
Setelah memarkir sepeda motor di halaman samping rumah... Panji melihat Pak Lurah Ayah Linda sedang duduk di teras bersama beberapa warga.
"Nak Panji... Air kelapa nya sudah kami siapkan, terus kelanjutannya bagaimana," tanya Pak Lurah.
"Baiklah Pak Lurah, biar saya masak untuk menjadi minyak kelapa," ujar Panji,
"Linda... Bantu aku di dapur ya? Untuk membuat minyak kelapa."
"Baiklah Mas, aku siapkan kayu untuk perapian," ujar Linda sambil berjalan ke dapur di ikuti Panji.
Sambil membuat minyak kelapa... Diam - diam Panji membaca surat Al Fatihah. Sementara Linda mencuci baju Panji di samping sumur yang ada di pojok dapur.
Setelah kurang lebih 3 jam, dan hampir selesai... Tiba - tiba minyak kelapa itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang, hingga menyilaukan pandangan Panji.
"Ini pertama kali aku membuat ramuan obat juga untuk memagari desa dari segala macam musibah dan bencana.
Menurut petunjuk..! Ramuan ini sangat ampuh sekali," gumam Panji,
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga.
Linda..! Tuangkan ini kedalam panci."
Tak lama kemudian,
"Pak lurah... Ini ramuan obat sudah selesai.
Tolong, setiap warga suruh minum air satu gelas di campur minyak kelapa ini satu tetes.
Kemudian, sisanya tuangkan ke dalam 9 botol.
Setelah itu, 9 botol ini di pendam di pojok dan tengah perbatasan desa.
Insallah warga akan sembuh dan desa ini terhindar dari segala macam balaq."
"Baiklah Nak Panji, malam ini juga akan saya kerjakan bersama beberapa warga," kata Pak Lurah.
"Oh iya Pak Lurah, saya minta ijin untuk Linda," ujar Panji,
"Besok siang...
Linda akan sekolah ke Jakarta.
Saya ingin Linda membantu usaha ku sambil sekolah."
"Nak Panji... Sejak lulus SMP, Linda ingin sekali pergi ke Jakarta untuk bekerja, merantau bersama teman - temannya sambil cari pengalaman.
Tetapi aku melarangnya, karena aku masih mampu untuk membiayai sekolah di SMA," kata Pak Lurah,
"Kalau di Jakarta dia sekolah... Ya aku izini, tetapi semua terserah Linda.
Masalahnya... Saat ini Bapak tidak punya uang untuk biaya hidup Linda di Jakarta.
Belum lagi Bapak juga masih menyekolahkan 2 adik nya Linda."
"Baiklah Pak... Yang penting Bapak mengizini.
Masalah biaya... Biar saya yang menanggung nya," ujar Panji.
"Nak Panji... Aku percaya kepada mu, kamu anak yang baik," kata Pak Lurah,
"Kalau boleh tau... Mengapa Nak Panji menyuruh Linda sekolah di Jakarta?"
"Di masa depan...
Linda adalah calon orang penting Pak, dia di butuhkan orang banyak kelak," ujar Panji,
"Dan saya juga membutuhkan bantuannya kelak."
*Baiklah Nak Panji, aku sangat percaya kepada mu, kamu istirahat lah, Bapak mau membagi minyak ini ke warga."
Setelah semua pergi... Panji melihat Linda tertidur di lantai ruang tamu beralaskan tikar butut.
Sambil menikmati kepulan asap rokok di teras... Panji memencet No telepon.
Setelah tersambung,
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Mas..!
Hemmm tumben jam 12 malam Mas Panji telpon, ada apa mas," jawab Wilda.
"Lagi ngapain kamu," basa - basi Panji.
"Lagi di rumah di ruang kerja," jawab Wilda.
"Emang kamu gak istirahat tidur.
Apa yang kamu lakukan di ruang kerja hingga jam 12 malam," tanya Panji.
"Ini lagi gak bisa tidur, akhirnya aku iseng main falas dan main saham," ujar Wildam
"Wilda... Malam ini kamu perintahkan Rehan menejer cabang Jogja untuk pergi ke kabupaten Wonogiri.
