
Pantai Pelabuhan Ratu.
Jam 11 siang... Devi yang tidur di samping Panji terbagun, lalu pelan - pelan berdiri menuju kamar mandi.
Setelah mandi... Devi duduk di samping tempat tidur sambil memandang wajah Panji yang masih tertidur,
"Mas Panji dari dulu hingga sekarang tetap tidak berubah. Sudah sering aku tidur dengan nya, tetapi Mas Panji tidak pernah menikmati tubuh ku.
Padahal aku ini cantik, **** dan masih perawan.
Dia... Setiap malam masih saja solat malam."
"Mas... Gak sarapan," ujar Devi sambil memegang tangan Panji.
"Jam berapa Devi..?"
"Jam 12 siang."
"Aku mandi dulu ya...
Kamu antar aku ke pantai pelabuhan Ratu ya, pakai mobil mu," ujar Panji kemudian mandi.
"Iya Mas."
Selesai mandi... Panji melaksanakan solat Dzuhur berjamaah bersama Devi.
Tak lama kemudian, Panji dan Devi meluncur ke pesisir pantai Pelabuhan Ratu kabupaten Sukabumi Jawa Barat.
"Ngapain Mas ke pantai pelabuhan Ratu," tanya Devi sambil merebahkan kepalanya di bahu Panji.
"Menemui seorang kyai."
"Tak kira ngajak aku jalan - jalan."
"Mau tak ajak menikah, aku takut kamu gak betah punya suami seperti ku."
"Emang kenapa mas kok gak betah..?"
"Kan aku sering bepergian jauh. Jadi, jarang ketemu.
Emang kamu kuat di tinggal suami mu pergi jauh - jauh dan jarang pulang?"
"Hehehe,
Iya ya... Pasti kesepian."
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 4 jam, akhirnya mobil berhenti di pinggir jalan,
"Devi... Kamu langsung balik ke Jakarta ya, aku ada perlu lama sama kyai."
"Baiklah Mas.
Mas... Kalau Mas Panji ingin memperistri aku, aku tidak keberatan walau sering di tinggal pergi jauh."
"Ayo salim," sahut Panji.
Setelah salim, Devi memeluk Panji erat - erat, kemudian melepaskan pelukan nya,
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Panji.
Setelah sopir melajukan mobil... Devi berkata lirih,
"Mengapa kamu tidak ngerti juga Mas, betapa aku sangat mencintai mu dari sejak pertama kita bertemu.
Bukankah dulu, waktu pertama bertemu, kamu bilang, selalu menemani ku dalam kesedihan ku.
Walau kelak aku hidup bersama Lelaki lain... Rasa ini hanya untuk mu selamanya."
Sambil menatap kepergian Devi... Panji berkata lirih,
"Devi... Maafkan aku ya, aku tau dari dulu kamu mencintai ku.
Bukannya aku tak mau hidup bersama mu, tetapi, aku tidak ingin menyakiti hatimu.
Ku doakan, semoga kau bahagia bersama yang lainnya," ujar Panji kemudian melangkah menuju penginapan.
"Selamat sore Tuan," sapa Mbak resepsionis.
"Sore juga.
Apa masih ada kamar kosong..?"
"Ada Tuan, silahkan daftar dulu."
"Baiklah Mbak.
Oh iya, bisa menyiapkan kain sarung untuk solat?"
"Di setiap kamar ada peralatan untuk ibadah solat Tuan."
"Baiklah terimakasih," ujar Panji kemudian melangkah menuju kamar.
Setelah berada di dalam kamar... Panji membersihkan badan dan melaksanakan solat Magrib.
Selesai solat, Panji melantunkan istiqfar sambil menerawang keberadaan seorang kyai yang ada dalam mimpinya.
Setelah menerawang dengan seksama... Panji melihat keberadaan pondok pesantren kecil tak jauh dari pantai.
Setelah itu... Panji keluar kamar, dan berjalan ke arah pantai.
Melihat sebuah warung kecil, Panji mendekati nya, lalu bertanya pada ibu tua pemilik warung.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Mas."
