SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
POLITIK PANJI


__ADS_3

"Sama - sama Pak Herman, saya juga berterima kasih. Dengan adanya masalah Bapak dan Ibuk ini... Saya bertambah ilmu pengetahuan," ujar Panji.


"Di dalam kotak merah ini, satu set perhiasan kalung berlian, gelang, cincin, anting dan begel kaki.


Ini ada 9 kotak pesanan Mas Panji.


Kalau begitu... Saya permisi dulu.


Ini ada hadiah dari kami, sebagai rasa syukur kami. Saya harap, Mas Panji mau menerima nya," kata Pak Herman.


"Baiklah Pak, terimakasih atas hadiahnya."


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam."


Setelah Pak Herman pergi... Panji masuk kedalam rumah, lalu berkata,


"Wilda... Sini."


"Iya Mas...


Ada apa..?"


"Ini aku belikan perhiasan untuk mu, biar tambah cantik .


Kamu kan gak pernah pakai perhiasan selama ini."


"Alhamdulillah...


Terimakasih suami ku yang baik hati," ucap Wilda kemudian mencium pipi Panji,


"Auww, berlian kelas satu, bagus sekali..!


Mas kok beli banyak baget, ada 9 kotak..?"


"Yang ini khusus untuk mu, yang lainnya untuk hadiah."


"Itu cek apaan..?"


"Oh iya, aku tadi di beri hadiah cek.


Auuw, 110 milyar!


Hemmm, enakkan kerja jadi dukun ya, dari pada kerja jadi kuli.


Sedikit kerja, bayarannya milyaran."


"Itu kebetulan Mas, pas tamu nya pengusaha kaya.


Kalau tamu nya orang biasa... Paling paling juga 10 ribu 20 ribu. Mentok juga 100 ribu."


"Hahahahaha."


Malam telah berlalu, pagi pun tiba.


Jama 8 pagi... Sambil sarapan roti dan segelas susu, Wilda berkata,


"Mas... Pagi ini aku mau ke Jakarta, ada janjian sama pengusaha sperpat mobil.


Katanya ingin mendirikan pabrik di Tangerang. Dia menunjuk Java Kontraktor sebagai mitra kerjanya."


"Baiklah, hati - hati. Semoga sukses."


"Aamiin."


*


Setelah sarapan... Dengan mengendarai mobil BMW, Panji dan Wilda meninggalkan rumah.


Setelah turun di depan Toko Elektronik 77, Panji berjalan menuju warung samping toko.


"Buk... Kopi."


"Iya Mas Bonex.


Ini kopinya."


"Mas Panji..!"


"Eeeh Pak Aan, bagaimana kabar anaknya..?"


"Alhamdulillah... Sembuh Mas Panji.


Ini buat beli rokok," ujar Pak Aan sambil memberi amplop.


"Gak usah Pak Aan, bener gak usah."


"Terimalah Mas Panji, walau tidak banyak, ini sebagai rasa syukur dan terimakasih ku sekeluarga."


"Baiklah Pak Aan, kalau memaksa.


Terimakasih Pak Aan."


"Mas Panji... Bos bilang, Mas gak boleh kerja lagi. Ini bayaran mas Panji.


Gara - gara kemarin banyak pengiriman Mas Panji tidak masuk," ujar Botak.


"Oh iya, iya Mas," jawab Panji,


"Kebetulan kalau begitu. Aku mau bepergian ke daerah Jampang Kulon."


*


Setelah menyembuhkan kedua putri Pak Herman... Dalam beberapa hari, nama Panji menjadi perbincangan di kalangan atas orang - orang kaya yang notabene sebagai pengusaha di Jawa Barat.


Kring..!


Hp Panji berbunyi


Sambil menikmati kopi di warung, Panji mengangkat telpon nya.


"Selamat pagi..."


"Selamat pagi juga, dengan siapa ini," tanya Panji


"Saya ibuk Herlina. Apa saya bisa bertemu dengan Mas Panji..?"


"Bisa Buk. Kalau boleh tau, Ada keperluan apa ya..?"


"Saya mau minta tolong sama Mas Panji."


"Baiklah, temui saya di restoran Bela di Net Plaza ya, saya mau sarapan di sana."


"Baiklah Mas Panji."


*


Bela Restoran.


Jam 12 Siang... Panji menikmati sarapan bubur ayam iga sapi, sambil menunggu kedatangan ibu Herlina.


Selesai sarapan... Seorang ibu setengah tua bersama seorang lelaki menyapa Panji,


"Selamat siang...


