
Dengan santai Maya mendekati Papa nya,
"Pa... Gak kasihan sama Mama yang selalu setia?"
"Diam kamu," bentak Papa nya,
"Kamu sudah bukan anakku lagi, kamu bukan bagian dari keluarga lagi.
Pergi sana sama bajingan itu.x
"Kalau Papa tidak mengakui Maya anak Papa... Ya tidak masalah. Kami juga sudah menikah," ujar Panji tersenyum,
"Tetapi ingat... Papa jangan pernah merengek minta bantuan apapun dari kami."
"Hahahaha..!
Dasar pemuda miskin!
Lagian ngapain aku minta bantuan kepada mu, apa yang bisa di harap dari mu," kata Papa nya Maya,
"Kami adalah keluarga pengusaha, banyak uang. Ngapain minta bantuan pada gelandangan seperti kalian.
Pergi.!! Muak aku melihat mu."
"Baiklah, kami akan pergi.
Ingatlah Pa, tunggu tanggal kebangkrutan keluarga Dedik," ujar Panji kemudian mengandeng lengan Maya lalu pergi.
Sesampainya di kos - kossan... Panji mandi kemudian merebahkan badannya di atas karpet depan Tv.
***
"Siang jam 11, suara dering telfon rumah terdengar.
Sambil memejamkan mata, Panji meraih gagang telpon,
"Hallo... Siapa..?"
"Kami dari bengkel motor Pak. Ini motor atas nama nona Maya sudah selesai di servis."
"Baiklah di mana alamat bengkel nya, biar saya ambil," ujar Panji.
Setelah menutup telpon... Panji Melihat secarik kertas bertuliskan,
"Gus... Aku pergi ke sekolah dulu, dan les privat.
Kemungkinan pulang jam 3 sore.
Aku sudah masak buat makan siang."
Setelah mengeluarkan Hp... Panji mengirim pesan ke Maya,
"Aku jemput di sekolah."
Setelah mengirim pesan, Panji makan dan pergi naik taxi menuju bengkel.
Setelah melunasi ongkos bengkel, Panji meluncur ke SMA Mariana.
Setiba di depan sekolah, Panji menjumpai Maya yang berdiri di samping pintu pagar,
"Maya... Ayoo!"
"Loh Gus, sudah selesai servisnya," kata Maya kemudian naik motor.
"Sudah, tadi orang bengkel menelpon.
Hari ini gak usah les ya..? Kita jalan - jalan ke Moll," jawab Panji.
"Boleh...
Hemmm mau beli apa..?
Emang punya uang ke moll," tanya Maya.
"Jalan - jalan saja.
Uang si ada walau tidak banyak," ujar Panji.
"Ini aku punya uang 400 ribu, di kasih Mbah Dirjo," kata Maya.
"Banyak sekali ngasihnya," terkejut Panji.
Setelah parkir di PJ alias Plaza Jakarta, Maya mengandeng lengan Panji menuju moll.
Setelah membeli beberapa stel baju untuk Maya... Maya berkata,
"Gus, sudah jam 2, ayo kita pulang. Jam 3 Asar aku harus menyapu halaman rumah Mbah Dirjo."
"Baiklah," kata Panji.
Setelah sampai di kos - kossan dan ganti baju, Maya pergi ke rumah Mbah Dirjo.
Sementara Panji pamit pergi untuk mencari uang.
Ketika berada di dalam taxi... Panji menghubungi Vina lewat Hp.
"Vina... Kamu lagi di mana, sibuk enggak..?"
"Ada di rumah, ini mau keluar.
Gak sibuk Godfather, ada apa," jawab Vina.
"Aku ingin memberi mu hadiah, dan mentraktir mu makan siang.
Aku tunggu di cafe Dodo ya," ujar Panji.
"Baiklah lah, 30 menit aku akan sampai," kata Vina.
Di Cafe Dodo.
Sambil menunggu Vina... Panji menikmati segelas kopi hitam dan kepulan asap rokok.
Tak lama kemudian Vina datang,
"Selamat siang Godfather..."
"Siang juga Vina, silahkan duduk.
Kamu pesan makan siang dulu."
"Minum es jeruk saja, aku masih kenyang," kata Vina.
"Baiklah," ujar Panji,
Vina.... Aku mengucapkan terimakasih kepada mu, karena kamu telah menyelamatkan Maya istri ku."