"Buk... Numpang tanya,
di mana ya rumah kyai Asep Anwar..?"
"Di ujung sana Mas, di balik batu karang itu ada desa slSukamana, di situlah rumah kyai Asep Anwar, yang ada pondokkan kecil."
"Terimakasih ya Buk, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
*
Di Kediaman kyai Asep Anwar.
Setelah berjalan beberapa saat, Panji melihat desa yang berada di balik karang.
"Iya.. Tempat ini seperti yang aku lihat lewat mata batinku," ujar Panji lirih,
"Itu ada pondokkan, lebih baik aku ke sana."
Setelah berada di pintu gerbang, Panji menerawang keadaan sekitarnya, sambil uluk salam,
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab salah satu santri.
"Kyai nya ada..?"
"Ada Mas, silahkan duduk di teras, akan saya sampaikan."
Tak lama kemudian... Kyai Asep Anwar menampakkan diri,
"Dari mana, dan ada perlu apa Mas..?"
"Dari Surabaya kyai, ada yang ingin saya sampaikan kepada kyai."
"Silahkan Mas..."
"Kyai... Saya bermimpi melihat nama kyai tertulis di dinding Lauh Mahfudh sebagai ahli neraka.
Itu saja yang ingin saya sampaikan."
Mendengar kata - kata Panji... Kyai Asep hanya tersenyum saja, walau hatinya sangat terkejut.
"Itukan mimpi Mas, mimpi itu hanya kembang nya tidur.
Kalau sudah selesai... Silahkan pergi, aku masih ada perlu."
"Baiklah kyai, masalah penafsiran kyai tentang mimpi, itu terserah kyai. Yang penting saya sudah menyampaikan apa yang aku saksikan.
Sebelum saya pergi... Saya akan memberikan sedikit pesan.
Mengapa kyai Asep yang ahli ibadah tetapi nama nya tertulis di Lauh Mahfudz sebagai ahli neraka..?
Karena...
Kyai hanya ibadah saja kepada Allah, Habiminallah saja, tidak Habiminanas, tidak menjalin hubungan baik dengan sesama manusia.
Kyai hidup bergelimang harta... Para tetangga dalam keadaan fakir miskin.
Kyai makan enak bersama keluarga... Para santri makan tidak enak.
Tetangga menahan lapar... Kyai sekeluarga kekenyangan.
Aku tau kyai adalah seorang wali, tetapi masih dalam tahap tingkatan wali salik, wali paling rendah.
Ingatlah kyai,
__ADS_1
Wudhu ada batalnya, solat dan puasa ada batalnya.
Begitu juga drajat makom wali, itu ada batalnya.
Kalau kyai tidak percaya... Akan aku buktikan, walau aku bukan seorang Wali.
Assalamualaikum."
Mendengar kata - kata Panji... Kyai Asep hanya tersenyum saja, tidak ada rasa takut kepada Allah, yang telah memberi peringatan lewat lisan Panji.
Setelah keluar dari rumah kyai Asep... Panji berjalan menuju pantai.
Malam di terangi bulan separuh... Panji melihat seorang lelaki setengah tua yang duduk sendiri di atas batu karang di tepi pantai.
"Assalamualaikum..."
Dengan rasa terkejut... Lelaki setengah tua itu menjawab, "Waalaikumsalam."
"Bapak sendirian saja?"
"Iya Mas. Mas siapa dan mau kemana..?"
"Saya Panji Pak, dari Surabaya. Tadi habis dari rumah kyai Asep Anwar, lalu ke pantai dan ketemu Bapak.
Silahkan merokok Pak."
"Terimakasih Mas Panji, ini saya ada rokok, tetapi ya... Rokok murah - murahan Mas."
"Gak apa - apa Pak, yang penting bisa merokok," sahut Panji,
"Hidup di desa Sukamiskin ini kayaknya menyenangkan ya Pak, setiap hari bisa melihat pantai."
"Yaaa... Sama saja Mas, kalau saya menganggap hidup di kota Surabaya juga enak Mas, karena setiap hari ramai hehehe.
Oh iya...
Apa Mas Panji datang ke rumah Haji Asep mau pinjam uang..?"
