SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
KERINDUAN MAYA


__ADS_3

Ketika sudah berada di depan rumah gubuk... Panji melihat dua orang bocah sedang berlarian sambil bermain pasir.


Panji juga melihat seorang wanita setengah tua yang parasnya terlihat bersih, walau pucat.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam," jawab istri Pak Haji.


"Pak Haji Asep ada Buk..?"


"Ada Mas, lagi di dalam lagi wirid, tungguh sebentar ya, akan saya panggil kan."


Setelah Pak Haji Asep berada di depan pintu... Pak haji berkata,


"Mau apa lagi kamu menemui ku..?"


"Kyai... Dalam keadaan fakir miskin masih saja sombong.


Aku kesini mau menawarkan bantuan untuk kyai."


"Pergilah, aku tidak butuh bantuan mu," sahut Pak Haji.


"Neraka yang nyata adalah hidup dalam kesedihan, penderitaan dan kehinaan.


Urip ngenes lan nelongso ke lunto - lunto


Dan... Ucapan ku terbukti dan terjadi pada kyai saat ini.


Seandainya kyai mau menerima saran ku, dan tidak sombong waktu itu... Ini semua tidak akan terjadi.


Kasihan anak istri Pak Kyai, ikut hidup menderita dan sengsara gara - gara kesombongan kyai.


Aku iso gelar... Aku yo iso gulung.


Aku bertanggung jawab pada setiap perbuatan ku, jadi... Aku ke sini untuk menawarkan bantuan untuk kyai."


"Aku bilang pergilah, aku tidak butuh bantuan mu. Jangan sok alim dan sok kaya. Aku mampu bangkit lagi."


"Baiklah aku akan pergi.


Ingatlah... Wirid dan tirakat model apa pun, tidak akan bisa mengembalikan kejayaan kyai.


Ingatlah kata - kata ku," ujar Panji kemudian pergi bersama Wilda.


Setelah kembali ke Pak Amin... Panji dan Wilda menikmati makan siang dengan menu ikan bakar dan air kelapa muda di tepi pantai.


Waktu terus berlalu, deburan ombak terdengar riuh, dan senja pun mulai datang.


Setelah ngobrol, Panji pun pamit untuk pergi.


Seperti orang pacaran... Panji dan Wilda bercanda, kadang berlarian kadang juga berpelukan di tepi pantai.


Tiba - tiba... Panji melihat Setyo Ajie, jin penjaga pantai Pelabuhan Ratu berdiri di pinggir pantai.


"Setro Ajie... Apa mau di lanjutkan perkelahian kita tadi malam," ujar Panji sambil pasang kuda - kuda dan mengepalkan tinju.


"Ngapain sih Mas, ngomong sendiri sambil pasang kuda - kuda, emang bisa ilmu beladiri.


Siapa Setyo Ajie itu," tanya Wilda keheranan.


"Kamu tidak bisa melihat nya Wilda... Dia jin penjaga pantai.


Kayaknya dia naksir kamu deh.


Makanya aku lawan, istri tinggal satu mau di ambil jin.


Trus sopo sing ngeloni aku lek koen di gowo jin..?"


"Jangan bercanda Mas, ini mau Magrib, waktunya mahluk halus keluar."


"Maaf Tuan Godfather, aku tidak bisa melanjutkan perkelahian ini, karena punggung ku masih sakit sekali terkena pukulan ilmu mu.


Lain waktu saja kita lanjutkan jika Tuan Godfather berkunjung kemari."


"Aaah..! Banyak alasan. Jin kok sakit pinggang, kayak petani saja.


Tetapi... Baiklah.


Kita lanjutkan kapan - kapan saja kalau aku berkunjung kemari lagi.


Ini mau Magrib, aku juga mau solat."


Setelah solat Magrib berjamaah dengan Wilda istrinya... Panji yang kecapaian, tertidur lelap dalam pelukan Wilda.


***


Hotel Atlanta Jakarta.


Jam 7 malam... Ruli menikmati makan malam bersama seorang lelaki tampan, yang tak lain adalah menajer Hotel Atlanta miliknya sendiri.


Dalam obrolan makan malam itu... Ruli curhat masalah kehidupan rumah tangga nya dengan Panji yang membosankan.


Ruli juga mengatakan bahwa Panji suami nya jarang memberikan nafkah batin, dan selalu bepergian.


Mendengar kata - kata Bosnya... Menager itu memahami, bahwa Ruli Bosnya, menyukai dirinya, dan Manager muda itupun memberi harapan yang indah kepada Ruli.


Sementara...


