
Setelah berjalan kurang lebih 1 jam... Sampailah Panji dan Pak Kastibi juga Sabra di sebuah jalan setapak menuju sungai.
"Tuan Panji... Jalan setapak ini menuju sungai, dan persis di sebelah sungai Raja Aryo Jagad di ikat di pohon trembesi," ujar Pak Kastibi.
"Baiklah Pak Kastibi, aku akan kesana sendirian," ujar Panji kemudian berjalan.
Ketika Panji sedang berjalan menuju sungai... Panji mendengar jeritan Raja Aryo Jagad. Setelah dekat... Panji melihat Raja jin Aryo Jagad di siksa oleh 7 bangsa jin lainnya.
"Berhenti," seru Panji mendekat.
1 Panglima dan 7 prajurit berhenti menyiksa Raja Aryo Jagad. Melihat ada pemuda dari bangsa manusia... Panglima Reta dan para prajuritnya sangat terkejut sekali,
"Siapa kamu dan mau apa kemari!"
"Namaku Panji.
Aku mau membebaskan Raja Aryo Jahad."
"Hahaha, bangsa manusia itu mau membebaskan Aryo Jagad. Besar sekali nyalimu!
Prajurit..! Bunuh manusia itu," perintah Panglima Reta.
Mendapatkan perintah... Seorang prajurit dengan cepat menghempaskan pedangnya ke arah tubuh Panji.
Panji yang tidak bisa ilmu bela diri hanya menunduk dan memeganggi kepalanya. Begitu pedang hampir menyentuh tubuhnya... Prajurit itu terpental muntah darah.
Melihat temannya terpental luka parah... Ke enam prajurit itu bersamaan menyerang Panji. tetapi mereka juga terpental semua hingga luka parah.
"Siapa pemuda dari bangsa manusia ini..? Dia sangat sakti sekali," ujar Panglima Reta,
"Tanpa melakukan perlawanan... Mampu merobohkan 7 prajuritku.
Dengan rasa marah... Panglima Reta mengeluarkan sebilah keris, kemudian dengan cepat melompat dan menghujamkan nya ke arah dada Panji.
Begitu ujung keris hampir mengenai dada Panji... Tiba - tiba Panglima Reta terpental tubuhnya menghantam pohon dan tak bangun lagi.
"Ternyata diriku sakti juga ya," ujar Panji lirih,
"Hanya memakai cincin pemberian Mbah Wali Hasan... Diriku terhindar dari kejahatan bangsa jin."
Hari mulai gelap, Panji berteriak,
"Pak Kastibi... Sabra... kemarilah!!"
"Iya Tuan," jawab jin Kastibi kemudian bergegas mendekat.
Melihat para penyiksa bergelimpangan di tanah... Pak Kastibi berkata dalam hati,
"Pemuda bangsa manusia ini hebat juga, dia sangat sakti sekali."
"Pak Kastibi... Carilah kayu bakar, buatlah api unggun," ujar Panji.
"Tuan... Tolonglah aku!
Tolonglah," ujar Raja jin Aryo Jagad.
Setelah mendekati Raja jin Aryo Jagad dengan tangan dan kaki terikat di pohon... Panji berkata lirih,
"Raja jin ini di ikat dengan benang jahit, tetapi... Benang ini mengeluarkan cahaya biru."
"Aryo Jagad..! Mengapa kamu di siksa berbulan - bulan kok tidak bisa mati," ujar Panji.
"Karena aku mempunyai ilmu kebal rangkap 11, dan aku punya ilmu Pancasona. Jadi... Aku tidak bisa mati. Kalaupun mati... Aku bisa hidup kembali," kata Aryo Jagad,
"Apakah kamu murid Kyai Dirjo?"
"Oh, gitu ya... Ternyata kamu jin yang sangat sakti," ujar Panji,
"Aku bukan murid Kyai Dirjo tetapi Murid Kyai Nuruddin Serang Banten."
"Apakah Kyai Nuruddin cucunya Kyai Jabat," tanya Aryo Jagad.
"Iya benar, Kyai Nuruddin adalah cicit ke 4 dari Kyai Jabat," kata Panji,
"Kamu kok kenal..?"
