SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
NGAJI ILMU HAKEKAT


__ADS_3

Setelah puas menangis... Bela duduk kembali sambil berkata,


"Panji... Terimakasih telah mau mendengar keluh kesah ku."


Melihat wajah Bela yang merah merona sehabis menangis, Panji berkata dalam hatinya,


"Ternyata apa yang di katakan Nenek Sa'adah itu benar. Kelak Bela akan sukses menjadi pengusaha kaya raya, tapi hidupnya menderita tidak bahagia. Ini baru awalnya.


Semoga saja Bela kelak hidup bahagia... Walau aku tidak mempunyai hubungan khusus dengannya, tapi aku merasa kasihan padanya."


"Bela, bagaimana hubungan mu dengan orang yang kamu cintai?" tanya Panji iseng.


"Apa Panji masih berharap aku mencintainya," ucap Bela dalam hati.


"Bela... Malah melamun?" kata Panji.


"Iya Panji, hubungan ku tidak baik, aku sudah melupakan dia," jawab Bela,


"Karena dia tidak mengerti perasaan ku, yang di pikirkan hanya kesenangan dirinya sendiri. Setelah aku tau dia bersama cewek lain... Saat itu aku sudah melupakannya."


"Ooh... Gitu ya," ucap Panji pelan.


"Ini nasi goreng kenapa gak di makan?" tanya Bela.


"Tidak selera makan nasi goreng," kataanji kemudian berdiri,


"Bela, mau temani aku sarapan di depan?"


"Boleh, aku juga belum makan dari semalam, kayaknya lapar dech pagi ini," ucap Bela kemudian mengandeng lengan Panji lalu beranjak keluar kamar.


Setelah beberapa hari tinggal di Losmen Batu Hiu... Nama Panji sudah banyak di kenal oleh para pegawai Losmen juga para pelayan rumah makan. Bahkan beberapa tukang ojek juga perempuan malam yang berada tak jauh dari Losmen. Itu semua karna kebaikan Panji yang sering berbagi rejeki.


"Selamat pagi kang Panji," ucap menejer Rumah makan.


"Selamat pagi juga Pak," jawab Panji.


Setelah memesan nasi uduk ayam goreng dan jus jambu merah juga air dingin... Panji dan Bela menikmati sarapan dengan penuh bahagia.


Setelah baru selesai menikmati sarapan, tiba - tiba kang Mumun tukang ojek perempatan datang. Sambil membungkukkan badan kang Mumun berkata,


"Maaf bos Panji, menganggu kemesraan bos Panji.


Apakah hari ini ada jadwal keluar memakai ojek jasa saya...?"


"Kemesraan...? Emang aku lagi pacaran...? Dia Bela kang Mumun, teman baik ku," kata Panji,


"Kang Mumun duduk dulu, sarapan dulu. Mumpung ada bos Bela... Anak seorang pengusaha sukses. Nanti bos Bela yang traktir semua."


"Tidak bos Panji, terimakasih." kata kang Mumun.


"Mas, minta nasi uduk 1 sama kopi dan air putih," kata Panji pada pelayanan.


Setelah makan dan minum tersajikan di meja... Kang Mumun agak ribet dan kurang selera makan.


"Ayoo kang Mumun, sarapan dulu," ucap Panji.


"Saya tidak selera makan bos," ucap kang Mumun,


"Lagi banyak pikiran."


"Bela... Pesankan nasi 4 bungkus, rendang daging sapi, udang goreng dan ikan bakar, semua 4 porsi," kata Panji,


"Jangan lupa, sama es jus sekalian."


"Baiklah kang," jawab Bela kemudian beranjak.


"Kang Mumun tumben jam 9 gini kok nanyai aku mau pergi kemana?"ujar Panji.


"Barang kali bos Panji mau jalan - jalan? Kalau ngantar bos kan, saya nanti dapat upah dari bos Panji," kata kang Mumun,


"Yaa upah nya buat nambah - nambah bayar hutang.


Soalnya sudah jatuh tempo bos... Bingung karna uangnya kurang buat bayar hutang."