Apakah Mas ini Mas Panji..?"


"Iya Buk benar."


"Saya ibu Herlina dan ini suami saya."


"Silahkan duduk Buk, dan silahkan pesan minum atau sarapan."


"Baiklah Mas Panji."


"Ibu tau dari mana kok bisa kenal saya, lalu minta tolong ke saya..?"


"Dari Ibuk Kulsum pengusaha berlian Mas Panji.


Nama Mas Panji... Sekarang menjadi perbincangan di kalangan pengusaha kaya di Bandung.


Begini Mas Panji...


Saya adalah pengusaha pengembang Real Estate.


Dalam dua tahun ini, penjualan rumah kami sangat berkurang dratis, sepi pembeli Mas."


"Bakar saja Buk, biar rame," ujar Panji santai.


"Hehehehe.


Mas Panji bisa saja kalau bercanda," sahut Pak Herlina.


"Terus Bapak dan Ibuk Herlina inginnya penjualan rumah rame gitu ya..? Banyak yang minat untuk membeli?"


"Iya Mas Panji.


Karena pembangunan perumahan terus berjalan, sementara penjualan sepi. Kami harus membayar hutang milyaran di bank."


"Baiklah Buk.


Aku mau bantu Ibuk, asal Bapak dan ibuk nurut sama saya."


"Baiklah Mas Panji.


Apapun saratnya saya mau, asal saya mampu," jawab Ibuk Herlina


Pekerjakan seseorang yang saya tunjuk, nanti penjualan perumahan akan lancar.


Bagaimana...?


Jadikan dia manajer pemasaran.


Kedua...


Beri aku rumah mewah di perumahan di kota Bandung, atas nama Bela.


Bagaimana Buk, apa Ibuk mau..?"


"Baiklah Mas Panji.


Masalah itu gampang."


"Nanti selepas solat Maghrib... Kita bertemu di cafe Dodo di Hotel Hening."


"Baiklah Mas Panji."


*


Kos kossan Dago.


Setelah Ibuk Herlina dan Pak Herlina pergi... Jam 1 siang, Panji naik ojek menuju kos - kossan nya.


Begitu masuk area kos - kossan... Leni yang baru pulang kuliah berteriak,


"Mas Panji..!


Dari mana saja, beberapa hari menghilang tanpa jejak?"


"Hai Leni.


Tambah cantik dan sexy saja dirimu."


"Masak baru sadar, kan Leni cewek paling cantik di kampus hahahaha."


"Leni... Ambil gelas, aku beli kopi sama es jus apucat ini.


Ayoo ke kamar ku."


"Asiiik..! Tunggu bentar."


Sambil menikmati kopi dan kepulan asap rokok... 0anji berkata kepada Leni,


“Kamu mau kerja paruh waktu..?"

__ADS_1


"Mau mau... Dari pada nganggur sepulang kuliah.


Kerja apaan Mas..?"


"Jadi manajer pemasaran Real Estate."


"Apa..!


Yang bener kamu Mas, jangan bercanda.


Jabatan manajer pemasaran itu sangat sulit di dapat, dan harus mempunyai pengalaman sales minimal 3 sampai 4 tahun."


"Kalau punya kenalan orang dalam, yaa gak ada yang sulit.


Mau gak..?"


"Mau mau..!"


"Kalau begitu... Buka baju mu," sahut Panji.


"Hahahahaha!


Gak ah, malu. Lagian ngapain pake buka baju.


Emang kamu mau meniduri ku siang - siang gini..?"


"Aku mau memberi mu ilmu pengasihan, agar kamu di senangi banyak orang. Jadi... Untuk memasukan ilmu itu, punggung mu mau aku tulis rajah atau jimat.


Mau enggak..?"


"Di buka bajunya saja..? Celana nya enggak kan..?"


"Iya bajunya saja."


"Baiklah, awas kalau macam - macam, aku tonjok kamu," ujar Leni kemudian membuka kaosnya.


Setelah wudhu... Panji menulis asmak rajah pengasihan di punggung Leni, dengan air kopi nya.


Selesai menulis rajah asmak pengasihan... Panji berkata,


"Pake kaos mu.


Sekarang tidurlah terlentang."


"Baiklah," jawab Leni kemudian tidur terlentang di depan Panji yang lagi duduk.


Setelah itu... Panji membaca Al fatiha 100x, membaca ayat Bismillahirrohmanirrohim 100 ribu x, dan sholawat jibril 100 ribu x, di tutup dengan wirid Ya Hasibu 100 ribu x.