"Tidak Pak, hanya ingin silahturahmi saja.
Emang kalau pinjam uang... Di kasih Pak..?"
"Ya di kasih Mas, tetapi ya gitu, harus ada jaminan nya.
Saya dulu pinjam uang 2 juta untuk beli perahu, pakai jaminan sertifikat rumah.
Saya bayar dengan mencicil... Pak Haji tidak mau Mas, maunya bayar cas.
Kalau gak mampu bayar cas dalam waktu yang di tentukan... Maka rumah kami akan di beli nya Mas."
"Begitu ya Pak.."
"Iya Mas. Banyak warga desa yang pinjam uang, kalau tidak ada jaminan nya... Tidak di kasih."
"Apa Pak Haji Asep Anwar itu pelit Pak," tanya Panji.
"Hemmm, pelit nya minta ampun Mas...
Dia orang kikir, tidak pernah perduli dengan tetangga nya.
Tetangga sakit, pinjam mobil buat ke rumah sakit saja tidak boleh."
"Lalu... Dari mana Haji Asep Anwar itu kok kaya raya, banyak uang."
"Haji Asep punya 15 kapal ikan Mas, setiap bulan... 15 kapal itu bisa menghasilkan uang jutaan.
Apalagi hasil penangkapan ikan banyak.
Di situlah sumber uangnya."
"Bapak siapa namanya..?"
"Nama saya Pak Amin Mas."
"Punya putra - putri berapa Pak..?"
"Putra 2 Mas, yang putri 2.
Paling besar SMA kelas 2, dan SMP."
"Pak Amin ngapain di sini malam - malam, sendirian lagi?"
"Saya lagi sedih Mas, saya punya hutang sama Pak Haji sebesar 2 juta.
Akhir bulan besok... Itu waktu terakhir pembayaran.
Kalau tidak bisa bayar... Rumah saya akan di sita dengan ganti rugi.
Karena... Hutang ini sudah setahun.
"Pak Amin tenang saja ya...
Gak usah sedih hari ini, nanti saya akan bantu Pak Amin melunasi hutang nya.
Sekarang... Bapak carikan saya ikan segar, untuk di bakar di sini.
Lalu Bapak cari bumbu dan nasi juga kopi dan air putih, ini uangnya untuk beli ikan dan lain - lain."
"Beneran Mas... Mau bantu saya melunasi hutang?"
"Benar Pak, makanya bapak saya suruh kerja, bakar ikan dan menyiapkan api unggun.
Setelah selesai kerja... Bapak aku bayar sebesar hutang Pak Amin.
Kalau Pak Amin tidak keberatan... Ajak istri dan anak - anak Pak Amin kesini."
"Alhamdulillah...
Baiklah Mas, biar istri saya masak nasi dulu, saya akan beli ikan di tetangga yang habis melaut, sekalian bikin kopi."
Setelah Pak Amin pergi... Panji menelpon Wilda istrinya.
"Assalamualaikum Mas..."
"Waalaikumsalam Wilda. Kamu kan rumahnya Sukabumi, apa rumah kamu jauh dari dari pantai Pelabuhan Ratu..?"
"Jauh Mas, 2 jam.
Ada apa Mas..?"
"Ini aku lagi di pantai Pelabuhan Ratu."
"Apa..! Ngapain Mas di sana..?"
"Mau ke rumah mertua."
"Hahaha..! Jangan bercanda kamu Mas."
Serius...
Kamu di nama..?"
"Ada di kota Bandung sama Mbak Dewi dan mbak Eka, lagi di cafe."
"Sampaikan salam ku, pada mereka.
Kalau bisa... Kamu ke penginapan Srikandi ya, malam ini, di pelabuhan Ratu. Aku butuh bantuan mu."
"Bantuan minta pijitin..?
Mas... Jarak dari Bandung ke pantai Pelabuhan Ratu itu 5-6 jam, sekarang jam 7, mungkin aku sampai di sana jam 12-01 dini hari."
"Iya Gpp."
"Baiklah, kalau begitu aku berangkat."
