
Setelah solat Subuh berjamaah... Panji berpesan,
"Mbak Dewi... Nanti bangunkan aku jam 10 Siang yaa."
"Iya Mas," ujar Dewi kemudian tidur lagi.
Waktu terus berlalu, matahari sudah terlihat terik.
Dewi yang sudah bangun lebih dulu... Mendekati Panji,
"Mas ganteng... Katanya mau bangun jam 10, ini jam 10 kurang."
"Iya Mbak," jawab Panji kemudian mandi dan ganti baju.
Dengan memakai celana pendek dan kaos oblong... Panji melangkahkan kaki keluar kamar sambil membaca wirid ya Asik.
Setelah menyeberang jalan dan masuk ke gang Melati... Di ujung kampung Panji melihat sebuah musolla gubuk dan kebun yang lumayan luas. Panji juga melihat rumah sederhana.
Melihat ada beberapa orang duduk sambil ngopi di sebelah musollah... Panji pun mendekat,
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Mamat salah satu orang yang lagi ngopi
"Mbah Dirjo ada," tanya Panji.
"Mbah Dirjo nya ada, tetapi belum keluar rumah Mas," jawab Mamat.
"Oh gitu yaa?
Saya akan lihat - lihat kebun dulu ya Bang, sambil nunggu Mbah Dirjo keluar rumah," ujar panji kemudian melangkah.
Ketika Panji berjalan di kebun sambil melihat lihat pohon... Panji berhenti di tepi kolam ikan yang lumayan besar, kemudian menyulut rokok.
Ketika kepalanya mendongak... Tanpa sengaja Panji melihat Mbah Dirjo sedang solat di atas daun pohon pisang, lalu berkata lirih,
Benar apa yang di katakan Syeh Hamdani.
Bukankah itu Mbah Dirjo yang lagi soal di atas daun pohon pisang..? Ternyata Mbah Dirjo itu seorang wali.
Makanya... Nenek Sa'adah berpesan dalam mimpi, supaya aku sering berkunjung ke rumah Mbah Dirjo.
Lebih baik aku lempar saja pohon pisangnya.
Sambil berdiri di tepi kolam... Panji mengambil batu, lalu melemparkan nya ke arah pohon pisang.
Mendengar suara lemparan... Mbah Dirjo kemudian menengok ke bawah.
Setelah melihat panji berdiri di tepi kolam... Mbah wali Dirjo berjalan di udara seperti turun dari tangga.
Sambil berjalan mendekati Panji... Mbah wali Dirjo berkata lirih,
"Kurang ajar Hamdani itu, aku berusaha menyembunyikan jatidiri ku malah di bongkar kepada Gus Panji.
Gus Panji kan masih kecil, belum tau dunia wali, bisa - bisa kacau Jakarta ini.
"Heee! Ngapain kamu kesini," teriak Mbah wali Dirjo.
"Aku pinggin cari ikan Mbah, kayaknya di kolam ini ikannya besar - besar," ujar Panji kemudian mengambil serok yang berada di gubuk.
"He he he! Jangan di ambilli ikan itu, itu sudah di beli orang," seru Mbah Dirjo sambil mengambil ranting,
"Ayoo pergi! Apa mau saya pukul pakai kayu ranting ini?"
"Jangan pelit - pelit Mbah... Jadi wali kok pelit! Jadi wali Allah itu yang welas asih," kata Panji kemudian menyerok beberapa ikan yang besar - besar,
"Sudahlah Mbah... Buang itu kayu ranting!
Mbah Dirjo gak takut sama aku..?
Kata kitab Wahyu Agung yang aku baca... Yang tau keberadaan seorang wali itu juga wali.
Jadi... Aku ini juga wali Mbah, hahahaha."
"Baiklah baiklah," kata Mbah wali Dirjo,
"Kamu mau apa menemuiku, tidak kapok juga kamu setelah aku gampar."
Aku mau bakar ikan ini dulu Mbah, aku belum sarapan," kata Panji kemudian membawa ikan ke gubuk.
