnya tidak di beritakan di televisi dan koran - koran.


Sepertinya... Organisasi The Bluss merahasiakan kehilangan Godfather. Sepertinya, Godfather di culik dan di bunuh di suatu tempat.


Karena... Anggota inti organisasi The Bluss telah banyak membunuh kelompok mafia jaringan internasional.


Kemungkinan, ada kelompok yang balas dendam."


"Mikel... Perintahkan orang orang kita untuk waspada.


Kelihatannya, anggota organisasi The Bluss akan melakukan pencarian Godfather ke beberapa Negara, dan sepertinya akan ada perang terbuka antar kelompok Mafia Lintas batas.


Bukan kah orang - orang mu juga terlibat pembunuhan sekretaris Iwan di hotel Surabaya..?"


"Iya Bos.


Saya faham masalah itu.


Organisasi The Bluss mempunyai orang - orang handal, dan pemberani.


Apalagi di dukung oleh persenjataan yang canggih dan keuangan yang besar. Setiap anggota inti mempunyai senjata peredam suara keluaran terbaru."


***


Markas organisasi The Bluss Jakarta.


"Sekretaris Novi... Youri dan kalian semua.


Sebagai ketua sementara organisasi The Bluss, saya memerintahkan pada semua anggota inti untuk tidak melakukan balas dendam atas kematian Nyonya Wilda dan atas hilangnya Godfather.


Kalian jalankan bisnis organisasi seperti biasanya. Aku ingin organisasi damai dan tentram tanpa ada perselisihan dengan kelompok lain," ujar Maya.


"Baiklah ketua," jawab serempak petinggi organisasi.


"Sekarang... Pertemuan saya akhiri, lanjutkan kerja kalian," kata Maya kemudian pergi meninggalkan markas organisasi.


Ketika berada di halaman parkir... Youri berkata,


"Nyonya Maya...


Sebenarnya aku tidak setuju dengan keputusan mu, tetapi... Aku tetap mematuhi perintah ketua.


Bukankah... Nona Wilda adalah salah satu pendiri organisasi The Bluss.


Mengapa kita tidak boleh melakukan balas dendam..?"


"Direktur Youri...


Aku punya rencana sendiri, biarlah aku kerja sendiri untuk melakukan balas dendam.


Pihak kepolisian kini tengah menyelidiki kasus kecelakaan Non Wilda.


Aku tidak ingin organisasi The Bluss berurusan dengan pihak kepolisian di negeri ini.


Aku akan gunakan kekuatan uang untuk membalas semua ini.


Dan... Pelakunya harus di hukum berat, itu wajib hukumnya."


"Baiklah Non Maya.


Aku permisi dulu."


***


Di lapangan tembak... Tuan Matrik mengajari Maya cara menggunakan senjata api.


Sambil latihan menembak... Tuan Matrik berkata,


"Nona Maya...


Sudah hampir sebulan lebih orang - orang ku mencari keberadaan Tuan Panji, tetapi... Tuan Panji belum juga di temukan."


"Apakah suami ku telah di culik," tanya Maya.


"Tidak Non...


Dari kronologi kejadian kecelakaan, setelah orang ku mempelajari dalam beberapa minggu,


Tuan Panji terlempar dari dalam mobil ketika terjadi benturan kedua."


"Maksudnya benturan kedua bagaimana Tuan Matrik..?"


"Ketika Nona Eka menyetir mobil, itu masih dalam pengaruh narkoba jenis ekstasi.


Dan Tuan Panji duduk di jok depan di sebelah Nona Eka.


Tanpa sadar... Nona Eka mengemudikan mobil sangat kencang sekali.


Dari belakang... Sony melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar mobil Nona Eka.


Begitu terkejar... Sony menabrak mobil Nona Eka dari belakang sebelah kanan.


Di situlah benturan pertama.


Begitu menabrak dengan kecepatan tinggi... Mobil sony hanya oleng sejenak, lalu melarikan diri ke ujung jalan dan hilang.