Di Surabaya, setelah solat Isak, Maya Nderes atau membaca Al qur'an di musholla yayasan Nusantara.


Tangan kanannya memutar tasbih, lisannya membaca Al qur'an, tiba - tiba... Pikirannya teringat Panji mantan suaminya.


Setelah tersenyum ingat kelucuan Panji... Maya meneteskan air matanya, hingga menghentikan bacaan Al qur'an nya.


"Yaa Allah...


Mengapa tiba - tiba Engkau ingatkan aku pada Kak Panji..?


Bukan kah aku sedang melantunkan ayat - ayat Mu..?


Yaa Allah...


Jika dia yang terbaik untuk ku


Maka satukan Lah aku dengannya.


Jika dia tidak baik untuk ku


Jauh kan aku darinya, dan jangan ingatkan aku akan kenangan indah bersama dia.


Ya Allah...


Sejujurnya, aku masih sangat mencintainya.


Ilahi anta maksudi wa ridhoka matlubu a'tini mahabbataka wa makrifaka.


Robby...


Tenggelamkan Lah aku kedalam samudra lautan cinta Mu


Agar aku tak berpaling dari Mu.


Ya Mbah Wali Dirjo...


Bimbing dan tuntunlah aku dalam mengapai ridho Nya.


Tiba - tiba... Seorang pengemis setengah tua berpakaian sederhana dan lusuh, masuk ke yayasan yang pintunya terbuka 24 jam.


"Pak... Numpang solat ya," ucap pengemis kepada penjaga yayasan.


"Oh iya Pak, silahkan silahkan."


Setelah wudhu... Pengemis itu solat Isak di teras musollah sambil melihat Maya menangis di balik kaca bening.


Setelah solat... Pengemis itu melantunkan wirid dengan merdu,


Ning Nong Ning Gung


Ning Nong Ning Gung


Ning Nong Ning Gung


Mendengar pengemis itu wirid ning nong ning gung... Dua penjaga pintu gerbang yayasan tersenyum senyum.


Maya yang menghentikan tangisannya... Terkejut dengan suara orang yang mengucapkan ning nong ning gung, lalu menoleh kebelakang.


Namun Maya tetap duduk menghadap dampar atau meja untuk ngaji Al qur'an.

__ADS_1


Semakin lama... Suara pengemis itu semakin merdu dan enak di dengarkan.


"Wirid apa Pak tua itu..?


Suaranya kayak gamelan, ning nong ning gung.


Tetapi... Hati ku sangat tentram sekali mendengarnya.


Rasanya... Sangat nyaman di hati," kata Maya lirih.


Setelah menutup Al qur'an dan meletakkan di tempat nya, Maya keluar musollah, lalu berkata,


"Mas keamanan...


Belikan rokok jie sam soe 2 bungkus, secangkir kopi, air aqua dan nasi bungkus yang enak ya.


Ini uangnya.


Sekalian kamu beli rokok dan makan juga kopi."


"Baiklah Bu Nyai," ckata salah satu penjaga kemudian mengambil uang dari Maya.


Tak lama kemudian,


"Ini bu Nyai, pesanannya, ini kembaliannya."


"Terimakasih ya Mas," ujar Maya sambil duduk dan mendengar kan pengemis itu wirid.


Setelah 1 jam wirid... Pengemis tua itu menghentikan wiridnya.


"Assalamualaikum Pak."


"Waalaikumsalam Non."


"Bapak makan malam dulu ya..?


Ini ada nasi rendang, dan kopi juga rokok untuk Bapak," ujar Maya kemudian meletakkan bingkisan di depan pengemis.


"Terimakasih Non...


Sungguh mulia hati mu.


Semoga apa yang kamu impikan menjadi kenyataan, Aamiin."


Sambil melihat pengemis tua itu makan... Maya berkata,


"Apa boleh Pak, saya bertanya..?"


"Boleh Non, tanyalah, aku akan jawab sambil makan."


"Mengapa Bapak wirid seperti bunyi gamelan, Ning Nang Ning Gung..?"


"Itu wirid Filsafat Neng...


Namanya, dalam bahasa jawa Sanepan namanya.


Ning adalah Hening


Maksudnya... Heningkan lah hati ini sehening heningnya, agar kita bisa Nong.


Nong adalah nerenung, maksudnya bertafakur atau memikirkan kebesaran alam semesta di dalam Ning, keheningan hingga Gung


Gung adalah ke Agung Allah.


Hening kan segala rasa untuk bertafakur di keheningan hati, hingga kita mengetahui ke Agungan Allah, yang ada di Alam Jagad raya ini.


