SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
KAU GANTUNG CINTAKU


__ADS_3

"Mas Panji... Aku minta maaf," ujar Jamilah,


"Sebenarnya... Aku hanya iseng saja ngerjain Mas Panji.


Mari ikut kedalam, Ayah lagi ngaji kitab Al Hikam di ruang belakang.


Assalamualaikum Ayah..."


"Waalaikumsalam," jawab Mbah Wali Sanusi,


"Sini Gus, duduk di sebelah ku. Jamilah... Buatkan kopi panas untuk Gus Panji."


"Baiklah Ayah," kemudian Jamilah pergi.


"Gus... Maafkan Jamilah putri ku, cabutlah kutukan mu atas putri ku." ujar Mbah Wali Sanusi,


"Walau dia sudah SMA... Tetapi pikirannya masih anak - anak.


Beda dengan dirimu, walau kamu masih sangat muda... Pikiran mu sudah dewasa."


"Baiklah Mbah, aku cabut kutukan ku, dan akan aku kembalikan ilmu indigo nya," kata Panji.


"Ayah... Ini kopinya," ujar Jamilah kemudian meletakkan di atas tikar.


Setelah Jamilah pergi, Mbah Wali Sanusi berkata,


"Ayo Gus di minum kopinya mumpung panas, ini rokoknya."


Sambil menikmati kepulan asap rokok... Mbah Sanusi berkata,


"Gus... Aku tau kamu sedang melakukan Tirakat Suluk Puasa Gendeng. Aku ingin memberi mu sebuah hadiah."


"Iya Mbah, sebelumnya saya ucapkan trimakasih atas hadiah nya," kata Panji.


"Bukalah bajumu," perintah Mbah Wali Sanusi.


Setelah membuka bajunya... Dengan ujung jarinya, Mbah Wali Sanusi menulis Rajah di punggung Panji.


Setelah selesai menulis Rajah, tulisan itu mengeluarkan cahaya putih kemudian tulisan Raja h itu hilang perlahan - lahan masuk ke dalam tubuh Panji.


"Pakailah baju mu Gus," perintah Mbah Sanusi kemudian duduk kembali di depan Panji.


Setelah mengenakan bajunya... Mbah Sanusi berkata,


"Gus... Bacalah Bismillah Hu Allah."


"Baiklah Mbah," kemudian Panji membaca. Bismillah Hu Allah.


Selesai membaca... Panji langsung terperanjat hingga tubuhnya mundur kebelakang sambil duduk.


Tiba - tiba... Sambil duduk tasyahud, Panji menundukkan kepalanya hingga hampir menyentuh tikar.


Panji yang semula melihat Mbah Sanusi dengan pakaian biasa dengan sarung dan songkok hitam... Tiba - tiba Panji melihat Mbah Sanusi berubah memakai jubah dengan sorban dengan jenggot yang panjang.


"Syeh... Maafkan saya, saya mohon maaf yang sebesar - besarnya," ujar Panji dengan masih menundukkan kepala,


"Saya tidak mempunyai tatakrama kepada Syeh sekeluarga.


Sekali lagi saya minta maaf yang sebesar - besarnya.


Saya telah meragukan Syeh, saya hanya melihat Dohirnya saja.


Sekali lagi saya minta maaf Syeh."


"Bagunlah, duduklah kembali, aku sudah memaafkan mu," ujar Mbah Wali Sanusi,


"Wahai para santri - santri ku..!


Mulai saat ini, kalian semua harus menghormati Gus Panji. Di manapun kalian bertemu dengan Gus Panji... Kalian harus hormat dan mau membantu kesulitan Gus Panji. Jangan sekali - kali kalian membantah perintah Gus Panji."


"Sedikoh dawuh Syeh," jawab para santri serempak, santri yang berasal dari bangsa jin.


Melihat di depannya banyak bangsa jin yang lagi ngaji kitab Al Hikam... Panji sangat kaget.


"Gus... Bacalah Bismillah Hu Allah 2x," perintah Mbah Wali Sanusi.


