
"Gus... Aku tunggu di rumah ya," ujar Mbah Sanusi kemudian uluk salam.
"Baiklah kyai, saya akan segera menyusul," jawab Panji,
"Waalaikumsalam."
Setelah kyai Sanusi menyeberang jalan, Panji melihat Wilda sambil tersenyum,
"Wilda... Kamu cantik sekali..!
Oh iya, habis ini kamu balik ke Jakarta naik apa?"
"Aku sudah telpon menejer cabang di Jogja Mas, Insallah dua jam lagi jemputan akan datang," jawab Wilda,
"Oh iya... Aku sangat berterimakasih sekali kepada mu, tanpa dirimu... Mungkin aku masih menjadi pelayan Bar."
"Sudalah, lupakan masa itu, yang penting kamu sukses dan menjadi pengusaha," ujar Panji,
"Pintaku... Sering - seringlah membantu anak yatim piatu, dan fakir miskin, juga orang - orang yang membutuhkan pertolongan.
Walau kamu sukses dan kaya raya... Jangan pernah tinggalkan Solat 5 waktu, luangkan waktu untuk berdzikir kepada gusti Allah.
Oh iya... Usahakan setiap bulan datanglah ke makam Mbah Kyai Jabat di desa Pelamun Serang Banten.
Karena... Kesuksesan mu ini bersumber dari Kyai Jabat dan istrinya ntyai Sa'adah."
"Baiklah Mas, akan aku laksanakan amanah mu," ujar Wilda tersenyum riang,
"Oh iya... Aku hampir selesai membaca semua kitab - kitab terjemahan mu yang ada di kos - kossan. Alhamdulillah aku sekarang sedikit banyak mengerti tentang agama lebih dalam.
Kapan Mas Panji ke Jakarta lagi?"
Kemungkinan agak lama Wilda," ujar Panji,
"Wilda... Kamu bantu Mbak Dewi juga Devi, mereka adalah orang - orang yang pernah membantu kesulitan ku waktu di Jakarta."
"Baiklah Mas, tetapi... Bagaimana aku bisa menyelesaikan masalah hutang piutang 70 perusahaan Pak Hong Shi, dan mengatasi 70 perusahaan yang krisis..?
Sedangkan di rekening perusahaan yang aku pimpin hanya ada 8 Trilyun..? Itupun uang untuk operasional perusahaan dan gaji kariyawan," tanya Wilda.
"Masalah perusahaan Pak Hong Shi itu hanya masalah dis komunikasi saja, masalah hati dan kepercayaan," jawab Panji,
"jika kamu melakukan diplomasi pendekatan dengan pihak - pihak yang bersangkutan... Semua masalah akan beres.
Selama bulan ini kan pihak investor dan pemilik saham tidak percaya sama kepemimpinan Pak Hong, gara - gara nilai sahamnya anjlok dan perusahaan tidak sehat.
Kepercayaan pemilik saham akhirnya takut uangnya hilang, lalu menarik beberapa saham mereka. Jadilah kolap semua perusahaan Pak Hong Shi."
Walau Wilda kurang percaya dengan pendapat Panji, namun Wilda tidak meragukan kemampuan Panji. Karena Panji telah merubah hidupnya secara tidak masuk akal.
"Mas Panji... Dari mana Mas Panji bisa memahami bisnis, Sedangkan Mas Panji tidak pernah sekolah bisnis," tanya Wilda,
__ADS_1
"Lalu... Bagaimana Mas Panji seyakin ini, dengan mengatakan masalah perusahaan Pak Hong Shi itu masalah kepercayaan dan masalah hati, dan dengan diplomasi ku semua akan beres?"
"Hahaha... Di Surabaya keluarga ku adalah orang pebisnis, jadi sejak kecil aku sudah tau walau tidak pernah sekolah jurusan bisnis," ujar Panji,
"Waktu Papa dan Mama ku miskin... Setelah pulang sekolah SN aku sudah berjualan es lilin keliling kampung, jualan rokok juga kue di pinggir jalan.
Jadi aku tau cara mengambil hati para pembeli dan bisa membaca situasi hati calon pembeli.
Wilda...
Apa kamu tidak percaya kepada ku, atau kamu meragukan kemampuan ku, hingga kamu bertanya bagaimana aku yakin berhasil dengan caraku?"
"Bukan begitu Mas... Aku hanya bingung saja, dan seakan akan tidak masuk akal," kata Wilda,
"Hutang 70 perusahaan Pak Hong itu lebih dari 100 trilyun. Masak dengan diplomasi dan pendekatan kepada pihak terkait semua bisa beres?"