"Sudah sudah, Gus diam saja, biar santri ku yang membakarnya," ujar Mbah wali Dirjo kemudian memanggil dan memerintahkan beberapa santrinya yang ada di musolla, untuk membakar ikan dan mengantar kopi.
"Hemmm, repot punya tamu wali kecil ini!!" ucap Mbah Dirjo dalam hati,
"Ini semua gara - gara Hamdani."
"Ini Mbah kopinya," ujar Mamat santri Mbah Dirjo.
"Di minum Gus, kopinya," ujar Mbah Dirjo kemudian menyulut rokok,
"Ada perlu apa Gus menemuiku?"
"Aku ingin belajar Lelaku Lawan Arus Mbah," jawab Panji.
"Bukankah Syeh Hamdani... Lewat bisikannya telah memberikan petunjuk semalam," ujar Mbah Dirjo
"Kurang lengkap Mbah, ujar Panji,
"Aku ingin menimba ilmu kewalian dari Mbah Dirjo.
Aku mendapat pesan lewat mimpi, Nyai Sa'adah menyuruh ku untuk sering berkunjung ke rumah Mbah Dirjo."
"Baiklah!! Aku akan mengajari mu Ilmu kewalian lewat jalur Lawan Arus," ucap Mbah Wali Dirjo,
"Tetapi aku tidak mengakui mu sebagai murid ku.
Kedua... Kamu harus diam, jangan banyak bicara, kamu harus bisa menyembunyikan Rahasia Allah yang kamu lihat dan kamu ketahui.
Ketiga... Kamu harus taat dan patuh dengan segala perintah ku.
Kalau Gus setuju... Akan aku ajari
Kalau tidak setuju... Silahkan Gus pergi dari sini."
"Baiklah Mbah, aku setuju," jawab Panji.
"Sekarang... Kamu lepas kaos mu dan buanglah di semak itu," perintah Mbah Dirjo,
"Lalu... Kamu menyapu halaman rumah ku. bersihkan musollah dan kamu isi bak kamar mandi musolla.
Ingatlah... Stiap Pagi jam 9, kamu kesini untuk membersihkan halaman rumah dan musholla. Kamu isi bak kamar mandi dan kamu bersihkan musollanya."
Mendengar perintah Mbah Wali Dirjo... Panji diam sesaat, kemudian melepas kaosnya.
"Ayoo Gus, ikut aku," ujar Mbah Wali Dirjo.
Setelah berada di depan musolla... Mbah Wali Dirjo berkata,
"Ini... Sapu semua hingga bersih dan isi bak kamar mandi musolla. Sekalian di bersihkan musollanya.
Ingat..! Sampai bersih.!!!
Setelah selesai semua... Kamu kembali ke kos - kossan mu."
"Mamat..! Beri dia sapu lidi," kata Mbah Wali Dirjo kemudian masuk rumah.
Setelah menerima sapu dari Mamat... Panji pun menyapu halaman rumah Mbah Wali Dirjo pelan - pelan.
Sambil menyapu halaman... Panji berkata lirih,
"Hemmm, luas sekali halamannya, belum isi bak kamar mandi, belum bersih - bersih musolla. Persis seperti aku waktu di rumah kyai Nuruddin Banten.
__ADS_1
Bedanya... Di sini aku seperti orang gila. Rambut panjang, tidak memakai baju, hanya mengenakan celana pendek.
Kalau pulang ke kos - kossan... Psti di ketawain Mbak Dewi dan Eka."
Adzan Dzuhur berkumandang dari musolla.
Setelah selesai Solat... Panji membersihkan musolla.
Ketika membersihkan musollah... Mamat mendekati Panji dan berkata,
"Kang... Ini kopinya, silahkan di minum. Membersihkan musolla sambil ngopi sambil rokok-an, biar enak Kang.
Kamu siapa namanya?"
"Iya Mas.
Namaku Panji."
"Namaku Mamat, Kang.
