SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
OBROLAN PANJI DAN ORANG ANEH


__ADS_3

Jam 9 Pagi... Panji terbangun, kemudian bergegas pergi ke rumah Mbah wali Dirjo. Setelah berada di rumah Mbah wali Dirjo... Panji menyapu halaman.


Dua mobil mewah memasuki halaman rumah Mbah wali Dirjo. Beberapa orang keluar dari mobil menuju pintu rumah Mbah Dirjo sambil menatap Panji yang sedang menyapu,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Mbah wali Dirjo,


"Silahkan masuk kyai Endit."


Setelah sungkem mencium tangan Mbah wali Dirjo... Kyai Endit duduk lalu berkata,


"Mbah... Anak saya Gugun semalam di pukuli oleh teman Panji tukang sapu itu.


Dan mobilnya Gugun di lempar oleh Panji anak gila itu."


Mendengar ucapan Kyai Endit... Mbah wali Dirjo tertawa terbahak - bahak.


"Mbah, kok malah tertawa," ujar kyai Endit,


"Keluarga kami rencanya akan menuntut."


"Kyai... Saranku, jangan di teruskan masalah ini, apalagi sampai Kyai menuntut perkara ini. Semua itu salah Gus Gugun," ujar Mbah Dirjo,


"Apakah kyai tidak mengajarkan Gus Gugun sopan santun? Kejadian ini adalah buah dari didikan kyai sendiri.


Kyai telah memanjakan Gus Gugun dengan kemewahan harta, tidak mendidik Gus Gugun dengan ilmu agama yang benar dan baik."


Mendengar ucapan Mbah wali Dirjo... Kyai Endit dan keluarganya diam.


"Biarlah kejadian ini menjadi pelajaran buat Gus Gugun," ujar Mbah Dirjo,


"Kalau kyai meneruskan masalah ini... Saya pastikan bisnis Kyai akan hancur, dan kyai jatuh bangkrut 7 turunan, hidup hina dan menderita.


Kalau kyai iklas atas kejadian ini... Kyai akan hidup tenang dan makmur."


"Siapakah Panji dan teman perempuan nya itu Mbah? Hingga mampu menghacurkan bisnis saya," tanya kyai Endit.


"Temannya Gus Panji adalah salah satu orang terkaya di negri ini," jawab Mbah wali Dirjo,


"Pengaruh uangnya sangat kuat di negri ini, bahkan di Asia. Apa mampu kyai Endit berhadapan dengan kekuatan uang yang jumlahnya sangat besar? Kalau Gus Panji hanya seorang pemuda gila, tetapi dia di lindungi oleh doa beberapa wali khos Banten.


Kalau kyai berani meneruskan perkara ini ya... Silahkan.


Aku saja hormat sama Gus Panji."


"Kalau Mbah Dirjo hormat kepada Panji... Mengapa Mbah membiarkan Panji menyapu halaman sebesar itu," tanya Kyai Endit.


"Dia... Panji, bukanlah murid ku. Dia menyapu membersihkan halaman dan musolla hanya untuk membersihkan dosa - dosanya yang ada di dalam darahnya," ujar Mbah Dirjo,


"Dia sebenarnya menyapu dan membersihkan musolla... Itu untuk membersihkan dirinya sendiri. Hanya saja... Kyai melihat Panji menyapu halaman rumah ku, itu karena... Mata hati kyai terhijab oleh kemegahan dunia.


Sekarang... Kyai pulang dan minta maaf sama Gus Panji."


"Baiklah Mbah, saya sekeluarga akan menuruti semua perintah Mbah Dirjo, dan kami sekeluarga mohon maaf," kata Kyai Endit,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Mbah wali Dirjo.


Setelah keluar dari rumah Mbah wali Dirjo... Kyai Endit menemui Panji yang sedang mengepel musolla, lalu kyai Endit meminta maaf atas kesalahan Gus Gugun putranya.


Tak lama setelah menyelesaikan pekerjaannya... Panji pun kembali ke kos - kossannya.


