SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
NASEHAT PANJI


__ADS_3

Setelah duduk di samping Panji... Jefri berkata,


"Kang... Sedang musafir ya?"


"Iya Mas," jawab Panji.


"Emang... Asalnya dari mana akang ini," tanya Jefri,


"Gito... Pesankan kopi dan makan untuk akang ini.


Jangan lupa beli rokok marlboro 2 bungkus."


"Siap," seru Gito kemudian berjalan menuju warung depan stasiun Prembun.


"Asalku dari Surabaya," jawab Panji lirih.


"Kenalkan, aku Jefri.


Akang siapa namanya?"


"Nama ku Panji."


"Ternyata benar dia adalah Panji," ujar Jefri dalam hati,


"Sudah dua hari aku di jalan mencari keberadaannya. Hemmm sulit sekali menemukan Panji ini, kalau tidak ada pesan kekerasan dari Bos Rudi... Sudah aku tembak kepala bocah ini.


Bikin susah aku saja."


"Ini Bang sarapannya dan ini kopi juga rokok nya," kata Gito kemudian meletakkan piring dan gelas di atas keramik.


"Kang Panji... Silahkan sarapan dulu, ini kopi nya dan rokoknya," ujar Jefri.


"Terimakasih kang," kata Panji kemudian menikmati sarapan.


Tak lama kemudian Jefri menuju sebuah toko yang menyediakan layanan telpon.


Setelah memencet tombol telpon dan tersambung,


"Halo... Bos..! Bocah bernama Panji telah aku temukan, dia berada di depan stasiun Prembun kabupaten Kebumen."


"Baiklah, awasi dia kemana perginya, setelah ini aku akan meluncur ke kabupaten Kebumen, kemungkinan sore aku baru sampai kesana, kita bertemu di depan stasiun Prembun," ujar Pak Rudi kemudian menutup telpon satelitnya.


Sementara...


Di Jakarta di kediaman Keluarga Hong Shi... Pak Rudi mendekati Bos Hong Shi, setelah membungkuk... Pak Rudi berkata,


"Tuan Besar... Keberadaan Panji si bocah gelandangan itu telah saya temukan.


Saat ini... Panji berada di depan stasiun Prembun di kabupaten Kebumen Jawa Tengah.


Sekarang apa yang harus saya lakukan?"


"Pak Rudi... Siapakah orang yang telah melunasi hutang di bank Salmon sebesar 400 milyar," tanya Bos Hong Shi.


"Dia adalah Non Wilda direktur PT Hening bergerak di bidang Elektronik," jawab Pak Rudi.


"Direktur PT Hening..? Pantas saja dia memiliki uang banyak.


Siapakah Wilda itu..? Aku ingin tau secara detail," ujar Bos Hong Shi.


"Dia adalah putri pertama dari tiga bersaudara dari kabupaten Sukabumi Tuan," jawab Pak Rudi,


"Kedua orang tuanya telah bercerai. Karena masalah ekonomi... Non Wilda akhirnya merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai Waitress di salah satu bar di Jakarta.


Baru bekerja beberapa bulan... Wilda bertemu dengan Panji.


Dari pertemuan itulah Panji merubah hidup Non Wilda.


Panji telah membiayai Wilda untuk les privat mengemudi mobil, les privat Bahasa inggris dan Les privat akuntansi Bisnis dan belajar beramain saham.


Saat ini... Non Wilda sedang melakukan sekolah paket SMA lewat jalur dalam Tuan.


Kemungkinan... Non Wilda akan kuliah mengambil jurusan Bisnis."


"Lalu... Bagaimana Wilda bisa menjadi Direktur PT Hening, dan siapa pemilik perusahaan yang bergerak di bidang Elektronik itu," tanya Bos Hong Shi penasaran.


"Setelah pertemuan Nona Besar Aini dengan Panji di sebuah cafe... Nona Besar akhirnya mengenal Non Wilda.


Sebagai pemain saham... Nona besar tertarik sama Non Wilda, akhirnya... Nona Besar dan Non Wilda setiap hari siang malam beramain saham hingga untung puluhan Trilyun.


Lalu Nona besar mengambil perusahaan PT Sintrus dengan membeli semua sahamnya.


Setelah mengurus surat - surat... Perusahaan itu menjadi atas nama Nona Besar Aini putri Tuan.


Kemudian... Nona besar menganti nama PT Sintrus menjadi PT Hening. Lalu Nona besar memberikan wewenang kepada Non Wilda untuk mengurus perusahaan itu dan menjadikan Non Wilda sebagai Direktur utama."


