SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
DZIKIR ANGGOTA TUBUH


__ADS_3

"Selamat pagi Tuan Panji, saya menejer Bank Asia cabang Probolinggo."


"Selamat pagi juga."


"Silahkan Tuan ke ruangan bisnis, ada yang kami bicarakan."


"Maaf pak meneger... Kata Pak satpam saya tidak boleh masuk ruangan bisnis, jadi... Kalau Pak meneger ada perlu, bicara saja di sini."


"Berarti ada satpam yang menyinggung nasabah penting, hingga Tuan Panji ini bikin ulah di bank Asia," ujar Pak meneger dalam hati.


"Tuan... Kami tidak ada uang tunai sebesar 100 Milyar hari ini.


Kalau bisa... Kami mempersiapkan terlebih dulu. Mungkin besok Tuan Panji baru bisa mengambilnya."


"Yang ada berapa Pak..?"


"Kami hanya ada uang setok 50 Milyar, itu pun bisa di ambil mungkin separuhnya Tuan, 25 Milyar."


"Baiklah, kalau begitu... Aku ambil 10 Milyar saja."


"Baiklah Tuan."


Pagi itu... Pegawai bank Asia sangat sibuk sekali menyiapkan uang sebesar 10 Milyar.


Mobil mewah dengan plat L memasuki halaman parkir Bank Asia.


Semua satpam yang mengetahui kedatangan ibu Anita meneger baru dari pusat, memberi hormat.


Ketika berada di ruangan Bisnis... Meneger setempat menyapa nya,


"Selamat pagi Bu."


"Selamat pagi juga.


Ada apa kok terlihat sangat sibuk sekali..?"


"Ada nasabah mengambil uang 10 Milyar Bu.


Tadinya... Dia mau ambil 100 Milyar."


"Siapa nasabah itu," tanya ibu Anita.


"Dia bernama Ahmad Panji Hening Bu."


"Apa..! Panji Hening..?


Di mana sekarang orangnya."


"Itu dia, pemuda lusuh yang lagi merokok di teras kantor."


"Aku kenal baik sama pemuda itu, dia pengusaha besar Surabaya.


Istrinya juga memiliki investasi di bank Asia ini.


Kata Direktur Kevin... Kalau dia tersinggung, maka dia akan bikin ulah.


Baiklah, aku akan temui dia."


"Mas..." sapa Anita."


"Eeeh... Anita, ngapain kamu di sini?"


"Lagi kunjungan kerja bulanan, mengantikan Direkrut Kevin, kebetulan Pak Kevin nya lagi ada keperluan keluarga. Jadi... Aku yang di tugaskan."


"Hemmm, sekarang Pak Kevin sudah jadi direktur ya..?"


"Iya Mas, setelah Ayah-nya Pak Kevin mengundurkan diri karena sudah tua... Pak Kevin sebagai anaknya di angkat menjadi Direktur."


"Lalu... Kamu sekarang jadi meneger pusat ya?"


"Iya Mas, betul.


Mas Panji, ngambil uang 10 milyar buat apa kok banyak banget..?"


"Cuma iseng saja."


"Apa..! Iseng saja..?!!


Ah Mas Panji terlalu sekali kalau bercanda. Masak separuh pegawai bank di kerjain ngitung uang segitu banyaknya."


"Anita... Buatkan aku ATM baru ya, yang bisa ambil uang 100 juta. ATM yang lama rusak.


Lalu aku ambilkan uang chas 100 juta saja."


"Yang 10 milyar gak jadi..?"


"Iya batalin saja."


"Baiklah," kata Anita,


"Pak satpam..!


Suruh buat ATM golden ya, bilang ke meneger untuk Tuan Panji, dan bilang, pengambilan uang 10 milyar di batalkan, lalu siapkan uang 100 juta.


Bilang meneger nya, jangan lama - lama!"


"Baiklah bu Anita."


Tak lama kemudian,


Meneger cabang tergesah - gesa- mendatangi ibu Anita,


"Ini abu uang chas 100 juta milik Tuan Panji, dan ini buku tabungan dan ATM barunya."