Ketika Panji sampai di depan kamar kos, Panji berkata lirih,


"Siapa yang ada di dalam kamar kos ku?!! Kok terbuka kamarnya.


Apa tadi aku lupa mengunci kamar?"


"Assalamualaikum," ucap Panji,


"Eeh, kamu Aini, sejak kapan di dalam kamar?"


"Waalaikumsalam," jawab Aini sambil tersenyum,


"Mas... Lihat, bagus gak lukisan ku?"


"Bagus...


Kamu kan agamanya Nasrani, kok jawab uluk salam ku," kata Panji.


"Gak apa apalah Mas, biar bisa bahasa arab," ujar Aini.


"Aku tak mandi dulu ya... Capek badan ku," kata Panji kemudian mandi.


Setelah mandi... Panji merebahkan badannya di depan Tv.


***


Sore itu Panji tertidur lelap di depan Tv yang menyalah. Sementara Aini asik melukis di atas kanfas.


Adzan Magrib terdengar berkumandang, lalu Aini beranjak dari tempat duduknya.


"Mas... Bangun, sudah adzan Magrib," ujar Aini sambil mengoyangkan pundak Panji.


Setelah bangun dan mandi... Panji melaksanakan solat Magrib. Sementara Aini lagi memasak indomie telur dan membuat secangkir kopi dan teh manis.


Tak lama setelah selesai solat, Panji mengambil kitab terjemah kemudian duduk bersandar tembok sambil membaca.


"Mas Panji, ayo kita makan bersama," ujar Aini,


"Ini masakan ku pertama kali dalam hidup ku. Indomie telur dan kopi hitam, tetapi gak tau rasanya enak apa enggak, hehehe."


"Terimakasih Aini," jawab Panji kemudian menikmati indomie telur masakan Aini,


"Hemm, enak. Walau kamu putri dari keluarga kaya raya.. Sebagai perempuan, kamu harus tetap belajar masak dan membuat minuman, karena, kelak kamu akan mempunyai suami.


Karena... Suami akan senang dan lebih menyukai makanan atau minuman yang di suguhkan dari tangan seorang istrinya, bukan dari seorang pembantu.


Sebab, di situ ada kebahagian tersendiri, dan suami akan lebih mencintai istrinya. Karena, suami seperti di hormati dan di mulyakan dengan masakan oleh seorang istri. Apalagi kalau kamu mau memijit suami mu di kala santai dan bercengkrama."


"Gitu ya Mas," kata Aini baru mengerti,

__ADS_1


"Bagaimana Mas Panji bisa tau hal urusan rumah tangga... Sedangkan Mas Panji belum punya istri?"


"Hampir setiap hari selama beberapa bulan... Aku di layani oleh teman baik ku bernama Ruli juga Wilda," ujar Panji,


"Mereka sering menyiapkan makan dan minum, juga sering mencucikan baju ku, bahkan memijiti ku di saat aku capek.


Walau mereka bukan istri atau pacar ku... Di situ aku merasakan bahagia dan sangat menyayangi mereka."


"Gitu ya Mas," kata Aini,


"Baiklah, setelah lebaran... Aku akan kursus masak dan kursus memijat.


Kelak kalau aku punya suami... Biar senang di rumah menami ku, biar tidak sibuk kerja kaya kedua orang tua ku."


Malam terus merambat.


Setelah solat Isak jam 8 Malam... Panji mengajak Aini untuk ke depan Hotel Atlanta.


Setelah duduk diatas teotoar di depan hotel.. Panji berkata,


"Aini... Mungkin, sehabis lebaran, aku pergi dari Jakarta. Maukah kamu membantu ku?"


"Yaa mau lah Mas," kata Aini,


"Minta di bantu apa?"