Selesai wirid... Tiba - tiba dari dalam tubuh Leni mengeluarkan cahaya putih kebiru - biruan, setelah cahaya itu hilang... Panji berkata,


"Leni, sudah selesai.


Leni..?


Hemmm tidur.


Heee... Bangun!"


"Iya Mas iya Mas."


"Malah tidur..!"


"Iya tiba - tiba mata ku ngantuk sekali, gak tau kenapa."


Setelah menyulut rokok... Panji berkata,


"Mulai saat ini... Kamu yang rajin solat ya!


Setiap habis solat 5 waktu, kamu baca wirid ya Hasib 100x dan sholawat 100x."


"Baiklah Mas Panji."


Kalau kamu solat sunnah malam, selesai solat, kamu wirid Bismillahirrohmanirrohim 100x saja."


"Baiklah Mas Panji."


"Habis ini...


Kamu akan menjadi orang kaya raya.


Ingat - ingat pesan ku, jangan pernah menipu orang untuk kepentingan diri sendiri.


Perbanyaklah sedekah dan membantu orang kesusahan. Biar hidup mu bertambah mulia."


"Baiklah Mas Panji, pesan Mas Panji akan aku laksanakan."


"Sudah sore, kamu mandi sana, dandan yang cantik. Habis ini aku kenalkan sama pengusaha Real Estate."


"Baiklah."


***


Cafe Dodo Hotel Hening.


Setelah menghubungi Mila asistennya... Jam 6 selepas solat Magrib, Panji duduk di samping Leni sambil menikmati secangkir kopi India,


"Leni...


Malam ini Kamu sunguh terlihat sangat cantik pake baju ini."


"Jangan merayu Mas, nanti kalau aku jatuh cinta kepada mu... Kamu entar bingung.


Ini baju yang kamu belikan lusa kemarin."


"Hahahahaha..!


Bingung di nikahi apa buat simpanan saja."


"Selamat malam Mas Panji..."


"Selamat malam Ibuk Herlina.


Silahkan duduk."


"Kenalkan, ini Leni mahasiswi universitas keong, semester 2 jurusan Manajemen Bisnis.


Ini calon manajer pemasaran.


Jika dalam satu bulan tidak terjual 10 rumah... Ibuk bisa pecat Leni.


Dan aku kembalikan rumah pemberian Ibuk."


"Yang benar Mas Panji," sahut Pak Herlina,


"Apa Non Leni sanggup menjual 10 rumah dalam sebulan..?


Kami menjual 5 rumah dalam sebulan saja kesulitan.


Paling mentok itu dua kadang 3 buah rumah, dan itu pun di angsur.


Apalagi Non Leni kerja paruh waktu."


"Masalah benar dan tidak... Nanti di buktikan di lapangan setelah Nona Leni kerja."


"Baiklah Mas Panji.


Non Leni... Ini Hp satelit untuk kerja. Ini beberapa data - data penjualan rumah di beberapa tempat perumahan di Jawa Barat.


Mobil dan sopir sudah saya siapkan untuk tranportasi," ujar ibuk Herlina,


"Mas Panji...


Ini kunci rumah atas nama Bela, ini alamatnya di perumahan gading. Surat - suratnya... Masih dalam proses, kemungkinan seminggu lagi, biar Non Leni yang menyerah kan ke Nona Bela."


"Terimakasih Ibuk Herlina."


"Kalau begitu saya permisi dulu.


Besok siang... Non Leni bisa mulai kerja di kantor PT Holding Real Estate."


"Baiklah Buk," jawab Leni.


Setelah Ibuk Herlina pergi... Leni berkata,


"Mas... Kamu itu Ngawur saja!


Dalam sebulan bisa menjual 10 rumah, emang jual kerupuk apa..!"


"Jangan cerewet kamu, di jalani saja dulu.


Aku akan membeli satu rumah, biar kamu dapat nama di PT Holding."


"Apa..! Kamu jadi pelanggan pertama ku,"sahut Leni,


"Ini perumahan elit Mas, harganya paling murah 1 Milyar. Ada yang 2, 3, 4 Milyar.


Bukan uang sedikit beli rumah ini."


"Kalau begitu besok kamu urus pembelian ku 10 rumah, yang harganya 2 Milyar ya!"


"Selamat malam Tuan Godfather," sapa Mila.


Setelah salim cium tangan... Mila duduk di depan Panji.


"10 rumah dengan harga 2 Milyar," tanya Leni kaget,


"Totalnya 20 Milyar Mas Panji.