"Ini Mas, uang dan ATM nya," ujar Anita.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu.


Oh iya Anita... Kalau ada waktu, aku ajak kamu jalan - jalan."


"Hehehe, dari dulu Mas Panji ini selalu mengejar - ngejar saya saja.


Saya loh Mas sudah punya tunangan.


Apalagi Mas Panji sudah punya istri yang cantik seperti Maya."


"Kan masih tunangan, belum jadi istri orang.


Kalau kamu sudah jadi istri orang lain, aku gak bakal ngajak kamu jalan - jalan.


Sebelum janur melengkung... Kan boleh aku mengajak mu."


"Kalau boleh tau... Mengapa Mas Panji kok sering nawarin ku mengajak ku jalan - jalan?"


"Iseng saja.


Kedua karena kamu cantik."


"Iseng saja...


Masak aku di buat iseng - iseng saja


Yaa kapan - kapan sajalah Mas kita jalan - jalan. Sekarang aku lagi sibuk, mau audit keuangan bank."


"Baiklah, telpon saja ya kalau mau aku temani jalan - jalan,


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Pak slSholikin, lama ya nungguin saya."


"gak apa - pa Mas, namanya juga kerja nyari uang buat anak istri."


"Sekarang kita ke masjid Tiban dulu ya Pak."


"Iya Mas."


***


Masjid Tiban Kademangan.


"Ini Mas, masjid Tiban nya," ujar Pak Sholikin, lalu memarkir becaknya di tepi jalan.


Setelah melihat lihat masjid dari dekat,,, panji kembali mendatangi becak yang terpakir.


"Pak Sholikin... Apa ada losmen atau hotel di dekat sini..?"


"Ada Mas, hotel Mimi, tetapi 2 tingkat. Kira - kira... 10 menit dari sini jauhnya."


"Baiklah Pak, antar saya ke hotel Mimi ya."


"Baiklah Mas."


Setelah menyewa kamar hotel... Panji berkata kepada Pak Sholikin,


"Pak Sholikin... Bapak tidak usah menarik becak lagi, Bapak saya kontrak selama saya di sini.


Jam 12 malam Bapak ke hotel sini ya..? Antar saya ke masjid Tiban.


Nanti... Setelah solat Subuh, Bapak antar saya ke hotel ini lagi."

__ADS_1


"Baiklah Mas."


"Ini ongkos untuk hari ini, dan ini uang muka untuk kontrak Pak Sholikin."


"Terimakasih Mas, kalau begitu saya permisi dulu Mas."


Setelah berada di kamar hotel... Panji merebahkan badannya.


Kring..!


Hp Panji berdering.


Setelah tersambung,


"Tuan Godfather... Saya ingin bertemu dengan anda, ada hal yang ingin saya bicarakan."


"Temui aku di hotel Mimi kabupaten Probolinggo Jawa Timur."


"Baiklah Tuan, besok siang saya sudah ada di lokasi."


***


Masjid Tiban.


Setelah mandi tobat... Panji keluar hotel lalu naik becak menuju masjid Tiban.


Setelah sampai, Panji langsung masuk ke dalam masjid, sementara Pak Sholikin istirahat tidur di teras masjid.


Setelah melaksanakan solat 51 rokaat, Panji bertawasul kepada Syeh Abdul Jalil guru mursyid nya, lalu melantunkan Dzikir Munajat.


Beberapa kali mencoba mengajak anggota tubuh nya untuk berdzikir... Namun Panji tetap saja tidak berhasil.


Lalu Panji menghubungi kyai Jabat dengan ajian ilmu telepati.


"Assalamualaikum Kyai Jabat..."


"Waalaikumsalam Gus."


"Kyai... Bagaimana caranya agar anggota tubuh saya bisa saya perintahkan untuk berdzikir..?


Sudah saya coba berulang kali, namun tetap saja gagal."


"Tawasuli lah anggota tubuh mu Gus, bacakan Al fatihah 3x dan istiqfar 7x.


