SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
DAUN JAMBU DAN RUMAH BARU RULI


__ADS_3

Tak lama kemudian mobil parkir di halaman rumah makan. Setelah selesai makan, Panji berkata,


"Mang, tau gak desa Cicuruk, kecamatan Kramatwatu?"


"Tau Mas Panji," jawab mang sopir.


"Habis ini, kita mampir kesana ya," kata Panji.


"Siap Mas Panji," kata mang sopir kemudian menghidupkan mesin mobil, setelah itu, mobil pun melaju perlahan.


Setelah kurang lebih 1 jam, mobil pun terparkir di halaman makam Mbah Wali Hasan Salak.


"Ruli, kamu di mobil saja ya, aku mau sowan sebentar," ujar Panji kemudian melangkah masuk makam.


"Assalamualaikum Gus," ucap Mbah Wali Hasan Salak sambil membungkukkan badan.


"Waalaikumsalam Mbah," jawab Panji.


"Ini ambillah," kata Mbah Wali Hasan,


"Assalamualaikum," kemudian Mbah Wali Hasan menghilang.


"Waalaikumsalam Mbah," jawab Panji sambil memegang bingkisan kertas putih yang tebal.


Setelah keluar makam, Panji berkata,


"Mari Mang, kembali ke losmen. Ruli sayang... Ayoo kita balik."


"Gak salah denger nieh Bos, panggil sayang? Tumben!" Ujar Ruli.


"Yaa, sekali - kali panggil sayang kan gak apa - apa, hahaha," ujar Panji tertawa.


Senja mulai datang, mobil melaju pelan karena jalan bergelombang.


Setelah berada di jalan raya, mobil melaju dengan lumayan kencang menembus malam. Tak lama kemudian sampailah di halaman parkir losmen. Panji dan Ruli pun turun dari mobil, lalu berjalan menuju kamar.


Baru beberapa langkah masuk kamar... Tanpa melepas sepatu, Panji langsung merobohkan diri di atas ranjang, dengan posisi tengkurap.


"Capaik ya Mas!!" ujar Ruli kemudian duduk di samping ranjang lalu memijit kaki Panji,


"Habis ini Ruli pulang sebentar ya Mas? Entar saur Ruli ke sini lagi."


"Iya Ruli," gumam Panji.


***


Tok tok tok...!


"Assalamualaikum."


Tok tok tok...!


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, siapa? Masuk saja," ujar Panji sambil tidur tengkurap.


"Kang," sapa Irmala sambil menyentuh kepala juga pipi Panji.


"Tubuhnya hangat dan mengigil, kang Panji sakit demam.


Lebih baik aku belikan obat di apotik terdekat," gumam Irmala kemudian beranjak pergi keluar.


Tak lama kemudian, Irmala kembali ke kamar menjumpai Panji.


"Kang Panji... Ayo bangun dulu, minum obatnya biar sembuh," kata Irmala sambil mengangkat bahu Panji,


"Ini obatnya, ini airnya."


Setelah meminum obat... Panji kembali merebahkan badannya, lalu berkata,


"Kamu, Irmala!! Jam berapa sekarang?"


"Jam 8 Malam kang, ada apa," ujar Irmala.


"Bagaimana keadaan Umi mu?" tanya Panji.


"Aku lepaskan kaos mu," kata Irmala berusaha melepas kaos Panji,


"Kamu ini masuk angin, aku kerokin biar cepat sembuh."


Sambil mengerokin punggung Panji, Irmala berkata,


"Alhamdulillah... Umi kondisinya mulai membaik.


Abah ku tadi sudah mulai bisnis lagi, dan terlihat sangat senang sekali, tidak seperti biasanya. Oh iya kang! Aku di suruh abah minta no rekening mu, katanya... Kalau ada keuntungan bisnisnya, Abah mau transfer sedikit demi sedikit kepada kang Panji."