Jangan bercanda, emang kamu punya uang sebanyak itu..?"


"Punya.


Masalah pembayaran nya... Besok biar di urus sama Altar Mila asisten ku ini.


Nanti... Setelah aku beli 10 rumah itu, kamu jual lagi dengan harga 2,5 Milyar.


Keuntungan nya 500 juta, kita bagi dua."


"Gitu ya...


Baiklah Mas. Pinter juga kamu cari uang."


"Altar Mila... Ini ada cek 110 juta. Besok kamu cairkan di Bank Asia, yang 25 Milyar masukkan rekening mu, untuk pembayaran ke PT Holding, sisanya masukkan no rekening ku," ujar panji sambil menyodorkan cek.


"Baiklah Godfather."


"Aku ingin renang dan istirahat.


Leni... Mau ikut aku apa pulang ke kos - kossan..?"


"Ikut kemana Mas..?"


"Aku mau istirahat tidur di hotel Hening ini."


"Boleh, aku juga ingin tau dalamnya kamar hotel. Karena aku, belum pernah tidur di hotel."


"Baiklah, mari kita pergi.


Mila... Ambillah kunci kamar ku di resepsionis, dan pesan makan malam sekalian."


"Baiklah Godfather."


*


Kamar presidential suit.


Setelah berada di kamar lantai pantai paling atas... Panji langsung renang di kolam renang pribadi yang berukuran sedang.


Dengan penuh keheranan... Leni melihat - lihat isi kamar kelas satu, kamar presidential suit, sambil berkata lirih,


"Ya Allah... Mewah sekali kamar hotel ini. Baru kali ini aku masuk kamar hotel. Ada 3 kamar, 1 ruang tamu juga ada dapur dengan peralatan masak yang canggih."


"Nona Mila... Apakah kamu asistennya Mas Panji..?"


"Benar Non Leni."

__ADS_1


"Kalau boleh tau... Mas Panji ini kerja apa ya, kok banyak uangnya?"


"Tuan Godfather adalah pengusaha Non. Bahkan Hotel Hening ini adalah miliknya.x


"Siapa yang Non maksud Godfather itu..?"


"Nama panggilan Tuan Panji adalah Godfather Non.


Mari Non, kalau mau renang.


Biasanya... Godfather selalu minta saya untuk menemani renang kalau di sini."


"Silahkan Non Mila temani Godfather, saya akan mempelajari dokumen pemasaran jual beli rumah perumahan."


"Baiklah," jawab Mila kemudian menyusul Panji renang.


*


Selesai renang... Jam 8 malam Panji makan malam di ruang makan bersama Leni dan Mila.


Selesai makan malam, Panji merebahkan badannya di tempat tidur di kamarnya.


"Mila..."


"Iya Godfather," sahut Mila kemudian menuju kamar.


"Ini ada hadiah perhiasan untuk mu, pakailah, biar kamu tambah cantik dan anggun."


"Terimakasih Tuan Godfather."


"Sekarang pergilah, aku mau istirahat."


Jam 02 dini hari... Panji terbangun dan mendapati Leni masih duduk di ruang kerja,


"Leni... Gak tidur..? Istirahat dulu.


Nanti pagi kamu kan kuliah, lalu kerja."


"Iya Mas sebentar lagi.


Aku kuliah jam malam saja Mas, besok aku ingin kerja dulu."


"Baiklah," ujar Panji kemudian melaksanakan solat sunnah malam.


*


Pt Holding Real Estate.


Jam 11 siang... Leni mulai sibuk bekerja di kantor barunya di PT Holding milik Ibuk Herlina.


Mobil BMW memasuki area parkir kantor PT Holding.


Setelah turun dari mobil... Mila bertanya kepada seorang satpam,


"Pak... Kantor administrasi di sebelah mana ya?"


"Di lantai dasar Non, dengan bapak Deden."


"Baiklah, terimakasih."


"Permisi..."


"Silahkan masuk Non," sahut Pak Deden,


"Silahkan duduk.


Ada yang bisa saya bantu?"


"Mau melunasi pembayaran Pak, pembelian 10 rumah di perumahan Gading Indah."


"Perumahan Gading, atas nama siapa?"


"Atas nama Altar Mila, Pak."


"Kalau boleh tau... Pembeliannya melalui siapa..?"


"Nona Leni, Pak."


"Iya iya...


Hebat juga karyawan baru ini," kata Pak Deden lirih,


"Baru kerja beberapa jam saja, sudah bisa menjual 10 rumah, ces lagi pembayarannya.