Mendengar kata - kata Pak Rudi orang kepercayaannya... Bos Hong Shi terperanjat kaget.


Setelah menyulut rokok marlboro... Bos Hong shi berkata,


"Berarti putri ku yang membayar hutang ku di bank Salmon.


Dia memakai uang pribadi nya.


Tidak aku sangka...


Lalu... Apa Wilda yang baru berumur 18 mampu mengelola perusahaan itu?"


"Non Wilda orang yang cerdas Tuan, dia juga rajin beribadah," ujar Pak Rudi,


"Non Wilda memiliki 4 penasehat ahli di bidang Bisnis.


Saat ini... Non Wilda juga akan melakukan akuisisi perusahaan di bidang makanan, dengan uang pribadi nya yang di hasilkan dari bermain saham.


Tuan... Perubahan sikap dan pola pikir Nona Besar Aini dan Non Wilda itu semua karena Panji.


Setelah lama saya selidiki dengan detail... Panji adalah seorang pemuda pelaku spiritual.


Tetapi... Saya tidak bisa menemukan siapa gurunya dan apa yang di pelajarinya saat ini.


Salah satu kelebihan Panji adalah dia mempunyai kekuatan goib yang sangat dahsyat."


"Apa..! Kekuatan Goib," ujar Bos Hong Shi.


"Tuan... Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar - besarnya," ujar Pak Rudi,


"Sebulan yang lalu... Waktu di dalam mobil di kabupaten Pandeglang...


Panji sangat marah telah mengetahui kalau Bos akan menghabisinya.


Dia... Panji berkata kepada Nona besar, kalau Bos akan mengalami kebangkrutan dan jatuh miskin.


Dan... Sekarang setelah satu bulan, ucapan Panji itu terbukti."


"Apa..!" ujar Bos Hong Shi terperanjat,


"Iya Pak Rudi, kini hampir semua perusahaan ku mengalami pailit dan hampir bangkrut.


Saat ini... Satu persatu perusahaan akan diambil alih oleh pihak ketiga .


Jangan - jangan... Dia... Panji si anak sakti penjaga makam keramat di Banten!!!


Gawat..! Makanya tiba - tiba semua bisnis perlahan lahan runtuh."


"Tuan... Sebaiknya Tuan menghubungi Nona besar di Beijing. Kemungkinan... Nona Besar tidak akan pulang ke Jakarta hari ini," nasehat Pak Rudi.


"Baiklah Pak Rudi, siapkan mobil, kita pergi ke kabupaten Kebumen menjumpai Panji," ujar Bos Hong Shi,


"Aku akan telpon Aini di perjalanan."


"Baiklah Bos," jawab Pak Rudi sambil membungkukkan badannya kemudian bergegas menyiapkan mobil.


Sementara...


Setelah menikmati sarapan, Panji menyeruput kopi kemudian menyulut rokok.

__ADS_1


Diam - diam kaki kiri Panji menjejak tanah perlahan - lahan lalu memanggil Aryo Jagad si Raja jin Alas Balandong.


Sementara Jefri dan Gito asik menikmati kopi dan kepulan asap rokok sambil berbincang bincang.


"Assalamualaikum Gus,"


"Waalaikumsalam," jawab Panji kemudian tertawa terbahak - bahak, membuat Jefri dan Gito kaget.


"Dasar gila!" ujar Jefri,


"Ngapain juga bos Rudi mencari orang gila ini."


"Mengapa Gus tertawa terbahak - bahak," tanya Aryo Jagad.


"Tumben kamu pakai sarung dan baju takwa juga songkok hitam. Hahaha... Kayak santri saja," ujar Panji,


"Kemana baju kebesaran mu?"


"Ah Gus ini ada - ada saja, memang raja jin gak boleh pakai sarung dan baju kokoh," kata Aryo Jagad.


"Boleh sih, cuma lucu saja, itu tasbih bagus baget di tangan mu," ujar Panji.


"Ini tasbih tulang Harimau Gus, buat sendiri," kata Aryo Jagad,


"Barusan saya solat dhuha dan mau wirid, eh Gus memanggil ku."


"Solat dhuha..? Ternyata bangsa jin juga Solat dhuha ya... Bagus - bagus, " ujar Panji,


"Duduklah, gak capaik apa berdiri sambil membungkuk?"


"Baiklah Gus."


"Aryo Jagad siapa dua pemuda itu," tanya Panji,


"Aku curiga sama dia."