Bacalah, Khususon Ila Ruhania wa jasmania badan kulo, lalu baca Al fatihah 3x di tambah istiqfar 7x."


"Baiklah kyai, terimakasih atas petunjuknya.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Gus."


Setelah bertawasul atas dirinya sendiri... Panji perlahan - lahan bisa mengerakkan anggota tubuh nya untuk berdzikir.


Rambutnya terasa berdiri semua ketika berdzikir. Bulu di tangan dan kakinya juga bergerak semua. Perlahan - lahan... Tubuhnya di balut dengan cahaya putih.


Panji mendengar anggota tubuhnya melantunkan Dzikir Munajat pelan - pelan dan menggema.


Panji yang duduk torekot... Sangat asik sekali, tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Tasbih yang di pegangnya... Terjatuh dan tidak di gunakan, karena perputaran tasbih tidak bisa mengikuti jumlah yang keluar dari anggota tubuhnya.


Tak terasa... Suara bedhuk mengagetkan Panji dari ke asikan berdzikir.


Suara Adzan terdengar menggema.


Setelah solat Subuh, Panji membuka sarungnya lalu di lingkarkan di lehernya.


"Pak Sholikin... Mari kita ke hotel. Tetapi, kita cari warung dulu ya Pak, kita sarapan dan ngopi."


"Baiklah Mas."


Becak pun berhenti di depan warung tak jauh dari masjid Tiban.


"Ini Mas, warung nya," ujar Pak Sholihin.


"Jam 5 pagi ramai sekali warungnya," kata Panji.


"Iya Mas, karena, warung ini kata orang masakannya enak sekali," sahut Pak Sholikin.


"Kata orang..? Emang Pak Sholikin belum pernah makan di sini..?"


"Belum Mas, sayang uang nya buat makan di warung, takut mahal.


Lebih baik buat beli beras sama jajan nya anak Mas."


Sambil menunggu pesanan... Panji berkata,


"Pak Sholikin umur berapa sekarang..?"


"Punya istri berapa Pak, dan punya putra - putri berapa..?"


"Hehehe,


Istri satu Mas, anak 3, 1 cowok 2 cewek."


"Sudah lama Pak Sholikin kerja jadi tukang becak..?"


"Dulu waktu muda... Kerja di pabrik Mas, setelah menikah kerja serabutan, jadi kuli. Sekarang jadi tukang becak Mas, sudah 5 tahunan."


"Permisi... Ini nasi pecel nya Mas, sama teh dan kopinya."


"Terimakasih bu," sahut Panji,


"Buk... Bungkus 4 ya? Nasi campur, dan bungkus daging rendang 4 porsi."


"Baiklah Mas."


"Ayo Pak, di makan sambil ngobrol.


Apa cukup Pak, penghasilan narik becak untuk istri dan 3 anak..?"


"Alhamdulillah Mas, cukup.


Uang sedikit di buat cukup ya cukup Mas.


Uang banyak... Di buat kurang ya kurang. Semua tergantung kita yang mengatur nya."


"Begitu ya Pak...


Pernahkah Pak Sholikin gak dapat penumpang..?"


"Pernah Mas, tetapi yaa ada saja 1, 2 orang.


Cumak... Masalahnya itu pas bayar sekolah anak - anak itu Mas, kadang bingung.


Hutang belum lunas, terpaksa hutang lagi."


"Gitu ya Pak..."


"Iya Mas, susah jadi orang miskin itu Mas, tidak ada harganya di mata suadara kaya, juga orang lain.


Jarang orang menghargai orang miskin itu.


Hutang saja gak di kasih, padahal saudara saya itu kaya. Mereka takut tidak bisa bayar.


Kalau saya main atau mampir ke saudara gitu... Kadang di kira mau minta - minta.


Saudara jadi orang lain... Kadang orang lain jadi saudara."


"Hehehehe, sabar ya Pak. Langit tak selamanya mendung," ujar Panji,


"Pak Sholikin tidak punya kebun untuk memelihara sapi atau kambing atau ayam..?"


"Tidak punya Mas, kalau punya ya... Saya pasti bercocok tanam sambil memelihara sapi dan kambing juga ayam."