Ramai tapi sepi


Sepi tapi ramai


Sepi dan ramai itu tergantung kita dalam bertafakur.


ketika kita bertafakur...


Tinggalkan rasa Ego mu agar kamu bisa mengetahui, mengerti dan memahami ke Agungan Allah yang tersirat dan tersurat.


Salah satu tanda hati yang terpenjara... Dia tidak bisa mengetahui kebesaran Allah di alam lainnya.


Dia hanya bisa melihat apa - apa yang ada di depannya saja.


"Apa yang di maksud dengan sepi tapi rame, rame tapi sepi, itu Pak..?"


"Jika kamu berada di keramaian... Buatlah hati mu selalu berdzikir kepada Allah, hingga kamu tidak mendengar keramaian dunia.


Maka... Keramean itu akan menjadi sepi, hanya kamu dan Allah yang ada.


Jika kamu di tempat yang sepi...


Hidupkan hatimu untuk berdzikir kepada Allah, ramaikan hati mu untuk mengingat Allah.


Di situ rasa sepi akan hilang, dan menjadi ramai akan cinta Allah."


Selesai makan, pengemis itu menyeruput kopi lalu menyulut rokok, kemudian berkata,


"Non... Bapak permisi dulu ya, saya mau melanjutkan perjalanan.


Terimakasih banyak atas kebaikan Non.


Pesanku... Jagalah hatimu jangan sampai sedih. Buatlah hatimu senang dan bahagia.


Kalau hati mu sedih... Buatlah jalan - jalan.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Pak."


Setelah melihat pengemis itu pergi... Maya pergi ke kamar nya yang ada di yayasan Nusantara untuk istirahat.


Setelah merebahkan badan hampir setengah jam, matya tidak bisa tidur teringat kata - kata pengemis itu.


"Hemmmm, sudah hampir setengah jam aku tidak bisa tidur, padahal aku capek sekali.


Sudah jam 10 malam," ujar Maya kemudian melihat figora foto Panji yang berdiri di atas meja.


"Kakak kemana sekarang," kata Maya bertanya pada foto Panji.


Biasanya kakak bilang...


Maya... Pijitin kaki ku..! Kakiku capek sekali.


Biasanya kakak juga bilang,


Maya... Buatkan kopi ya?


Ayoo salim, cium tangan,


Galak banget, cerewet!"


Sambil meneteskan air mata... Maya berkata lirih,


'Aku sangat merindukan kata - kata itu.


Kata - kata itu... Telah membuat ku bahagia.


Sekarang... Kata - kata itu tidak aku dengar lagi, mungkin untuk selamanya."


Setelah menghapus air matanya... Maya mengambil Hp satelit yang tergeletak di meja.


Dengan ragu... Maya memencet nomer telpon Panji.


Kring..!


Hp Panji berdering.


Mendengar suara Hp... Panji yang tertidur dalam pelukan Wilda pun, dengan malas membuka matanya, lalu mengangkat telpon.


"Assalamualaikum kak..?"


"Waalaikumsalam."


Mendengar suara Maya... Panji terkejut, kemudian duduk lalu berdiri.


Melihat Wilda yang tertidur lelap... Panji berjalan ke balkon hotel sambil membawah sebungkus rokok, lalu duduk.


"Kakak di mana..?"


"Kakak ada di kabupaten Sukabumi Jawa Barat, ada apa sayang..?"

__ADS_1


Mendengar kata sayang... Maya tersenyum bahagia,


"Gak apa - apa...


Maya kangen saja sama suara kakak."


"Gak kangen sama orangnya ya..?"


"Hehehe, ya kangen sekali. Kapan ke Surabaya..?


Kalau ke Surabaya, kakak mampir ya ke yayasan Nusantara milik ku."


"Iya Maya. Pasti aku mampir."


"Kak... Barusan aku ketemu pengemis aneh dan sempat ngobrol, kakak tau kah, siapa pengemis itu..?


Kan Kakak punya ilmu kesaktian."


"Sebentar aku lihat dulu.


Hemmmm itu guru mu, Mbah Wali Dirjo."


"Jangan ngawur kamu Kak, kalau Mbah Dirjo aku tau, hafal wajahnya, juga suaranya."


"Dasar cerewet..!


Tanya di kasih tau gak percaya.


Wali gila itu punya ilmu Malik Rupo, mecolo putro mencolo putri. Mbah Dirjo bisa merubah wujudnya jadi apa saja.


Ingat ingat..!


Kalau tubuhnya bau sangit rokok jie sam sue, itu Mbah Dirjo.