Aku tinggal dulu ya?"
"Iya."
Setelah mengisi kamar mandi musolla... Panji pun langsung pergi meninggalkan rumah Mbah Wali Dirjo.
Dengan rambut gondrong terurai, dan celana pendek setengah basah... Panji yang kelelahan berjalan gontai menyeberang jalan raya. Setelah menyebrang... Panji nyelonong saja masuk ke halaman Hotel Atlanta.
Melihat Panji seperti orang gila... Tiba - tiba salah satu satpam berteriak,
"Stop!! Berhenti.
Mas mau kemana?"
"Mau pulang Pak, ke kos - kossan," jawab Panji.
"Hahaha," mendengar jawaban Panji... Satpam itu tertawa,
"Mas... Ini bukan kos kossan... Tetapi Hotel.
Kos - kossan itu ada di belakang Hotel, itu gangnya ada di samping kiri Hotel."
"Gitu ya Pak Satpam!!
Kalau gitu aku mau cari makan di restoran Hotel sini, perutku lapar sekali," ujar panji.
"Maaf Mas... Silahkan Mas pergi dari sini," bentak satpam satunya lagi,
"Di sini bukan untuk mencari sisa makanan. Ini Hotel!
Silahkan pergi, atau kami akan memaksa Mas nya pergi."
"Aku doakan kamu bisu, agar tidak seenaknya membentak - bentak orang," ujar Panji sambil memutar badannya.
Ketika Panji baru melangkah kan kaki... Panji mendengar suara Aini,
"Mas Panji..!"
"Berhenti Pak," perintah Aini.
Setelah mobil berhenti di pintu masuk Hotel... Aini turun dari mobil mewah, lalu mendekati Panji.
Mas, mau kemana kok gak pakai baju!! Hanya pakai celana pendek, basah pula," ujar Aini,
"Ini aku mau main ke tempat kos mu, mau parkir mobil."
"Mau makan di restoran Hotel, tetapi gak boleh masuk sama satpamnya," jawab Panji.
"Tolong putar balik mobilnya, kita ke cafe SAS," perintah Aini kepada pengawalnya,
"Kita makan di cafe SAS saja Mas."
Mobil melaju dengan pelan, tak lama kemudian mobil parkir di halaman cafe.
"Mas Panji, emang kenapa dan dari mana, kok gak pake baju, rambut gimbal badan kotor semua?"
"Belajar gila," jawab Panji sambil makan.
"Hahaha, emang kurang kerjaan apa, pakai belajar gila," ujar Aini.
"Kalau keadaan ku setiap hari kayak orang gila gini, apa kamu tidak malu jika bersama ku," tanya Panji.
"Ngapain malu, kan Mas Panji tidak gila, hanya pura - pura gila," ujar Aini,
"Apa Mas Panji mendalami spiritual, kaya di film - film."
"Iya.
Sudah hampir Asar, aku mau balik ke kos dulu, aku ada les private baca Al qur'an," kata Panji.
"Baiklah," kata Aini kemudian beranjak.
Tak lama kemudian... Setelah mobil putar balik, dan berhenti di depan gang. Panji pun turun dari mobil.
Dengan langkah gontai... Panji berjalan melewati beberapa kamar kos - kossan. Beberapa penghuni kos heran melihat keadaan Panji yang aneh, tidak seperti biasanya.
Setelah berada di depan kamar kosnya... Tiba - tiba Dewi menyapa,
"Mas ganteng, dari mana aja? Kok gak pake baju... Badan kotor semua, persis orang gila."
"Mbak Dewi... Ke kamar kos yaa? Aku mau minta pijitin, aku tak mandi dulu," ujar Panji,
"Jangan lupa, pakai jilbab dan baju muslimah yang baru."
"Siaaap Mas ganteng, aku tak ganti baju dulu," jawab Dewi.
Setelah mandi dan mengenakan sarung dan kaos... Panji merebahkan badannya diatas kasur busa di samping Dewi.
