SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
KERIBUTAN DI CAFE DODO


__ADS_3

Kring..!


Hp Bos Rudy ketua mafia Kaisar berbunyi.


Setelah terhubung,


"Bos Rudy...!


Barusan aku dan keluarga ku diancam akan di bunuh oleh seorang gadis.


Kelihatannya... Dia ketua gengster, dan ancamannya tidak main - main, karena dia berani datang ke rumahku sendirian.


Aku ingin Bos Rudy membunuh Devi. malam ini juga.


Dan cari siapa gadis yang mengancam ku..!"


"Baiklah Bos.


Itu masalah mudah.


1 jam lagi, aku akan berada di kota Bandung, karena, saat ini aku lagi perjalanan menuju kota Bandung.


Jam 11 aku akan sampai.


"Baiklah, aku Tunggu," kata Hilmi.


*


Jam setengah 12 malam, Devi tidur dalam pelukan Panji.


Tiba - tiba Hp Devi berdering, namun, Devi masih tertidur lelap.


"Hemmm, Hp Devi berbunyi terus, siapa telpon malam - malam gini, menganggu orang istirahat saja," gumam Panji kemudian bangun, lalu mengangkat telpon Devi.


"Devi..! Aku Hilmi, aku perjalanan ke cafe mu di Hotel Hening.


Kalau kamu tidak menemui ku, akan aku bakar cafe mu malam ini juga!"


"Bakar saja cafe nya, tinggal tuangkan bensin dan nyalahkan api.


Gampangkan..?


Jadi, gak usah mengonggong seperti anak anjing!"


"Siapa kamu..!"


"Gak penting siapa aku. Yang penting kapan kamu bakar cafe milik Devi.


Aku ingatkan..!


Kamu berurusan sama orang yang salah, dan bisa berakibat fatal," kata Panji kemudian menutup telponnya.


"Kurang ajar, di matikan Hp nya," gumam Hilmi.


Kring..!


Hp sekretaris Novi berdering, setelah terhubung,


"Sekretaris Novi... Pergilah ngopi ke cafe Dodo. Ajaklah Naga Barat.


Sepertinya, akan ada tamu yang bikin keributan.


Nanti, aku menyusul."


"Baiklah Godfather, akan saya urus dengan baik," jawab Novi kemudian menutup telponnya.


Tak lama kemudian,


Novi duduk sendiri di dalam cafe sambil menikmati secangkir capucino. Sementara Naga Barat duduk bersama 8 anggota inti, duduk di ruang pojok sambil menikmati kopi.


Tak lama kemudian, Bos Hilmi pengusaha muda yang juga anak pejabat masuk ke cafe, dengan di kawal Pak Rudy Bos mafia Kaisar dan 4 anggota organisasi Kaisar.


"Selamat malam Tuan," sapa Sandy pelayan cafe,


"Tuan mau pesan apa..?"


Bruaaak..!


Tiba - tiba Bos Hilmi mengebrak meja, "Mana Bos mu, suruh kelua..!


Kalau tidak keluar... Akan aku bakar cafe ini!"


Dengan rasa kaget dan takut... Sandy pelayan cafe berkata,


"Maaf Tuan... Bos Devi tidak ada disini."


"Tuangkan bensin, dan bakar cafe ini," perintah bos Hilmi


Bruaaak..!


Meja kayu tiba - tiba di tendang oleh Novi, hingga melesat menabrak meja bos Hilmi.


Melihat wajah sekretaris Novi... Hilmi sangat terkejut, lalu berkata,


"Hahahahaha!


Ternyata kamu di sini.


Bos Rudy..! Bunuh dia, dialah perempuan yang mengancam ku."


Sambil mengeluarkan senjata api peredam suara, di arahkan ke Bos Hilmi... Novi berkata,


"Sudah aku peringati, jangan ganggu Bos Devi yang dalam perlindungan ku.


Jangan salahkan aku, jika malam ini juga, aku membunuh istri dan anak mu."