Habis ini aku sms lokasi alamatnya," perintah Panji.
"Apa..? Malam ini..!
Baik baik Mas," jawab Wilda.
"Jam 7 pagi harus sampai alamat yang aku beri.
Kalau telat 5 menit saja..!
Akan aku pecat menejer cabang Jogja itu," ujar Panji,
"Oh iya..!
Besok malam Rehan suruh antar Linda ke Jakarta, setelah itu kamu urus semua keperluannya Linda.
Carikan sekolah yang terbaik. Suruh dia tinggal di kos - kossan ku dulu."
"Baiklah Mas," jawab Wilda heran.
Setelah itu Wilda buru - buru telpon Rehan meneger cabang Jogja.
Pagi jam 06 sebuah mobil mewah berhenti di halaman rumah Pak Widi kepala Desa Sruni.
Dengan mata yang masih Ngantuk... Rehan keluar dari dalam mobil lalu mendekati pintu rumah yang sudah terbuka.
"Selamat pagi..!
__ADS_1
Selamat pagi..!"
"Selamat pagi Pak," jawab Linda,
"Bapak mencari Ayah?"
"Maaf Mbak... Saya mencari Tuan Panji," ujar Rehan.
"Oh iya sebentar ya..? Aku bangunkan dulu," kata Linda.
"Tuan Panji..?
Siapa sebenarnya Mas Panji ini, kok di panggil Tuan Panji..!!
Aneh," kata Linda dalam hati heran.
"Mas... Bangun, ada tamu yang mencari Mas di teras," ujar Linda.
"Iya sebentar," sahut Panji.
"Selamat pagi Tuan..!
Apa yang harus saya kerjakan," kata Rehan.
"Istirahatlah sebentar, setelah ini jam 07, kamu urus surat pindah sekolah.
Setelah itu... Antar Non Linda ke Jakarta," ujar Panji,
"Kalau bisa ambil penerbangan sore."
"Baiklah Tuan," jawab Rehan sambil menundukkan badan.
Setelah itu Rehan duduk di teras menunggu Linda.
Setelah mandi dan sarapan, dengan baju setengah kering Panji pamit kepada Ayah Linda untuk melanjutkan perjalanan,
"Linda... Setelah mengurus surat pindah, kamu ikut meneger Rehan. Dia yang mengantarkan mu ke Jakarta. Nanti di Jakarta sudah ada orang yang mengurus keperluan mu.
Kalau ada masalah penting, telpon saja aku."
"Baiklah Mas, Terimakasih ya Mas atas kebaikan dan perhatiannya," ucap Linda sambil mengantar berjalan mengantar Panji ke depan.
"Baiklah Linda, aku jalan dulu ya..? Selamat berjumpa lagi
Assalamualaikum," kata Panji.
"Waalaikumsalam."
"Selamat Pagi Tuan," sapa sopir Pak Edi.
"Selamat pagi juga Pak Edi, aku pergi dulu Pak Edi," jawab Panji.
Sambil berjalan Panji memukul tas nya dengan telapak tangan,
"Gesang Madrid..!
Ayo keluar, tidur saja."
"Baiklah kyai," ujar Gesang Madrid si Raja jin Gunung Lawu,
"Ah kyai bikin kaget saja!"
"Hahaha..! Emang aku sengaja biar kamu bangun," kata Panji,
"Sudah kyai, Alhamdulillah."
"Kalau gak hafal, kamu akan aku masukkan ke dalam botol dan aku buang di kawah Gunung Bromo," ujar Panji,
"Sekarang..! Sambil jalan kamu hafalkan Doa sesudah solat."
Tak terasa... Adzan Dzuhur Panji sudah masuk wilayah kabupaten Ponorogo.
Setelah melaksanakan solat di sebuah musolla pom bensin, Panji merebahkan badannya kemudian tertidur, karena kalau ke masjid ribet banget banyak peraturan... Makanya Panji jarang sekali mampir ke masjid. he he he.
***
Setelah solat Asar Panji meneruskan perjalanan.