"Sama - sama Godfather," kata Vina.
"Sebenarnya... Organisasi The Bluss itu organisasi Bisnis sosial pendidikan dan keagamaan.
__ADS_1
Tujuan organisasi ini membentuk team keamanan adalah untuk melindungi aset, bisnis dan anggota The Bluss," ujar Panji,
"Jadi... Jika kamu menyelidiki mafia kartel narkoba dan bisnis gelap di organisasi The Bluss, kamu tidak menemukan nya."
Dengan rasa terkejut, Vina diam sejenak, lalu berkata,
"Maksudnya menyelidiki itu gimana..?"
"Aku tahu kalau kamu itu polisi dari devisi intelijen Lintas Negara, yang menyusup di organisasi The Bluss.
Ada juga teman mu yang juga intelijen laki - laki, dia juga menyusup ke dalam organisasi sebagai anggota, "ujar Panji,
"Jadi... Saat ini ada 2 polisi menyamar menjadi anggota organisasi The Bluss."
"Deg!" Vina sangat kaget sekali kalau dirinya seorang intelijen yang sedang menyelidiki dalang pembunuhan yang terjadi beberapa bulan ini, telah di ketahui oleh Godfather.
"Bagaimana bisa kamu mengetahui semua ini," tanya Vina.
"Aku ini pendiri organisasi The Bluss, jadi aku tahu semua tentang anggota organisasi The Bluss," ujar Panji,
"Apakah selama 4 bulan ini, kamu melihat anggota The Bluss bertransaksi narkoba atau berbuat kejahatan...?"
"Tidak ada, hanya saja... Beberapa anggota inti The Bluss memiliki senjata api ilegal, dan telah melakukan serangkaian pembunuhan di beberapa kota di Indonesia," ujar Vina,
"Bahkan... Di Singapura dan Malaysia.
Itulah mengapa aku di tugaskan menyusup ke organisasi The Bluss. Karena, salah satu organisasi yang di curigai adalah organisasi The Bluss.
Hanya saja, kami tidak mempunyai bukti untuk melakukan penangkapan."
"Beberapa anggota ku telah di bunuh oleh kelompok Mafia, termasuk petinggi organisasi juga tewas di tembak di jalan," kata Panji,
"Jadi wajar saja anggota inti The Bluss melakukan serangan balasan, karena kami melindungi anggota. Itulah alasan mengapa anggota inti memiliki senjata ilegal.
Kami berperang dengan kelompok kartel jaringan narkoba, yang kami serang adalah para mafia.
Jadi... Polisi seharusnya berterimakasih kepada kami, karena kami membantu polisi secara tidak langsung.
Kami tidak menyerang masyarakat."
"Tetapi... Bagaimana pun pembunuhan adalah melanggar hukum," ujar Vina.
"Kamu bicarakan baik - baik dengan atasan mu," kata Panji,
"Oh iya, jika kamu menangkap anggota The Bluss, apalagi menangkap petinggi organisasi The Bluss... Taruhannya adalah nyawa keluarga mu.
Dengan mudah kami menemukan alamat mu dan juga alamat keluarga mu.
Karena organisasi The Bluss memiliki informan yang akurat di seluruh Indonesia juga kawasan Asia.
Organisme the Bluss juga memiliki senjata canggih dan anggota yang tersebar di Jawa,Bali, Mataram dan Sumatera.
Belum lagi yang di kota - kota besar di wilayah negara Asia."
Mendengar kata - kata Panji.... Vina jadi ciut hatinya. Ngeri membayangkan jika semua keluarga nya di bantai habis sama The Bluss.
"Baiklah Godfather, nanti akan aku pertimbangkan dengan atasan ku," jawab Vina.
"Vina... Aku ingin damai, tetapi... Kalau kami di ganggu, kami tidak tinggal diam," ujar Panji,
"Kami punya uang, punya anggota, punya senjata dan punya informan. Jadi... Kami bekerja dengan cara kami sendiri."
"Godfather... Apakah semua anggota organisasi The Bluss terlibat peperangan dengan kelompok Mafia antar negara," tanya Vina.
"Tidak Vina, hanya anggota inti atau anggota keamanan saja," ujar Panji,
"Di organisasi The Bluss ini terbagi 3.