"Aku tidak kenal, tetapi aku mengetahui semua kyai aliran putih di Tanah Jawa, apalagi kyai di seluruh Jawa Barat ini, khususnya Banten," ujar Aryo Jagad,
"Lalu... Ada urusan apa kamu masuk ke alam jin ini? Apa kamu mau membunuh ku? Atau mau membebaskan ku?"
"Aku kebetulan saja masuk ke alam jin ini, tidak sengaja aku terperosok dan jatuh di alam jin ini," kata Panji,
"Kalau membunuh mu itu gampang sekali... Tetapi aku bukanlah pembunuh, sebab, membunuh itu perbuatan dosa yang di larang orang agama."
"Sombong sekali kamu manusia, kalau kamu mampu... Silahkan bunuh aku," kata Aryo Jagad.
Setelah mengeluarkan gelas botol aqua berisi air kopi dari dalam tas kecil, dan menyeruput sedikit... Panji menyulut rokok marlboro kemudian berkata,
"Baiklah, kalau kamu ingin mati... Aku akan bertanya kepada Nenek Sa'adah tentang kelemahan mu, agar aku bisa membunuh mu dengan mudah."
"Hahahaha.
Kamu bisa selamat dari serangan 7 prajurit itu... Sebab kamu di lindungi oleh kekuatan goib dari cincin yang melingkar di jarimu," ujar Aryo Jagad,
"Padahal... Kamu tidak memiliki ilmu apa pun."
"Walau aku tidak sakti... Tetapi aku punya Gusti Allah, punya kakek guru bernama Kyai jabat, punya teman Syeh Hamdani dan Mbah wali Hasan salak," kata Panji,
"Baiklah, kalau kamu ingin mati... Aku kabulkan.
Pak Kastibi... Aku lapar sekali, sehari belum makan."
"Sabra sedang mencari ubi Tuan dan sedang berburu kelinci, sebentar lagi akan datang," jawab Pak Kastibi.
"Baiklah Lak Kastibi, aku mau wudhu dulu di sungai," kata Panji kemudian wudhu lalu mengelar sarung yang melingkar di lehernya.
Sambil duduk dan merokok, Panji mengucapkan salam,
"Assalamualaikum ya Nenek Sa'adah...
Assalamualaikum ya Nenek Sa'adah...
Kok gak ada jawaban ya..? Apa Nenek Sa'adah lagi tidur..?
Lebih baik aku hubungi Syeh Hamdani.
Assalamualaikum Syeh Hamdani..."
"Waalaikumsalam Gus," jawab Syeh Hamdani,
"Ada apa kok tumben Gus menghubungi ku..? Sudah 2 bulan lebih Gus tidak pernah menghubungi ku. Terakhir sebelum Lebaran. Apa Gus Panji butuh uang..?"
"Apa Syeh... 2 bulan...!!!
__ADS_1
Sekarang kan masih Lebaran dapat 2 hari," seru Panji heran.
"Lebaran sudah terlewati Gus... Lebaran bulan 4, sekarang bulan 6 akhir," ujar Syeh Hamdani,
"Jadi... Gus Panji berada di alam jin itu sudah 2 bulan.
Alam jin dengan alam manusia itu beda waktu Gus."
"Oh gitu ya Syeh..!!
Perasaan baru dua malam di alam jin," ujar Panji,
"Syeh... Barusan aku menghubungi Nenek Sa'adah, tetapi tidak bisa. Akhirnya aku menghubungi Syeh."
"Nyai Sa'adah itu adalah istri dari Mbah wali Jabat Gus... Mereka itu hidup di alam ruhania, mereka itu bangsa ruh," ujar Syeh Hamdani,
"Kamu Tawasul dulu, baca Al fatihah 1x lalu membaca Ayat kursi 4x Alif lam mim 3x. Nanti kamu bisa sambung sama Nyai Sa'adah. Itulah sandi cara menghubungi Nyai Sa'adah."
"Bukankah Nenek Sa'adah itu manusia Syeh...? Dulu aku sering main ke rumahnya," kata Panji,
"Nyai Sa'adah juga sering mendatangi ku untuk memberi kopi."
