SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
ILMU KANTONG BOLONG DAN PECAH ROGO


__ADS_3

Sambil di bonceng... Panji melihat pemandangan yang indah bukit Jampang.


Motor pun melewati perkebunan juga sawah yang terhampar luas.


Pak Latip sering menyapa orang - orang yang sedang berada di ladang yang di laluinya.


"Pak Latip... Apa benar makam mbah Wali Panci itu bukan makam seorang wali," tanya Panji.


"Menurut cerita orang - orang tua terdahulu... Bahkan menurut cerita kyai setempat, itu makam orang sakti bernama Muslih.


Dia berasal dari daerah Banten. Waktu Mbah Muslih muda berkelana di daerah Jampang Surade... Dia bertarung dengan orang - orang berilmu hitam, dan banyak membunuh dukun dan orang - orang berilmu hitam.


Sejak saat itulah, daerah Jampang Surade tenang dan tentram.


Setelah itu... Mbah Muslih di ambil menantu sama orang asli penduduk Jampang Surade, desa Cikemas. Sayangnya... Dari pernikahan itu, Mbah Muslih tidak mempunyai anak keturunan. Hingga dia mati dan di kubur di desa Cikemas.


Karena Mbah Muslih itu di kenal sakti... Maka rumahnya sering di datangi tamu yang minta syarat atau minta tolong, hingga di kenal sebagai dukun sakti.


Lalu... Di makam kan di depan samping pengimaman Musholla."


"Lalu...


Mengapa di panggil Mbah Panci pak..?"


"Dulu... Ceritanya orang tua - tua, kalau ada orang minta syarat apa saja, selalu di kasih sesuatu dari dalam Panci Den.


Yang aneh itu... Panci satu, bisa mengeluarkan benda apa saja.


Kadang... Mbah Muslih mengambil garam dari dalam panci, setelah itu mengambil air dari dalam panci, mengambil gula, batu, pasir, kertas, juga dari dalam panci.


Padahal... Ada orang yang melihat, pancinya itu kosong.


Sejak itulah Mbah Muslih di panggil masyarakat dengan panggilan Mbah Panci."


"Oh begitu ya Pak..."


"Iya Den, itu menurut cerita orang - orang tua dulu.


Hingga sekarang... Makam Mbah Muslih setiap hari kamis malam jumat banyak orang berziarah.


Kadang banyak juga selain hari kamis, orang - orang Jakarta, Bogor Tanggerang dan Bandung mencari berkah di makam Mbah Muslih.


Ada yang punya hutang, kepingin punya suami, kepingin hajatnya di kabulkan.


Mereka datang kesini untuk minta berkah dari Mbah Panci.


Aden ini siapa ya namanya..?"


"Panji pak..."


"Alhamdulillah...


Sudah sampai Den Panji.


Kalau Aden mau solat, itu ada musholla. Makamnya... Di depan pengimaman Den."


"Baiklah Pak, aku solat dulu ya."


"Baiklah Den, Bapak mau solat juga."


Selesai solat... Panji berkata,


"Pak... Gak ada lampu ya..? Kok gelap."


"Gak ada Fen, di sini listrik belum masuk.


Yaa... Pake lampu petromak dan lampu tempel kayak di musholla itu Den."


'l"Pak Latip , gak pulang..?"


"Besok saja Den, ini sudah malam, jalannya gelap.


Saya akan nginap sini saja nemani Aden. Rumah saya satu jam setengah dari sini."


"Kalau begitu... Kita ngopi saja Pak di warung."


"Ngopinya di bawa kesini saja Den, ngopi di teras musholla."


"Emang gak apa - apa ngopi di sini..?"


"Gak apa - apa...


Tamu - tamu yang menginap pun, tidurnya juga di teras samping musholla.


Aku pesankan kopi dulu ya Den."


"Ini uangnya Pak, sekalian air aqua 2 botol dan indomie ya Pak, pake nasi."


"Baiklah Den."


*


"Ada tamu dari kota ya Pak Latip," tanya tukang pijet yang sedang ngopi di warung.


"Eehh Mang udin,


Iya Mang, ada tamu dari kota Surabaya, saya yang antar tadi."


"Kalau begitu... Aku tawarin pijat, biasanya, orang kota itu senangannya minta pijat, apalagi habis perjalanan jauh," kata Mang Udin kemudian mendekati Panji yang duduk sambil merokok.


"Den...


Mau di pijat..? Barangkali capek dari perjalanan jauh.'


"Hemmm, boleh," ujar Panji kemudian melepas bajunya.


"Ini Den Panji, kopinya, ini air aqua nya. Indomienya tunggu sebentar, penjualnya masih beli ke toko, kehabisan setok katanya."