"Ini Mas... Nasi bungkus nya 4 sama rendang daging sapi 4 porsi."


"Baiklah Bu, ini uangnya.


Pak Sholikin... Aku titip nasi ini buat istri sama putra - putri nya ya..?


Buat sarapan," ujar Panji sambil menyodorkan bingkisan.


"Aduh... Merepotkan saja, terimakasih ya Mas."


"Sama - sama Pak, saya yang seharusnya berterimakasih.


Mari Pak, kita ke hotel."


"Baiklah Mas."


***


Hotel Mimi.


Jam 2 siang... Sebuah mobil mewah terparkir di halaman hotel Mimi.


Jeje dan Lim Shauw keluar dari mobil, lalu berjalan masuk ke dalam lobi hotel.


Kring..!


Hp Panji berdering, setelah terhubung,

__ADS_1


"Godfather... Saya sudah berada di lobi hotel."


"Kamu tunggu di restoran ya?"


"Baiklah," ujar asisten Jeje kemudian mematikan telepon nya.


"Ada masalah apa kalian menemuiku," tanya Panji kemudian duduk.


"Ada beberapa hotel yang kondisi ke uang nya tidak sehat.


Kalau Godfather setuju... Maka saya membelinya."


"Lokasinya di mana..?"


"Di pantai Kuta Bali dan pantai Sanur Bali.


Di Jakarta, Bandung dan Surabaya."


"Apa itu hotel yang sama kok 5 hotel tidak sehat..?"


"Iya Tuan,


Hotel itu milik keluarga Aan.


Kelihatannya... Bisnis perhotelan milik keluarga Aan mengalami pailit, dan hampir bangkrut."


"Baiklah, kamu beli saja 5 hotel itu."


"Kalau begitu... Saya butuh uang 4 Trilyun Tuan."


"Besok pagi aku transfer," ujar Panji,


"Setelah kita kuasai... Beri nama hotel itu Hotel Hening."


"Baiklah Godfather.


Ada satu hal lagi, Nyonya Maya memerintahkan saya untuk menjual semua rumah yang ada di luar negri."


"Jual saja, itu adalah milik Maya, aku tidak berhaq.


Kalau boleh tau... Untuk apa kok di jual..?"


"Katanya dari pada kosong Tuan. Dan uangnya untuk bisnis perhisaan katanya."


"Ya, kamu jual saja.


Kalau pesawatnya di jual juga... Kamu beli saja."


"Baiklah Tuan, kalau begitu... Saya permisi dulu."


"Lim... Sementara, kamu temani aku dulu."


"Baiklah Godfather."


***


Tak terasa sudah hampir satu bulan Panji berada di kota Probolinggo.


Pagi jam 10, Panji dan Lim Shauw wakil asisten, sedang di rumah gubuk milik Pak Sholikin.


Melihat rumah Pak sholihin yang terbuat dari bilik bambu juga tidak berkeramik, Panji merasa kasihan pada anak - anak Pak Sholikin.


"Pak Sholikin... Itu kebun di sebelah rumah agak luas ya..?


Milik siapa Pak," tanya Panji.


"Itu milik Pak Haji Manan Mas.


Iya, lumayan luas tanah nya. Tetapi sayang, tidak di rawat Mas.


Maklum Pak Haji Manan orang kaya di desa ini."


"Apa gak di jual Pak...?"


"Dengar - dengar sih... Katanya di jual Mas, tetapi mahal mintanya, 70 juta. Karena Pak Haji Manan tidak butuh uang, jadi minta harga mahal."


"Emang... Di desa ini, tanah segini biasanya berapa Pak harganya..?"


"Kisaran 40 sampai 45 juta Mas."


"Pak Sholikin... Antarkan Nona Lim untuk menemui Pak Haji Manan, aku ingin membeli tanah itu Pak," ujar Panji,


"Lim... Ikutlah Pak Sholikin, nanti kalau sudah kamu beli... Urus sekalian sertifikat nya atas nama Pak Sholikin."


"Baik Godfather."