"Nyai Sa'adah sudah meninggal dunia kurang lebih 200 tahun yang lalu. Dia menampakkan diri dengan merubah wujudnya menjadi manusia, agar Gus Panji tidak takut. Itu di lakukan hanya untuk Gus Panji," ujar Syeh Hamdani,
"Jadi... Yang Gus jumpai selama di makam itu, adalah Kyai Jabat dan Nyai Sa'adah."
"Oh... Begitu ya! Baru mengerti aku," kata Panji,
"Baiklah Syeh... Aku akan hubungi Nenek Sa'adah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah bertawasul dan membaca Ayat kursi 4x dan alif lam mim 3x, Panji uluk salam,
"Assalamualaikum Nenek."
"Waalaikumsalam Gus," jawab Nyai Sa'adah,
"Sekarang kamu sudah mulai pintar dan Insallah... Perlahan - lahan kamu akan lebih pintar lagi.
Aryo Jagad adalah raja jin penguasa hutan Blandong. Dia itu jin yang sangat kejam sekali, dan banyak membunuh bangsanya sendiri. Jadi... Pantas saja banyak jin yang ingin membunuhnya, hingga dia di siksa.
Aryo Jagad dan kelompok nya sering membuat keributan dan kekacauan di alam manusia. Dia juga bersekutu dengan dukun - dukun aliran hitam, hingga keberadaan Aryo Jagad banyak merepotkan beberapa kyai di Tanah Jawa.
Menurut takdir langit yang Nenek baca... Dia akan tunduk dan patuh kepada seorang bocah, yang ciri - cirinya bocah itu ada pada diri mu Gus."
"Begitu ya Nek...
Apa benar Aryo Jagad ini sangat sakti dan tidak bisa mati," ujar Panji,
"Apa Nenek tau kelemahannya?"
"Iya Gus, benar," kata Nyai Sa'adah,
"Aryo Jagad si Raja jin itu sulit untuk di bunuh, karena dia mempunyai ilmu Pancasona dan ilmu kebal senjata apa saja.
Tetapi... Setiap makhluk itu, pasti mati dan ada kelemahannya.
Di ketiak kirinya... Ada tanda hitam, dalam bahasa jawa namanya To.
Tanda hitam itu adalah pusat ilmunya juga kelemahannya. Tanda hitam itu jika di tusuk dengan duri pohon bambu... Maka tanda hitam itu akan robek, dan semua ilmunya akan keluar dan hilang.
Ingatlah..!! Hanya dengan duri pohon bambu.
"Nek... Panji ingin keluar dari alam jin. Bagaimana caranya keluar," tanya Panji.
"Pergilah ke arah terbit matahari, di sana nanti, kamu akan keluar dari hutan Blandong dan kembali ke alam manusia. Tepatnya di pesisir pantai selatan di wilayah kabupaten Sukabumi Jawa Barat," jawab Nyai Sa'adah,
"Atau... Jika kamu bingung, hubungi Nenek saja, biar Nenek suruh Kyai Jabat yang mengantarkan mu keluar dari alam jin."
"Nek... Bagaimana cara melepaskan ikatan benang jahit yang mengikat tubuh Aryo Jagad itu," tanya Panji.
"Benang cahaya itu bernama Jolo Sutro Gus," ujar Nyai Sa'adah,
"Jolo Sutro itu bisa putus dengan kulit bambu kuning yang di olesi darah burung gagak hitam."
"Baiklah Nek, terimakasih atas petunjuknya," kata Panji,
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Gus."
"Tuan Panji... Ini daging bakar kelinci, dan ini ubi kayu," ujar Sabra,
"Silahkan di makan, ini sudah matang."
"Terimakasih Sabra," kata Panji,
"Oh iya... Pak Kastibi, tangkaplah burung gagak hitam dan carikan kulit bambu kuning, juga duri pohon bambu."
"Baiklah Tuan, di hutan ini sangat banyak burung gagak hitam, dan pohon bambu," ujar Pak Kastibi,
"Tunggulah sebentar tuan."
Setelah mencicipi daging kelinci bakar dan minum beberapa teguk air... Panji menyulut rokok lalu mendekati Aryo Jagad si Raja jin yang terikat benang, lalu mengangkat lengan kiri Aryo Jagad.