Dengan cepat... Ke 4 anggota organisasi Kaisar juga mengeluarkan senjata api dan di arahkan ke sekretaris Novi.


Melihat moncong senjata api... Bos Rudy sangat terkejut sekali, lalu berkata,


"Gadis cantik... Jangan main - main dengan kami.


Kami bisa dengan mudah membunuh mu.


Letakkan senjata mu..."


Sementara... Naga Barat masih dengan santai menikmati kepulan asap rokok sambil menatap moncong senjata api. Naga Barat percaya akan kehebatan dan keberanian sekretaris Novi.


Yang mana... Dulu sebelum Novi menjadi sekretaris, dan Naga Barat masih menjadi ketua regu anggota inti, Novi dengan mudah membunuh 4 anggota Mafia The Dragon di Singapura.


Bahkan Novi dengan kejam mengorok leher seorang anak balita, anak anggota Mafia Narkoba.


Di saat tegang - tegang... Dengan mengenakan celana pendek dan kaos putih, Panji memasuki cafe Dodo, lalu duduk di kursi sebelah Bos Hilmi.


Kemudian,


"Pelayan... Beri aku kopi India satu cangkir."


Melihat lagak Godfather... Naga Barat dan 8 anggota inti tersenyum menahan tawa.


Begitu pun dengan Bos Hilmi dan anggota Mafia Kaisar.


"Heee... Gembel..!


Silahkan pergi dari sini!!! Atau kamu mati," bentak Bos Hilmi.


Tak lama kemudian,


"Ini Tuan kopi India nya, selamat menikmati," ujar Sandy pelayan cafe ketakutan


Setelah menyeruput kopi, dan menyulut rokok... Panji berkata,


"Turunkan senjata kalian, ini cafe sudah aku beli.


Jadi... Jangan membuat keributan."


Mendengar kata - kata Panji yang penuh wibawa... Sekretaris Novi menurunkan senjata nya.


"Kamu siapa..! Berani - beraninya memerintah kami ha!!!" bentak Bos Rudy.


"Gaya mu seperti anjing perumahan, mengonggong keras tetapi penakut," kata Panji santai sambil menikmati kepulan asap rokok.


Mendengar hinaan Panji... Bos Rudy sangat marah dan langsung menodongkan senjata api ke wajah Panji sambil berkata,


"Katakan sekali lagi..!"


Sambil membuka topi nya... Panji memandang wajah Bos Rudy.


"Godfather..." ckata Bos Rudy kaget kemudian dengan cepat menurunkan senjatanya,


"Ampun Godfather...


Aampun," kata Bos Rudy sambil mencium lutut Panji,


"Maafkan saya, saya tidak tau kalau cafe ini milik Godfather."


Tiba - tiba... Panji menuangkan secangkir kopi panas di kepala Bos Rudy, sambil berkata,


"Suruh anak buah mu pergi dari cafe ini, dan jangan pernah menganggu Bos Devi lagi, karena dia wanita simpanan ku."


"Baiklah Godfather baiklah."


"Tuan Hilmi... Kita salah berurusan dengan Godfather ini," kata Bos Rudy.


"Apanya yang salah..!


Aku membayar mu mahal - mahal, tetapi kamu pengecut."


"Tenanglah Tuan Hilmi...


Devi adalah wanita kesayangan Godfather ini."


"Aku tidak peduli dia Godfather atau God Bay," bentak Bos Hilmi.


Tiba - tiba... Panji berdiri lalu dengan cepat menusukkan ujung rokok yang menyalah ke muka Bos Hilmi.

__ADS_1


"Aduuuh..! Aduuuh," teriak Bos Hilmi sambil memeganggi pipinya.


"Jadi orang jangan sok jagoan. Jangan mentang - mentang kamu seorang pengusaha dan anak pejabat, berbuat seenaknya.


Malam ini, aku ampuni kalian.


Sekarang juga pergilah dari cafe ini."


