
Dengan kedua tangan terikat, Billy duduk di kursi di ruang dapur.
Melihat wajah Josep dan kim, Billy sangat kesal dan membentak bentak Josep,
"Ada apa ini ha..!
Mengapa kalian menangkap ku?"
Dengan santai Kim mengambil Hp dan ATM yang berada di saku Billy, lalu berkata,
"Bob... Tolong matikan Hp ini, lalu buang Hp ini ke jalan raya yang agak jauh dari sini."
"Baiklah Kim."
Tibac- tiba Josep menyundutkan api rokok ke lengan Billy.
Sontak Billy berteriak kesakitan.
"Berteriak sekencang apapun..! Tidak akan ada yang mendengar, ini ruangan sudah terpasang peredam suara. Aku tau, kamu berkhianat pada organisasi, bahkan kamu telah merencanakan pembunuhan terhadap Lady ketua kita sendiri.
Kurang apa organisasi The Bluss kepada mu. Uang, Hp satelit, tempat tinggal sudah di sediakan, bahkan senjata api peredam juga di kasih.
Masih saja kurang...!
Mungkin kamu bisa lolos dari kepolisian Malaysia dan Singapura juga kepolisian Indonesia.
Tetapi...
Jangan harap kamu bisa lolos dari team keamanan inti organisasi The Bluss,"cujar sekretaris Iwan,
"Jawab pertanyaan ku..!
Kapan rencana operasi pembunuhan terhadap Lady ketua organisasi The Bluss di lakukan..?"
Mendengar pertanyaan sekretaris, Billy diam saja.
"Josep..!
Ambilkan suntikan Antiatrogen yang ada di rak itu," ujar sekretaris Iwan.
Sambil membuka bungkus jarum suntik Antiatrogen sekretaris Iwan berkata,
"Baiklah, kalau kamu tidak mau menjawab, ini obat suntik kebiri, jika aku suntikan di tubuh mu... Kamu akan impoten seumur hidup, dan kamu akan mengalami kelumpuhan permanen. Dan kamu tidak akan bisa menikmati tubuh seorang wanita cantik."
Mendengar kata - kata sekretaris Iwan, Billy langsung terkejut dan ketakutan, wajah nya langsung pucat. Billy baru menyadari akan kekuatan organisasi The Bluss yang di pimpin oleh sekelompok remaja.
Billy juga baru menyadari, yang mana sekretaris Iwan yang masih muda dan pendiam itu, dulu di anggap pemuda penakut dan tidak tau apa - apa... Ternyata kejam dan sangat pintar.
Ketika ujung jarum hendak menyentuh lengannya, tiba - tiba Billy berkata,
"Baiklah baiklah, akan aku katakan, asal jangan siksa aku, dan jangan bunuh aku."
"Oke! Aku tidak akan membunuh mu," ujar sekretaris Iwan, kemudian menyulut rokok,
"Katakan sejujurnya, kalau kamu berbohong... Ayah dan ibu mu akan menjadi mayat besok pagi."
"Jangan pernah melibatkan orang tua dan keluarga ku," bentak Billy.
"Jelas aku libatkan keluarga mu, karena kematian keluarga itu akan sangat menyakitkan bagi kita.
Dan semua itu karena perbuatan mu sendiri.
Cepat katakan," balas bentak sekretaris Iwan.
"Operasi akan di lakukan pada malam Natal tanggal 25 desember," ujar Billy.
$Siapakah dalang di balik operasi pembunuhan itu..?"
"Keluarga Markus.
Asisten Mikel yang menjadi pelaksana nya."
"Lalu, siapa yang akan mengeksekusi nya..?"
"Anggota organisasi The Dragon Indonesia, di bawah arahan Rony ketua The Dragon Malaisya yang bekerjasama dengan Aprilia ketua organisasi The Dragon Singapura."
"Han..! Tolong kamu cari keberadaan Rony ketua organisasi The Dragon Malaisya juga Aprilia."
"Baiklah sekretaris."
"Malam Natal kurang 4 hari lagi.
Tidak ada yang bisa mengetahui jadwal ketua organisasi The Bluss kecuali orang dalam sendiri.
Berarti... Pembunuh nya adalah kamu sendiri," ujar sekretaris Iwan sambil menunjuk wajah Billy.
Dengan terkejut dan kaget Billy menatap wajah sekretaris Iwan.
"Jangan terkejut jika aku mengetahui rencana busuk mu.
Walau kamu di dukung oleh Mafia organisasi The Dragon... Rencana mu tercium oleh ku.
Karena organisasi The Bluss memiliki banyak informan yang handal dan setia.
Josep..! Selesaikan tugas mu," ujar sekretaris Iwan, lalu memberikan jarum suntik.
Sebagai pembunuh berdarah dingin... Josep langsung menyuntikkan suntik kebiri ke lengan Billy.