Ketika membaca Bismillah Hu Allah 2x... Panji kembali melihat Mbah Sanusi seperti orang desa biasa, dan para santri jin tidak terlihat.


"Gus... Kanu gunakanlah ilmu penerawangan ini dengan baik dan benar," ujar Mbah Wali Sanusi,


"Semoga ilmu penerawangan ini berkah dan bermanfaat untuk mu juga berkah dan bermanfaat untuk makhluk lainnya."


"Aamiin," sahut Panji.


"Sekarang... Pergilah, lanjutkan perjalanan mu.


Kantong plastik Ini bawalah, bukalah setelah kamu sudah di jalan," ujar Mbah Wali Sanusi,


"Jamilah...


Antar tamu Agung Ayah hingga depan rumah."


"Baiklah Ayah," ujar Jamilah kemudian mendekati Panji,


"Ayo Mas... Aku antar."


Ketika berjalan... Panji mengembalikan ilmu indigo ke dalam tubuh Jamilah.


"Sudah sampai depan halaman rumah," kata Panji,


"Nyai Jamilah... Maafkan aku ya..? Semua kutukan ku sudah aku cabut, dan ilmu indigo mu sudah aku kembalikan."


"Sekali lagi aku minta maaf," ujar Panji.


"Mas Panji... Akulah yang minta maaf, aku yang bersalah telah iseng mengganggu mu," kata Jamilah,


"Insallah... Kalau libur sekolah aku main ke Jakarta untuk menemui mbak Wilda.


Ini uang mu tadi, aku kembalikan."


"Pakai saja untuk kamu, aku iklas, kalau masih kurang, akan aku berikan semua uang ini kepada mu," ujar Panji.


"Tidak usah Mas," kata Jamilah,


"25 juta sudah cukup untuk biaya belajar selama 2 tahun."


"Kalau begitu aku pamit dulu," ujar Panji,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Mas Panji, hati - hati di jalan, kapan - kapan kesini lagi ya," kata Jamilah.


"Baiklah Nyai, Insallah," jawab Panji.


Sambil melihat kepergian Panji... Jamilah berkata lirih,


"Mas Panji ini aneh, setelah bertemu Ayah dan keluar dari ruang belakang, kok memanggil aku Nyai..? Dia sangat hormat sekali.


Dia mencabut kutukannya juga mengembalikan ilmu indigo ku.


Aneh!!!"


***


Malam itu Panji sudah berjalan di pinggir jalan raya menuju arah Jogjakarta.


Sambil berjalan Panji melihat isi kantong plastik,


Hemm... Ternyata uang 25 juta... Syeh Sanusi telah mengembalikan uang yang telah aku berikan pada Jamilah putrinya.

__ADS_1


Ternyata Mbah Sanusi itu seorang wali, kelihatannya seperti petani, bahkan beliau di kenal gila oleh kebanyakan masyarakat sekitar.


Coba aku tanyakan kepada Syeh Hamdani.


Assalamualaikum Syeh..."


"Waalaikumsalam Gus," jawab Syeh Hamdani,


"Mbah Sanusi itu adalah seorang wali Mastur, dengan gelar Syeh Abul Latif Al Prembuni.


Syeh Sanusi menutupi kewaliannya dengan menjadi seorang petani, dan menutupi jati dirinya manjadi orang gila.


Beliau Syeh Sanusi adalah paku buminya kabupaten Kebumen. Dia memiliki ribuan santri dari bangsa jin."


"Tetapi mengapa Syeh Sanusi itu memberikan hadiah berupa ilmu penerawangan kepada ku Syeh," tanya Panji,


"Kan aku ini bukan muridnya"


"Itu karena permintaan Kyai Jabat Gus," ujar Syeh Hamdani,


"Karena...


Dulu Nyai Sa'adah pernah berjanji untuk memberi ilmu Paninggal Jagad kepada mu.