"Aku punya seorang teman baik bernama Wilda. Sekarang dia lagi pulang untuk menjenguk ibunya dalam rangka lebaran. Wilda sekarang sedang les private komputer, bahasa Inggris dan menejemen Bisnis," ujar Panji,


"Aku yang menyuruh semua itu, karena aku ingin Wilda bisa kerja di pialang saham. Bisakah kamu membantu Wilda supaya bisa kerja di bursa Efek pialang saham? Tetapi izasah nya hanya SMP."


"Gampang itu Mas, nanti Aini yang atur.


Di pialang saham... Masalah izasah itu tidak pengaruh sama sekali, kecuali Wilda ingin kuliah di jurusan Bisnis, Wilda harus ikut sekolah Eksperimen, langsung ujian kelas 3 SMA, agar punya ijasah. Nanti aku atur masalah sekolah Eksperimen untuk Wilda," kata Aini,


"Aku sudah hampir dua tahun ikut pialang saham jika ada di rumah, kerjanya hanya butuh modal dan pikiran yang cerdas membaca situasi pasar.


Nanti Wilda akan aku jadikan team ku saja. Kebetulan di kos - kossan Mas Panji ada komputer. Biar Wilda kuliah sambil bisnis jual beli saham. Lumayan dalam beberapa jam bisa menghasilkan uang banyak kalau pintar. Atau kalau sudah lulus kuliah.. Wilda biar kerja di perusahaan Papa ku."


"Ya sudah, terimakasih banyak telah membantu ku," ujar Panji,


"Lebaran, katanya kamu mau ke Bandung ke rumah Nenek mu? Ini sudah malam takbiran."


"Besok Mas, paling juga siang ke Bandung nya. Aku mau pulang dulu ya Mas, mau ke bandara jemput Mama jam 10," kata Aini kemudian mencium pipi Panji,


"Da da..."


"Hati - hati di jalan," kata Panji sambil melambaikan tangannya.


Setelah Aini pergi... Panji duduk sendiri bersandar pohon.


"Assalamualaikum.


Mas Panji... Ini kopi dan rokok untuk Mas Panji," kata seorang satpam Hotel,


"Warung gerobak Pak Win tutup, orangnya pulang kampung, mudik Lebaran."


"Waalaikumsalam.


Terimakasih Pak," kata Panji.


"Kalau gitu saya ke pos dulu Mas Panji.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Suara takbiran terdengar mengema dari toa di masjid - masjid, juga terdengar dari toa mobil yang berkeliling.


Tiba - tiba ada orang tampan dan aneh berteriak - teriak,


"Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar," kemudian orang aneh itu duduk di atas trotoar tak jauh dari Panji.


"Hemmmm, ketemu lagi sama orang tampan dan aneh," gumam Panji,


"Apalagi yang akan di katakan kepada ku?!! Jadi penasaran!


Semalam mbahas bab berdoa itu gak baik, tidak bersyukur... Sekarang apalagi?"


Tiba - tiba ada sebuah mobil mewah berhenti di depan Panji yang sedang duduk, lalu keluar dua orang dari dalam mobil sambil membawah kantong plastik warna putih mendekati Panji,


"Pak... Terimalah, ini zakat kami dan ini ada sedikit uang buat Lebaran."


"Terimakasih Pak," ujar Panji sambil menerima zakat dan amplop berisi uang.


Lalu kedua orang itu mendekati orang aneh dan berkata,


"Pak, ini zakat kami sekeluarga, dan ini ada sedikit uang untuk lebaran."


"Tidak Pak, itu haknya orang fakir miskin," kata orang aneh,


"Saya sudah kaya, jadi ini bukan hak saya.


Hotel ini... Itu punya saya."


"Oh iya Pak, maaf kalau begitu," ujar dua orang kemudian masuk ke dalam mobil.


Mendengar penuturan orang aneh... Panji tertawa terbahak - bahak.


Setelah menyulut rokok jie sam sue... Orang aneh itu berkata,


"Zakat itu adalah kotoran, tetapi banyak orang berebut dan senang menerima zakat.


Walau secara syariat nya itu halal... Tetapi secara hakekatnya itu adalah sampah atau kotoran.


