SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
PANJI PAMIT


__ADS_3

"Non Aini sepertinya sangat sayang dan perhatian kepada Panji Bos," ujar Pak Rudi meneruskan ceritanya,


"Bahkan Non Aini sering seharian sepulang sekolah tidur di kos - kossan, kadang melukis hingga jam 8 malam.


Non Aini juga sering membuatkan kopi dan masak indomie untuk Panji.


Yang mengherankan... Non Aini mau menemani Panji duduk berjam - jam di pinggir jalan diatas trotoar depan Hotel Atlanta. Bahkan saya lihat, tak jarang Non Aini mengandeng tangan Panji, bahkan memeluk dan menciumnya.


Padahal... Panji itu, menurut saya,dia anak gembel."


"Ini Tuan kopinya," ujar seorang pelayan.


"Silahkan di minum Pak Rudi, kopi nya," kata Mama nya Aini.


Mendengar pengakuan Pak Rudi... Mama nya Aini jadi geram dan khawatir dengan Aini putri nya yang mempunyai hubungan dengan Panji,


"Pa... Tolong cari tau pemuda bernama Panji itu, kalau bisa... Habisi saja! Lenyapkan dia, biar Aini tidak berhubungan lagi dengan pemuda gembel itu. Malu - maluin keluarga saja!!!"


Mendengar kemarahan Istrinya... Bos Hong Shi berkata,


"Sabar dulu Ma... Pelan - pelan... Masalah menghabisi Panji itu gampang, kita cari dulu masalahnya.


Siapa dia, dan apa hubungan nya dengan Aini anak kita?


Pak Rudi... Perintahkan orang untuk mencari informasi sejelas - jelasnya, siapa sebenarnya Panji itu. Besok malam, semua informasi itu harus ada dan akurat."


"Baiklah Bos, sekarang juga akan saya perintahkan orang - orang ku yang ada di Jakarta," kata Pak Rudi kemudian pergi untuk menelpon.


Sementara...


Di kamar kos - kossan... Panji mendapatkan firasat buruk tentang dirinya,


"Wilda..."


"Iya Mas."


"Kemarilah," ujar Panji,


"Ini ada amplop berisi uang dari Mbah Dirjo. Kemungkinan... Kalau melihat tebalnya, kurang lebih isinya 100 juta. Uang ini aku berikan kepada mu, kamu tabung di bank. Pakailah uang ini untuk membayar les privat mu, dan pakailah untuk modal usaha jual beli saham.


Terus... Di sebelah Tv itu juga ada amplop coklat, tolong berikan kepada Mbak Dewi ya."


"Loh, Mas Panji mau kemana? Kok aneh pesan nya," jawab Winda terkejut.


lGak kemana - mana... Barangkali aku pergi sewaktu - waktu," ujar Panji,


"Kalau aku pergi... Kamu tinggallah di kos - kossan ku ini setahun atau dua tahun ya?


Kos - kossan ini sudah di bayar selama 1 tahun oleh Aini. Semua masalah masa depan mu, sudah aku atur. Berteman baiklah dengan Aini."


"Baiklah Mas," kata Wilda.


Setelah memakai celana jean biru dongker dan kaos putih yang baru... Sambil mengalungkan sarung di leher, Panji berkata,


"Wilda... Aku pergi dulu ya? Jaga baik - baik dirimu. Walau tidak ada aku... Kamu yang semangat ya? Biar kamu jadi orang sukses.


Kalau ada yang mencari ku... Bilang saja sudah pindah kos."


"Baiklah Mas," ujar Wilda sambil meneteskan air mata, kemudian Wilda memeluk Panji erat - erat,


"Hati - hati Ya Mas...


Kalau ada waktu... Jenguklah aku."


"Iya Wilda," kata Panji,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Wilda.



***


Setelah menyeberang jalan... Panji melangkah menuju rumah Mbah wali Dirjo. Setelah berada di depan pintu rumah Mbah wali Dirjo, Panji uluk salam,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Mbah Dirjo,


"Masuk Gus."