"Hati - hati, bilang sama Mamang, jangan kencang - kencang kalau nyetir mobil."
Malam itu... Pak Amin sedang sibuk membakar ikan laut bersama Pak Sabar tetangganya.
Sementara...
Panji yang selesai menelpon Wilda di tepi pantai sendirian, lalu Panji memangil Aryo Jagad Raja jin Alas Blandong.
"Aryo Jagad... Hadirlah."
Tak lama kemudian,
"Assalamualaikum...
Sendiko dawuh Gus."
"Waalaikumsalam.
Lama gak ketemu, kamu tambah aneh saja kalau pakai baju," kata Panji,
"Pakau kaos ketat pakai celana jean ketat, pakau topi Pak Tino Sidin, hahaha..!
Tua - tua banyak tingkahnya.
Gak lucu."
"Hehehe,
Tadinya mau jalan - jalan Gus, mau ke cafe Dodo di hotel Hening.
__ADS_1
Karena Gus memanggil tiba - tiba... Saya gak sempat ganti baju."
"Ngapain kamu ke cafe Dodo..?
Apa kamu naksir bos Devi yang cantik dan **** itu..?"
"Tidak Gus, kan Non Devi itu selingkuhan nya Gus, jadi saya tidak berani."
"Diam, bilang selingkuhan, enak saja. Sok tau kamu.
Mau mabuk ya... Ke cafe?"
"Tidak Gus, hanya ingin nongkrong saja, sambil lihat - lihat hotel milik Gus yang baru beli.
"Emang kamu gak ngaji ke Mbah Wali Dirjo..? Kok mau jalan - jalan..?"
"Kan saya sudah pinter Gus, sudah bisa baca Al qur'an, sudah bisa baca kitab kuning, tahlil juga sholawatan."
"Kalau begitu... Mulai besok kamu ngaji sama aku, ingin tau aku, kamu pinter teori apa pinter trap teori.
Besok kamu puasa 41 hari.
Setiap malam kamu baca surat yasin 41x."
"Baiklah Gus."
"Sekarang kamu aku kasih tugas.
Aku ingin Haji Asep Anwar yang tinggal di desa Sukamana ini bangkrut dan miskin."
"Baiklah Gus, saya pastikan besok siang Haji Asep bangkrut dan miskin.
Kalau begitu... Saya permisi dulu.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Pak Amin... Sama siapa ini," tanya Panji.
"Sama tetangga Mas, pak Sabar namanya, ini yang punya ikan, tadi sore habis dari melaut.
Katanya gak usah bayar Mas, di kasih doang."
"Terimakasih ya Pak Sabar..."
"Iya Mas Panji, sama - sama."
"Assalamualaikum..." sapa istrinya Pak Amin,
"Ini Pak, nasinya juga kopi dan air putihnya.
di dalam ada rokok juga.
Aku pulang dulu, jagain anak - anak tidur."
"Pak Amin... Ini ada uang 50 juta, tolong, berikan pada orang desa yang punya hutang sama Haji Asep Anwar. Sekalian hutang Pak Amin.
Apa Pak Sabar juga punya hutang sama Haji Asep..?"
"Iya Mas, punya hutang buat beli mesin kapal dulu."
"Ini Pak Amin uangnya, mumpung masih jam 7 sore.
Besok Pak Haji akan sibuk," ujar Panji.
"Baiklah Mas," kata Pak Amin sambil menitihkan air mata, lalu menerima uang segebok.
Setelah Pak Amin dan Pak Sabar pergi... Panji menikmati ikan bakar sendirian di sebelah karang tepi pantai.
Tak lama kemudian... Pak Amin dan beberapa orang datang menemui Panji.
"Mas... Terimakasih ya Mas, atas bantuannya."
"Iya Pak, sama - sama," jawab Panji.
Setelah beberapa orang kampung pergi... Pak Amin berkata,
"Mas Panji... Ini masih ada sisa uang sebesar 14 juta."
"Pak Amin ambil saja, buat beli kapal baru dan untuk memperbaiki mesin kapal yang lama."