"Berapa bayar hutangnya?" tanya Panji.


"Hutang saya semua 350 ribu bos, kemarin uangnya buat bayar uang gedung dan keperluan masuk SMP anak pertama bos," kata kang Mumun,


"Hari ini saya bayar cicilan 22 rb bos."


"Ini Mas Panji pesanannya," kata pelayan kemudian menaruh di meja.


"Mas, minta bon totalnya berapa semuanya," kata Bela,


"Sekalian mintakan rincian ke resepsionis, berapa uang yang harus di bayar untuk kamar No 10 selama sebulan."


"Baiklah Non," jawab sang pelayan kemudian beranjak pergi.


"Bela... Beri kang Mumun uang 350 ribu," kata Panji.


"Baiklah kang," kata Bela kemudian mengambil dompet di dalam tas,


"Ini kang Mumun, buat bayar hutangnya ya...? Ini bingkisan nasi untuk anak istri di rumah."


"Terimakasih Non Bela... Terimakasih.


Alhamdulillah... Semoga neng Bela dan bos Panji banyak rejekinya."


"Kang Mumun... Nanti malam antar saya ke makam Mbah Wali Jabat ya... Jam 10. Nanti jam 3 subuh kang Mumun jemput," ujar Panji,


"Sekarang aku dan Bela ingin main ke rumah kang Mumun... Boleh gak? Kepingin tau rumah kang Mumun, mumpung aku tidak ada acara."


"Boleh bos boleh," kata kang Mumun.


Setelah menghabiskan sarapan, kang Mumun dan Panji juga Bela pergi naik motor ke rumah kang Mumun.


Sambil di bonceng Panji... Bela berkata dalam hati,


"Entah mengapa, tiba - tiba hati ini ada rasa dengan nya?


Aku tak punya alasan untuk mencintai mu, yang aku tahu... Aku bahagia saat bersamamu. Sayangnya, kita hanya sebatas teman."


"Sudah sampai bos, ini rumahnya," kata kang Mumun menghentikan motor di halaman rumah panggung yang terbuat dari kayu.


"Bagus banget rumahnya," kata Panji berseloroh


"Hemmm... Persis sama seperti yang kamu ucapkan saat melihat rumah ku pertama kali," kata Bela.


"Kenyataannya sekarang kan bagus rumah kamu," ucap Panji.


"Silahkan masuk bos Panji non Bela," ajak kang Mumun, lalu di sambut dengan istri kang Mumun,

__ADS_1


"Maaf rumahnya jelek."


***


Sambil menikmati secangkir kopi hitam, Panji dan Bela juga kang Mumun dan istrinya bercengkrama, berbagi cerita kehidupan.


"Enak ya... kang Mumun setiap hari berkumpul bersama anak istri, hidup damai, tentram, rukun dan bahagia.


Dari pada banyak uang hidup kaya raya, tapi hati menderita tidak bahagia," ujar Bela.


"Semua tergantung orangnya Non," jawab kang Mumun,


"Kata orang jawa "Sawang Pinawang". Yang melihatnya yang enak... Yang menjalani hidup belum tentu enak.


Buktinya kang Mumun, bayar cicilan hutang saja bingung.


Kalau menurut saya... Non Bela yang hidupnya enak, banyak uang, mau apa tinggal beli? Seperti bos Panji juga enak hidup, banyak uangnya, mau apa - apa juga bisa kebeli."


"Masalah senang dan susah, itu tergantung bagaimana cara kita mensyukuri segala nikmat-Nya," sahut Panji.


Tak terasa hari sudah mulai sore, kemudian Panji dan Bela pamit untuk kembali ke Losmen.


Dengan mengendarai sepeda motor milik Bela... Panji manarik motor dengan kecepatan sedang.


"Panji... Mau kemana? Kok belok kanan?!!" tanya Bela.


"Mau ke pantai Anyer," ujar Panji,


"Mau gak main ke pantai Anyer...? Mumpung hari minggu, libur sekolah."