"Di ketiak kiri mu ada tanda hitam bulat, jika aku tusuk dengan duri pohon bambu... Maka seluruh ilmu mu akan menguap keluar dan hilang," ujar Panji,
"Kemudian... Dengan mudah aku bisa membunuh mu. Aku bakar saja kamu pasti mati."
Mendengar kata - kata Panji... Aryo Jagad sangat terkejut sekali dan raut wajahnya sangat ketakutan sekali,
"Jangan Tuan..!
Jangan bunuh aku...
Aku berjanji, jika Tuan tidak membunuh ku dan membebaskan ku... Aku dan seluruh anak keturunan ku akan setia dan tunduk kepada Tuan, aku akan melakukan apa saja yang tuan perintahkan.
Aku akan mengabdi pada Tuan hingga anak cucu Tuan."
"Tadi katanya di suruh membunuh..?Sekarang ketakutan," ujar Panji.
"Iya Tuan, maafkan aku Tuan," kata Aryo Jagad.
"Bener kamu akan tunduk dan patuh sama semua perintah ku," ujar Panji,
"Akan mengabdi kepada ku hingga anak cucu ku?"
"Benar Tuan," jawab Aryo Jagad.
"Baiklah, kamu akan aku bebaskan, tetapi kamu harus menjadi jin yang baik.
Tidak boleh membunuh, tidak boleh berbuat jahat dan tidak boleh menganggu manusia lagi," ujar Panji,
"Satu lagi, kamu harus memeluk agama islam dan mau beribadah dan mau menyembah Gusti Allah.
__ADS_1
Bagaimana..?"
"Baiklah Tuan, akan aku laksanakan perintah Tuan," jawab Aryo Jagad.
"Semua keluarga mu juga rakyat mu harus memeluk agama islam, menyembah Gusti Allah," ujar Panji,
"Apakah kamu sanggup memerintahkan nya?"
"Sanggup Tuan," jawab Aryo Jagad.
***
"Ini Tuan, burung gagak hitam dan kulit bambu kuning juga duri pohon bambu," ujar jin Pak Kastibi sambil menyerahkan pesanan Panji.
Setelah melumuri kulit bambu dengan darah burung gagak hitam... Panji kemudian memotong benang Jolo Sutro yang mengikat tubuh Aryo Jagad.
Seketika itu juga, tali itu putus, dan Aryo Jagad melompat terbang kesana - kemari dengan rasa senang, lalu duduk sujud di kaki Panji untuk berterimakasih juga menyatakan tunduk dan patuh juga menyatakan sebagai Abdi.
"Duduklah Aryo Jagad, makanlah daging kelinci dan minumlah," ujar Panji.
"Tuan Panji... Ikutlah dengan ku ke istana Blandong. Tuan bisa makan enak dan istirahat di istana," kata Aryo Jagad.
"Tuan Raja... Kabar yang saya terima, keluarga Tuan raja telah mengungsi di pesisir laut selatan bersama panglima perang, untuk mencari perlindungan.
Istana Blandong telah di kuasai oleh kelompok jin dari luar," ucap jin Kastibi rakyat kerajaan Blandong.
"Tuan Panji... Apakah aku boleh bertarung melawan musuh ku..? Apakah aku boleh membunuh musuh - musuh ku," ujar Aryo Jagad,
"Mereka adalah kelompok jin jahat yang merebut kerajaan ku."
"Boleh Aryo Jagad, silahkan," kata Panji, "Tetapi... Kalau bisa jangan membunuhnya. Siapa tau kelak, mereka akan bertobat dan mau menyembah Gusti Allah.
Bikin kapok saja."
"Baiklah Tuan.
Mari... Tuan peganglah tangan ku," ujar Aryo Jagad,
"Kastibi... Pulang lah dengan anak mu.
Tak lama kemudian... Panji dan Aryo Jagad sudah berada di depan istana Blandong.
"Tuan Panji tunggu di sini dulu, aku akan mengusir semua jin yang menguasai kerajaan ku," ujar Aryo Jagad.
"Baiklah Aryo Jagad... Semoga kamu berhasil," kata Panji.
Sambil menunggu... Panji melihat suara pertarungan dan percikan senjata pusaka. Setelah beberapa jam, Aryo Jagad kembali menjemput Panji,
"Silahkan Tuan... Mari masuk ke istana Blandong. Semua jin yang menguasai kerajaan ku telah pergi."