Mendengar ucapan Panji... Oak Amin bengong tidak percaya,
"Benar ini Mas..?x
"Benar Pak, dengan 2 kapal, Pak Amin bisa mencari ikan untuk menafkahi keluarga."
*
Jam 9 malam... Anak Haji Asep tiba - tiba muntah - muntah dan badannya panas.
Buru - buru Pak Haji Asep dan istri nya membawah anaknya pergi ke klinik dengan mengendarai mobil.
Setelah di periksa oleh dokter, dan di nyatakan hanya masuk angin... Anak Pak Haji di beri obat jalan dan di perbolehkan pulang.
Begitu pulang, dan berada di parkiran... Pak Haji kebingungan dan berkata,
"Di mana mobil ku..?"
Setelah bertanya kesana kemari... Mobil milik Pak Haji Asep telah hilang di curi. Karena di klinik tidak ada tukang parkir.
Dengan terpaksa, Pak Haji menyewa mobil angkutan umum yang mangkal di depan klinik, untuk kembali pulang.
Tak lama kemudian... Mobil angkutan umum memasuki jalan desa.
Begitu mobil angkutan yang di sewa Pak Haji Asep memasuki jalan desa... Pak Haji Asep di kejutkan dengan pemandangan yang di luar dugaannya.
Kobaran api yang tinggi menjulang, membakar rumah mewahnya.
Buru - buru Pak Haji Asep turun dari mobil dan lari tungang langang.
"Tolong..! Tolong..!
Bantu mengambil air."
Namun... Para tetangga malah menyiram rumah sebelah yang juga ikut terbakar.
Hanya beberapa saudaranya saja yang membantu memadamkan api.
Sambil duduk bersimpuh... Pak Haji Asep menagis terseduh - seduh, sambil berkata,
"Habis semua terbakar.
Begitu juga dengan istri dan ketiga anaknya."
Sementara Panji yang duduk santai menikmati secangkir kopi, bersama Pak Sabar dan Pak Amin, tiba - tiba di kejutkan dengan kedatangan istri Pak Amin yang hendak memberi kabar,
"Pak... Rumah Pak Haji Asep kebakaran."
"Biarin saja, siapa juga yang mau nolong, keluarga kita sakit saja, Pak Haji Asep gak mau tau."
"Pak Amin... Saya mau kembali ke penginapan Srikandi, ini sudah jam 11 malam.
Saya mau istirahat dulu. Insallah... Besok saya ke sini lagi," ujar Panji.
"Baiklah Mas, saya sangat berterimakasih sekali."
"Sama - sama Pak, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Perlahan - lahan Panji berjalan di tepi pantai.
Sambil menikmati kepulan asap rokok... Samar - samar Panji mendengarkan musik gending jawa yang berasal dari tengah laut.
"Siapa malam malam gini memutar musik geding jawa, alunannya sangat menyayat hati.
Bikin penasaran saja, coba aku terawang.
Setelah menerawang dengan seksama, Panji berkata lirih,
"Hemmm, ternyata gending mistis dari kerajaan bawah laut pantai selatan.
Ada acara apa Nyai Roro Kidul ini..?
Sayang... Nyai Roro Kidul itu cantik tetapi dia tidak punya suami. Kan enak kalau punya suami, tidur ada hangat - hangat nya.
Kiro - kiro... Gak kademen ta lek turu nang njeruh segoro ijen iku..?"
Setelah berkata lirih... Tiba - tiba air ombak meninggi dan terhempas ke arah Panji.
Dengan cepat Panji lari ke atas pasir, walau punggungnya basah terkena ombak air laut.
"Kurang ajar, basah punggung ku. Sakti bener Nyai Roro Kidul ini.
Di ajak bercanda dikit saja air laut tidak terimah."
Tiba - tiba... Dari arah laut yang gelap, muncul sosok pemuda dengan mengendarai kereta kencana.
Setelah berada tak jauh dari Panji berdiri, pemuda itu turun, mendekati Panji, dan berkata,
"Kalau punya mulut harus di jaga, ini wilayah kawasan terlarang.
Jangan pernah mengunjingkan Nyai Ratu dengan kata - kata tidak sopan."
__ADS_1