Sementara... Mobil Eka yang tertabrak dari belakang sisi kanan, oleng ke kiri, lalu roda depan menabrak trotoar.


Itu benturan kedua.


Dalam benturan yang keras itu... Tubuh Tuan Panji terlempar keras keluar dari dalam mobil.


Kalau melihat dari darah yang ada di body mobil... Tuan Panji terlempar lewat kaca depan.


Dan... Setelah di cek di rumah sakit, simpel darahnya cocok dengan darah Tuan Panji.


Ketika Tuan Panji terlempar jatuh... Kemungkinan kepalanya terbentur batu yang ada di taman pinggir jalan.


Karena, orang ku menemukan bercak darah yang mengering di batu itu, dan beberapa helai rambut.


Sayangnya... Tubuh Tuan Panji tidak terlihat oleh orang yang berjalan lalu lalang, karena tubuh Tuan Panji tertutup semak pohon hias taman.


Nona Wilda yang duduk di jok belakang, terlempar ke depan, lalu kepalanya membentur dasbor.


Dalam keadaan luka parah... Eka membanting setir ke kanan.


Karena laju mobil yang sangat kencang, dan di tabrak dari belakang dengan kecepatan tinggi... Akhirnya mobil Nona Eka pun terhempas sangat keras.


Begitu banting setir ke kanan, Non Eka tidak bisa mengendalikan mobilnya, akhirnya menabrak pohon kemudian mobilnya terguling roboh berkali kali di tengah jalan.


Itulah mengapa Non Wilda meninggal dunia dalam kecelakaan itu.


Karena, tubuh non Wilda mengalami 4 kali benturan keras.


Eka pun mengalami patah kaki dan patah tulang punggung nya.


Kepalanya mengalami gagarotak.


Kini... Nona Eka sedang menjalani operasi di rumah sakit Singapura.


Nona Aini lah yang memerintahkan dan yang membiayai semua pengobatan Non Eka."


"Apakah Non Eka bisa sembuh tuan,,,


"Bisa sembuh,


Tetapi... Nona Eka akan mengalami cacat sehidup nya.


Karena, luka patah tulang belakang.


Hanya ke keajaiban Tuhan yang bisa menyembuhkan nya."


"Selamat siang Tuan Matrik," sapa El Jhon asisten dua.


"Siang juga El.


Bagaimana..?"


"Malam ini, operasi senyap akan di mulai."


"Baiklah, akan aku tunggu di King Hotel."


"Baik Tuan Matrik."


***


Puncak Cianjur.


Sudah lebih sebulan Panji melangkah kan kaki menelusuri jalan raya.


Walau tidak tau kemana tujuannya... Panji terus berjalan.


Dengan Kaos dan celana pendek yang sangat kumal, rambut panjang yang gimbal, siang itu Panji mencari makanan di tong sampah restoran pinggir jalan.


Melihat orang gila mengais makanan di tong sampah... Pak Ropik yang sedang makan siang di restoran berkata,


"Mas... Tolong bungkuskan nasi rendang untuk orang gila itu ya?


Itu orang nya lagi menjilati plastik roti."

__ADS_1


"Baiklah Pak."


"Sekalian kasih air aqua dan juga rokok.


Nanti aku yang bayar tagihannya."


"Baiklah Pak."


Setelah itu...


Salah satu pembantu mendekati Panji yang duduk di sebelah tong sampah,


"Bang...


Ini makanan."


Sambil melihat pelayan restoran... Panji tersenyum lalu menerima bungkussan nasi.


"Mas... Ayoo pergi, cari tempat yang teduh, lalu makan itu nasi."


Sambil memandang wajah Ruh Wilda... Panji beranjak pergi menelusuri jalan puncak Cianjur.


Setelah itu... Panji duduk di bawah pohon tak jauh dari musholla.


"Mas... Ayoo di makan," teriak Ruh Wilda.


Sambil melihat wajah Ruh Wilda, Panji membuka bungkus nasi.


Dengan tangan yang kotor... Dengan santai Panji mengambil nasi lalu memakan nya.


"Hemmm...