Orang - orang yang mampu itu setelah puasa Ramadhan... Dia membersihkan diri agar menjadi fitroh dengan cara zakat.


Jadi... Zakat adalah cara seseorang untuk membuang atau membersihkan kotoran atau dosa.


Jadi orang, jangan mau menerima kotoran, apalagi kotoran itu di masukkan ke dalam tubuh. Bisa menjadi penghalang atau hijab di dalam hati."


Ketika mendengarkan omongan orang aneh... Tiba - tiba ada mobil sedan mewah berhenti tak jauh dari Panji duduk.


Kyai Endit keluar dari mobil lalu mendekati Panji,

__ADS_1


"Assalamualaikum."


Mendapat ucapan salam... Panji tertawa terbahak - bahak sambil melihat kyai Endit. Begitu juga orang aneh yang duduk di sebelah Panji juga ikut tertawa terbahak - bahak.


Setelah Siang tadi mendapatkan wejangan dari Mbah wali Dirjo... Kyai Endit agak takut dengan Panji yang katanya majedub atau gila.


"Silahkan duduk kyai," kata Panji,


"Kyai tau gak artinya Assalamualaikum?"


"Tau Gus," kata kyai Endit,


"Artinya... Semoga keselamatan terlimpahkan kepada mu."


"Berarti uluk salam itu artinya doa?


Lah hidup kyai saja belum tentu selamat, kok mendoakan orang lain supaya selamat, kan salah kaprah? Kyai... Doakan lah diri kyai sendiri supaya selamat dunia akhirat, lalu mendoakan istrinya, kemudian mendoakan anak - anaknya.


Kalau kyai sudah bisa menjamin diri kyai selamat... Menjamin anak istri kyai bisa selamat, baru kyai mendoakan orang lain supaya selamat."


"Lah wong anak kyai saja sudah tidak selamat kok mendoakan saya supaya selamat, kan kliru, hahaha," kata Panji sambil tertawa.


Mendengar kata - kata Panji yang terasa menusuk jantung... Kyai Endit yang notabenya sebagai kyai kampung diam seribu bahasa.


"Berarti... Aku tidak boleh mengucapkan salam, sebelum aku memastikan diriku selamat," tanya kyai Endit.


"Sebagai kyai yang mengenakan sorban di leher... Yaa tidak boleh," jawab Panji,


"Walau pendapat Ulama ucapan salam itu hukumnya sunnah... Untuk kyai haram hukumnya uluk salam kepada orang lain.


Ibaratnya kyai sekeluarga lapar dan haus, kok memberi makan orang lain makanan dan minuman?


Memberi makan anak istri itu wajib hukumnya, sedangkan memberi makan dan minum orang lain hukumnya sunnah.


Menjawab salam itu haram hukumnya bagi yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.


Makanya aku tidak membalas salam kyai, karena aku tidak mampu untuk menyelamatkan diri ku sendiri.


Dan wajib hukumnya membalas salam bagi orang yang mampu menyelamatkan dirinya sendiri."


"Gimana mau selamat dunia Akhirat, kalau pergi menemui kyai Waskito hanya ada perlunya, ada butuh nya saja," ujar orang aneh menambahi,


"Kalau sudah terpenuhi hajatnya... Kyai nya di campakkan, gak di rekken.


Koyok Gombal, mari di gawe serbet terus di uncalno gletak an,


"Wirid Hasbullah wani'mal wakil di perbanyak, tetapi minta imbalan supaya kaya banyak harta, minta di cukupkan.


Wirid gak ada iklasnya, gimana mau selamat? Solat Hajat tiap malam gak pernah putus, mbok ya... Solat Sunnah itu yang iklas...? Menyembah Allah kok ada hajatnya, onok kareppe.


Gak malu sama sorbannya... Gak malu di panggil kyai?"