"Capek Mbak Dewi," ujar Panji kemudian di pijitin Dewi,
"Mbak... Itu di samping Tv ada amplop berisi uang 1,5 juta, ambil untuk Mbak Dewi, sebagai pembayaran uang boking."
"Iya Mas Ganteng.
Sebenarnya... Mas ganteng ini gak niat boking Dewi. Mas ini hanya ingin aku libur kerja selama 1 bulan, dan uang 1,5 juta itu untuk kebutuhan ku selama gak kerja.
Iya kan Mas ganteng," ujar Dewi.
"Iya benar," jawab Panji.
"Mengapa Mas ganteng ingin melakukan semua ini?" tanya Dewi.
"Karena aku ingin Mbak Dewi jadi wanita baik - baik, seperti doa Mbak kemarin Subuh," jawab Panji,
"Mbak Dewi kan sudah aku anggap Kakak ku sendiri."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Dewi,
"Silahkan masuk Mas ustadz, tak bikinin kopi dulu.
Hemm ustadz puasa gak hari ini?"
"Terimakasih Mbak," jawab ustadz Dani kemudian masuk kamar kos,
"Saya sudah dua hari ini tidak puasa, karena saya lagi sakit lambung dan harus minum obat."
"Kalau gitu Dewi bikinin teh saja."
"Panji sudah siap ustadz, langsung saja kitab mulai belajar nya."
"Baiklah kalau begitu," ujar ustadz Dani kemudian membuka Al qur'an.
__ADS_1
Setelah belajar kurang lebih 1,5 jam, ustadz Dani mengakhiri belajar.
"Ini ustadz, kopi nya," ujar Dewi,
"Makan dulu ya..? Dewi barusan masak.
Bentar tak siapkan dulu."
"Waduh, jadi ngrepoti Mbak Dewi saja," ujar ustadz Dani.
"Ini ada ayam goreng, telur ceplok dan sambel tomat.
Ini ada mie kua juga," katq Dewi,
"Silahkan di nikmati ustadz, masakan ala kos - kossan."
"Ayoo Mbak Dewi, kita makan bareng," ajak ustadz Dani.
"Terimakasih ustadz, saya mau ke kamar sebelah," jawab Dewi.
Sambil menikmati makan... Ustadz Dani bertanya,
"Mas Panji, siapa Mbak Dewi itu?"
"Dia kakak angkat saya ustadz, tinggal di kamar sebelah," jawab Panji,
"Hemmm, kenapa ustadz."
"Dia kok lain dari kebanyakan cewek yang kos disini.
Sudah cantik, pake jilbab dan baju muslimah," ujar ustadz Dani,
"Mbak Dewi orang mana Mas Panji?"
"Dia orang Bogor ustadz," jawab Panji,
"Iya Mbak Dewi emang lain, dia rajin ibadah."
"Kerja di mana Mbak Dewi nya," tanya ustadz Dani.
"Gak kerja ustadz," ujar Panji,
"Dulu... Mbak Dewi kerja jadi purel, tetapi, sekarang sudah tidak lagi, dia sudah tobat dan rajin ibadah siang malam.
"Mbak Dewi bilang... Katanya ingin punya suami yang Alim dan ahli ibadah, yang bisa membimbing nya," Panji menambahi asal nyeplos.
"Alhamdulillah... Telah mendapat hidayah dari Allah," kata ustadz Dani.
"Kayaknya Mbak Dewi sama ustadz Dani cocok deh, hahaha," ujar Panji,
"Ustadz Dani ganteng dan Alim, Mbak Dewi cantik dan rajin ibadah. Kalau ustadz Dani mau... Nanti aku bilangin ke Mbak Dewi."
"Ah, Mas Panji bisa saja, kalau jadi mak comblang," ujar ustadz Dani malu - malu,
"Jujur saja, sebenarnya... Sejak pertama bertemu, saya naksir sih Mas, tetapi saya malu untuk mengutarakan.
