
Setelah Seles Honda pergi... Panji masih tetap duduk di kursi kayu yang ada di teras kamar.
"Slamat sore Pak Panji," ucap seorang pelayan.
"Sore juga Mbak," jawab Panji.
"Di panggil Pak, emang aku sudah bapak - bapak ya Mbak?"
"Hehehe, itu standar peraturan Losmen Batu Hiu Pak. Jadi... Kami para pelayan harus memanggil setiap tamu Bapak atau Tuan, Nyonya atau Nona," kata sang pelayan, "Karena tamu adalah Raja di Losmen ini. Oh iya Pak, kalau boleh di perkenankan... Saya akan membersihkan kamar bapak Panji, karena tadi pagi kamar bapak tertutup."
"Gak boleh kalau membersihkan kamar saat ini," kata Panji,
"Kamu duduk sini sebentar, aku ingin ngobrol."
"Baiklah Pak," jawab pelayan kemudian duduk di samping Panji.
"Ada berapa kariyawan di sini Mbak," tanya Panji.
"Pelayan ada 9 Pak, 3 sif. Setiap sif ada 3 pelayan.
Satpam ada 5 Pak, setiap sif 1 orang, satpam yang dua roling libur.
Resepsionis 4, kasir 4. Itu tidak termasuk menejer dan orang kantor," jawab pelayan.
"Aku hanya ingin tau karyawan kecil, bagian lapangan, bukan orang kantor," ucap Panji.
"Bagian rumah makan ada 16, sif 3 Pak, setiap sif ada 4, sisanya roling libur. Dan bagian dapur juga ada 16, sif 3 juga. Jadi... Semua ada 45 karyawan Pak," jawab pelayan.
"Tunggu sebentar ya," kata Panji kemudian masuk ke kamar.
Setelah keluar kamar, Panji berkata,
"Ini ada uang 4,5 juta. Tolong masukkan ke amplop, lalu bagikan ke karyawan, perorang 100 ribu.
Buat kebutuhan di bulan Romadhon besok lusa."
"Alhamdulillah... Terimakasih sekali yaa Pak," kata sang pelayan kemudian menerima setumpuk uang,
"Saya permisi dulu Pak. Selamat sore."
"Selamat sore juga Mbak," ucap Panji kemudian masuk kamar dan mandi.
Pemberian uang ke semua karyawan kecil Losmen Batu Hiu... Membuat senang para karyawan. Sebuah pemberian uang yang sangat banyak, 100 ribu bisa untuk makan satu keluarga selama 3 Bulan.
Sehabis solat Maghrib, dengan setelan celana biru dongker dan kaos warna putih bertuliskan " Cinta di Tolak Dukun bertindak", Panji keluar Losmen menuju pangkalan ojek perempatan.
"Kang Mumun, antar aku ke desa Pelamun," kata Panji.
"Siap Bos Panji," jawab kang Mumun kemudian menghidupkan motornya, lalu pergi ke arah desa Pelamun.
Tak lama kemudian...
"Turun sini saja Kang, aku ingin ke warung, ingin ketemu teman karibku," kata Panji kemudian turun dari motor dan
Kang Mumun langsung pergi ke pangkalan ojek.
Setelah beberapa menit berjalan... Sampailah Panji di warung Pak Slamet belakang pondok Meteor Garden,
"Pak Slamet... Indomie goreng kasih telor sama kopi dan air putih ya."
"Siap," jawab Pak Slamet.
Tak lama kemudian, Panji menikmati indomie di bawah pohon mangga.
"Hai Panji!!!" Seru kang Ujang dan kang Salim kemudian bergegas mendekat,
"He... Kemana saja selama ini," tanya kang Salim
"Ada di Kramatwatu, aku menginap di losmen Batu Hiu," kata Panji,
"Kalau ada waktu, main ya ke tempatku."
"Iya kang, aku tau losmen itu, dekat perempatan sebelum pasar ya," sahut kang Ujang.
"Iya benar," kata Panji,
"Ayo kalian pesen indomie dan minum, aku yang traktir.
Oh iya... Di mana kang Subur?"
"Sebentar lagi juga kesini, tadi masih ganti baju," kata kang Salim kemudian beranjak memesan kopi.
"Panji!" seru kang Subur sambil mendekat,
"Kemana saja? Tak kirain kamu sudah pulang ke Surabaya."