Setelah duduk di ruang keluarga... Aryo Jagad menghubungi panglima nya, dan memerintahkan untuk kembali ke kerajaan Blandong bersama semua keluarga nya.
"Kata Pak Kastibi, keluarga mu mencari perlindungan di kerajaan pantai selatan.
Di mana itu pantai selatan," tanya Panji.
"Pantai selatan itu ada semenanjung pesisir pulau jawa bagian selatan Tuan," ujar Aryo Jagad,
"Dari wilayah kabupaten Jember, Lumajang Malang, Blitar Telungagung Jogjakarta Tasikmalaya hingga ke pantai pelabuhan ratu Sukabumi Jawa Barat.
Di semenanjung pantai selatan... Itu ada 7 kerajaan jin. Yang di laut pelabuhan ratu kabupaten Sukabumi itu, ada kerajaan jin. Di situlah keluarga ku mencari perlindungan, karena,.istri ku masih memiliki hubungan famili."
"Menarik sekali cerita mu," ujar Panji,
"Baru kali ini aku mendengar cerita tentang kerajaan jin di pantai selatan. Jadi kepingin tau kerajaan jin di pantai selatan."
"Kalau Tuan Panji ingin jalan - jalan ke pantai selatan... Saya bisa antar Tuan kesana," ujar Aryo Jagad,
"Tetapi... Sangat bahaya sekali Tuan.
Di bawah laut itu ada kerajaan yang sangat indah, yang di pimpin oleh seorang Ratu jin bernama Dewi Kili Suci atau di kenal dengan Nyai Roro Kidul.
Nyai Roro Kidul itu terkenal kesaktian nya, dia di akuti oleh hampir seluruh raja raja jin setanah jawa. Aku sendiri... Kalau berhadapan dengan Nyai Roro kidul, mikir 7x."
"Rajanya siapa, kok yang terkenal malah Nyai Roro kidul," tanya Panj
"Nyai Roro itu bujang Tuan, tidak punya suami," jawab Aryo Jagad.
"Oh... Iya iya.
Tak kira janda," ujar Panji,
"Apakah Nyai Roro Kidul itu sudah tua kok gak nyari suami?"
"Dia masih muda Tuan, dan sangat cantik," jawab Aryo Jagad,
"Gak tau mengapa dia tidak mau bersuami."
"Tidak mempunyai suami, berarti Nyai Roro kalau tidur sendirian. Padahal di dalam laut itu dingin loh," ujar Panji,
"Apakah Aryo Jagad pernah bertarung dengan Nyai Roro Kidul?"
"Belum pernah Tuan," kata Aryo Jagad, "Semisal... Aku bertarung sama Nyai Roro... Kemungkinan besar aku kalah."
"Kata Nenek Sa'adah, Aryo Jahad sangat sakti, banyak mengalahkan Raja raja jin, dan sulit di bunuh," ujar Panji.
"Tetapi... Kalau bertarung dengan Nyai Roro Kidul, saya kalah sakti Tuan," kata Aryo Jagad.
"Kapan - kapan ke pantai selatan ya..? Jalan - jalan sambil bertarung dengan Nyai Roro Kidul," ujar Panji,
"Nanti aku cari informasi cara mengalahkan dia."
"Baiklah Tuan," jawab Aryo Jagad sedikit ragu.
"Oh iya... Kalau ada kerajaan bawah aut pantai selatan... Berarti ada kerajaan laut pantai utara, pantai timur dan pantai barat," ujar Panji.
"Iya Tuan, benar," kata Aryo Jagad,
"Kerajaan Pantai Utara di pimpin oleh Ratu Dewi Lanjar
Kerajaan Pantai Timur Ratu Dewi Sambi
Pantai Barat Nyai Ratu Dewi Anjani.
Ke 4 Dewi ini mempunyai hubungan
pertemanan yang sangat baik. Mereka masih bujang dan cantik - cantik, Mereka juga sangat sakti sakti."
Begitu ya...
Kapan - kapan antarkan aku jalan - jalan ke kerajaan mereka ya," ujar Panji,
"Besok siang, antarkan aku keluar dari alam jin ini."
"Baiklah Tuan."
__ADS_1