Berhubung Mas Panji bilang begini... Insallah nanti aku solat istiqoroh dulu, minta petunjuk dari Allah.
Kalau ada jodoh... Besok aku bilang ke Mas Panji.
Tetapi ya... Begini Mas Panji, keadaan ku, belum punya pekerjaan tetap, rumah belum punya.
Saya takut kejadian kayak istri pertama ku. Karena aku miskin, dia pergi meninggalkan ku bersama lelaki lain yang lebih mapan dan kaya."
"Masalah kaya dan mapan itu gampang ustadz, nanti saya yang nego sama Gusti Allah," kata Panji asal nyeplos,
"Gusti Allah Dzat yang Maha kaya, dan Maha Asik.
Nanti Panji yang atur."
"Maksudnya Nego sama Allah itu gimana ya Mas Panji," ujar ustadz Dani.
"Maksudnya... Panji akan doakan ustadz Dani dan Mbak Dewi bisa hidup bahagia, banyak anak, kaya raya dan mapan," kata Panji,
"Kalau untuk beli rumah dan usaha nanti Panji yang kasih."
Mendengar ucapan Panji yang aneh... Ustadz Dani mengeryitkan dua alisnya, dengan rasa heran dan terkejut.
"Baiklah Mas Panji, saya pamit dulu, sudah mau Magrib," ujar ustadz Dani,
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Panji.
Setelah ustadz Dani pergi... Wilda datang dengan motor barunya,
"Assalamualaikum Mas."
"Waalaikumsalam," jawab Panji kemudian merebahkan badannya,
"Eeeh, gak salim dulu dan cium tangan ustadz Panji."
"Iya iya... Salim sama Pak ustadz," kata Wilda sambil tertawa.
"Siapa ini yang masak," tanya Wilda.
"Mbak Dewi tetangga kos, barusan dari sini," jawab Panji.
"Ya udah kalau gitu, kebetulan aku gak usah masak, tinggal cuci baju dan beres - beres kamar," kata Wilda.
"Mas ganteng... Siapa gadis cantik yang cuci baju itu?!!" tanya Dewi yang tiba tiba nonggol di depan pintu.
"Dia Wilda temen ku. Kenalan sana biar kenal," ujar Panji,
"Wilda... Ada yang mau kenalan nieh."
"Iya Mas," jawab Wilda kemudian berkenalan dengan Dewi.
"Ayo Mas tak pijitin lagi, tadi belum selesai ada ustadz Dani," ujar Dewi.
Sambil menikmati pijitan tangan Dewi... Panji berkata,
"Mbak, mau gak jadi istrinya ustadz Dani!!"
"Hahahaha... Asik juga kelihatan nya jadi istrinya ustadz.
Nanti di panggil bu ustadz doong, hahaha," jawab Dewi,
"Habis di panggil pelacur terus di panggil bu ustadzah, hahaha. Gak lucu tau. Kayak sinetron saja."
"Serius ini...
Tadi ustadz Dani nanyain Mbak Dewi terus loh," ujar Panji.
"Mana mungkin seorang ustadz mau memperistri seorang pelacur," ujar Dewi,
"Seribu satu orang yang mau menikahi seorang pelacur."
Kalau seandainya ustadz Dani bersedia dan mau menikahi Mbak Dewi, Mbak Dewi mau gak," tanya Panji,
"Lagian ustadz Dani juga tau Mbak Dewi kerja sebagai wanita penghibur."
"Oh, dia tau ya kerjaan ku," ujar Dewi,
"Kalau dia ustadz Dani mau sama aku sih... Ya gak apa - apa, aku juga mau. Asal dia mau menerima ku apa adanya."
"Ya udah Mbak kalau gitu.
Sudah adzan magrib, Panji mau solat dulu."
Setelah Solat berjamaah... Panji merebahkan badannya sambil membaca kitab.
Sementara Wilda sibuk duduk menghadap komputer sambil belajar menejemen Bisnis.
__ADS_1
Jam 10:30, Wilda pamit kembali ke tempat kosnya.