"Belum kang, entar habis lebaran ke Surabaya," jawab Panji,
"Hemmm... Bagaimana kabar Pak Kyai?"
"Setelah sehari kamu pergi... Pak Kyai sakit kang," ucap kang Subur,
"Sekarang ada pengantimu yang nyapu rumah Kyai, dia orang dari kabupaten Kuningan."
"Sakit apa Pak Kyai nya," tanya Panji.
"Sakit radang tenggorokan dan sakit kepala kang," jawab kang Subur.
"Hahaha... Sakitnya anak pondok, biasanya anak pondok minum bodrex juga sembuh kang," kata Panji.
__ADS_1
"Heee... Kang!! Kyai sudah berobat kemana - mana tapi tidak kunjung sembuh, bahkan beberapa hari lalu, Kyai sempat berobat di rumah sakit terbaik di Jakarta tapi juga tidak sembuh," ujar kang Subur,
"Katanya dokter tidak di temukan penyakitnya."
"Ah yang bener kang, mana ada orang sakit tidak ada penyakitnya," kata Panji,
"Salah kali alat medisnya.
Jadi... Libur nieh ngaji ihya'nya?"
"Libur kang, Kyai nya sakit," kata kang Subur,
"Katanya ini, katanya... Kemarin lusa ada tamu seorang Kyai ke rumah ndalem mengobati sang Kyai, tetapi juga tidak sembuh."
"Kyai mengobati Kyai?" gumam Panji,
"Tapi tidak sembuh? Berarti kyai sehat mendoakan kyai sakit supaya sembuh, tapi kenyataannya tidak sembuh? Berarti doa Kyai yang sehat itu tidak ampuh tidak mustajabah alias tidak manjur. Rugi dong sang Kyai memberi amplop hahaha."
"Namanya juga usaha kang, kadang rugi kadang ya untung," kata kang Salim.
"Insallah besok sang kyai pasti sembuh, besok sianglah paling lambat," kata Panji kemudian menyulut rokok.
"Hemmm model mu Cak, koyok dukun Tiban hahaha," sahut kang Subur sambil tertawa.
"Heee... Kemana Ustadz Bakri lurahnya pondok," tanya Panji.
"Oh iya kang, kasihan Ustadz Bakri, sudah dua harian kayak orang gila, seperti orang setres," kata kang Ujang,
"Sering ngomong sendiri."
"Mungkin Ustadz Bakri terlalu banyak wirid kang," ujar kang Salim,
"Kabarnya sih... Ustadz Bakri mendalami ilmu tasawuf seperti kang Soleh.
"Gak kang, sahut kang Subur,
"Katanya sih, katanya... Itu gara - gara bertunangan dengan seorang gadis cantik, terus tunagannya di batalkan. Ustadz Bakri jadi kepikiran terus tu sama tunangannya yang cantik."
"Katanya sih, katanya," ejek Panji sambil tertawa,
"Masak dari tadi kalau cerita katanya - katanya terus?"
"Kang Panji, kabarnya. kamu pacaran sama Bela anak kampung ya?" tanya kang Salim,
"Berita itu benar apa gak sih? Hingga kamu di usir sama kyai."
"Gak kang, aku dan Bela hanya berteman baik, seperti hubungan ku dengan kalian selama di pondok.
Itu gosib aja," jawab Panji,
"Aku juga gak di usir sama kyai."
"Iya ya... Gak nyangka, nasib seseorang, dalam sekejab bisa berubah menjadi kaya raya," kata kang ujang,
"Kok gak aku saja yang jadi pacarnya, hahaha."
"Ee... Sudah larut malam, aku mau balik dulu ya," ujar Panji.
Setelah memberi uang sahabatnya... Panji uluk salam,
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," makasih kang di kasih uang jajan.
Malam itu Panji melangkahkan kaki menuju makam Mbah Wali Jabat yang agak jauh dari pemukiman warga.
Ketika sudah berada di area makam... Panji melihat dan mengambil satu buah mangga yang banyak jatuh berserakan di halaman makam sambil berkata lirih,
"Jadi ingat masa kecil ketika masih SD, bersama teman - teman sering mencuri mangga milik tetangga hehehe."
Sorot lampu menerangi halaman makam, Panji yang masih berdiri memegang buah mangga berkata lirih,
"Ada mobil parkir di bawah pohon sawo. Rupanya ada orang yang hendak ziarah."