Orang lama saja... Sebulan paling banyak 2 rumah, itupun di angsur.


Sebentar lagi... Non Leni bisa di promosikan menjadi direktur pemasaran."


Setelah kepulangan Mila... Leni menjadi pembicaraan di PT Holding.


Seorang karyawan baru yang masih sangat muda sudah mencapai tarjed penjualan dalam beberapa jam.


Hingga kabar itu sampai di telinga bos besar.


Sementara... Sejak jam 8 pagi, Panji meninggalkan kota Bandung menuju kecamatan Jampang kabupaten Sukabumi.


Setelah naik kendaraan kurang lebih 6 jam, sampailah Panji di terminal bayangan di puncak bukit Jampang.


"Masih jam 2 siang," gumam Panji sambil melihat jam rolex di pergelangan tangan kirinya,


"Lebih baik ngopi dulu di warung."


Sambil menikmati secangkir kopi... Panji menjadi perhatian beberapa orang, karena pakaian dan model Panji seperti orang kota.


"Den... Dari Jakarta ya," tanya bapak tukang ojek.


"Dari Surabaya Pak."


"Loh, jauh sekali ya!


Mau kemana Den..?"


"Mau ke Jampang Surade Pak, ke desa Cikemas."


"Jauh itu Den dari sini, sekitar 3 jam naik ojek.


Emang mau ke rumah siapa amas..?"


"Mau ke makam mbah wali Panci."


"Oh iya iya...


Mbah Panci itu bukan makam wali Den.


Tetapi makam seorang dukun sakti."


"Yang bener Pak..?


Aku dengar kabar, katanya makam wali.


Ngopi dulu Pak, aku pesan kan ya?


Buk..! Kopi satu lagi, sama rokok jie sam sue sebungkus.


Makan satu piring."


"Bapak ini siapa namanya," tanya Panji.


"Pak Latip Den.


Apa Aden mau naik ojek..? Kalau naik ojek saya bisa antar."


"Iya Pak, bapak makan dulu, ngopi - ngopi dulu terus rokok an ya?


Setelah itu, bapak antarkan saya."


"Baiklah Den."


"Berapa ongkosnya Pak..?"


"Bagaimana kalau 10 ribu saja."


"3 jam 10 ribu," sahut Panji.


"Iya Den...


Kemahalan ya Den..?"


"Gak Pak Latip, kok murah sekali."


"Hehehehe.


Aden kan orang kota... Apalah arti uang 10 ribu.


Kalau di pelosok sini Den, 10 ribu bisa buat makan sekeluarga selama 5 hari."


"Ini Pak Latip, kopi nya, rokok samsu sama makan siangnya."


"Siaaap," jawab Pak Latip.


"Gitu ya, Pak.


Kalau begitu... Bapak saya bayar 10 ribu perhari, tetapi bapak temani saya di makam mbah Panci.


Barangkali saya butuh beli makan, kopi atau rokok. Bapak melayani kebutuhan saya beberapa hari.


Mau gak Pak..?"


"Alhamdulillah ya Allah...


Mau mau Den.


Terimakasih banyak Den.


Tetapi...


Boleh gak Den, kalau saya minta Dp, bayaran separuh dulu?


Karena, buat bayar hutang. Besok lusa, waktunya bayar hutang."


"Bapak punya hutang berapa..?"


"Punya hutang 60 ribu Den. Buat bayar pendaftaran sekolah anak dua bulan yang lalu.


Besok lusa, waktunya bayar cicilan.


Maklum Den... Hutang di rentenir jadi, kalau telat bayar, tambah banyak anaknya."


"Maksudnya banyak anaknya gimana Pak..?"


"Kalau hutang ke rentenir umpama 50 ribu, mengembalikan nya 60 ribu Den. kalau telat bayar bunganya beranak, berkali lipat."


"Oh gitu... Bunganya berbunga lagi..?"


"Iya Den."


"Sekarang bunga hutang pak Latip jadi berapa..?"


"60 ribu sudah jadi 90 ribu Den.


Lama - lama... Motor saya yang kredit ini bisa bisa di sita Den."


"Ini pak, uang 100 ribu.


Bapak bayar semua hutang dan bunganya.


Jangan lagi hutang ke rentenir."


"Baiklah Den, terimakasih banyak.


Mari Den, kita berangkat.


Ini sudah jam 3 sore, sampai desa Cikemas nanti jam 6 sore."


"Baiklah Pak."

__ADS_1


__ADS_2