"Boleh boleh," sahut Bela,


"Emang tau kamu di mana pantai Anyer?"


"Taulah, kan habis dari sana sama kang Mumun," jawab Panji.


Tak lama setelah sampai, Panji memarkir motor milik Bela, kemudian Panji dan Bela jalan - jalan di tepi pantai. Senja pun tiba, setelah puas bermain... Panji dan Bela kembali balik ke Losmen.


Setelah hampir 1 jam perjalanan, sampailah Panji di depan losmen, lalu memarkirkan motor di samping halaman Losmen.


"Bela, kamu gak langsung pulang?" tanya Panji.


"Habis Isak saja kang, aku pulang, aku ingin mandi dan ganti baju dulu di kamar mu," kata Bela.


"Baiklah, ayo masuk losmen," ucap Panji.


Setelah mandi, dan solat Isak berjamaah.. Bela tertidur di atas sajadah dengan ruko yang masih di kenakan.


"Hemm... Katanya mau pulang, kok malah tidur di atas sajadah," gumam Panji kemudian merebahkan badannya di atas ranjang, tak lama kemudian Panji tertidur.


Kurang lebih 1 jam tidur... Bela terbangun karena posisi tidurnya tidak nyaman.


"Hemm... Sudah jam 8 malam," ujar Bela lirih setelah melihat jam dinding,


"Panji nyenyak sekali tidurnya, lebih baik aku pulang, mumpung masih sore."


Setelah meninggalkan pesan tertulis di atas meja... Bela pergi meninggalkan Panji yang masih tertidur lelap.


Tok tok tok...!


Terdengar suara pintu di ketuk, Panji terbangun kemudian membuka pintu,


"Eeh... Kang Mumun, tunggu di depan losmen ya."


Setelah mengambil air dingin dari dalam kulkas kecil dan meminumnya, Panji melihat secarik kertas lalu membacanya. Setelah itu, Panji pergi keluar kamar.


Malam itu, kang Mumun mengantar Panji pergi ke makam Mbah Wali Jabat. Setiba di gapura makam, kang Mumun langsung pergi.


Setelah duduk bersandar di tiang kayu penyangga, Panji menyulut rokok marlboro sambil melihat lampu makam yang remang - remang.


"Assalamualaikum Gus," ucap Kakek Jabat.


"Waalaikumsalam Kek," jawab Panji kemudian sungkem mencium tangan Kakek Jabat.


"Bagaimana rasanya tinggal di penginapan?" tanya Kakek Jabat.


"Alhamdulillah Kek, enak, di syukuri saja. Banyak pelajaran hidup sejak saya tinggal sendiri di Losmen. Sedikit demi sedikit Panji mulai mengerti dan memahami apa arti sebuah kehidupan, apa arti sebuah suka duka dan apa arti sebuah cinta dan kasih sayang, juga arti dari berbagi cerita dan berbagi rejeki."


"Itulah Gus... Yang di namakan ngaji ilmu hakekat, ngaji yang sebenar - benarnya," ujar Kakek Jabat,


"Kalau di pondok pesantren... Ngaji kitab kuning itu hanyalah teori saja. Kalau kamu di Losmen... Namanya Trap Lelaku, ngaji langsung praktek.


Di mana... Kamu langsung berhadapan dengan keadaan, langsung berhadapan dengan berbagai masalah.


Di situlah iman mu di uji, kesabaran, keikhlasan, qona'ah juga welas asih mu... Semua di uji oleh Gusti Allah langsung.


Sekamar dengan gadis cantik, mempunyai banyak uang dan rupa yang rupawan. Di situlah imam mu di pertaruhkan.


Kalau kamu ngaji kitab kuning di pondok pesantren itu hanyalah sebuah teori.


Lihatlah...!


Pada kenyatanya, banyak santri atau Kyai yang tidak bisa mempraktekkan isi kitab kuning yang di pelajarinya bertahun - tahun. Mereka tidak mampu melaksanakan perintah dan larangan kitab, justru mereka banyak yang melanggar isi kitab, itu karena mereka hanya pandai menulis, membaca dan bercerita.