"Wilda... Yang membuat bangkrut kerajaan bisnis Pak Hong itu adalah aku, jadi... Aku juga yang akan mengembalikan kejayaan semua perusahaan Pak Hong Shi," ujar ptanji kemudian menyulut rokok,
"Kamu tinggal menurut saja apa yang aku katakan.
Kerjakan apa yang aku perintahkan.
Setelah kamu menyelesaikan semua masalah perusahaan Pak Hong... Nama mu akan di perhitungkan di kanca bisnis internasional. Kamu akan di segani oleh para pelaku bisnis di Negri ini."
"Baiklah Mas, aku akan menurut semua yang mas katakan," kata Wilda merinding mendengar kata - kata Panji.
Sebuah mobil berhenti di depan stasiun, tak lama setelah parkir... Seorang laki - laki muda keluar lalu menghadap Wilda sambil membungkukkan badan,
"Selamat siang ibu Direktur... Mobil pesanan ibu direktur sudah siap. Tiket sudah saya siapkan dan penerbangan terakhir ke Jakarta jam 19:05.
"Baiklah, kembalilah ke mobil," ujar Wilda sambil mengibaskan tangannya lalu menerima sebuah tas,
"Mas... Terimalah hadiah ini dari ku, walau hadia ini tidak layak... Aku harap Mas Panji mau menerimanya.
Wilda mau pamit ke Jakarta dulu ya."
"Baiklah Wilda," ujar Panji kemudian menerima hadiah dari Wilda.
Setelah sungkem mencium tangan Panji, Wilda memeluk erat tubuh Panji sambil berbisik,
"Mas... Walau kamu bersama yang lainnya... Jangan pernah tinggalkan aku sendirian, dan ijinkan aku untuk mencintai mu selamanya.
Percayalah... Aku selalu mencintai mu.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Wilda," kata Panji.
Sambil meneteskan air mata... Wilda berjalan menuju mobil, setelah mobil berjalan perlahan - lahan, Wilda melambaikan tangannya,
"Jangan lupa menelepon ku?"
__ADS_1
Panji tersenyum sambil membalas lambaian tangan Wilda.
"Maafkan aku ya Wilda...
Sudah ada wanita lain yang telah mengisi hatiku"
"Aryo Jagad... Kamu tau apa yang harus kamu perbuat," ujar Panji.
"Baiklah Gus, saya tau, saya harus membantu Non Wilda menyelesaikan semua masalah perusahaan Bos Hong Shi," paham Arya Jagad.
"Pintar...
Kalau begitu pergilah, susul Wilda sekarang juga," ujar Panji.
"Baiklah Gus...
Kalau boleh tau... Apakah Gus Panji menerima cinta Non Wilda," goda Aryo Jagad.
"Hahaha... Diam kamu, jangan ikut - ikut urusan anak muda, pergi sana!!
Jin pinggin tau saja urusan cinta," ujar Panji.
"Baiklah Gus, Assalamualaikum," kata Aryo Jagad.
"Waalaikumsalam," jawab Panji kemudian pergi ke musolla untuk melaksanakan solat Asar.
Setelah solat Asar, dengan bekal secarik kertas bertuliskan alamat, Panji menyebrang jalan menuju rumah Mbah Sanusi.
Sambil berjalan menikmati sebatang rokok, Panji berkata liriih,
"Cantik sekali Wilda, penampilan nya berubah 90 drajat, bikin kepala ku cenut - cenut saja kalau melihat wajahnya.
Yaa... Kadang Tuhan mempertemukan dua hati untuk saling mencintai tetapi tidak untuk saling memiliki."
"Permisi Pak... Dimana ya alamat ini," tanya Panji kepada seorang di depan rumah.
"Rumah Mbah Sanusi di pinggir sawah Mas, di ujung desa ini ada rumah gubuk dan ada musolla... Itulah rumah nya Mbah Kyai Sanusi," jawab salah satu orang.
"Terimakasih Pak."
Sementara...
Di dalam mobil yang melaju kencang ke arah Bandara Adi Sucipto Jogja... Wilda melamun sambil sesekali menghapus air matanya yang menetes,
"Mengapa Panji tidak menjawab ungkapan kata cinta ku," desah Wilda pelan,
"Walau, seandainya aku jadi wanita simpanannya... Aku sudah sangat bahagia.
Entah pada lara mana aku harus bersandar...?
Entah mengapa aku sangat mencintainya..?
__ADS_1
Tuhan...
Mengapa Engkau tanamkan rasa cinta di hatiku, jika orang yang aku cintai tidak bersama ku?"