Karena hubungan dekat Syeh Sanusi dengan Kyai Jabat di alam Ruhaniah... Maka Kyai Jabat menyuruh Syeh Sanusi untuk memberikan ilmu Paningal Jagad kepada Gus Panji."


"Baiklah Syeh, terimakasih atas petunjuknya," kata Panji,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Gus, salam sejahtera."


Sambil berjalan... Panji belajar mengunakan ajian ilmu Paninggal Jagad.


Sambil berjalan Panji melihat banyak bangsa jin di atas pohon.


Bahkan Panji melihat sepasang jin muda - mudi yang sedang asik pacaran.


Panji mencoba melihat Wilda yang berada di Jakarta.


Sambil berjalan dan menikmati kepulan asap rokok, Panji berkata lirih,


"Malam - malam begini Wilda berada di cafe dengan beberapa orang lelaki, di belakang Wilda ada Aryo Jagad si Raja jin.


Ternyata Aryo Jagad itu benar - benar setia kepada ku, buktinya dia mengawal Wilda.


Sepertinya Wilda lagi mengadakan pertemuan penting dengan pemilik saham dan investor.


Sayang sekali aku tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Sepertinya aku butuh ilmu Pangrungon, agar aku bisa mendengar suara jarak jauh.


Hemmm... Lebih baik aku telpon."


Setelah mengambil Hp satelit, Panji memencet nomer Wilda yang sudah ada di dalam Hp.


Kring...!


Hp di meja menyalah dan berbunyi, buru - buru Wilda mengambil Hp, begitu melihat nama Panji di layar Hp... Wilda langsung berdiri dan membungkuk kan badan,


"Assalamualaikum


Iya Mas..?"


"Sedang apa kamu di cafe bersama 4 orang pria," ujar Panji.


"Ini lagi negoisasi sama pemegang saham, dan investor Mas. Wilda lagi menyelesaikan masalah perusahaan Pak Hong Shi.


Apa mas Panji berada di sekitar sini, kok tau aku lagi mengadakan pertemuan di cafe?"


"Menebak saja," ujar Panji,


"Ya sudah lanjutkan, jangan malam - malam, jam 12 harus pulang istirahat tidur, biar gak sakit."


"Lagi di jalan, mungkin besok sore aku sudah ada di Malioboro Jogjakarta," ujar Panji,


"Apa kamu gak kepinggin makan malam sama aku..? Apa kamu gak kangen sama aku..?"


"Baiklah Mas, malam ini juga aku pesan tiket untuk penerbangan ke Jogjakarta untuk penerbangan besok sore," kata Wilda.


"Baiklah, semoga sukses," ujar Panji,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Mas," jawab Wilda dengan hati bahagia.


"Direktur Wilda... Kelihatannya anda senang sekali setelah menerima telepon dari seorang," tanya Ilham.


"Iya Mas Ilham, yang barusan telpon adalah Bos saya," ujar Wilda.


"Direktur Wilda... Kalau boleh tau... Siapa nama bos anda, barangkali aku mengenalnya," ujar Pak Deden.


"Namanya Panji."


"Sepertinya di perkumpulan Indonesia Bisnis organisasi tidak ada pengusaha bernama Panji. Jadi aku tidak kenal," ujar Pak Deden.



Adzan subuh terdengar mengema, tak terasa Panji sudah memasuki kabupaten Purworejo Jawa Tengah.


Panji begegas untuk mencari masjid.


***


Sore itu... Panji sudah memasuki perbatasan kota Jogja.


Setelah berada di jalan Malioboro... Panji duduk di trotoar depan penjual Nasi Gudek depan Hotel Amaris.



Panji hanya bisa menelan ludah ketika melihat orang - orang yang duduk di lesehan sambil makan nasi Gudek.


Walau lapar sekali... Panji tidak bisa membeli, sekalipun di dalam tasnya ada uang 100 juta. Dan akhirnya Panji hanya bisa melihat orang - orang di sekitarnya makan nasi Gudek.


Sementara...