Kata orang jawa... "Enak Ngomongge ketimbang Ngelakonine"


Banyak Kyai atau santri bilang dan menyuruh orang sedekah, tapi dia sendiri tidak sedekah.


Banyak Kyai atau santri bilang menyuruh sabar, iklas dan berserah diri, tapi mereka sendiri tidak bisa sabar, tidak bisa iklas dan tidak berserah diri," ucap Kyai Jabat.


***


Ketika sedang asik ngobrol... Tiba - tiba Nyai Sa'adah uluk salam,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Nek," jawab Panji kemudian sungkem mencium tangan Nyai Sa'adah,


"Wah, bawa apa Nek di talam ini?"


"Biasa Gus, kopi hitam kesukaan mu, ada donat juga pisang goreng," ujar nyai Sa'adah sambil menaruh talam di atas keramik kemudian duduk di samping Kakek Jabat.


"Oh iya?" gumam Kakek Jabat,


"Mengapa Gus selama 9 bulan lebih, Gus main di makam ini tidak pernah tawasulan, lalu wirid dan berdoa!!?"


Setelah mendengar suara dari dalam hatinya... Panji berkata,


"Buat apa mendoakan seorang Wali yang sudah banyak amal ibadahnya kek?


Lebih baik menawasuli diri kita sendiri, membaca wirid dan berdoa untuk diri kita sendiri.

__ADS_1


Kalau wali Allah kan kekasihnya Gusti Allah, di sayang Gusti Allah, jadi wali Allah itu sudah pasti jaminan surga, dan hidup mulia di sisi Gusti Allah, dunia Akhirat.


Sedangkan Saya... Bukan wali Allah, tidak ada jaminan surga dan belum tentu mulia di sisi Gusti Allah.


Mending nawasuli diri sendiri, dan berdoa untuk diri kita sendiri.


Ibaratnya orang fakir miskin memberi makan kepada orang yang kaya raya, sedangkan dia saja kelaparan juga kekurangan makanan.


Bagi Panji... Cukup duduk diam di samping makam seorang wali Allah, karena wali Allah itu sudah mengerti apa yang ada di dalam hati saya. Jadi cukup dengan mencintai seorang wali... Kita akan mendapatkan ridho dan barokah nya wali tersebut.


Buat apa ke makam wali Allah kalau tidak iklas?


Bertawasul kepada Wali Allah, lalu wirid baca doa untuk wali Allah, setelah itu... Minta supaya hajatnya di kabulkan? Itu namanya ziarah ke makam wali ada maunya Kek? Minta imbalan, berarti orang itu tidak iklas."


"Iya, iya," gumam Kyai Jabat,


"Lalu, mengapa Gus selama 9 bulan sebagai santri tidak pernah solat malam?"


Sebenarnya kepingin sih Kek, solat malam hari," jawab Panji,


"Tapi... Panji belum tau caranya? Maksudnya, belum bisa khusuk kalau solat, sering ingat selain Allah. Kadang Panji juga malas kalau solat 5 waktu."


"Gus... Solat itu ada tingkatannya," ucap Kyai Jabat,


"Walau kamu solat tidak khusuk... Teruskanlah!


Allah pasti mengerti dan akan memberi mu pahala sesuai solatmu. Kalau orang itu mau mengerjakan solat... Itu tandanya orang itu mencintai Allah. Lama - lama, kamu akan bisa khusuk.


Kakek Ajarkan wirid untuk mu ya Gus...? Ini wiridnya,


"Duh Gusti Allah... Duh Gusti Allah."


"Kok aneh Kek, baca wiridnya?" ucap Panji,


"Coba Kakek artikan."


"Artinya, ya Allah Tuhanku yang Maha Mulia," kata Kakek Jabat,


"Kata Duh itu mengandung unsur memohon pertolongan, kalau kata Gusti adalah gelar kemulyaan untuk Allah.


Kata Allah adalah Tuhan umat islam, di situ mengandung pengakuan. Jadi kalau di maknai... Ya Allah yang Maha Mulia, hamba memohon pertolongan Mu.