Setelah sungkem mencium tangan Mbah wali Dirjo... Panji duduk bersandar di sebuah kursi,


"Mbah... Mulai malam ini, aku tidak bisa lagi duduk di depan hotel Atlanta, karena, aku mendapatkan fisarat tidak enak. Seperti akan ada sesuatu yang buruk tentang diriku."


"Sudah..!! Jangan di teruskan biacara.


Kamu minum kopi ini dulu, lalu merokok yang enak," kata Mbah Dirjo sambil menuangkan teko berisi air kopi ke dalam gelas kecil,


"Ayoo di minum kopinya."


Setelah Panji meminum kopi dan menyulut rokok marlboro... Mbah Dirjo berkata,


"Masalah firasat mu itu tidak penting di bicarakan, itu hanya sebuah ke-khawatiran hati yang tidak jelas."


"Tetapi... Aku belum menyelesaikan tugasku duduk selama 40 hari di depan hotel," kata Panji.


"Seminggu dua minggu itu sudah cukup. Gak apa - apa, yang penting kamu telah bersungguh - sungguh dalam melakukan Lelaku," ujar Mbah Dirjo,


"Untuk malam ini... Kamu istirahat tidur di musolla. Nanti setelah solat Subuh... Terserah Gus Panji mau pergi kemana.


Kalau bisa... Gus Panji harus menyebrang laut."


"Baiklah Mbah, kalau gitu, aku permisi dulu," kata Panji.


"Ini aku kasih hadiah untuk mu," kata Mbah wali Dirjo,


"Untuk bekal perjalanan mu besok pagi.


Bawah lah pisau kecil dan gunting ini, masukkan ke dalam tas mu.


Pisau dan gunting itu hanya bisa di gunakan sekali saja, setelah kamu pakai sekali... Buanglah.


Ini ada kurma, kamu bisa memakannya sehari 1 butir. Bawah lah bingkisan ini, nanti kamu akan membutuhkan nya."


"Baiklah Mbah," kata Panji sambil memasukkan barang - barang pemberian Mbah wali Dirjo ke dalam tas kecil. Setelah itu Panji pamit mau istirahat di musolla.


Sambil menikmati kepulan asap rokok di teras musolla... Panji membuka tas lalu melihat hadiah pemberian Mbah wali Dirjo.


"Ngapain Mbah Dirjo ngasih hadiah buah kurma, emang di perjalanan gak ada warung nasi apa," ujar Panji lirih,


"Ini ada bubuk kopi dan gula, hahaha. Lucu mbah Dirjo ini. Buat apa... Bubuk kopi dan gula, kayak gak ada warung saja."

__ADS_1


"Assalamualaikum kang Panji," seru kang Mamad,


"Lagi ngapain... Tumben malam hari ada di musolla."


"Waalaikumsalam kang Mamad," jawab Panji,


lIni lagi istirahat."


"Ini kang Panji, ada air aqua, aku barusan beli 2 botol," ujar kang Mamat,


"Silahkan di minum kang."


"Terimakasih kang... Ini juga ada air aqua tadi di kasih Mbah Dirjo," kata Panji.


lYaa masukin tas saja, buat minum nanti yang satunya," ujar kang Mamad kemudian pergi berlalu.


"Baiklah kang, terimakasih ya," ujar Panji,


"Hemmm, ternyata, hanya kang Mamad lah murid Mbah Dirjo yang mau berteman dengan ku. Yang lainnya tidak ada yang mau menyapa, apalagi mendekat dengan ku, karena, mereka menganggap ku anak gila.


Lebih baik aku masukkan tas saja dua botol air aqua ini, lalu Solat hajat."


***


Jam 11 Malam... Ketika Panji sedang wudhu di samping musolla, Panji mendengar suara seorang lelaki minta tolong, lalu Panji melihat kebun di belakang musolla,


"Suara siapa ya yang minta tolong..? Gelap sekali di kebun itu. Apa aku salah dengar..? Ah biarin saja, lebih baik aku solat."