Ketika baru melangkah kan kaki... Terdengar suara menyapanya.
"Selamat malam Pak," ucap seseorang yang sudah berada di belakangnya.
"Selamat malam juga," jawab Panji,
"Silahkan Pak kalau mau ziarah."
"Saya kesini bukan untuk ziarah Pak, saya kesini ingin mencari kang Panji," ujar sang tamu,
"Apakah bapak mengenal kang Panji?"
"Saya sendiri Pak yang bernama kang Panji, hemmm... Ada apa bapak mencari saya?"
"Ada perlu penting kang Panji yang harus saya sampaikan kepada kang Panji," ucap sang tamu.
"Kalau begitu... Mari silahkan duduk samping makam Pak," ucap Panji kemudian berjalan.
"Silahkan duduk Pak," kata Panji kemudian menyulut rokok,
"Bapak siapa namanya dan dari mana?!!"
"Nama saya Hong Shi dari Jakarta kang, saya di kasih tau keberadaan kang Panji di makam ini, dari bapak Samat Cirebon, dia relasi bisnis saya.
Pak Samat bilang... Istrinya sembuh karena diberi obat oleh kang Panji. Jadi, saya kesini hanya untuk minta obat sama kang Panji."
__ADS_1
"Iya iya... Pak Samat Cirebon yang pernah kasih aku uang," gumam Panji.
"Ini kang ada rokok marlboro untuk kang Panji," kata Pak Hong sambil meletakkan satu gros rokok.
"Terimakasih Pak," ujar Panji,
"Sebenarnya... Bukan saya yang mengobati istrinya Pak Samat, tetapi Nenek Sa'adah, saya hanya di suruh mengasihkan obat ke Pak Samat saja."
"Siapakah Nenek Sa'adah itu?" tanya Pak Hong.
"Nenek Sa'adah adalah orang kampung... Beliau yang sering memberiku makan dan minum juga orang yang menyayangi ku Pak. Biasanya... Kalau saya main ke makam ini, Nenek Sa'adah kesini membawakan kopi untukku," jawab Panji.
"Oh begitu ya," ucap Pak Hong.
"Di tunggu saja Pak, sebentar lagi Nenek Sa'adah pasti kesini ngantar kopi," ujar Panji,
"Kalau saya... Tidak bisa mengobati, karena saya bukanlah dukun atau paranormal, saya hanyalah anak yang sering main ke sini. Oh iya? Bapak sakit apa?"
"Yang sakit adalah Aini putri saya kang, dia anak semata wayang," ujar Pak Hong shi,
"Aini sakit saraf otak akibat kecelakaan 9 bulan yang lalu, yang mengakibatkan kelumpuhan pada kedua kakinya.
Kami sekeluarga sudah membawanya berobat ke rumah sakit ternama di Singapura hingga ke Jerman, tetapi tidak kunjung sembuh, tidak ada perubahan sama sekali. Bahkan saya juga mendatangi paranormal bahkan orang pintar seperti kyai, untuk minta doa dan petunjuk, tapi... Yaaa tidak sembuh juga. Barang kali, lantaran kang Panji putri saya bisa sembuh. Karena... Kabar yang beredar di kalangan pebisnis pengembang... Kang Panji di kenal sebagai anak sakti penunggu makam kramat."
"Oh gitu, iya, iya. Tetapi saya bukan penunggu makam Pak, emang saya jin? Pak Hong Shi juga bisnis pengembang yang suka bagun perumahan seperti pak Samat ya," tanya Panji.
"Iya kang Panji, saya bisnis pengembang menguasai wilayah Jawa dan Bali," jawab Pak Hong,
"Pak Samat itu adalah teman bisnis saya."
Di gapura makam... Panji dan Pak Hong Shi melihat seseorang berjalan mendekati makam.
"Itu Nenek Sa'adah Pak, lagi berjalan kemari," ujar Panji.
"Assalamualaikum Gus."
"Waalaikumsalam Nek," jawab Panji kemudian sungkem mencium tangan Nyai Sa'adah.
"Kamu berdua Gus," ucap Nyai Sa'adah.
"Kebetulan Nenek bawah kopi satu teko kecil dan 4 gelas.
Silahkan di minum," ujar Nyai Sa'adah sambil meletakkan talam di atas keramik di samping Panji.
"Nek... Pak Hong Shi ini, mau minta obat sama Nenek, katanya anak tunggalnya sakit lumpuh sudah 9 bulan, akibat kecelakaan," kata Panji.