"Baiklah Godfather, kami akan pergi," sahut Bos Rudy sambil membungkukkan badan,


"Mari Tuan Hilmi, kita pergi, sebelum Godfather berubah pikiran."


"Baiklah, lain kali... Aku akan balas semuanya lebih kejam," ujar Bos Hilmi.


Plaaak..!


Mendengar kata - kata Bos Hilmi... Bos Rudy tiba - tiba menampar wajah Tuan Hilmi.


"Kamu di bilangin baik - baik malah marah - marah dan mau balas dendam," ujar Bos Rudy,


"Kamu tau siapa pemuda ini..!


Dia adalah ketua organisasi The Bluss, ketua Mafia indonesia.


Godfather bisa dengan muda- menghabisi semua keluarga mu.


Dasar goblok kamu!"


Jangan lagi menganggu Devi, masih banyak wanita cantik lainnya.


Kalau Tuan tetaplah disini... Aku pastikan malam ini semua anggota keluarga mu akan mati.


Godfather... Saya permisi dulu."


"Baiklah Bos Rudy, maafkan aku. Kapan - kapan kita ngopi bersama kalau di Jakarta."


"Baiklah Godfather, selamat pagi."


Melihat Bos Rudy berjalan keluar cafe... Tuan Hilmi dengan buru - buru menyusul keluar juga.


"Naga Barat... Pastikan Hilmi tidak menganggu Nona Devi lagi.


Kamu temui dia sekarang juga.*


"Baiklah Godfather," ujar Naga Barat kemudian menyusul Tuan Hilmi.


Di ruang parkir... Ketika hendak masuk mobil, Naga Barat berteriak,


"Berhenti..!"


Ke delapan anggota inti memoncongkan senjata api peredam suara ke arah Tuan Hilmi.


"Tuan Godfather ingin memastikan Tuan tidak menganggu Nona Devi lagi.


Tuan harus minta maaf kepada Nona Devi."


Melihat 8 senjata api mengarah ke tubuhnya... Tuan Hilmi sangat ketakutan, lalu berkata,


"Baiklah aku tidak akan menganggu Nona Devi lagi.


Besok aku akan minta maaf langsung ke Nona Devi."


"Baiklah.


Jika Tuan melanggar janji... Aku pastikan semua keluarga mu jadi mayat.


Aku tunggu kabar permintaan maaf dari Nona Devi."


*


Setelah dari cafe Dodo... Panji kembali ke kamar, dan melihat Devi tertidur pulas.


Melihat jam dinding pukul 02, Panji kemudian melaksanakan solat sunnah malam.


***


"Mas... Bangun, sudah jam 8 pagi, katanya mau kerja jam 9."


"Iya," jawab Panji sambil membuka kedua matanya,


"Sayang dulu..."


"Gak boleh, bukan istrinya kok minta sayang.


Dosa..!!!


Tetapi dikit aja ya."


"Devi... Aku kasih kamu tempat untuk buka cabang cafe di Net Plaza.


Kamu temui direktur Lim Shauw."


"Baiklah Mas, habis ini aku kesana, sekalian mengantarkan mu kerja."


Setelah mandi dan sarapan bersama Devi... Panji keluar kamar hotel lalu menitipkan kunci kepada resepsionis.


"Mas Panji sopir baru ya..?"


"Iya Pak."


"Di suruh bos mengirim kulkas dan mesin cuci ke alamat ini.


Nanti dengan saya Mas Panji."


"Baiklah Pak."


*


Jam 12 siang, Devi dan direkrut Lim sedang berbincang - bincang sambil melihat tempat usaha di Net Plaza lantai satu.


Karena saling mengenal dengan baik, Devi dan Lim terlihat akrab.


Kring..!


Hp Devi berdering.


Setelah ngobrol dengan Tuan Hilmi, Devi membuat janji untuk bertemu di cafe London.


Tak lama kemudian,


Ketika direktur Lim duduk bersama bos Devi di cafe London... Tuan Hilmi menyapa dengan ramah,


"Selamat siang Bos Devi..."