"Kim..!
Beri hadiah kedua kakinya untuk ketua kita."
"Baiklah sekretaris.
Sambil membawah pipa besi, Kim mendekati Billy kemudian mengayunkan pipa ke arah kaki Billy,
"Kraak kraaak Kraak!"
Billy berteriak kesakitan, meraung - raung di atas kursi dengan tangan terikat.
Kedua tulang betis kakinya remuk, dan itu akan menjadikan Billy cacat, dan seumur hidup akan duduk di atas kursi roda.
"Josep..! Aku ingin satu matanya buta."
"Baiklah sekretaris," ujar Josep kemudian menusukkan ujung gunting ke mata kanan Billy.
Sontak Billy berteriak keras karena kesakitan.
Darah keluar deras dari lubang mata kanannya.
"Ini hadiah bagi penghianat.
Ingat, kalau sampai masalah ini bocor..! Kedua orang tua mu sebagai jaminan," ujar sekretaris Iwan,
"Bib..! Bawa dia ke mobil, dan buang dia di pinggir jalan."
"Baiklah sekretaris."
***
Sementara Di Jakarta.
Di sebuah ruangan... Vina dan komandan intelijen juga rekannya sedang ngobrol.
"Komandan...
Hasil penyelidikan, organisasi The Bluss adalah organisasi bisnis dan sosial kemasyarakatan saja.
Jadi... Tidak ada Mafia juga tidak ada transaksi narkoba dan kejahatan lainnya.
Hanya saja... Ada beberapa orang yang memiliki senjata ilegal. Itupun hanya untuk melindungi diri," ujar Vina yang menutupi kejahatan anggota inti The Bluss.
"Tetapi mengapa orang The Bluss berhubungan dengan kelompok mafia..?
Menurut informasi, organisasi lapangan... Anggota The Bluss berhubungan dengan Mafia di Sumatera, Jawa dan Bali juga NTT," tanya Komandan.
"Untuk mengamankan aset juga bisnis mereka... Beberapa anggota elit yang mempunyai perusahaan menyewa jasa para mafia untuk melakukan keamanan," ujar Vina.
"Baiklah, untuk sementara penyelidikan di hentikan, tetapi... Kamu Vina, terus menyusup di organisasi The Bluss.
Jika memang ada anggota yang melakukan kejahatan... Kita langsung tangkap."
"Baiklah komandan."
***
__ADS_1
Siang itu... Panji duduk sendirian di dalam mobil rental yang di sewanya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam... Mobil pun berhenti dan parkir di depan pasar Pandeglang.
"Pak sopir... Bapak tunggu di mobil ya, atau Bapak makan siang dulu dan ngopi di warung depan itu," ujar Panji sambil menyodorkan selembar uang.
"Baiklah Tuan."
Setelah berjalan beberapa menit, Panji berdiri di depan pintu rumah Syeh Hamdani yang sederhana, lalu uluk salam,
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab putri Syeh Hamdani,
"Hemmm, mencari siapa ya kang..?"
"Mencari Pak Hamdani."
"Oh iya iya, silahkan masuk, mari, silahkan duduk dulu, akan saya panggil kan."
Tak lama kemudian,
"Assalamualaikum Gus..."
"Waalaikumsalam," jawab Panji kemudian berdiri lalu sungkem.
Setelah menyulut rokok marlboro... Panji berkata,
"Syeh... Saya ingin berhenti lelaku tirakat Gendeng untuk sementara.
Nanti, kalau ada kesempatan... Akan saya teruskan lagi."
"Baiklah Gus, tidak apac- apa. Tirakat lelaku Gendeng itu tidak wajib hukumnya. Itu hanya untuk latihan saja," ujar Syeh Hamdani.
"Syeh, apakah ada Tirakat yang lain, selain tirakat lelaku Gendeng..?"
"Ada Gus.
Tetapi, harus dalam pengawasan seorang guru Mursyid."
"Adakah seorang Mursyid yang bisa membimbing saya..?"
"Ada Gus.
Temuilah Syeh Abdul Jalil Al Qurtubi di pantai Bagedur Desa Mantan kecamatan Malimping kabupaten Lebak Banten.
Dari sini kurang lebih 83 kilo meter."
"Siapakah Syeh Abdul Jalil Al Qurtubi itu Syeh..?"
"Beliau adalah seorang Mursyid Torekot Al Jabbari, bergelar Wali sufi Al Allamah.
Banyak kyai kyai muda yang berguru pada Beliau."
"Baiklah Syeh, dalam waktu minggu ini saya akan menemui Beliau Syeh Abdul Jalil."
"Jangan lama + lama, segeralah kesana. Karena... Tidak akan lama lagi, beliau akan tutup usia".