Walau Gus Panji dalam keadaan sehat, cukup, susah senang, dan dalam keadaan apapun... Memohonlah pertolongan Allah, tapi... Permohonan itu di samarkan.


Sifatnya tidak memaksa Gusti Allah. Lain dengan orang yang berdoa dengan menengadahkan kedua tangannya."


"Baiklah Kek, Panji akan lakukan wirid itu setiap hari selama Panji terjaga."


Tiba tiba di pintu gapura makam, terlihat sorot lampu motor yang berhenti.


"Kakek... Nenek... Panji mau pamit dulu ya? Kang Mumun langanan ojek Panji telah menjemput."


"Baiklah Gus, hati - hati di jalan," ucap Kakek Jabat.


"Gus... Ingatlah satu hal, jangan sampai kamu berbuat zina dengan seorang perempuan, di mana saja kamu berada," ucap Nyai Sa'adah,


"Ingatlah pesan Nenek ini."


"Kalau main jalan - jalan sama cewek cantik gak apa - apa kan Nek," canda Panji.


"Gak apa - apa Gus, asal jangan sampai zina, kata Nyai Sa'adah.


"Baiklah, akan saya ingat ingat pesan Nenek.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Tak lama kemudian, motor pun melaju ke arah Losmen Batu Hiu. Setelah 15 menit, motorpun berhenti di depan losmen, dan kang Mumun langsung pamit pulang.


Ketika masih berada di trotoar... Ruli menyapa,


"Hai Mas Panji... Gak ngajak Ruli makan lagi? Sekalian boking Ruli?"


"Ayoo kalau mau makan, kebetulan aku juga lapar pinggin makan," ajak Panji kemudian berjalan masuk rumah makan.


Setelah memesan nasi goreng dan nasi uduk, juga 2 gelas jus, Panji menyulut rokok marlboro.


"Gimana kabarnya...? Apa rame bisnisnya?" tanya Panji sambil tersenyum.


"Alhamdulillah baik Mas. Hemmm... Hari minggu sepi, belum ada yang boking! Padahal losmen rame loh," kata Ruli.


"Ini Mas Panji pesanannya," kata pelayan kemudian menaruh pesanan di atas meja.


Sambil makan, Panji berkata,


"Ruli... Mau gak kamu aku Boking selama 1 bulan full siang malam?"


Mendengar ucapan Panji... Ruli menghentikan makannya, lalu menatap wajah Panji dengan terkejut tidak percaya.


"Beneran...?" tanya Ruli ragu.


"Iya bener," jawab Panji santai,


"Tapi ada syaratnya."


"Kalau beneran... Tarifnya sehari semalam 50 ribu full servis," ujar Ruli semangat,


"Lalu... Apa syaratnya?"


"Syaratnya... Kamu tidak boleh mangkal di tepi jalan selama aku boking, karena aku kalau malam keluar losmen," jawab Panji,


"Yang ke dua... Kamu harus mau solat berjamaah dengan ku.


Yang ketiga... Kamu harus mematuhi perintah ku. Makan minum, rokok jajan gratis ikut aku, kamu terima bersih uang 50 rb perhari. Bagaimana?"


"Baiklah," kata Ruli tanpa pikir panjang,


"Apalagi lusa bulan Romadhon, pasti sepi tidak ada penghasilan. Hemmm... Mulai kapan Mas panji...?"


"Yaa mulai hari ini," kata Panji.


"Apa bisa di tunda besok malam saja Mas?" kata Ruli,


"Karna, nati pagi aku mau merawat ibu ku yang sedang sakit, juga merawat anakku."


"Gak apa - apa, tidur di kamar losmen saja, nanti pagi jam 7 atau jam 8 kamu boleh pulang," kata Panji,


"Nanti, kalau kamu mau pulang... Pas aku ketiduran, bagunin ya?"


"Baiklah," kata Ruli,

__ADS_1


"Ayo Mas kita istirahat."


__ADS_2