"Pak... Belikan Mang Udin rokok sama kopi sekalian."


"Baiklah Den."


*


Setelah pijat dan makan malam... Jam 11 Panji mandi kemudian solat Isak dan solat sunnah malam.


Setelah solat malam... Panji bertawasul, lalu medawamkan dzikir Diatas Tirai di tujukan untuk ahli kubur dan masyarakat kecamatan Jampang.


Selesai mendawamkan dzikir Diatas Tirai... Panji uluk salam,


"Assalamualaikum ya Mbah Wali Panci..."


Tiba - tiba... Tembok pengimaman itu terbelah menjadi dua, lalu terlihat cahaya yang sangat terang sekali. Tak lama kemudian... Mbah Wali Panci berjalan mendekati Panji.


"Waalaikumsalam Gus," jawab Mbah Wali Panci sambil membungkukkan badan,


"Sendikoh dawuh."


Melihat Mbah Wali Panci membungkukkan badan... Panji jadi terkejut, lalu berkata,


"Kyai... Mengapa kyai, membungkukkan badan menghormati ku..? Bukan kah, seharusnya saya yang menghormati kyai yang lebih tua..?"


"Kyai Jabat dan Nyai Sa'adah saja menghormati Gus, apalagi saya Gus," jawab Mbah Wali Panci masih membungkukkan badannya.


"Apa hubungannya Kyai Jabat dengan kyai..?"


"Saya adalah salah satu murid dari Kyai Jabat. Dan saya di tugaskan oleh Kyai Jabat untuk mengayomi wilayah kecamatan Jampang di masa lalu Gus.


Khususnya Jampang kulon.


Kyai Jabat adalah murid dari Romo Akbar Al Tajuddin, bergelar Mbah Wali Suro Nganjuk.


Beliau adalah Kakek leluhurnya Gus Panji.


Sebagai cucu murid... Saya wajib menghormati Gus Panji yang notabene sebagai putra keturunan ke 5 dari Mbah Wali Suro."


"Baiklah. kalau begitu... Kyai Panci silahkan duduk.


Banyak sekali peraturan di dunia wali ini."


"Iya Gus, itu ada di pelajaran kitab Taklim Mutaklim.


Adab tatakrama kepada seorang guru hingga dzuriyahnya atau anak keturunannya.


Ada orang tua... Tetapi ilmu nya anak - anak.


Ada anak - anak seperti Gus... Tetapi ilmunya tua.


Ada orang tua derajatnya rendah atau muda.

__ADS_1


Ada anak - anak... Tetapi derajatnya tua, atau tinggi.


Kalau boleh tau...


Ada keperluan apa Gus Panji jauh - jauh datang ke sini..?"


"Aku mau minta ilmu Kantong Bolong dan ilmu Mecah Rogo."


"Sendikoh dawuh Gus...


Julurkan kedua tangan Gus Panji."


Setelah menjulurkan kedua tangan... Mbah Wali Panci menulis huruf Titik Bak di kedua telapak tangan Panji, kemudian berkata,


"Gus... Usapkan telapak tangan Gus, keseluruh tubuh."


Setelah mengusap ke seluruh tubuh... Panji berkata,


"Bagaimana cara mengunakan ilmu Kantong Bolong ini kyai..?"


"Gus cukup membaca Bismillahirrohmanirrohim 1x, lalu ucapkan di hati Kantong Bolong.


Gus bisa memindahkan makanan atau minuman ke perut orang lain.


Atau Gus membuangnya ke ke laut atau sungai.


Begitu pun dengan ilmu Mecah Rogo.


Gus tinggal baca Bismillahirrohmanirrohim 1x, lalu pangillah sukma nya Gus.


Gus bisa memerintahkan sukma itu apa saja."


B"aiklah kyai, terimakasih banyak."


"Sayalah yang sangat berterimakasih sekali Gus.


Karena Gus berkenan jauh - jauh berkunjung kemari."


"Kyai... Apa boleh tempat ini saya bagun menjadi lebih besar, dan bagus..? Biar orang yang berkunjung kemari bisa enak istirahatnya, biar enak solat nya."


"Sendikoh dawuh Gus.


Silahkan."


"Kalau begitu... Silahkan kyai istirahat."


"Sendiko dawuh Gus.


Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam kyai..."


***


Pagi jam 9, sambil sarapan di warung, Panji berkata,


"Pak Latip... Siapa pemilik musholla itu..?"


"Pemilik musholla ini adalah adalah kerabatnya Den."


"Apa saya bisa merenovasi musholla itu..?