Anggota kelas menengah dan anggota kelas atas. Mereka semua di lindungi dan mendapat jaminan keamanan."
"Mari ikut aku," ajak Panji.
"Kita mau kemana," tanya Vina kemudian berdiri.
"Aku mau belikan kamu hadiah," ujar Panji kemudian mengandeng tangan Vina.
Sambil berjalan di atas trotoar... Vina berkata dalam hati,
"Godfather ini mesrah sekali, pakai mengandeng tangan ku segala, bikin hatiku jatuh cinta saja.
Padahal... Usianya lebih tua aku 2 tahun..? Tetapi pemikiran nya dewasa dan pemberani. Tidak seperti kekasih ku sendiri, sombong dan sok kaya."
"Vina... Itu ada toko Permata, aku ingin membelikan kalung untuk mu," ujar Panji kemudian masuk ke toko Permata.
"Baiklah Godfather," kata Vina.
"Ini bagus dan indah, sangat menawan sekali," ujar Panji.
"Ini terlalu mahal, pilih lainnya saja.
Harganya fantastis, 345 juta, sama dengan gajian ku selama 5 tahunan lebih," kata Vina.
"Gak apa - apa aku yang belikan. Wanita cantik seperti mu sangat anggun bila memakai perhiasan berlian ini," goda Panji.
"Hemmm bisa saja kamu kalau merayuku.
Bukan hanya pandai memimpin organisasi, tetapi juga pandai merayu," ujar Vina sambil tersenyum.
"Mbak... Aku ingin lihat kalung permata yang di box ini," ujar Panji.
Setelah melihat penampilan Panji seperti orang miskin... Karyawan itu berkata,
"Mas... Kalung berlian ini perhiasan terbaik dan termahal di toko kami. Hanya kalangan atas saja yang mampu membelinya.
Kalau mau lihat - lihat saja... Silahkan lihat perhiasan yang murah - murah saja."
"Mbak... Saya mau beli, bukan melihat - lihat," ujar Panji.
"Tampang miskin saja masih ngotot dan belagu," ucap karyawan sambil tersenyum menghina.
Mendengar ucapan karyawan wanita setengah tua... Vina langsung naik pitam, dan,
"Plaaaak!" tiba - tiba Vina menampar karyawan itu dengan keras, hingga pipi karyawan itu merah mengecap telapak tangan.
"Panggil Bos mu sekarang juga, atau kamu akan masuk penjara atas kasus penghinaan," bentak Vina.
Sambil memegangi pipinya, karyawan itu buru - buru masuk ke ruangan bos.
"Ada apa ini, mengapa kalian menampar karyawan ku ha..!
Apa mau cari mati kalian," seru Bos Permata.
Tanpa banyak bicara... Vina langsung menampar bos tersebut,
"Plaaaak!"
Mendapat tamparan keras bos permata itu hampir terjungkal.
"Berani sekali kamu menampar ku ha..! Tunggu, akan aku panggil kan keamanan," ujar Bos Permata.
__ADS_1
"Panggil saja, aku tunggu..!
Beraninya kamu bentak - bentak calon pembeli.
Buruan kamu panggil keamanan sini," ujar Vina,
"Godfather... Silahkan duduk dulu, Godfather merokok dulu dengan santai."
"Ribet banget beli permata di sini. Kita cari toko permata lain saja," jawab Panji.
"Tunggu sebentar, aku ingin kasih pelajaran sama pemilik toko ini, biar gak mentang - mentang dan menghina pembeli seenaknya,x ujar Vina.
Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan toko.
Seorang pria setengah tua dengan setelan jas dan memakai kacamata hitam berjalan memasuki toko dengan di kawal 4 pemuda berbadan besar.
Tanpa melihat keberadaan Panji... Pria itu mendekati bos permata.
"Hallo Bos Rudy, syukurlah kamu segera datang," ucap Bos Permata.
"Siapa yang berani membuat keributan di wilayah ku ini," tanya Bos Rudi.
"Wanita itu Bos, dia telah menampar ku juga menampar karyawan ku.x
"Kalian..! Tangkap dan bawa kemari wanita itu," perintah bos Rudi sambil menunjuk Vina.
"Baiklah Bos," cujar ke empat anak buahnya.
Begitu salah satu pemuda mendekati Vina... Tiba - tiba dengan cepat Vina menendang perut pemuda itu,
"Buuuk!" sekali tendangan pemuda itu langsung terjengkang.