"Gus... Berikan saja buah mangga yang ada di lantai di depanmu itu, bacakan surat Al fatiha 1x saja, itu sudah lebih dari cukup," kata Nyai Sa'adah.
"Ah Nenek...!! Bisa saja kalau bercanda. Masak orang sakit lumpuh di kasih obat berupa buah mangga yang jatuh dari pohon? Mana bisa sembuh Nek? Berobat ke Singapura dan Jerman saja tidak sembuh," ujar Panji.
"Gusti Allah itu Maha Guyon Gus! Jadi... Jangan terlalu serius menghadapi masalah apa saja. Gus, kamu percaya gak sama ucapan Nenek?" kata Nyai Sa'adah.
"Ya percaya Nek, tetapi... Orang lumpuh mana bisa sembuh kalau hanya dengan makan buah mangga Nek?
Tapi, Baiklah Nek, Panji Nurut saja perintah Nenek. Nenek kan orang yang tau segalanya. Kalau untuk mengobati kyia Nuruddin itu apa harus di kasih mangga juga Nek?"
"Iya Gus, sama. Kyai Nuruddin kamu suruh makan mangga yang jatuh di halaman makam itu, pasti sembuh," kata Nyai Sa'adah.
"Gusti Allah Maha Guyon ya Nek, Hahaha... Bisa saja Nenek kalau bercanda," kata Panji kemudian mengambil buah mangga lalu di bacakan surat Al Fatiha 1x.
Setelah selesai Panji berkata,
"Pak Hong Shi... Ini obat dari Nenek Sa'adah, Aini putri bapak suruh makan ini buah mangga sampai habis."
"Baiklah kang Panji, saya percaya sama kang Panji," ucap Pak Hong,
"Karena dulu istri Pak Samat sembuh juga dari sebungkus gula dan garam dari kang Panji. Barang kali ini adalah jalan kesembuhan anak saya. Kalau begitu... Saya permisi mau balik dulu kang Panji, ini ada sedikit uang untuk beli rokok atau apa. Nenek... Saya permisi dulu, selamat Malam."
"Selamat Malam juga Pak Hong," jawab Panji.
Setelah mobil Pak Hong Shi melaju dan tak terlihat, Panji berkata,
"Nek, mengapa buah mangga yang di bacakan surat Al fatiha 1x itu, apa bisa buat obat orang yang sakit?"
"Bisa Gus," jawab Nyai Sa'adah,
"Surat Al Fatiha itu mempunyai Asma'ullah, mempunyai sirullah dan mempunyai sifatullah.
Surat Al Fatiha itu adalah susunan dari 7 ayat, dan susunan 7 ayat itu di beri Asmak atau di beri nama Al Fatihah.
Al fatihah itu mempunyai Asmak atau Nama Gelar, yaitu ummul qur'an dan juga ummul kitab.
Jadi... Semua Fadilah atau keistimewaan ayat - ayat yang ada di Al qur'an, itu ada di dalam surat Al Fatiha.
Barang siapa yang ingin mengetahui rahasia Al qur'an... Cukup melalui surat Al fatihah."
"Jadi... Orang yang mengamalkan surat Al Fatiha itu sama dengan mempelajari semua rahasianya ayat - ayat Al qur'an ya Nek," kata Panji.
"Iya Gus, benar.mKalau orang ingin mengetahui rahasianya ayat qur'an, atau ingin mengetahui kebesaran dan ke Agungan Al qur'an... Cukup dengan membaca surat Al fatiha," jawab Nyai Sa'adah.
Seumpama ingin tau alam goib atau ingin keramat atau sakti, atau menjadi seorang wali, cukup mengamalkan surat Al Fatiha ya Nek?" tanya Panji.
"Iya Gus, benar," jawab Nyai Sa'adah,
"Makanya... Surat Al fatiha itu sarat mutlak dalam solat. Solat tanpa membaca surat Al fatiha itu tidaklah sah.
Sebegitu pentingnya surat al Fatiha. Bahkan, para wali pun harus bertawasul untuk mengapai drajat mulia di sisi Allah, dan tawasul itu juga membaca Al Fatiha."
"Iya Nek, Panji faham."
__ADS_1
⊙ Selamat Hari Raya Idul Fitri ya... Mohon Maaf Lahir Dan Batin ⊙