Ketika setelah takbir untuk melaksanakan solat Hajat... Panji berkata dalam hati,


"Suara orang laki - laki minta tolong... Suaranya sangat keras sekali. Suaranya... Kayaknya berasal dari kolam ikan Mbah Dirjo.


Apa itu murid Mbah Dirjo sedang mencuri ikan, lalu tenggelam di kolam ikan ya? Lebih baik aku tolong saja, kasihan."


Setelah membatalkan solatnya... Sambil membawah tas kecil, Panji pergi menuju kebun pisang Mbah Dirjo yang berada di belakang musolla.


"Itu suaranya berasal dari pohon pisang yang tak jauh dari kolam ikan," kata Panji lirih.


Setelah mendekati pohon pisang... Tiba - tiba tubuh Panji terperosok ke dalam tanah.


Sambil terkejut Panji mengucapkan,


"Duh Gusti Allah."


Setelah itu Panji merasakan tubuh nya terbentur kayu dan jatuh terduduk,


"Hemmm, gelap sekali, barusan aku terperosok ke dalam tanah, sekarang aku ada di mana ini?"


Tiba - tiba... Cincin Taji Kubro pemberian Mbah wali Hasan Salak menyalah, mengeluarkan cahaya merah keputih - putihan. Lalu Panji pun bisa melihat alam sekitarnya walau terbatas pandangannya.


"Cincin pemberian Mbah wali Hasan ini mengeluarkan sinar cahaya, jadi aku bisa melihat walau terbatas. Benar kata Mbah wali Hasan, suatu saat aku akan membutuhkan kekuatan cincin ini," ujar Panji lirih.


Setelah menyulut rokok... Panji berjalan melangkahkan kakinya pelan - pelan.


Kehadiran Panji di alam jisin menjadi perhatian bangsa - bangsa jin yang ada di sekitar tak jauh dari tempat Panji.


Setelah berjalan beberapa langkah... Panji melihat sebuah gubuk terbuat dari bambu,


"Ada gubuk bambu, lebih baik aku istirahat di gubuk itu."


Setelah Panji duduk bersandar tiang bambu, Panji berkata lirih,


"Ini tempat apa..? Gelap sekali. Mati aku kalau aku gak bisa kembali ke rumah Mbah Dirjo."


"Kriwul..! Itu ada anak manusia masuk ke alam kita," kata Barong jin penghuni alam sekitar,


"Diam goblok, pemuda itu di lindungi oleh kekuatan goib yang sangat luar biasa, yang berasal dari cincinnya. Jangan kan kita..? Raja kita yang sakti saja tidak bakal mampu mengalahkan pemuda itu," ujar Kriwul,


"Pemuda itu... Sepertinya tidak sengaja masuk ke alam jin, karena, aku lihat dia sepertinya terperosok di pintu gerbang selatan, lalu jatuh di alam jin ini."


Sementara Panji tertidur lelap di gubuk bambu. Setelah membuka mata....Panji melihat alam sekitarnya telah terang oleh sinar matahari.


Setelah duduk Panji berkata lirih,


"Di mana... Aku ini?


lni hutan belantara, di mana - mana banyak pohon - pohon besar. Lebih baik aku menelusuri hutan ini, siapa tau aku bisa menemukan jalan raya."


Setelah berjalan kurang lebih satu dua jam... Panji kelelahan dan istirahat di duduk di dekat pohon bambu.


"Hemmmm, habis melewati pohon - pohon besar, sekarang banyak pohon bambu," kata Panji lirih,


"Hutan apa... Kok aneh gini?


Perut lapar dan haus. Lebih baik aku bikin kopi saja. Aku masih ingat, waktu melihat Tv, untuk membuat kopi... Para pendaki merebus air dengan botol aqua. Coba aku tiru."


Setelah mengumpulkan ranting pohon bambu... Panji membakar botol plastik aqua, kemudian memotong botol aqua satunya untuk di pakai gelas, lalu membuang pisau.