Kalau di perbolehkan, akan saya ganti masjid, dan beberapa ruang untuk istirahat para peziarah.'


"Sebentar ya Den...


Saya tanya dulu sama pemilik warung ini, karena dia anggota keluarga pemilik tanah."


"Mang... Apa boleh musholla itu di bongkar, lalu di bangun masjid..?"


"Boleh Pak Latip, tambah senang orang desa sini. Kalau solat jumat tidak jauh - jauh. Lagian di sini belum ada masjid.


Tetapi masalahnya... Tanah musholla itu kecil.


Tanah yang di sebelah 7 sebelah nya itu, milik tetangga.


Siapa yang mau bagun masjid..?"


"Ini, Den Panji dari Surabaya."


"Apa boleh Pak, kalau tanah yang ada di sebelah - sebelah musollah itu di beli..?


"Kayaknya sih... Kalau untuk masjid boleh Den.


Habis ini akan saya tanyakan pada para pemiliknya.


Sekalian harga nya."


"Setelah solat Dzhuhur... 5 orang pemilik tanah berkumpul di warung kopi sebelah musholla.


'Mas Panji... Apa bener mau membeli tanah untuk mendirikan masjid," tanya salah satu pemilik tanah.


"Benar Pak."


K"ami tadi telah sepakat membuka harga 70 juta Mas Panji, untuk 4 luas tanah itu.


Nanti... 70 juta akan kami bagi 4 orang.


Untuk pemilik tanah musholla... Mas Panji langsung saja ke Pak Rus ini saja."


"Pak Rus... Minta berapa harga tanah musholla itu..?"


"Tidak Mas Panji, kakek saya bilang, tanah dan musholla itu di wakaf kan untuk ibadah."


"Baiklah Pak.


Ini saya bayar ces tanah bapak - bapak.


Saya ingin tanda tangan di atas materai. Dan tanah ini akan saya bangun masjid dan saya wakaf kan untuk ibadah."


"Baiklah Mas Panji."


"Lalu... Bagaimana caranya agar pasir, batu bata, besi dan bahan bagunan bisa sampai sini..? Sedangkan tidak ada jalan untuk mobil pengangkut bahan," tanya Panji.


"Beli di desa sebelah Mas Panji, tetapi agak jauh.


Yaa pasir, batu, besi dan bahan lainnya, di angkut pake gerobak."


"Gitu ya Pak... Jadi lama di pengangkutan bahan.


Pake gerobak dorong soalnya," kata Panji.


"Tidak lama Mas Panji. Kan ada 20 gerobak pengangkut di toko bahan bagunan. Sudah di sediakan sama tokonya.


Nanti biar orang - orang desa kerja bakti angkut bahan - bahan bangunan."


"Gini saja ya Pak...


Saya bayar borongan, khusus untuk orang - orang pengangkut bahan bangunan.


Kalau bisa 20 gerobak di pake semua," kata Panji,


"Satu gerobak itu berapa orang Pak..?"


"3 orang Mas Panji, 1 di depan, 2 di belakang mendorong gerobak."


"Jadi... 20 gerobak itu ada 60 orang.


Baiklah, tahap awal...


Sekarang juga bapak - bapak cari orang untuk angkut bahan bangunan


Yang lainnya, ke kantor desa untuk mengukur tanah, agar batas tanah jelas, dan tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari."


"Baiklah Mas Panji."


"Pak Latip... Antar saya ya, ke toko bangunan."


"Baiklah Den."


Setelah sampai di toko bangunan... Panji berkata,


"Lumayan jauh ya Pak toko nya."


"Yaa kalau orang asli penduduk sini dekat Mas Panji, Hehehehe.


Orang sini sudah biasa jalan kaki sambil mengangkat kayu dan hasil kebun."


"Pak... Bisa beli bahan bagunan pakai cek apa tidak..?"

__ADS_1


"Bisa Mas, tetapi saya cairkan dulu ya?


Kalau sudah cair, boleh ambil bahan.


Kebetulan besok saya ke kota mau belanja."


"Baiklah Pak, saya titip cek 200 juta.


Yang 100 juta untuk belanja bahan, yang 100 juta untuk saya, buat bayar pekerja," kata Panji.


"100 juta untuk beli bahan..?


Banyak sekali Mas!"


"Iya untuk bangun masjid di desa Cikemas Pak."


"Oh iya iya, baiklah baiklah."


"Sekarang mau ambil batu buat pondasi dan batu bata serta pasir dan semen."


"Angkutnya pake gerobak loh Mas..."


"Iya Pak, sudah ada tukang angkutnya, masih dalam perjalanan.


Pak... Disini kok ada jalan untuk mobil ya?"