"Siang juga Tuan Hilmi, silahkan duduk."


"Baiklah terimakasih.


Devi... Aku kesini ingin minta maaf kepada mu, karena, selama ini, dalam beberapa bulan, aku sering menganggu mu. Bahkan mengancam mu."


"Sama - sama Tuan Hilmi.


Tetapi... Mengapa sikap Tuan tiba - tiba berubah menjadi baik. Jangan jangan... Jebakan?"


"Tidak Bos Devi.


Ini semua karena Godfather.


Aku baru tau, kalau kamu adalah anggota organisasi The Bluss, dan dalam perlindungan organisasi.


Jadi... Dari pada keluarga ku sengsara akibat ulah ku, aku minta maaf atas segala kesalahan ku."


"Baiklah Tuan Hilmi, aku juga minta maaf."


"Kalau begitu... Aku juga ingin menjadi anggota organisasi The Bluss, untuk mengamankan aset - aset ku.


Bagaimana caranya..?"


"Tuan telpon saja sekretaris Iwan atau wakil sekretaris Novi," sahut Direktur Lim,


"Tetapi... Organisasi The Bluss tidak membela anggota yang salah Tuan."


"Baiklah, aku mengerti."


Setelah mencatat nomer telpon sekretaris Novi... Tuan Hilmi pamit pergi.


*


Apartemen intan.


Jam 4 sore Panji pulang ke apartemen Intan.


Begitu masuk... Panji melihat Bela lagi masak di dapur.


"Bela..."


"Iya Mas...


Mau bikin kopi."


"Boleh.


Aku mandi dulu ya."


"Iya Mas."


Setelah mandi,


"Ini kopinya," ujar Bela sambil meletakkan gelas di meja.


"Mila Mana..?"


"Siang tadi dia pergi, katanya mau melihat orang kerja membersihkan lahan."


"Kamu masak apa..?"

__ADS_1


"Pepes ikan Mas, udang goreng dan peteh, sambel trasi.


Mas Panji mau makan sekarang..?


Ini sudah matang semua."


"Nanti saja Bela.


Aku masih capek habis kerja."


"Sini aku pijitin punggung nya," kata Bela kemudian mendekat.


"Alhamdulillah," ujar Panji kemudian tengkurap di atas karpet depan Tv,


"Tumben kamu nawarin mijit..?"


"Walau gak nawarin mijit, Mas juga akan minta di pijitin."


"Bagaimana restorannya, apa kamu sudah beli peralatan dapur..?"


"Alhamdulillah, sudah Mas.


Beberapa hari ini, sepulang kuliah, aku belanja dengan Imas karyawan ku.


Hanya tinggal beli meja dan kursi.


Pasang Ac dan salon musik."


"Oh iya... Kamu bisa buka restoran di Hotel Hening, lantai dasar.


Tetapi... Kamu harus bangun dulu pakai gipsum saja, atau tripleks. Biar gak banyak biaya."


"Di Net Plaza saja belum di buka kok mau buka restoran di hotel Hening."


"Dasar bawel kamu itu.


Kan bisa sambil lalu, bangun nya."


"Iya iya...


Kamu gak kuliah malam Mas..?


Sudah jam 5 sekarang."


"Iya ya, aku sudah beberapa hari gak kuliah.


Tetapi aku kuliah juga buat apa..?🤔


"Kuliah kok buat apa..!


Ya belajar lah Mas, cari ilmu. Kalau kerja cari uang."


"Hahahaha..!


Baiklah, aku akan pergi kuliah.


Ganti kaos dulu.


Kamu bungkuskan nasi sama ikannya ya..?


Aku mau makan di kampus saja."


"Iya...


Mas kuliah pakai mobil ku saja, aku gak kemana - mana kok.


Atau... Pakai motor?"


"Emang ada motor..?"


"Asisten mu tadi siang beli motor baru merk Honda.


Katanya membelikan kamu.