Setelah pesawat Garuda Landing di bandara Adi Sucipto, tak lama kemudian Wilda berjalan melewati pintu keluar,


Lalu... Seorang pemuda tampan membungkukkan badan kemudian berkata,


"Selamat sore Direktur Wilda, silahkan ikuti saya, mobil jemputan sudah siap di depan."


Tak lama kemudian mobil melaju perlahan - lahan.


Kring..!


Bunyi telpon terdengar dari dalam tas, setelah mengangkat telpon terdengar suara yang sangat lembut,


"Assalamualaikum


Mas Panji posisinya di mana?"


"Waalaikumsalam.


Di trotoar jalan Malioboro depan Hotel Amaris," kemudian Panji mematikan ponselnya.


Melihat Panji seperti orang gelandangan memegang Hp satelit... Semua orang yang sedang makan sangat terkejut dan keheranan.


"Bagaimana bisa gelandangan mempunyai Hp satelit yang sangat mahal dengan pajak bulanan jutaan,"


kata salah satu orang.

__ADS_1


Belum hilang rasa terkejutnya orang - orang yang lagi makan di lesehan... Tiba - tiba sebuah mobil mewah berhenti persis di depan Panji.


Dengan setelan Rok mini warna merah dan Kaos putih susu, dengan sepatu merk ternama, Wilda keluar dari dalam mobil lalu berjalan mendekati Panji.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Panji.


Setelah mencium tangan Panji... Wilda langsung memeluk dan mencium pipi Panji,


"Mas... Mau makan apa dan makan di mana?"


"Makan di sini saja Wilda, makan Nasi Gudek," jawab Panji.


"Baiklah Mas, ayoo duduk di tikar," ujar Wilda,


"Mas Rehan... Tolong pesankan Nasi Gudek dan kopi hitam juga es jeruk."


"Baiklah Direktur," jawab Menejer Rehan kemudian mendekati ibu penjual.


Kehadiran Panji dan Wilda sore itu menjadi perhatian para pembeli.


Bahkan... Sejak pertama di angkat sebagai menejer cabang Jogja... Menejer Rehan diamv- diam naksir dan berharap bisa menjadi kekasih Wilda.


Sambil menikmati makan sore... Diam - diam Panji menerawang Menejer Rehan yang duduk agak jauh,


Panji juga menerawang isi hati Wilda, setelah itu Panji berkata,


"Wilda... Menejer mu suruh pulang, suruh sopir lain yang agak tua untuk mengantikannya."


"Baiklah Mas," kemudian Wilda memanggil manajer Rehan,


"Menejer Rehan, kamu istirahat lah, suruh sopir kantor yang agak tua untuk mengantikan mu."


"Baiklah Direktur," jawab manajer Rehan setengah dongkol hatinya.


"Mengapa Mas Panji ingin menganti sopir yang agak tua," tanya Wilda.


"Dia, menejermu itu diam - diam mencintai mu, dia senang sama kamu, makanya dia senang sekali kalau menjemput mu," ujar Panji,


"Tetapi dia tidak berani mengungkap kan isi hatinya.


Dia tidak tau balas budi."


Mendengar penuturan Panji... Wilda setengah tidak percaya, tetapi selama bersama Panji... Wilda faham kalau apa yang di omongin Panji selalu benar.


Wilda pun akhirnya mengerti, kalau Panji cemburu sama Manajer Rehan.


"Alhamdulillah Mas, beberapa perusahaan Pak Hong Shi sudah beres," ujar Wilda,


"Benar apa yang Mas Panji katakan.


Insallah... Dalam satu dua bulan ini, semua perusahaan Pak Hong Shi kembali normal.


Mereka, pemilik saham dan investor lebih percaya sama aku dari pada Pak Hong Shi."


Panji diam saja sambil menikmati makan sambil mendengarkan Wilda bicara.


"Oh iya Mas, aku di beri satu perusahaan yang lumayan besar sama Pak Hong, perusahaan yang bergerak di bidang kosmetik dan alat kesehatan," ujar Wilda,


"Pak Hong sangat ketakutan, lalu menepati janjinya untuk memberikan satu perusahaan atas perintah Mas Panji.