"Sebentar Gus," kata Aryo jargad kemudian menerawang.


Tak lama kemudian,


"Dia adalah preman yang sangat jahat, mereka membawa senjata api di balik bajunya.


Mereka adalah utusan dari Pak Rudi tangan kanannya Bos Hong Shi.


Mereka hanya ingin mengetahui posisi Gus saat ini.


Dan...


Sekarang, Bos Hong Shi dan Pak Rudi sedang menuju kemari."


"Oh begitu," kata Panji lirih,


"Aryo Jagad... Temani aku dulu ya..? Kalau kamu mau melanjutkan solat dhuha, silahkan lanjutkan di musolla stasiun saja.


Jangan lupa aku... Aku di tawasuli ya..? Biar kayak kyai, hahaha."


"Baiklah Gus."


Setelah Aryo Jagad pergi ke musolla stasiun, Panji merebahkan tubuhnya di teras toko yang tutup, tak lama kemudian Panji pun tertidur.


Kring..!


Bunyi telpon di ruang kantor Wilda berbunyi,


"Selamat Pagi... Dengan siapa?"


"Saya Pak Rudi Non."


"Iya Pak Rudi, ada yang bisa saya bantu?"


"Non Wilda... Apakah kamu tidak ingin bertemu Panji sahabat mu," ujar Pak Rudi.


"Apa Pak..! Bertemu Panji..!


Ya mau lah Pak, tetapi dimana dia sekarang," kata Wilda.


"Saat ini aku dan Tuan Hong Shi sedang menuju kesana.


Saya berharap Non Wilda juga ikut pergi ke kabupaten Kebumen. Kehadiran Non Wilda di sana sangat di butuhkan oleh Bos Hong Shi.


Kehadiran Non Wilda mungkin akan membuat suasana lebih Nyaman ketika bertemu Panji."


"Baiklah Pak Rudi, aku akan pesan tiket pesawat ke Jogjakarta," jawab Wilda.


"Non... Kita naik nobil saja," ujar Pak Rudi.


"Pak Rudi... Perjalanan Jakarta Kebumen membutuhkan waktu 8 jam, itu belum macet dan istirahat makan.


Kalau kita naik pesawat garuda hanya 45 menit, dari Jogjakarta ke Kebumen hanya 2 jam," kata Wildan,


"Jadi... Kita jam 1 siang sudah berada di kabupaten Kebumen.


Masalah mobil penjemputan... Aku akan suruh menejer kepala cabang Jogja untuk menjemput di Bandara Adi Sucipto."


"Iya ya... Kenapa aku tidak terpikirkan soal waktu! Bodoh sekali," ujar Pak Rudi,


"Baiklah Non..!


Non Wilda langsung saja ke bandara Sukarno Hatta, tidak usah pesan tiket, kita naik pesawat pribadi milik keluarga Hong Shi."


"Baiklah Pak Rudi, sekarang juga aku meluncur ke bandara," jawab Wildan.


"Tuan besar... Untuk menyingkat waktu, kita harus naik pesawat pribadi ke Jogjakarta.


Bagaimana Tuan," ujar Pak Rudi.


"Baiklah," jawab Bos Hong Shi, setelah itu Pak Rudi menelpon pengurus pesawat di hanggar di Bandara.


Waktu terus berlalu, tak terasa Adzan Dzuhur berkumandang. Walau rame orang berlalu - lalang... Panji masih tertidur nyenyak. Sementara Aryo Jagad duduk di samping Panji sambil menikmati kepulan asap rokok jie sam sue.


Tiba - tiba ada orang tua duduk di samping Panji, setelah orang tua itu menyulut rokok surya 16, lalu berkata,


"Apakah kamu bangsa jin temannya pemuda yang tidur ini?"


Mendengar pertanyaan orang tua yang ada di sampingnya... Aryo Jagad sangat terkejut, kemudian berkata dalam hati,


"Ternyata bapak tua ini bisa melihat bangsa jin seperti ku, berarti orang tua ini pasti orang Waskito"


"Benar Pak, saya adalah Abdinya Gus ini.


Bapak siapa..? Kok bisa mengetahui ku?"


"Aku Sanusi, panggil saja mbah Sanusi.


Bangunkan Tuan mu, suruh dia solat Dzuhur, dan sebentar lagi dia akan kedatangan tamu."