Makan pake tangan itu, cuci tangan dulu, biar bersih biar gak sakit," ujar ruh Wilda.


"Kamu siapa," tanya Panji.


"Aduuuuuh..!


Tanya lagi tanya lagi.


Aku Wilda istri mu..!


Gak pernah bicara, sekali bicara tanya kamu siapa!


Itu buka tutup botolnya, lalu minum," kata Wilda.


Setelah membuka tutup botol aqua... Panji meminumnya hingga separuh, lalu sisa airnya di pakai pakai cuci tangan.


Kemudian... Panji kencing di pinggir jalan.


"Hahahaha..!"


Ruh Wilda tertawa terbahak - bahak,


"Mas... Kencing itu menghadap batang pohon. Ngawur saja..! Kencing menghadap jalan raya. Kelihatan tuh burungnya."


Setelah kencing... Panji duduk lagi kemudian membuka rokok surya 16.


Ting..!


Suara korek zippo terdengar nyaring, kemudian api berwarna biru terlihat menyalah.


Ting..!


Setelah ujung rokok terbakar, Panji menutup korek zippo nya.


"Awas hilang korek zippo nya, itu aku beli mahal untuk mu," kata ruh Wilda,


"Jam kamu juga jangan di lepas, awas pecah.


Itu aku beli sama kamu waktu di Jogja, di jalan malioboro.


Harganya kalau gak salah 24 juta."


Sambil merokok... Panji memegang tali kalung yang terlihat di luar kaos nya.


"Eeh..! Jangan di lepas loh ya! Jangan di buang kalung itu.


Kalung itu harganya trilyunan."


"Aku ini siapa," tanya Panji sambil menatap wajah Ruh Wilda.


"Kasihan suami ku, saat ini dia gila, mengalami gangguan jiwa.


Semua ini salah ku. Aku mengizinkan dugem malam itu," gumam ruh nya Wilda,


"Tetapi...


Alhamdulillah, dia sekarang mulai bertanya siapa dirinya.


Sudah sebulan lebih dia tidak bicara.


Kamu bernama Ahmad Panji Hening. Nama panggilan mu Godfather. Ketua organisasi The Bluss juga presiden Direktur Hening Group!


Ingat ngak siapa kamu..?"


Panji hanya diam sambil tersenyum menatap wajah Ruh Wilda.


"Panji..?"


"Iya,


Pan...ji. Ingat - ingat itu!


Di sebelah sana ada musholla, kamu mandi yang bersih lalu solat.x


Mendengar kata - kata ruh Wilda... Panji hanya tersenyum memandang wajah Ruh nya Wilda.


Tak lama kemudian, Panji berdiri lalu berjalan pelan.


Ketika berada di samping mushollah... Terdengar teriakan anak - anak kecil lagi bermain,


"Ada orang gila... Lari..!"


Mendengar teriakan dan melihat anak - anak berlarian, Panji berhenti dan tersenyum.


"Mas... Masuk mushollah, mandi..!" teriak ruh Wilda,


"Kalau tidak solat... Aku laporkan kyai Jabat guru mu!"


Mendengar nama kyai Jabat... Panji langsung memeganggi kepalanya sambil merintih,


"Aduh, aduh, aduh... Sakit..!"


"Aneh..!!!


Begitu aku menyebut nama gurunya, Mas Panji langsung sakit kepalanya.


Coba aku sebut lagi nama kyai Jabat.


Mas... Ayo mandi lalu solat, kalau tidak, aku laporkan kyai Jabat!"


"Baiklah, baiklah," kata Panji kemudian melangkah kan kakinya masuk ke tempat wudhu musholla.


Tanpa membuka pakaianya... Panji langsung membuka kran air wudhu, lalu duduk di bawah pancuran sambil tersenyum.


"Mas... Bukan begitu mandinya..!


Susah ngasih tau orang gila ini," ujar ruh nya Wilda,


"Terserah kamu lah Mas!"


Melihat orang gila... Orang - orang yang tinggal di sekitar musholla agak ketakutan dan tidak berani menegur.