Dan Ada kabar gembira, rencananya... Non Aini akan memberikan perusahaan PT Hening kepada Mas Panji.


"Apa!" ujar Panji kaget.


Setelah menyeruput kopi dan menyulut rokok... Panji berkata,


"Mengapa PT Hening di berikan kepada ku?"


"Non Aini sebulan lagi akan balik ke Jakarta, katanya... Sambil meneruskan sekolah, non Aini akan membantu Pak Hong Shi Papanya, untuk mengurus kerajaan Bisnisnya," ujar Wilda,


"Non Aini juga berkata, PT Hening di berikan ke Mas Panji untuk kenang - kenangan.


Sekarang, surat - surat peralihan lagi dalam proses."


Adzan Magrib terdengar berkumandang.


Tiba - tiba mobil aset PT Hening berhenti di depan warung nasi Gudek, seorang setengah tua berjalan mendekat,


"Assalamualaikum...


Apakah Mbak ini Direktur Wilda?"


"Waalaikumsalam. Benar Pak, apa bapak ini orang suruhan menejer Rehan," ujar Wilda.


"Iya bu, saya Pak Edi sopir perusahaan."


"Baiklah Pak Edi, antara kan kami ke masjid, waktunya solat," ujar Panji.


"Baiklah Pak."


Setelah melaksanakan solat Magrib... Panji dan Wilda menikmati secangkir kopi susu di sebuah cafe yang tak jauh dari masjid.


"Mas Panji... Seperti yang Mas perintahkan, kemarin aku bertemu dengan Devi untuk menyampaikan pesan dari Mas Panji," ujar Wilda,


"Alhamdulillah, mulai kemarin Devi mulai sibuk membuka usaha cafe.


Rencananya... Devi akan membuka cabang di Jawa Bali dan Sumatra.


Semua uang modal di gelontorkan dari PT Hening."


"Bagaimana dengan Dewi," tanya Panji.


"Dewi masih tinggal di kos - kossan, mulai kemarin aku tarik bekerja di pt Hening," ujar Wilda,


*Hari ini Dewi sedang mengikuti Menejemen Bisnis.


Rencananya Dewi akan aku angkat menjadi menejer di perusahaan ku sendiri."


"Emangnya... Dewi tidak menikah sama ustadz Dani," tanya Panji.


"Tidak Mas, sepertinya orang tua ustadz Dani tidak setuju," ujar Wilda.


Adzan Isak terdengar mengema.


Setelah melaksanakan solat Isak di sebuah masjid... Panji dan Wilda menuju parkiran.


"Pak Edi...


Pak Edi boleh pulang sekarang, besok pagi jam 8, Pak Edi harus berada di Hotel Arimas," ucap Wilda kemudian memberi uang beberapa lembar.


"Baiklah Bu direktur, saya permisi dulu."


Setelah Pak Edi pergi... Wilda menggandeng tangan Panji untuk jalan - jalan di pertokoan Malioboro.


Wilda juga membeli jam Rolex seharga 35 juta untuk Panji sebagai hadiah.


Setelah puas jalan - jalan... Malam itu Wilda dan Panji menginap istirahat di hotel Arimas.


Begitu masuk kamar hotel, Panji yang kelelahan langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur yang empuk, kemudian Panji langsung tertidur.


Sementara Wilda duduk di samping ranjang sambil menatap wajah Panji,


"Hemmm... Dia tidak berubah sedikit pun. Dulu... Aku sering tidur dengannya, tetapi dia tidak pernah mau menikmati tubuh ku, paling - paling dia hanya mengecup kening ku saja, atau menggandeng tanganku.


Walau aku berharap untuk bisa menjadi kekasihnya... Tetapi pada kenyataannya hingga kini aku dan Panji hanya sebatas teman dekat. Aku tau ada wanita lain di hatimu, tetapi mengapa kau gantung cinta ku?


Lebih baik mandi dulu kemudian tidur. "

__ADS_1


__ADS_2