"Tidak usah Irmala," ujar Panji,


"Kalau ada keuntungan bisnisnya Abah mu, santuni saja anak - anak yatim piatu dan orang fakir miskin saja.

__ADS_1


Irmala... Apa kamu gak takut berdua di kamar dengan ku? Kan kamu santri anak pesantren."


"Ngapain takut kang, aku percaya kamu, pemuda baik - baik," jawab Irmala,


"Aku juga baru beberapa bulan tinggal di pesantren. Tadinya aku juga anak liar dan manja. Setelah sakit itu aku di pondokkan sama Abah ku. Sebenarnya... Aku tidak betah tinggal di pesantren, karena tidak bisa bebas bermain.


Oh iya kang! Irmala minta maaf yaa? Dulu waktu kamu di pesantren, aku suka membuly mu. Setelah Abah ku bangkrut jatuh miskin dan umi ku sakit, aku baru sadar.


Aku sadar tidak bisa berbuat apa - apa untuk membantu kedua orang tuaku."


"Itu karena sejak kecil kamu di manja sama orang tua mu," ujar Panji,


"Mentang - mentang Abah mu kaya dan banyak uang... Abah mu tidak mendidik mu dengan benar. Setelah bangkrut dan jatuh miskin, kamu tak mampu berbuat apa - apa."


"Iya kang, benar," kata Irmala.


Nanti setelah libur lebaran, kamu kan masuk lagi di pesantren... Kamu belajar yang rajin, ngaji yang bener," kata Panji,


"Belajar cuci baju sendiri, jangan di loundri, masak sama temen - temen jangan beli terus. Berhenti gaya hidup mewah, ganti belajar hidup susah. Biar kamu bisa mandiri setelah lulus dari pesantren."


"Iya kang, mulai saat ini aku akan belajar merubah gaya hidup ku, aku juga ingin bisa mandiri," kata Irmala,


"Uang yang kamu beri kemarin malam, sudah aku tabung. Uang itu akan aku pergunakan untuk biaya kebutuhan selama di pesantren dan sekolah. Panji... Apa kamu mau menjadi teman baik ku?"


"Mau," ujar Panji kemudian bangun,


"Alhamdulillah... Badanku, rasanya udah enakkan habis kamu kerokin. Irmala... Ayo jalan - jalan ke depan sambil cari makan bubur ayam. Aku belum makan malam, dan ingin minum teh hangat."


"Baiklah kang," kata Irmala kemudian berjalan di belakang Panji yang keluar kamar.


Malam suasana Ramadhan lumayan ramai. Suara orang - orang membaca Al qu'ran terdengar di mana - mana.


Setelah berjalan beberapa menit di trotoar, Panji dan Irmala berhenti di sebuah kedai warung bubur ayam.


Sambil menikmati makan malam, Irmala berkata,


"Baru kali ini aku merasakan sangat bahagia, tenang rasanya hidup ini, dan tentram hati ini."


"Emang dari dulu gak bahagia," tanya Panji.


"Bahagia kalau ada uang kang," ujar Irmala,


"Setiap hari sama teman - teman sekolah main ke mall, ke cafe kadang karaoke dan nongkrong - nongkrong di depan pertokoan. Salah pergaulan akibat di manja uang. Sekarang... Sejak pertama aku bertemu kamu di rumah makan kemarin, hatiku terasa aneh, kayak, tenaaang... Gitu."


"Tenang sebab aku ganteng apa gimana nieh," ledek Panji.


"Hehehe, ganteng sih iya, tetapi pola pikirmu kamu ituloh yang membuat ku kagum dan klepek - klepek," kata Irmala tertawa,


"Gitu yaa? Bikin aku cemburu ajah kalau kamu cerita mantan," goda Panji.


"Hehehe, pacaran cuma 2 bulan kang, coba - coba saja, hitung - hitung cari pengalaman hehehe," kata Irmala.