"Ada Mas, tetapi jalannya belum di aspal, dan bergelombang.


Lagian jalannya naik turun. Bahaya Mas.


Kalau musim hujan gini, becek berlumpur, ban mobil bisa amblas masuk tanah.


Yang biasa lewat ya cumak truk pengangkut saja.


Pejabat pemerintah gak mau bangun jalan Mas, gak mau tau penderitaan rakyatnya. uangnya di korupsi terus Hahahaha!"


"Oh gitu ya Pak..."


Tak lama kemudian, 60 orang pekerja angkut bahan tiba di toko.


***


Tak terasa... Hampir satu bulan Panji berada di desa Cikemas kecamatan Jampang Surade.


Setelah menyerahkan uang 100 juta kepada panitia pembangunan, siang itu Panji pamit untuk pergi ke kota Bandung.


Sambil naik bis, Panji berkata lirih,


"Mbah Muslih itu seorang wali. Tetapi... Sangat pintar menyembunyikan identitas ke-walian nya. Hingga, orang kecamatan Jampang Surade tidak mengetahuinya, kalau Mbah Wali Muslih itu seorang wali. Mereka menganggap Mbah Wali Muslih malah orang sakti, atau seorang dukun sakti.


Kalau bukan seorang wali... Tidak mungkin makamnya di ziarhai orang, jauh - jauh lagi."


Jam 9 malam, Panji sudah berada di kota Bandung, dan langsung naik ojek menuju kos - kossan.


Sambil berjalan menuju kamar kosnya, Panji berkata lirih,


"Kemana anak - anak kos ini, kok sepi, pintu pada gembokan semua.


Lebih baik aku ngecas hp, lalu mandi, solat Isak terus tidur.


Badan ku capek semua."


Sementara...


Sambil membawa tas punggung, Leni membuka pintu kamarnya,


"Loh..! Pintu Godfather kok terbuka, itu ada sandalnya.


Apa Godfather sudah datang ya?


Coba aku lihat.


Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam," jawab Panji dari kamar mandi,


"Siapa..?"


"Aku Leni Mas."


"Masuk saja."


"Sebentar ya... Aku mandi dan ganti baju dulu," sahut Leni kemudian kembali ke kamarnya.


Setelah solat Isak... Leni kembali sambil membawa secangkir kopi hitam,


"Ini mas, kopi untuk mu.


Dari mana saja, kok hilang tanpa jejak.


Lama sekali gak kelihatan?"


"Dari kerja, cari uang," jawab Panji bohong,


"Kamu dari mana, kok tadi gembokan kamar mu?"


"Dari kampus Mas, kuliah jam malam.


Mas sudah makan belum..?"


"Belum.


Nunggu Desi datang saja, nanti kita makan bersama."


"Desi sekarang jarang tidur kos - kossan Mas.


Dia sekarang sibuk kerja paruh waktu.


Katanya sih, dia tidur di perumahan Kahuripan.


Paling - paling... Hari sabtu dan minggu dia tidur kos - kossan sepulang kuliah."


"Capek Len."


"Tengkurap sini Mas, aku pijitin.


Habis ini cari makan terus tidur."


Sambil menikmati pijitan Leni... Panji berkata,


"Bagaimana kerjamu di PT Holding?"


"Alhamdulillah... Lancar dan sukses.


Dalam sebulan ini, aku berhasil menjual rumah di bandung 15 buah, di Jakarta 4, di Tangerang 4.


Oh iya, 10 rumah yang kamu beli, sudah laku 2.


Uang hasil penjualan aku kasih ke Mila Asisten mu. Keuntungannya 1 Milyar bagi dua.


Hahahahaha?


Cepat kaya kalau kerja jual beli rumah, banyak untungnya."


"Kamu tabung uangnya, jangan boros - boros. Sekarang sudah kerja, jangan minta uang kiriman sama kakak mu."


"Iya Mas.


Ini no telpon ku, dan ini No Hp nya Desi."


"Desi punya Hp..?


Emang berapa bayaran Desi kok punya Hp."


"Katanya, Dapat dari kantornya."


"Desi kamu kasih uang 100 juta ya, kan keuntungan mu 500 juta."


"Baiklah Mas, besok siang saja aku temui Desi di Net Plaza.


Ayoo Mas, kita cari makan, aku yang traktir


Habis ini aku temani kamu tidur."


"Tumben kamu mau nemani aku tidur..?"


"Daripada aku tidur sendiri gak ada temannya, mending tidur di kamar mu sambil buka laptop dan ngobrol.


Aku juga mau cerita sama kamu, tentang perkerjaan di PT Holding."

__ADS_1


__ADS_2