Saya tidak berani membangunkan Gus Panji Mbah, karena saya abdinya," ujar Aryo Jagad


"Baiklah, aku yang akan membangunkan nya," ujar Mbah Wali Sanusi kemudian menggoyang kan lengan kiri Panji,


"Gus... Bangun, bangun Gus, saatnya solat Dzhuhur."


Setelah membuka kedua matanya, Panji kemudian duduk sambil menatap wajah Mbah Sanusi.


"Gus... Solat Dzhuhur dulu, setelah itu kita makan siang dan ngopi," ujar Mbah Wali Sanusi.


"Baiklah Mbah, terimakasih telah di ingatkan," kata Panji,


"Kalau boleh tau... Siapa Mbah ini?"


"Panggil saja aku Mbah Sanusi, buruan solat Dzhuhur, habis ini akan ada tamu yang menemui."


"Baiklah Mbah, aku ke musollah dulu," kata Panji.


Jefri dan Gito yang duduk di sebelah warung mengawasi Panji yang sedang ke musolla.

__ADS_1


"Gito... Awasi Panji gila itu, jangan sampai kita kehilangan jejaknya. Kalau sampai kita kehilangan jejaknya... Bisa mati kita," ujar Jefri,


"Kamu tau kan, siapa dan bagaimana bengisnya Bos Rudi!"


"Siap Ndan," kata Gito,


"Tetapi mengapa ya Bos Rudi mencari si Panji..? Pasti ada rahasia yang sangat penting."


"Diam kamu," bentak Jefri,


"Ngak usah kita ingin tau masalah bos Rudi dengan Panji gila itu.


Yang penting kita mendapat uang untuk keluarga kita dan mendapat perlindungan dari oraganisasi Kaisar.


*Oraganisasi Kaisar adalah organisasi kelompok preman yang di ketuai oleh Pak Rudi tangan kanan Bos Hong Shi.


Organisasi Kaisar ini adalah kumpulan preman yang sangat kejam yang bekerja secara senyap dan sering membuat keributan juga pembunuhan tanpa meninggalkan jejak.


Walau anggotanya berjumlah kurang lebih 100 orang... Namun organisasi Kaisar ini sangat terlatih, dan terkenal juga di takuti*


Ketika Panji sedang makan siang bersama Mbah Sanusi di emper toko... Tiba - tiba dua mobil mewah berhenti di depan stasiun Prembun.


Setelah Pak Rudi turun dari mobil... Jefri dan Gito langsung beranjak mendekat begitu melihat Pak Rudi berdiri di samping mobil.


"Selamat siang Bos," ujar Jefri dan Gito membungkukkan badan,


"Panji saat ini sedang makan siang di teras toko, itu anaknya."


"Sekarang kalian pergilah, kembali ke Jakarta," ujar Pak Rudi sambil mengibaskan tangannya.


"Baiklah Bos, kemudian Jefri dan Gito bergegas pergi.


"Tuan Besar... Apakah itu Panji orang yang sama dengan Panji si penjaga makam sakti di Banten," ujar Pak Rudi membungkukkan badan di samping cendela mobil.


"Benar, dia Panji si anak sakti penjaga makam," jawab Bos Hong Shi kemudian bergegas turun dari mobil lalu mendekati Panji dan di ikuti oleh Pak Rudi.


"Gus Panji... Aku Pak Hong Shi, masih ingatkah..? Aku minta maaf atas segala kesalahan ku kepada mu,"


Sambil membungkukkan badan, Bos Hong Shi terus meminta maaf.


Sementara...


Beberapa anak buah Pak Rudi yang di dalam mobil sangat terkejut melihat pemandangan di depannya,


"Bagaimana bisa orang terkaya no 3 di indonesia bisa membungkukkan badan, hormat kepada gelandangan itu," kata salah satu anggota organisasi Kaisar.


"Diam goblok, pasti ada hal istimewa di diri pemuda gelandangan itu," sahut anggota organisasi kaisar yang senior.


Sambil minun es teh manis, Panji menatap Pak Hong Shi. Setelah menyulut rokok marlboro Panji berkata,


"Katakan aku bersalah 100x ," ujar Panji sambil menikmati adegan Bos Hong Shi membungkuk.


"Baiklah Gus, saya bersalah," kata Bos Hong Shi.


Setelah mengucapkan 100x... Bos Hong Shi duduk tersimpuh di tanah.


Melihat kejadian itu... Pak Rudi memberi isyarat kepada Wilda.


Melihat isyarat itu... Wilda kemudian turun dari mobil lalu mendekati Panji,


"Assalamualaikum Mas."