"Kyai... Mending kyai pulang saja, dari pada di sini kyai nanti sakit hati mendengarkan omongan orang aneh itu," kata Panji,


"Lebih baik kyai belajar sungguh - sungguh sama Mbah Dirjo.


Datang menemui Mbah Dirjo kok minta di doakan usahanya lancar... Ya rugi banget, iya kalau orang awam pantas.


Mbah Dirjo itu wali Allah, beliau bukan dukun atau kyai tukang suwuk.


Kalau sowan ke Mbah Dirjo... Kyai itu kelasnya harus ngaji, belajar ilmu agama yang lebih dalam."


"Baiklah Gus, pertemuan ini sangat berkesan bagi ku, dan semua kata - kata Gus Panji akan selalu aku ingat," kata Kyai Endit,


"Mulai besok... Aku akan belajar ngaji ilmu kaweruhan kepada Mbah Dirjo.


Ini ada sedikit rejeki buat Gus Panji, terimalah. Selamat Malam.l


"Selamat malam juga," jawab Panji.


Setelah Kyai Endit pergi... Orang aneh itu berkata,


"Jangan merusak tatanan syariat yang telah di tetapkan oleh ulama pendahulu. Karena akan berpengaruh pada hati yang rapuh dan akan berpengaruh pada iman orang yang lemah."


"Ucapan salam yang aku tolak hanya berlaku sama kyai Endit," jawab Panji,


"Itu hanya untuk pembelajaran kyai Endit yang telah di butakan oleh kemewahan dunia."


"Ngaji sama siapa kamu kok pintar ilmu Balaqoh, kok pinter membantah dan memutar balikkan kata - kata," tanya orang aneh.


"Yaa dari kitab lah, dari siapa lagi, aku tidak punya guru ngaji. Punya guru 1 di Banten hanya belajar jus Ammah saja, kemudian aku di usir pergi secara halus," kata Panji.


"Hahahaha, goblok kamu itu," ujar orang aneh,


"Dengerin omongan ku, orang yang belajar ngaji atau ilmu kaweruhan itu harus ada gurunya. Kalau tidak ada gurunya... Berarti setan yang menjadi guru mu."


"Gak apa - apa walau setan itu guru ku, yang penting setan nya alim," jawab Panji,


"Dari pada belajar sama manusia tapi tidak alim... Ujung - ujungnya tersesat.


Setan itu juga mahluk Gusti Allah, dia ibadahnya lebih hebat dari manusia. Hanya saja setan di laknat karena perbuatannya.


Jadi... Pendapat ku, boleh belajar sama Setan, boleh mencontoh perbuatan setan, tetapi mencontoh perbuatannya yang baik - baik saja, Jangan mencontoh perbuatan setan yang buruk, bisa celaka.


Belajar sama setan ya belajar yang baik - baiknya saja, yang buruk jangan belajar, bisa di laknat sama Gusti Allah."


"Ya gini nih jawaban orang yang ngajinya sama setan, ngawur," kata orang aneh.


"Pak Tua... Siapa nama mu, dan mengapa Pak Tua sering menemui ku di sini," tanya Panji.


"Tidak penting nama ku, dan aku tidak mendatangi mu, aku hanya lewat dan istirahat saja," jawab orang aneh,


"Hanya... Kebetulan aku istirahat duduk di dekat mu."


"Baiklah, terserah kamu Pak Tua," ujar Panji,


"Oh iya... Kemarin bilang berdoa itu tidak baik dan menandakan orang yang tidak berterimakasih kepada Gusti Allah, dan tidak bersyukur kepada Gusti Allah.


Lalu... Untuk apa Nabi Muhammad dan ulama pendahulu kok mengajarkan berdoa?


Banyak para kyai juga berdoa. Ingat Pak Tua... Jangan merusak tatanan syariat. Bisa merusak hati yang rapuh dan bisa merusak iman yang lemah."


"Mbales ya," kata orang aneh lirih,

__ADS_1


"Aku mau jawab, tetapi belikan aku kopi panas dan roti keju dulu."


__ADS_2