***


Setelah selesai membuat kopi dan makan 1 butir buah kurma... Panji duduk di bawah pohon bambu menikmati kopi sambil menikmati kepulan asap rokok,


"Hemmm, ternyata ini sebabnya Mbah Dirjo memberiku kurma, bubuk kopi dan gula juga pisau.


Lalu... Gunting ini untuk apa ya..?


Ternyata Mbah Dirjo itu benar - benar seorang wali asli, dia mengetahui takdir apa yang akan ku jalani.


Gusti Allah ini ngajak bercanda saja, masak aku di taruh di hutan yang aneh gini. Alamat lama di sini. Rokok tinggal 2 bungkus lagi.


Lebih baik aku jalan lagi untuk mencari jalan raya."


Setelah menyimpan botol aqua... Panji melangkah kan kaki.


"Perasaan aku sudah berjalan cukup lama, tetapi tidak juga menemukan orang lain atau jalan raya? Binatang pun juga tidak ada. Aneh hutan ini," ujar Panji,


"Bau orang masak, berarti di dekat sini ada rumah atau perkampungan.


Barangkali di depan ada rumah atau perkampungan."


Setelah berjalan agak lama... Panji melihat ada sebuah rumah yang terbuat dari gubuk bambu, lalu mendekatinya,


lAssalamualaikum."


Melihat dan mendengar Panji uluk salam... Satu keluarga bangsa jin itu diam saja.


Tiba - tiba... Jin laki - laki yang memegang parang, langsung menyerang Panji.


Mendapat serangan senjata tajam... Panji kaget dan menundukkan kepalanya sambil kedua tangannya melindungi kepala nya. Beberapa kali parang yang tajam itu di sabetkan mengenai tubuh Panji, namun tiba - tiba jin itu terpental lalu terpelanting dengan sendirinya.


Melihat Panji tidak terluka karena di lindungi cahaya dari cincin Taji Kubro... Lima jin itu kemudian sujud minta ampun di hadapan Panji,

__ADS_1


"Ampuni kami Tuan...


Ampuni kami Tuan..."


"Sudah tidak apa - apa, aku maafkan kalian semua," ujar Panji sambil keheranan melihat tubuhnya tidak terluka sedikitpun,


"Aku kesini hanya ingin bertanya saja. Ini hutan apa..? Dan di mana aku sekarang ini..?"


"Tuan berada di alam jin," jawab salah satu jin,


"Ini Hutan Blandong, di ujung barat Tanah Banten."


"Apa..! Di ujung barat pulau jawa," seru Panji terkejut,


"Ini alam jin..?"


"Iya Tuan."


"Bagaimana caranya aku bisa kembali ke alam manusia," tanya Panji.


"Tuan jalan lurus saja, nanti... Kalau ketemu pohon beringin kembar, tuan jalan di antara pohon itu. itulah jalan keluar ke alam manusia," jawab salah satu jin.


"Baiklah, terimakasih ya... Aku akan ke sana," ujar Panji.


"Tunggu Tuan, sebentar lagi hari akan gelap dan malam pun tiba," kata salah satu jin,


lSangat bahaya sekali jika Tuan berjalan di kegelapan malam. Singgah lah disini semalam untuk istirahat tidur."


"Baiklah Pak," ujar Panji kemudian duduk di gubuk sebelah rumah bambu,


"Bapak siapa namanya?"


"Nama saya Kastibi Tuan, ini istri saya, dan ketiga anak - anak itu putra - putri saya."


"Tuan... Ini air kelapa muda, barangkali tuan haus," ujar Sabra putra jin Kastibi yang berusia 12 tahun.


"Terimakasih Dik," kata Panji,


"Siapa nama kamu?"


"Nama ku Sabra.


Tuan manusia... Mengapa tuan ke alam kami..? Apa Tuan mau jalan - jalan atau mencari sesuatu?"


"Sabra... Aku kesini itu karena tidak sengaja. Aku terperosok lalu... Tiba - tiba ada di hutan ini di alam jin," jawab Panji,


"Tadinya aku mencari sumber suara orang minta tolong. Ternyata aku jatuh dan berada di sini."