Menurut petunjuk yang di peroleh dari ilmu Paninggal Jagad nya... Panji harus pergi ke pesisir Pantai selatan yang berada di kabupaten Telungagung.
"Kring..!
Suara Hp terdengar berbunyi, setelah melihat sebuah nama di layar Hp, Panji berkata lirih,
"Wilda?
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Panji pelan.
"Mas... Sekarang Linda sudah di terima di sekolah terbaik di Jakarta, terus... Apa selanjutnya yang harus di lakukan Linda selain sekolah," ujar Wilda.
"Sepulang sekolah... Suruh dia kerja di PT Hening, ajari dia praktek kerja biar dia mengerti cara mengelola perusahaan," jawab Panji,
"Malam nya suruh dia les privat Bahasa inggris, Mandarin dan les privat menejemen Bisnis seperti kamu dulu.
Buatkan Linda 4 Nomer Rekening."
"Baiklah Mas," ujar Wilda kemudian menutup telpon.
***
Hari menjelang sore, senja pun datang, tak lama kemudian malam menyuguhkan kegelapan.
Setelah melaksanakan solat Magrib di sebuah musolla pinggir jalan, Panji meneruskan perjalanan jalan kaki menuju arah Kabupaten Telungagung.
"Gesang Madrid..!
Kira - kira berapa jam jalan kaki dari kabupaten Ponorogo ke pesisir pantai selatan kabupaten Telungagung," tanya Panji.
"Sekitar 14 jam kyai, itupun jalan kaki tanpa istirahat," jawab Gesang Madrid.
Ketika lagi berjalan melewati pematang sawah dan jalan yang sepi lumayan gelap... Panji melihat sorot cahaya lampu dengan keramaian suara orkes.
Setelah dekat... Panji melihat di sebuah desa pinggir jalan raya ada orang punya hajat.
"Gesang Madrid..!
Aku ingin istirahat sebentar sambil melihat biduan penyanyi dangdut yang cantik," kata Panji.
"Baiklah kyai, tetapi... Yang punya hajat ini adalah bangsa jin," ujar Gesang Madrid.
"Apa," teriak Panji kemudian mengusap kedua matanya, seketika Panji mengetahui kebenaran yang di katakan Gesang Madrid pengikutnya,
__ADS_1
"Gesang Madrid..!
Bukankah penyanyi dan grup orkes dangdut itu bangsa manusia?"
"Benar kyai, bangsa jin desa ini telah mengundang biduan dari bangsa manusia," ujar Gesang Madrid,
"Biduan dan grup orkes itu tidak sadar kalau mereka tampil di alam jin, dan menghibur warga desa dari bangsa jin.
Hal seperti ini sudah tidak asing lagi di Tanah Jawa, dan kejadian ini sering terjadi kyai."
"Begitu ya..!
Terus, bagaiman caranya biduan dan rombongan pemain orkes itu bisa keluar masuk dari alam jin," kata Panji.
"Mereka akan di antara oleh panitia yang punya hajat kyai.
Itu mobil rombongan pemain orkes, ada di tengah sawah," ujar Gesang Madrid.
Melihat mobil yang parkir di tengah sawah... Panji terperanjat kaget,
"Subhanallah..! Mobil parkir di tengah sawah yang penuh lumpur."
Setelah memakan sepotong roti dan meneguk air aqua, Panji menyulut rokok.
Ketika hendak berdiri... Panji kaget melihat orang tua duduk di sampingnya sambil melihat pertunjukan orkes.
"Sejak kapan orang tua ini duduk di samping ku..? Aneh!
Orang tua ini dari bangsa manusia,"
Gumam Panji lirih.
"Mbah... Sendiri saja nonton orkes," tanya Panji
"Iya Den,
Aden sama siapa," ujar orang tua
"Sendiri Mbah," kata Panj
"Sendiri apa berdua?" goda orang tua.
Mendengar pertanyaan si Mbah... Panji diamc- diam kaget,
"Sendiri Mbah."
"Itu yang duduk di samping mu siapa, tadi dia berbicara dengan mu," ujar si Mbah orang tua.
"Oh itu pengikut ku Mbah.