"Mala... Kamu pulang besok pagi saja, soalnya gak ada angkutan umum. Kalau mau naik ojek gak apa - apa sih," kata Panji,


"Kalau mau menginap di kamar ku juga gak apa - apa, terserah kamu."


"Menginap saja kang, besok pagi - pagi saja aku ke rumah sakit," jawab Irmala.


"Baiklah, ayo kita balik, kita ngobrol di teras kamar sambil ngopi," kata Panji kemudian membayar.


Ketika Panji dan Irmala berjalan di trotoar... Panji menghentikan langkah kakinya, lalu melihat bangunan rumah yang di belinya. Panji juga melihat banyak tukang sibuk bekerja, setelah itu Panji pun berlalu pergi.


Setelah sampai di depan kamar losmen, Panji duduk menyandarkan punggungnya di kursi. Panji dan Irmala asik ngobrol, hingga tak terasah adzan Subuh terdengar mengema.


***


"Hemmm... Kamarnya di kunci," gumam Ruli,


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," sahut Irmala dari dalam kamar kemudian bagun berdiri, lalu membuka pintu.


"Hemmm, cari siapa ya Mbak," tanya Irmala yang baru bangun tidur sambil menatap penampilan Ruli.


"Cari Mas Panji," jawab Ruli tersenyum,


"Mbak ini pacarnya mas Panji ya?"


"Silahkan masuk," ujar Irmala,


"Bukan, aku temannya. Duduk Mbak, aku mau mandi dulu."


"Iya, silahkan," kata Ruli kemudian duduk bersandar.


Tak lama kemudian...


Setelah mandi Irmala berkata,


"Mbak aku balik dulu ya? Tolong sampaikan kepada kang Panji."

__ADS_1


"Iya Mbak," kata Ruli.


Sambil berjalan keluar kamar... Irmala berkata lirih,


"Siapa gadis itu ya? Cantik dan sexy banget!! Bikin penasaran ajah."


"Oh iya! Kemarin kan, Mas Panji di kasih daun jambu satu kantong plastik sama Pak Hamdani, buat apa ya," gumam Ruli,


"Coba aku lihat, penasaran aku."


"Haaa! Jadi uang!!" teriak Ruli.


"Mas, Mas, bangun," kata Ruli sambil mengoyang - ngoyangkan pundak Panji.


"Ada apa Ruli... Masih ngantuk aku," kata panji yang malas bagun,


"Sini tidur sama aku!


Ee... Mana Mala!!!"


"Mala siapa," tanya Ruli.


"Temen ku, gadis yang bersama ku semalam," jawab Panji.


"Dia barusan pulang, katanya mau ke rumah sakit jenguk Ibunya," kata Ruli,


"Mas, bangun dulu, lihatlah, daun jambu pemberian Pak Hamdani kemarin berubah jadi uang!"


"Iya saya tau, pasti daun itu jadi uang," jawab Panji sambil tidur tiduran,


"Ambil saja uang itu, untuk kamu usaha. Uang pemberian wali itu berkah. Kalau di pakai usaha... Pasti berkah dan sukses. Ruli, pijitin kaki ku."


Sambil mijit, Ruli berkata,


"Siapa sih Pak Hamdani itu? Kok hebat sekali bisa merubah daun jadi uang."


"Dia orang sakti," jawab Panji berbohong,


"Sebelum hari raya... Aku mau pergi, uang itu kamu ambil untuk usaha dagang. Kamu jadi agen pengepul beras saja. Kamu pekerjakan kang Mumun, suruh kang Mumun untuk membeli beras dari para petani. Setelah terkumpul... Kamu bisa kirim ke Jakarta. Lama - lama, para petani beras akan datang sendiri ke kamu untuk menjual berasnya. Jadikan kang Mumun orang kepercayaan mu. Terus kamu juga harus jadi agen gula dan minyak goreng, karena di daerah sini belum ada agen gula dan minyak goreng. Usahakan kamu menguasai wilayah sini.mSemua sudah aku siapkan untukmu. Ada rumah, ada toko dan ada gudang untuk menyimpan beras."