Mila bilang, agar Mas Panji tidak naik angkutan umum kemana - mana.


Kamu itu aneh Mas, anak buahnya kemana - mana pake mobil, kamu bos nya malah naik angkutan umum..!


Ini nasi nya.


Ini kontak dan stn nya motor."


"Baiklah, terimakasih.


Aku berangkat dulu, salim, cium tangan," kata Panji sambil menyodorkan tangan.


Tak lama kemudian,


Panji mengikuti kuliah di jam malam.


Selepas kuliah... Panji melajukan motornya ke kos - kossannya.


Setelah memarkir motor... Leni menyapa,


"Mas... Baru ya motornya?"


"Eeh Leni, tambah cantik saja, jadi pinggin menciumnya."


"Hahahaha..!


Boleh mencium ku, gratis tis tis!


Dari kuliah nieh..?"


"Iya, masuk jam malam ini. Siang kerja.


Mana Desi..?"


"Ada tuh di kamar, lagi tidur kayak nya.


Tadi sore dari rumah sakit, langsung tertidur."


"Coba aku lihat," kata Panji kemudian masuk kamar Desi.


Dengan sengaja, Panji merebahkan badannya di tempat tidur, lalu memeluk tubuh Desi.


Leni yang melihat Panji iseng mengoda Desi, tertawa terbahak - bahak.


"Apaan sih ini..! Ganggu orang tidur saja!"


Dengan sengaja parnji mencium pipi Desi.


"Aaah..! Siapa sih ini, ganggu saja.


Eeeeh... Si ganteng Mas Panji," ucap Desi kemudian bangun lalu duduk,


"Ah, Mas Panji iseng saja, gangguin Desi tidur."


"Ayoo makan malam dulu," teriak Panji,


"Aku bawah bontotan nasi. Lalu mampir beli lagi nasi padang 4 bungkus, beli bajigur dan combro."


"Asik nieh," sahut Leni, kemudian mendekat.


"Banyak sekali Mas...!


Aldy... Sini!"


"Iya...


Ada apa sih Len, teriak - teriak..!


Loh Mas Panji... Wah wah, makan makan nih.


Asiiiik..!


Sambil makan malam bersama... Panji berkata,


"Desi... Kapan Mama dan Kakak mu boleh pulang...?"


"Katanya sih, besok pagi Mas, jam 9.


Tetapi... Nunggu uang kekurangannya pembayaran administrasi. Kalau belum bisa bayar, yaa di tunda."


"Besok biar di bayar sama Altar Mila, sekalian cari rental mobil buat mengantar Mama mu ke Cianjur."


"Baiklah Mas.


Makasih ya," kata Desi kemudian mencium Panji.


Setelah makan, bercerita dan bercanda... Panji tertidur di lantai kamar Desi, karena kelelahan bekerja.


Leni dan Aldy pun kembali ke kamar masing - masing.


Diam - diam... Desi memandangi wajah Panji yang tertidur bahagia, sambil berkata lirih,


"Ternyata ada juga manusia yang baik hati, kelewat baiknya," ujar Desi pelan,


"Dia berteman dengan siapa saja, tak pandang bulu. Biar miskin, kaya, dia tetap mau berteman.


Makasih ya mas Panji... Atas bantuannya. Kamu telah membiayai ibu dan kakak ku untuk operasi.


Tanpa kebaikan mu, mungkin, Mama dan kakak ku akan mati, atau cacat seumur hidup.


Ya Allah...


Balaslah kebaikan Mas Panji dengan kebahagiaan yang tak terkira."


Adzan Subuh terdengar menggema dari masjid kampung.


Panji membuka kedua matanya, lalu melihat Desi yang tertidur di sampingnya.


Pelan - pelan Panji keluar kamar, lalu masuk ke kamarnya kosnya sendiri.


Setelah solat Subuh, ptanji kembali tidur.

__ADS_1


Jam 8 pagi, Panji berangkat kerja dengan mengendarai motor baru nya.


__ADS_2