"Hebat juga ilmu beladiri nya Vina, maklumlah polisi, apalagi intelijen, pasti pintar segalanya," ujar Panji kemudian berdiri,
"Hentikan..!!!"
Melihat Panji yang berdiri di samping Vina... Bos Rudy sangat terkejut sekali, dan langsung buru + buru mendekati Panji,
"Godfather... Mengapa Godfather ada di sini..?"
"Pak Rudi...
Apa tidak kapok juga setelah kaki mu kena tembak.
Apa kamu ingin lumpuh selamanya," ujar Panji.
"Tidak Godfather, jangan lakukan itu lagi," jawab Bos Rudy.
"Baiklah.
Saya ingatkan, jangan membela Bos Permata yang salah itu," ujar Panji.
"Baiklah Godfather.
Apa yang Godfather ingin kan di toko ini," kata Bos Rudy.
"Aku ingin membeli kalung berlian ini, tetapi karyawan toko telah menghina ku, dan bos pemilik toko ini telah membentak - bentak ku," ujar Panji.
"Baiklah, akan aku urus," kata Bos Rudy ketua organisasi KAISAR, kemudian mendekati Bos Permata.
"Plaaaak! Plaaaak!
Buka box kalung berlian itu," bentak Bos Rudy.
"Baiklah Bos Rudy, jangan bunuh kami.
Ambil saja kalungnya," ujar Bos Permata.
Ketika Bos Permata membuka box kalung yang terkunci, tiba - tiba ada beberapa polisi yang datang setelah mendapat laporan tentang perampokan.
"Jangan bergerak..! Angkat tangan kalian..!"
"Diam kalian," bentak Vina kemudian menunjukkan kartu identitas Banda intelijen Lintas Negara.
Setelah melihat identitas Vina... Beberapa polisi memberi hormat kemudian pergi keluar.
"Cepat bikinkan surat perhiasan ini," ujar Bos Rudy.
"Godfather... Ini kalung perhiasan nya juga suratnya," ucap Bos Rudy.
"Ini, aku bayar pakai kartu ATM," jawab Panji.
"Tidak usah Tuan, ambil saja, saya sudah merelakan," ujar Bos Permata.
"Kalian ini bisnis permata, dan aku tidak merampok kalian.
Aku beli, jadi... Terimalah uang ku ini," jawab Panji.
"Godfather... Bawa saja perhiasan ini.
Aku yang membayarnya, sebagai rasa terimakasih ku," ujar Bos Rudy.
"Hemmmm baiklah.
Kalau begitu terimakasih banyak," kata Panji.
***
Di Kuala Lumpur Malaysia.
Setelah Billy mengadakan pertemuan gelap dengan ketua organisasi The Dragon Malaysia dan Singapura... Malam itu Billy sedang ber senang - senang di sebuah Bar di tengah kota.
"Kring..!"
Hp Josep berdering, setelah terhubung,
"Josep....Menurut informan, target sekarang berada di Bar Fito bersama 4 anak buahnya."
"Baiklah sekretaris, kami segera meluncur ke lokasi," jawab Josep kemudian melangkah pergi.
Setelah memarkir mobil, Josep dan Kim masuk ke dalam bar yang ramai.
Bau Alkohol juga dentingan alunan suara musik Blues terdengar ranying.
Dengan topi di kepala yang agak di lesakkan, Josep dan Kim duduk di kursi bar sambil menikmati segelas Whisky Kanada.
Setelah menunggu beberapa lama, Billy keluar bersama seorang perempuan malam, menuju parkiran mobil dan hendak ke hotel.
Sementara... Anak buahnya masih menikmati minuman di meja.
Begitu hendak naik mobil... Josep yang mengikuti dari belakang langsung menyergap Billy dengan menodongkan senjata api punggungnya,
"Diam dan ikut aku, atau kamu akan mati..!"
"Pergi kamu," bentak kim kepada perempuan yang bersama Billy.
"Baiklah baiklah," ujar Billy Belut kemudian mengikuti Josep dan naik ke dalam mobil.
Mobil meluncur pelan - pelan ke Markas Devisi information di sebuah perumahan Elit.
__ADS_1
Setelah berada di dalam garasi mobil... Kim menyeret Billy Belut yang tangannya sudah terikat.