"Oooh, begitu," ujar Sabra,


"Kalau suara minta tolong itu... Suaranya Raja kami Tuan, dia bernama Aryo Jagad.


Raja kami di ikat di pohon sama manusia sakti.


Kasihan Raja kami, dia di ikat sudah hampir 1 tahun. seluruh rakyatnya tidak bisa memutuskan tali itu. Bahkan semua jawara bangsa kami tidak ada yang sanggup memutuskan tali itu."


Mendengar cerita si Sabra... Panji berkata,


"Benar Pak Tibi, apa yang di katakan Sabra putra Bapak ini?"


"Benar Tuan," kata Pak Kastibi,


"Sejak Raja kami di hukum... Kehidupan rakyat Blandong ini sangat kacau. Banyak pembunuhan juga pertarungan dari kelompok jin luar."


"Siapakah yang mengikat Aryo Jagad raja kalian," tanya Panji,


"Dan mengapa raja kalian kok di hukum dengan cara di ikat."


"Yang menghukum raja kami adalah Mbah Dirjo, kyai yang sangat sakti," jawab Pak Kastibi,


"Karena... Raja kami sering menganggu santrinya."


"Mbah Dirjo..?!!


Lalu mengapa raja kalian menganggu santrinya Mbah Dirjo," tanya Panji penasaran.


"Beberapa rakyat Blandong ini ada yang berguru kepada Mbah Dirjo, dan raja kami marah, lalu ingin membunuh semua santrinya Mbah Dirjo," ujar Pak Kastibi.


"Tuan ini membawa apa," tanya Sabra.


"Ini ada buah kurma, ada bubuk kopi dan gula," kata Panji,


"Apa Sabra mau buah kurma?"


"Apa itu buah kurma," tanya Sabra.


"Ini cicipin, manis kok," ujar Panji kemudian mengeluarkan buah kurma.


Setelah makan satu buah dan merasakan enak dan manis... Sabra dan kedua adiknya dengan cepat menghabiskan buah kurma.


Melihat buah kurma dan gula di makan habis oleh anak - anak Pak Kastibi... Panji tersenyum sambil berkata dalam hati,


"Aduuuh, gula di habiskan, kurma juga habis, alamat tidak makan dan ngopi ini."


"Apakah Pak Kastibi tidak ingin belajar sama Mbah Dirjo," ujar Panji.


"Yaa... Kepinggin Tuan, tetapi kami tidak berani, karena pasukan kerajaan Blandong menjaga setiap pintu gerbang keluar masuk alam jin dan manusia," kata Pak Kastibi,


"Kalau ketahuan... Kami sekeluarga bisa di bunuh."


"Tuan manusia... Siapa nama mu," tanya Sabra.


"Namaku Panji.


Oh iya Sabra, di mana Raja Aryo Jagad itu di ikat?"


"Dia di ikat di pohon trembesi di sebelah sungai," kata Sabra,


"Raja kami hampir setiap hari di bunuh oleh kelompok jin dari luar, tetapi... Raja kami sangat sakti, dia tidak bisa mati. Namun dia di siksa sepanjang hari... Makanya dia selalu berteriak minta tolong."


"Apakah jauh tempatnya," tanya Panji.


"Dari sini.. Kalau berjalan kurang lebih 1 jam," jawab Sabra.


"Apakah kamu mau mengantarkan aku ke tempat raja mu di ikat," ujar Panji.


"Boleh, mau saja, tetapi di sana banyak jin jahat yang sedang menyiksa raja kami," kata Sabra.


"Gak apa - apa, kamu tunjukkan saja tempatnya dari kejahuan, lalu kamu tunggu sampai aku kembali," ujar Panji.


"Baiklah," kata Sabra,


"Ayah, apakah boleh aku mengantar Tuan Panji ke tempat raja?"

__ADS_1


"Boleh Sabra, tetapi Ayah ikut. Mumpung belum gelap.


Mari Tuan Panji."


__ADS_2