"Baiklah -Mas," jawab Ruli heran dengan kata - kata Panji yang bikin penasaran.


"Kalau kamu sukses dan menjadi kaya raya, kamu bantu fakir miskin, anak yatim piatu juga orang - orang yang kesusahan," kata Panji.


"Kamu juga harus banyak - banyak bersyukur.


Kamu yang rajin solat dan wirid istiqfar seperti pesan Syeh Hamdani. Kamu juga harus kursus manejemen bisnis, supaya kamu tahu ilmu Bisnis. Habis ini kamu tak ajak ke rumah baru mu yang masih dalam tahap renovasi. Aku beli rumah atas nama dirimu," kata Panji kemudian bangun dan mandi.


Mendengar apa yang di sampaikan Panji... Ruli diam tak percaya. Sambil duduk di tepi ranjang, Ruli berkata lirih,


"Apa iya Bos Panji membelikan aku rumah dan membuatkan aku toko dan gudang? Gak mungkin lah!!


Tetapi... Selama aku dekat dengan Mas Panji, dia tidak pernah bohong, ucapan dan kenyataannya selalu cocok, terbukti benar.


Panji pun tidak pernah menyakiti aku, walau hanya sebatas ucapan. Walau aku di boking sebagai wanita penghibur... Dia tidak pernah menikmati tubuh ku, paling - paling dia hanya mengandeng ku saja. Malah - malah, dia mengajak ku solat berjamaah, itupun tidak memaksa."


"Ayoo Ruli, kita ke rumah baru mu, tempat nya tak jauh kok dari losmen ini," ujar Panji kemudia mengambil sertifikat dari dalam lemari,


"bacalah berkas ini dengan teliti."


Setelah membaca dengan teliti... Ruli meneteskan air mata, lalu memeluk erat tubuh Panji dan berkata Lirih,


"Terimakasih ya Mas, atas segalanya. Kamu telah benar - benar menggentas ku dari lembah hitam yang bergelimang dosa. Kamu benar - benar memulyakan diriku juga keluargaku dari hinaan orang - orang kampung yang membenci ku.


Aku janji... Akan menuruti apa yang kamu katakan tadi, dan mulai saat ini, akan aku ubah semua penampilan ku."


"Ayo kita pergi," ujar Panji sambil melepaskan pelukan Ruli, lalu keluar kamar.


Tak lama kemudian, Panji dan Ruli sampai di sebuah rumah di tepi jalan raya. Setelah memarkir motor, Panji dan Ruli masuk ke halaman rumah. Ruli yang berwajah cantik dan sexy dengan rok mininya, menjadi perhatian para pekerja.


"Selamat siang Mas Panji," sapa Pak Bambang ketua pelaksana kerja.


"Selamat Siang juga pak Bambang," jawab Panji.


Silahkan Mas Panji kalau mau melihat - lihat pekerjaan kami," ujar Pak Bambang,


"Insallah... 4 sampai 5 hari lagi semua akan selesai Mas, dan kami akan serah terimakan kunci kepada Mas Panji.


Sekarang, tinggal mengerjakan gudang saja."


Setelah menyulut rokok marlboro, sambil berjalan melihat bangunan, Panji berkata,


"Pak Bambang... Yang punya rumah ini adalah Mbak Ruli Widya Astuti, ini orangnya. Jadi, kalau serah terima kuncinya kepada Mbak Ruli saja. Karena, saya mau pergi ke Surabaya. Pak Bambang bisa menemui Mbak Ruli di losmen."


"Baiklah Mas Panji," kata pak Bambang.


Setelah kurang lebih 1 jam melihat renovasi rumahnya Ruli... Panji berkata,


"Ruli, ayoo kita main ke desa Pelamun. Tak kenalin sama Nyai Sa'adah."

__ADS_1


"Baiklah Mas," kata Ruli kemudian mengandeng lengan Panji.


__ADS_2