"Waalaikumsalam," jawab Panji dengan rasa terkejut sekali melihat Wilda,


"Wilda... Bagaimana kamu ada disini?


Ayoo duduk sini."


Setelah mendekat, Wilda salim mencium tangan Panji, lalu Wilda memeluk erat - erat tubuh Panji.


"Wilda... Dengan siapa kamu kesini, " tanya Panji kemudian melepaskan pelukan Wilda.


"Aku kemari di ajak Pak Rudi dan bersama Pak Hong Shi papanya Aini," jawab Wilda.


"Ooh... Ternyata kamu di ajak kesini hanya di manfaatkan agar aku tidak marah pada Pak Hong Shi..?


Pak Hong..! Berdirilah," ujar Panji,


"Aku memaafkan mu, tetapi ingat..! Jangan ulangi kesalahan ini untuk kedua kali.


Kamu sudah aku tolong kok mau melenyapkan aku dari muka bumi."


"Baiklah Gus, sekali lagi aku minta maaf yang sebesar - besarnya, karena saya tidak tau akan berhadapan dengan Gus Panji penjaga makam keramat," kata Bos Hong Shi.


"Aku tau semua usahamu hampir bangkrut hingga kamu mencariku.


Aku maafkan tetapi ada syaratnya," ujar Panji.


"Baiklah Gus, apapun syaratnya... Akan aku penuhi," kata Bos Hong Shi.


"Berikan satu perusahaan yang besar kepada Wilda, dan perusahaan itu harus atas nama Wilda," ujar Panji.


"Baiklah Gus, biar Pak Rudi yang mengurus semuanya," jawab Bos Hong Shi,


"Besok... Semua berkas kepemilikan akan saya serahkan kepada Non Wilda."


"Sekarang... Pak Hong pulang ke Jakarta, semua masalah perusahaan yang pailit dan masalah hutang piutang perusahaan biar Wilda yang menyelesaikan nya," perintah Panji.


"Tetapi Gus... Hutang - piutang 70 perusahaan saya mencapai lebih 100 trilyun yang harus di bayarkan dalam waktu satu bulan ini, jika tidak... 70 perusahaan itu akan di ambil alih oleh bank dan pihak ke tiga," ujar Bos Hong Shi.


"Pak Hong mau gak, semua perusahaan itu selamat dan masih menjadi milik Pak Hong," tanya Panji.


"Mau Gus!!"


"Kalau mau, Pak Hong harus nurut sama aku, jangan mengatur ku, dan jangan meragukan ku," ujar Panji.


"Baiklah Gus, saya akan menurut dan pasrah atas masalah ini kepada Gus Panji," kata Bos Hong Shi.


"Sekarang pulanglah, temani istri Pak Hong tidur, jangan suka tidur sama pelacur. Kasihan istrinya sering tidur sendirian," nasehat Panji,


"Istri sudah cantik masih saja tidur sama pelacur.


Nikmatilah hidup bersama anak istri."


"Hahaha," Mbah Sanusi tertawa terbahak - bahak,


"Masih bocah galaknya minta ampun.


Oh iya... Mungkin tidur sama pelacur servisnya lebih memuaskan hahaha."


"Diam kamu Pak tua!!" bentak Pak Rudi kepada Mbah Sanusi,


"Jangan ikut campur dengan urusan kami."


"Rudi..!! Diam kamu, jangan menambah masalah, aku kenal betul siapa Panji ini," bentak Bos Hong Shi.


"Pak Rudi..! Jaga mulut mu," ujar Panji,


"Tanpa menyentuh mu, aku bisa mengirim mu kerumah sakit berbaring selama setahun."


Mendengar ucapan Panji... Pak Rudi mudur selangkah sambil terkejut.


"Mas... Biarkan mereka pulang ke Jakarta," kata Wilda sambil memegang pundak Panji,


"Tuan Hong Shi...


Pak Rudi... Segeralah kembali ke Jakarta."


Setelah pamit... Bos Hong Shi dan Pak Rudi pergi balik ke Jakarta.


Sementara Wilda masih menemani Panji di emper toko.


Sebenarnya... Walau Wilda mempunyai masa lalu yang kelam... Sejak pertemuan pertama Panji menyukai Wilda dari pada Aini.


Tetapi... Panji selalu memendam rasa itu.

__ADS_1


Begitu juga dengan Wilda, yang mana dulu membenci Panji... Lambat laut Wilda mencintai Panji, namun Wilda selalu menjaga jarak dan memahami posisinya sebagai pelayan Panji kala itu.


__ADS_2