Setelah mandi... Tanpa wudhu,


dengan baju dan celana pendek yang basah kuyub, pranji solat di teras musholla.


Selesai solat... Panji masuk kedalam musholla, lalu mengambil Al qur'an dan kembali ke teras musholla.


Setelah meletakkan Al qur'an di atas keramik... Panji membuka Al qur'an kebetulan pas lembaran surat Arrohman.


Menjelang solat Asar... Dengan merdu Panji melantunkan ayat - ayat surat Arrohman.


suara Panji terdengar agak keras dan enak di dengar


"Subhanallah...


Suara orang gila itu baca Al qur'annya terdengar merdu dan enak sekali di dengar," kata beberapa orang yang tinggal di sekitar musholla.


Tak lama kemudian,


Sebuah mobil Taff memasuki halaman musholla. Setelah parkir... Kyai Dimyati tetap duduk di jok depan sambil mendengar kan Panji melantunkan ayat - ayat surat Arrohman.


Setelah menerawang dengan seksama... Tiba - tiba, Kyai Dimyati meneteskan air matanya, lalu berkata,


"Nikmat mana yang engkau dustakan.


Astaqfirullahal adhim...


Subhanallah...


Ada singa jantan dari Jawa Timur disini."


Sambil membawah sarung baru dan baju koko baru pemberian orang,


kyai Dimyati turun dari mobil, kemudian mendekati Panji.


"Assalamualaikum," ucap kyai Dimyati lalu duduk di samping Panji dan menunggu sampai Panji berhenti membaca Al quran.


Tak lama kemudian... Panji menghentikan bacaan nya, lalu melihat kyai Dimyati sambil tersenyum.


"Gus... Ganti baju ya?


Pakailah sarung ini, dan baju ini," kata kyai Dimyati.


Tanpa bicara sepatah kata... Panji menerima sarung pemberian kyai Dimyati.

__ADS_1


Tiba - tiba Panji telanjang membuka bajunya dan celana pendek nya di depan kyai, lalu mengenakan sarung dan baju koko.


"Assalamualaikum kyai," sapa Pak Dawa,


"Silahkan ke rumah Kyai..."


"Waalaikumsalam Pak Dawa.


Pak Dawa... Tolong suruh orang membersihkan musholla ini ya."


"Baiklah kyai, mari silahkan."


"Gus... Mari ikut saya," kata kyai Dimyati kemudian mengandeng lengan Panji.


Setelah masuk rumah Pak Dawa... Kyai berkata,


"Pak Dawa, saya tidak bisa berlama - lama di sini.


Ini uang pelunasan mobil yang kemarin."


"Baiklah kyai.


Saya ucapkan terimakasih banyak.


Apa kyai tidak minum kopi dulu..?"


"Terimakasih Pak Dawa, Insallah kapan - kapan saja ya Pak. Karena, saya harus mengurus menantu saya ini."


"Baiklah kyai. Insallah... Lusa saya akan berkunjung ke pondok kyai."


"Baiklah Pak Dawa.


Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam."


"Kang Nur... Mari kita pulang.


Kaos dan celana nya Gus ini sudah di masukkan mobil..?"


"Sudah kyai," jawab Nur Kolis sopir kyai.


Tak lama kemudian... Mobil Taff pun melaju menanjak menuju arah Pangrango lereng bukit gunung Gedeh, di kecamatan Cipanas.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih setengah jam, sampailah di desa Cilukba, dan mobil pun parkir di halaman pondok pesantren Shinobi.


"Gus... Sudah sampai, mari turun," ujar kyai Dimyati kemudian mengandeng lengan Panji,


"Silahkan duduk sini sebentar.


Nur... Kamu temani Gus ini sebentar."


"Tamara..."


"Iya Abah..."


"Siapkan makan di samping teras rumah ya, sekalian kopinya," kata sang kyai sambil masuk kedalam rumah.


"Baiklah Abah."


"Gus Sazuke..."


"Iya Abah..."


"Tolong mandikan tamu abah yang bersih ya, dia ingatannya hilang separuh.