Mbah siapa namanya dan mana rumahnya," kata Panji.
"Panggil saja Mbah Wiji, rumah Mbah ada di Desa Gajah kecamatan Sambit, terletak di lereng Gunung Gajah.
"Jauh ya Mbah dari sini..? Jalan kaki Mbah," tanya Panji.
"Ya lumayan jauh Den, iya jalan kaki," jawab Mbah Wiji,
"Den... Mbah mau pulang dulu ya?
Kalau ada waktu, mampirlah ke gubuk ku."
"Terimakasih Mbah, kemungkinan saya tidak bisa mampir Mbah, karena saya harus pergi ke kabupaten Telungagung," kata Panji.
"Baiklah Den, kalau begitu Mbah pergi dulu.
Assalamualaikum," ujar Mbah Wiji
"Oh iya, sebelum kamu pergi ke Laut Selatan untuk mengembalikan ilmu pengikut mu..!
Ada pusaka yang harus kamu bawa, pusaka itu ada di rumah ku," Mbah Wiji kemudian berjalan pergi.
Mendengar kata - kata Mbah Wiji... Panji sangat terkejut, karena Mbah Wiji tau isi hati Panji.
Begitu menoleh melihat Mbah Wiji dan hendak memanggilnya... Mbah Wiji sudah hilang di kegelapan malam.
"Gesang..!
Ayo kita lanjutkan perjalanan," kata Panji.
Sambil melanjutkan berjalan kaki, Panji menerawang siapa sebenarnya Mbah Wiji.
Setelah menerawang dengan seksama... Panji berkata lirih,
"Ternyata Mbah Wiji sedang melakukan dzikir di atas sajadah. Yang barusan aku ku temui hanyalah sukmanya.
Ternyata Mbah Wiji adalah seorang Wali dari aliran islam kejawen, tetapi lebih kental kejawennya.
Mbah wiji mau memberikan ilmu Doa Sulaiman. Karena mencari pewaris ilmu tidak menemukan... Akhirnya Mbah Wiji menemukan orang yang cocok, dan orang itu adalah aku.
Baiklah, kalau memang sudah bagian ku... Aku akan mampir ke gubuk Mbah Wiji, siapa tau ilmu itu berkah dan bermanfaat bagi diriku juga orang lain."
Setelah berjalan beberapa jam Panji memasuki kecamatan sambit, setelah bertanya pada orang yang belum tidur, akhirnya Panji melanjutkan perjalanan ke desa Gajah yang terletak di kaki bukit lereng Gunung Gajah.
"Hemmmm jauh sekali rumah nya Mbah Wiji, mana gelap lagi," ujar Panji lirih,
"Ternyata sulit sekali mencari ilmu."
Setelah menelusuri jalan setapak dengan susah payah... Akhirnya Panji melihat rumah gubuk yang terbuat dari bilik bambu.
Panji melihat ada api unggun di depan gasebo bambu,
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Den, silahkan duduk di gasebo," ujar Mbah Wiji yang mengenakan baju hitam celana hitam khas daerah Ponorogo,
"Ternyata kamu sunguh - sungguh dalam mencari ilmu.
Silahkan minum dulu kopinya, ini juga ada wedang jahe yang aku siapkan untuk mu."
"Terimakasih Mbah," ucap Panji kemudian menyeruput wedang jahe untuk menghilangkan penat.
"Den... Sudah hampir dua tahun aku menunggu mu di sini, Alhamdulillah akhirnya kamu datang juga," ujar Mbah Wiji.
Dengan rasa heran dengan ucapan Mbah Wiji... Panji bertanya,
"Maksudnya gimana Mbah kok menunggu ku hingga dua tahun?"
"Beberapa tahun yang lalu aku mencari orang yang dapat mewarisi ilmu ku... Ternyata aku tidak menemukan nya," jawab, Mbah Wiji,
"Setelah aku Riyadhoh... Aku mendapatkan petunjuk orang yang bisa mewarisi ilmu ku.
__ADS_1
Seorang pemuda yang sedang melakukan perjalanan spiritual jalan kaki dari Barat menuju ke Timur, ternyata kamulah orang nya."