"Mari Pak, kita pergi," ajak Lim.


*


Setelah bertemu dengan Pak Haji Manan... Transaksi jual beli tanah di sepakati dengan harga 75 juta.


Selesai tanda tangan, di kantor Balai Desa, Pak Sholikin dan Lim kembali ke rumah gubuk.


Sambil menikmati secangkir kopi dan kepulan asap rokok, Panji bertanya,


"Bagaimana..?x


"Sudah saya beli Godfather, dengan harga 75 juta," jawab Lim,


"Besok siang akan saya urus ke kantor Agraria. Dengan jasa orang dalam, kemungkinan satu jam sertifikat tanah sudah jadi."


"Pak Sholikin... Saya membeli tanah ini, saya hadiahkan buat Pak Sholikin sekeluarga.


Pak Sholikin bisa bercocok tanam dan memelihara hewan ternak sapi kambing juga ayam. Atau Pak Sholikin bisa membuat kolam ikan gurami.


Pak Sholikin bisa narik becak dan mempunyai sampingan berkebun juga memelihara binatang ternak."


"Terimakasih Mas Panji," ucap Pak Sholikin sambil meneteskan air mata.


"Semoga berkah dan manfaat buat Pak Sholikin sekeluarga, Aamiin."


"Aamiin Aamiin Aamiin."


"Nanti... Sebelah rumah di bangun musollah ya Pak. Saya ingin Pak Sholikin sekeluarga rajin ibadah."


"Iya Mas Panji.


Tetapi... Sabar ya Mas, nanti kalau ada rejeki akan saya bangun mushollah nya pelan - pelan."


"Pak Sholikin gak usah bingung biaya untuk mendirikan musholla, nanti biar Nona Lim yang mengatur bahan bangunan nya," ujar Panjix


"Sekarang... Saya minta antar ke hotel ya Pak, saya mau istirahat, ini sudah jam 12 siang."


"Baiklah Mas."


Setelah berada di depan hotel... Panji berkata,


"Lim... Kamu urus sertifikat sekarang juga. Dan datangkan bahan bagunan yang lengkap dan cukup untuk bikin musholla dan bikin renovasi rumah Pak Sholikin.


Karena... Besok aku akan pergi.


Ini kamu bawah, ATM BCA ku."


"Baiklah Godfather. Di ATM Administrasi yang saya bawah ini, masih ada uang 4,9 Milyar," jawab Lim.


"Uang dari mana sebanyak itu..? Apa pemberian asisten Jeje..?x


"Bukan Tuan, ini uang hasil rampasan dari transaksi narkoba di Thailand sebulan yang lalu, dan saya simpan di ATM Administrasi.


Barangkali Godfather membutuhkan sewaktu - waktu."


"Ya sudah, pakai saja untuk membantu orang yang kesusahan.


Kalau kamu butuh... Kamu bisa pakai uang itu."


"Baiklah Godfather," ujar Lim kemudian pergi naik becak bersama Pak Sholikin.


Sambil naik becak... Lim berkata lirih,


"Ternyata ketua organisasi The Bluss ini bernama Ahmad Panji Hening, sering di panggil Godfather. Masih sangat muda sekali usianya.


Dia juga seorang pengusaha besar.


Tetapi anehnya... Pakaianya biasa - biasa saja, seperti orang miskin. Makan pun juga seperti orang biasa kayak rakyat jelata.


Tidur di mana saja dia suka.


Aku punya bos kok aneh gini, tetapi asik juga sih.


Kadang aku juga ikut makan di warung pinggir jalan.


Lama - lama... Aku terbiasa hidup seperti orang miskin.


Tetapi...


Apa ya yang di cari oleh Godfather itu...? Kok mau hidup susah. Padahal punya segalanya.


Selama hampir satu bulan... Godfather belum pernah menyentuh ku, padahal... Biasanya bos itu suka nidurin asistennya atau tidur dengan wanita panggilan.


Tetapi Godfather ini sering sendirian. Bahkan dari pagi hingga malam di kamar saja betah."

__ADS_1


__ADS_2