Mandi pakai air hangat."


"Baiklah Abah," jawab Gus Sazuke putra kyai Dimyati.


Sebagai putra seorang wali, yang juga pemimpin pondok pesantren Shinobi... Gus Sazuke adalah putra pertama kyai Dimyati berumur 22 tahun. Gus Sazuke di kenal memiliki banyak kekeramatan sejak dari kecil.


Salah satu kekeramatan Gus Sazuke bisa melihat alam goib sejak umur 6 tahun.


Bahkan... Sejak kecil sering bermain dengan anak - anak dari bangsa jin.


Gus Sazuke juga bisa berjalan di atas air, bahkan menyelam berjam jam di dalam air sungai.


Gus Sazuke juga sering melakukan solat di atas daun pepohonan, dan banyak lagi kekeramatan lainnya.


Melihat Panji duduk bersama kang Nur sopir... Gus Sazuke terkejut, lalu duduk di depan Panji, kemudian berkata,


"Kang Nur... Pergilah."


"Baiklah Gus.


Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam."


"Wah wah wah..!


Tamu Abah ini, ternyata seekor singa jantan.


Walau singa ini terluka... Dia masih bisa mengigit dan mencakar.


Assalamualaikum


Wahai sukma yang bersemayam dalam jasad, siapa nama mu..?"


"Waalaikumsalam Gus..."


Tiba - tiba sukmanya Panji keluar,


"Nama ku Ahmad Panji Hening."


"Aku akan memandikan jasad mu, aku harap, menurutlah."


"Baiklah Gus."


"Sekarang kembalilah ke wadah jasad kasar mu."


Setelah sukma Panji masuk ke jasadnya... Gus Sazuke melihat ruh Wilda yang duduk di belakang Panji.


"Kamu siapa..?"


"Aku Wilda isteri Mas Panji."


"Mengapa kamu mengikuti suami mu..?"


"Aku ingin memastikan suamiku baik - baik saja."


"Sekarang... Kamu pergilah ke alam mu, jangan ikuti suami mu lagi.


Sekarang, Gus Panji dalam perlindungan ku, jadi... Kamu tidak usah khawatir lagi."


"Baiklah Gus, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Mari Gus Panji, ikut aku kedalam," ujar Gus Sazuke kemudian mengandeng lengan Panji.


Setelah memotong rambut Panji... Gus Sazuke memandikan Panji hingga bersih.


Adzan Magrib terdengar menggema.


Panji pun solat berjamaah dengan keluarga Ndalem, (keluarga kyai).


Selesai solat, Tamara berkata,


"Abah... Makan nya sudah saya siapkan di teras samping rumah."


"Baiklah.


Gus Sazuke... Ajak Gus Panji makan malam di teras taman.


Abah masih melanjutkan wirid dulu."


"Baiklah Abah."


"Tamara... Ayo kita makan bersama."


"Baiklah Kak."


Sambil menikmati makan malam... Tamara putri ke dua kyai Dimyati berkata,


"Habis potong rambut, mandi dan ganti baju, terlihat ganteng juga ya Gus Panji ini..!"


"Hahahaha..!


Kamu Naksir..?"


"Ah Kakak ini.


Bilang ganteng di kira naksir."


Sambil makan, sesekali Panji tersenyum melihat Gus Sazuke dan Tamara yang sedang ngobrol dan tertawa kecil.


"Kak, Kak... Gus Panji tersenyum," kata Tamara sambil makan.


"Senyum nya Gus Panji membawa luka.


Kalau kamu tau aslinya... Kamu pasti klepek - klepek di buat jatuh cinta."


"Hahahaha..!


Klepek - klepek, emang ayam di sembelih apa..?


Bisa saja kamu itu Kak!"


"Heeeee..!


Makan kok sambil tertawa," sahut bu Nyai Dimyati.


"Ini loh Mik, kakak cerita Gus Panji, jadi tertawa aku..!"


"Sazuke...

__ADS_1


Jangan di godain Gus Panji itu, kasihan."


"Bersambung."


__ADS_2