Kamu ngapain gak mau jadi direktur Hotel Hening..?"


"Maya pagi kulia jam 9, siang ngurus yayasan.


Jadi gak ada waktu untuk kerja. Apalagi jadi direkrut, sibuknya minta ampun."


"Ya sudah, kamu istirahat.


Ingat - ingat pesan Mbah Dirjo guru mu."


"Baiklah Kak, jaga diri baik - baik ya.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Alhamdulillah...


Sudah lega rasanya mendengar suara kak Panji," ujar Maya kemudian merebahkan badannya.


*


Setelah menutup telponnya... Panji menyulut rokok sambil memandang Laut yang di teranggi bulan separuh.


Suara deburan ombak laut Pelabuhan Ratu terdengar riuh.


Lagi - lagi... Panji di kejutan dengan samar - samar suara musik gamelan gending jawa dari arah laut.


Setelah menerawang dengan seksama... Panji berkata lirih,


"Ternyata suara itu berasal dari pendopo kerajaan bawah laut pantai selatan.


Hebat juga Nyai Roro Kidul itu, pendopo nya ada di Laut Parangtritis Jogja Jawa Tengah, tetapi suaranya sampai ke Semenanjung Laut Jawa.


Ternyata Nyai Ratu Roro Kidul sedang menikmati musik geding gamelan bersama beberapa sahabatnya.


Ada Ratu Dewi Anjani, tetapi... Yang 2 itu aku tidak kenal.


Hemmmm, ternyata bangsa jin itu suka musik juga ya!


Baru tau aku."


"Coba, iseng - iseng aku ajak ngobrol mereka," ujar Panji kemudian mengunakan ajian ilmu telepati,


"Assalamualaikum... Nyai Ratu Roro


Rahayu..."


Mendengar ada suara yang menyapanya... Nyai Ratu Roro menjawab,


"Rahayu ugi Gus."


"Ternyata Nyai Ratu masih ingat saya. "


"Aku tidak akan pernah melupakan orang yang pernah ketemu dengan ku, karena, aku selalu memberi tanda pada orang itu Gus, termasuk kamu.


Bukankah kamu murid pamungkas Syeh Abdul Jalil Al Qurtubi..?


Murid paling kecil dan mata keranjang."


"Ah Nyai Ratu bisa saja.


Nyai Ratu...


Di manakah letak kerajaan Laut pantai selatan itu..?"


"Letaknya ada di Laut Gondo Mayid Blitar Jawa Timur Gus.


Di pantai Gondo Mayit itulah pintu gerbang kerajaan pantai selatan."


"Lalu... Sampai di mana kekuasaan kerajaan pantai selatan itu..?"


"Mulai dari Laut selat Lumajang Jawa Timur, hingga ke Laut pelabuhan Ratu Jawa Barat Gus.


Kalau Laut Barat ujung kulon pulau jawa... Di kuasai oleh Nyai Ratu Dewi Anjani."


"Begitu ya Nyai.


Lalu... Kerajaan siapa yang ada di dasar Laut pelabuhan Ratu ini..?"


"Itu kerajaan sekutu ku, dia di bawah kekuasaan ku.


Sudah ya, aku lagi sibuk, kalau ada waktu senggang... Datanglah di kerajaan pantai selatan."


"Baiklah Nyai.


Salam buat tamu Nyai yang cantik itu, yang memakai gaun putih."


"Diam kamu, dasar mata keranjang, tidak sopan.


Kalau kamu bukan keturunan Mbah Wali Suro... Sudah aku habisi kamu."


"Jangan bawa - bawa nama leluhur ku Nyai, dan jangan mengancam ku.


Memangnya aku takut kepada mu!"


"Dewi... Sudahlah," kata Ratu Dewi Anjani,


"Gus Panji pikiran nya masih anak - anak.


Lupakanlah. Lagian... Kalau berhadapan dengan Gus Panji, repot juga kita. Dia di lindungi oleh beberapa wali khos Tanah Jawa.


Dia juga punya pengikut Raja jin yang sakti - sakti.


"Anak - anak bagaimana..?


Dia itu punya 4 istri.


Aku tau, kamu kan selingkuhan nya, makanya kamu bela.


Tetapi baiklah, hari ini aku maafkan dia."


"Gus... Sudahlah, jangan iseng menganggu ketenangan pantai selatan ya," sahut Dewi Anjani.


"Baiklah Dewi,


Assalamualaikum,


Rahayu."


"Rahayu ugi Gus."


Mendengar Nyai Roro Kidul uring - uringan... Panji tertawa terbahak bahak sendirian.

__ADS_1


__ADS_2