"Baiklah Syeh, kalau begitu... Saya mohon pamit."
Setelah sungkem dan uluk salam, Panji kemudian pergi menuju parkiran.
Mobil melaju perlahan menuju arah kota Jakarta.
Setelah berada di jalan Kramat Watu,,, Panji berkata,
"Pak sopir, tolong berhenti di rumah makan losmen Batu Hiu di depan sana ya..?
kanan jalan."
"Baiklah Tuan," jawab sopir kemudian membelokkan mobil menuju parkiran losmen Batu Hiu.
Setelah turun dari mobil, Panji mengeluarkan beberapa lembar uang dan berkata,
"Bapak kembali saja ke Jakarta ya, ambillah uang ini untuk istri dan anak bapak."
"Baiklah Tuan, terimakasih banyak atas kebaikan Tuan," ujar pak sopir lalu melajukan mobilnya.
"Eh Pak Deni, selamat sore juga."
"Bagaimana kabar Tuan..?
Apa Tuan ingin menginap di losmen ini lagi..?"
"Alhamdulillah baik Pak.
Iya Pak, saya ingin menginap di sini. Apa kamar yang dulu saya tempati ada penghuninya, apa kosong..?x
"Kamar pojok yang pernah Tuan tempati, sekarang di sewa sama Nona Ruli.
Sejak kepergian Tuan Panji... Nona Ruli membayar sewa setiap tahun Tuan.
Nona Ruli melarang tamu tinggal di kamar pojok.
Jadi Nona Ruli membayar sewa kamar persetiap tahun."
"Apakah Nona Ruli sering tidur di kamar losmen ini..?"
"Kadang - kadang Nona Ruli tidur di losmen Tuan.
Nona Ruli sekarang membuka usaha Toko grosir beras dan minyak di pasar dekat losmen ini.
Apa perlu saya kasih kabar jika Tuan Panji ada di losmen ini..?"
"Tidak usah Pak Deni, saya permisi mau makan dulu di restoran.
Oh iya Pak, apakah kunci kamar ada di resepsionis..?"
"Iya Tuan, kuncinya selalu di titipkan di resepsionis."
"Kalau begitu, tolong bapak ambilkan ya..?
Saya tunggu di restoran."
"Baiklah Tuan."
Setelah menikmati makan siang Panji menuju kamar pojok yang pernah dia tempati beberapa bulan.
Setelah berada di dalam kamar losmen... Panji berkata lirih,
"Kamar ini tidak berubah, tetap seperti dulu."
Setelah membuka cendela, Panji duduk di kursi lalu memencet tombol telpon,
"Mbak... Minta kopi hitam dan pisang goreng ya, kamar pojok."
"Bukankah kamar pojok itu telah di boking oleh Nona Ruli selama setahun, tetapi hari ini kok ada yang menghuni..?
Apakah ini suara tuan Panji," kata pelayan dalam hati.
Bukankah tuan Panji dulu sering minta kopi sama pisang goreng dan sukun goreng..?x
"Apakah ini Tuan Panji," tanya seorang pelayan perempuan.
"Iya, aku Panji."
"Baiklah Tuan, segera saya kirim."
Setelah menutup telpon, Panji melihat buku diatas meja, lalu membacanya.
"Catatan Buku Harian Dosa,"
Hemmm, judulnya kok aneh," ujar Panji lirih.
"Tuhan... Terimakasih atas dosa yang Engkau berikan kepada ku
Bagiku... Dosa itu adalah kado yang terindah dari Mu
Tanpa dosa yang Engkau berikan kepada ku... Bagaimana mungkin aku bisa meneteskan air mata ketika aku sujud dalam penyesalan ku.
*Pertengahan Agustus 1986*
Mengapa kita harus berjumpa, kalau akhirnya kita berpisah.
__ADS_1
Sejak kepergian mu, hati ini terasa pilu terbelenggu rindu
Dalam kamar ini ku rebahkan hati ku yang terkulai tak berdaya
Berharap kapan kita bisa bersama lagi walau itu tak mungkin.
Semoga pada perjalanan selanjutnya... Kita dapat berjumpa lagi walau hanya dalam mimpi.
*Akhir Agustus 1986*
Duhai Dzat yang Maha Kuasa...
IzinkanLah aku memiliki Losmen ini, agar aku bisa mengenang dia dalam kesendirian ku.
Di losmen inilah terlalu banyak kenangan indah bersamanya.
Tuhan... Kabul kan ya..? Jangan pelit - pelit kepada ku, hehehe aku hanya bercanda Tuhan...
**Aku tau Engkau sangat baik kepada ku.
l Love You Tuhan.
*Awal oktober 1986*
Tuan... Aku kangen ingin salim mencium tangan mu juga kangen memeluk mu.
Aku kangen mencium mu dan tidur di samping mu.
i Love you."
"Banyak sekali catatan di buku Diary milik Ruli ini," cgumam Panji,
"Ternyata Ruli ingin memiliki Losmen ini untuk mengenang ku.
Ternyata romantis juga keluh - kesahnya yang di tulis."
"Tok tok tok..!x
"Masuk Mbak nya, pintu tidak di kunci."
"Ini Tuan, kopinya juga pisang goreng dan sukun goreng," ujar ibu Lina sambil meletakkan nya di atas meja.
Bagaimana kabar Tuan selama ini..?"
"Alhamdulillah baik Bu Lina,
Ibu sendiri bagaimana kabar nya..?"
"Alhamdulillah sehat dan baik Tuan.
Tuan... Terimakasih yaa, anak saya sekarang sudah sembuh total berkat bantuan Tuan Panji," ujar ibu Lina sambil membungkukkan badan,
"Tanpa pertolongan Tuan... Kemungkinan besar anak saya mengalami cacat."
"Sama - sama Bu Lina."
"Kalau gitu, saya permisi dulu."
Setelah ibu muda pelayan losmen pergi... Panji mengambil hp lalu menghubungi asisten Jeje, setelah tersambung,
"Selamat sore Tuan Godfather... Adakah yang bisa saya bantu..?"
"Kamu berada di mana sekarang..?"
"Saya berada di Negara Singapura Tuan."
"Aku ingin malam ini kamu pergi ke kecamatan Kramatwatu Serang Banten.
Kamu menginap di losmen Batu Hiu.
Paginya... Temui pemilik Losmen dan kamu beli losmen Batu Hiu atas nama Ruli Widya Astuti.
Aku ingin, besok siang kepemilikan Losmen sudah atas Nama Nona Ruli."
"Baiklah Tuan Godfather."
Tetapi...
Bagaimana jika si pemilik Losmen tidak menjualnya..?"
"Kamu bodoh sekali, ngurus gini saja masih tanya."
"Bukannya begitu Tuan, saya hanya meminta persetujuan dari Tuan."
"Gunakan kekuatan uang, beli berapapun yang dia minta, kalau bisa tawar 3x lihat dari harga normal.
Kalau tidak mau menjualnya... Suruh sekretaris Iwan mengurusnya."
"Baiklah Tuan, sore ini saya akan terbang ke Jakarta.
Kurang lebih 5 jam saya sudah berada di Losmen Batu Hiu."
"Baiklah," ujar Panji kemudian mematikan Telepon.
Setelah mandi dan ganti baju yang tergantung di lemari... Panji keluar losmen, lalu naik angkutan menuju pondok pesantren Meteor Garden.
***
Di Kediaman kyai Nuruddin.
Sore itu...
Kyai Nuruddin yang sedang menikmati secangkir kopi di meja ruang dapur bersama bu Nyai Shinta.
Tiba - tiba Panji uluk salam di pintu dapur,
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab kyai dan istrinya.
"Kang Panji... Ayoo masuk sini," ujar Bu Nyai Shinta.
Kyai Nuruddin yang sedang duduk terperanjat kaget kemudian berdiri.
Setelah sungkem mencium tangan Kyai dan Bu Nyai, kyai berkata,
"Duduk sini kang Panji, sebelah ku sini."
"Baiklah kyai," ujar Panji kemudian duduk, lalu meletakkan bingkisan di atas meja.
"Bawah apa ini," tanya Bu Nyai.
"Roti Bu Nyai, sama rokok nya kyai juga gula dan kopi."
"Kalau begitu... Bu Nyai buatkan kopi untuk mu, kita makan roti ini bersama."
"Kang Panji kapan datang ke Banten..?" tanya sang kyai.
"Tadi siang kyai.
Saya dari Pandeglang lalu mampir ke sini.
Kyai... Saya mau minta maaf atas masalah yang dulu, sewaktu saya masih tinggal di pondok pesantren ini.
Sebenarnya..."
"Iya kang Panji, sayalah yang seharusnya minta maaf kepada mu, karena saya sudah menuduh mu pacaran dengan Bella.
Saya harap... Kang Panji mau memaafkan saya."
"Sama - sama kyai, saya juga minta maaf."
"Ini kang Panji kopinya.
Oh iya, kang Panji... Bu Nyai mengucapkan terimakasih sebanyak banyaknya.
Dulu kang panji yang mengasih uang untuk biaya rumah sakit.
Waktu itu... Bu Nyai bingung tidak punya uang untuk bayar rumah sakit.x
"Sama - sama Bu Nyai, sayalah yang harus berterima kasih.
Sebab kebaikan Pak Kyai... Saya bisa mempunyai uang."
"Kang Panji sekarang tinggal di mana," tanya sang kyai.
__ADS_1
"Panji tinggal di jakarta kyai, kos di Jakarta."