
"Kring..!"
Wilda mengambil Hp di meja kerjanya, setelah membaca nama Panji di layar... Wilda langsung semangat,
"Waalaikumsalam Mas..."
"Wilda... Di kartu Indonesia Bisnis ini kok banyak sekali uangnya, ada 2 Trilyun.
Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu," tanya Panji.
"Hasil pendapatan kotor perusahaan PT Hening tahun ini ada 4 Trilyun pertahun, 1 Trilyun aku aku kasih kepada Mas Panji sebagai pemilik perusahaan, sisanya untuk biayai operasional perusahaan.
yang 1 Trilyun lagi adalah hadiah pemberian Pak Hong tshi, sebagai tanda terimakasih, karena semua perusahaan nya telah sehat dan beroperasi normal kembali.
Karena masih ada 11 anggota KIB kosong, maka Mas Panji aku daftarkan dan aku buatkan ATM Indonesia Bisnis.
Kartu Indonesia Bisnis hanya di miliki oleh 100 orang saja di indonesia ini, dan bisa di gunakan di bank mana saja di seluruh Asia dan Eropa, bahkan untuk transaksi pembayaran baik di hotel restoran juga Moll."
"Baiklah kalau begitu," kata Panji.
"Mas berada di mana sekarang," tanya Wilda.
"Ada di rumah Surabaya, aku ingin istirahat sebentar di rumah sama keluarga," jawab Panji.
"Oh iya Mas, di Surabaya ada perusahaan cabang milik Mas Panji.
Habis ini aku sms alamat perusahaan cabang," ujar Wilda,
"Di kota Bandung Jogjakarta Semarang Surabaya Denpasar dan Lombok ada perusahaan cabang Mas. Di hampir semua kota Besar ada cabang PT Hening Elektronik.
Kalau Mas Panji berkenan... Mas Panji bisa mampir untuk istirahat dan melihat - lihat perusahaan cabang."
"Baiklah Wilda, kalau ada waktu aku akan mampir untuk melihat - lihat, kamu kirim saja alamat perusahaan cabang yang ada di Surabaya Denpasar dan Lombok," kata Panji.
"Baiklah Mas."
"Wilda... Kamu gak kangen makan bersama dengan ku," goda Panji.
"Ya kangen lah Mas, kalau sekarang jadwal kerja sangat padat, kemungkinan besok sore aku bisa terbang ke Surabaya," jawab Wilda.
"Baiklah, kasih kabar ya kalau ke Surabaya," ujar Panji.
Sesampai di rumah... Setelah solat Magrib, Panji menikmati makan malam bersama keluarga termasuk 2 adiknya.
Sambil makan Panji berkata,
"Papa... Mama... Sudah Panji transfer tadi siang.
Pa... Depan rumah itu ada tulisan tanah di jual, Papa beli saja, lalu di bangun musolla untuk ibadah keluarga. Atau untuk kumpul - kumpul ngaji atau istiqosah.
Papa juga pasang telpon lagi ya, beli mobil untuk bepergian sekeluarga, belikan adik - adik motor. Biar sekolah tidak naik sepeda angin."
"Emang Panji transfer berapa kok nyuruh Papa mu beli ini itu," tanya Mama nya.
"Transfer Papa 50 Milyar, Mama 50 Milyar," jawab Panji.
"Apa..!" teriak Mama nya terkejut hingga sendoknya terjatuh,
"Yang benar kamu, dapat dari mana uang sebanyak itu..?
50 juta itu bayaran Papa mu se Tahun, apalagi sampai milyaran."
"Dapat dari kerja Ma, yang penting Panji tidak mencuri."
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab Panji,
"Masuk Youri.
Sebentar ganti kaos dulu."
Malam itu... Panji pergi ke rumah Maya pacarnya.
Setelah berpelukan dan ngobrol sebentar, Panji pergi ke Diskotik Bombastis.
Setelah berada di depan diskotik, Panji bertemu teman - teman karibnya yang telah di hubungi Youri.
Malam itu... Panji dan 9 teman akrabnya sedang dugem bersenang - senang.
Sementara Maya memesan jack Daniel dan beberapa butir inex.
Malam semakin larut, ruang Ac penuh dengan asap rokok dan bau Alkohol kelas satu.
Di saat asik - asiknya dugem... Tiba - tiba terdengar letusan senjata api. Seseorang tergeletak kemudian terjadi keributan.
"Panji..! Ayo keluar," dengan cepat Maya menarik lengan Panji menuju tempat parkir, dan masuk ke dalam mobil milik Maya bersama Youri.
Di area parkir terdengar beberapa letusan senjata api, lalu seorang laki - laki tampan kurus di keroyok di pukuli oleh beberapa orang.
Walau di keroyok banyak orang... Pemuda itu melawan dengan sengit.
"Panji..! Pemuda itu pahanya tertembak," kata Youri,
"Kalau tidak kita tolong... Pemuda itu pasti mati."
Mendengar kata - kata Youri
.. Maya langsung keluar mobil dan membantu pemuda itu, kemudian di susul Panji.
Dengan keahlian bela diri, dengan mudah Maya dan Panji mengalahkan 4 pemuda yang mengeroyok.
"Youri..! Jalan kan mobilnya," teriak Panji buru - buru menyeret pemuda tersebut masuk kedalam mobil.
Begitu Panji dan Maya masuk mobil... Beberapa letusan senjata terdengar, kemudian,
"Pryar..!" kaca samping mobil pecah kanan kiri tertembus peluru.
Mobil Maya melaju dengan kecepatan tinggi, turun ke lantai bawah, namun ada dua mobil yang mengejarnya.
"Kring..!"
"Selamat malam Tuan Panji," jawab Bos Rudi.
"Pak Rudi..!
Apakah anggota mu juga ada di kota Surabaya," tanya Panji.
"Ada Tuan, apa ada yang bisa saya bantu," jawab Pak Rudi.
"Cepat kirimkan beberapa anggota mu ke jalan arah Bandara Juanda," perintah Panji,
"Aku dan pacar ku sedang di kejar dua mobil dengan senjata api."
"Baiklah Tuan, segera saya hubungi malam ini," ujar Pak Rudi,
"Kebetulan beberapa orang ku sedang menjemput Jefri di bandara malam ini."
Tak lama kemudian...
Dua mobil mewah melintas keluar bandara mencari keberadaan mobil Panji.
Begitu melihat tiga mobil kebut - kebutan saling kejar... Jefri memerintahkan untuk ikut melakukan pengejaran.
__ADS_1
"Bos Jefri..!
Ciri - ciri mobil itu persis yang di sampaikan oleh Bos Besar Rudy," ujar anak buahnya Jefri.
"Siapkan senjata kalian, habisi mereka," perintah Jefri.
Malam itu... Mobil Maya di tabrak dari belakang hingga oleng dan akhirnya menabrak pagar pembatas, lalu terguling.
Begitu Panji, Maya dan Youri keluar dengan sedikit luka, tiba - tiba dua mobil berhenti lalu menodongkan pistol.
Namun, dengan cepat mobil Jefri berhenti di samping mobil Maya yang terguling.
"Berhenti..!" teriak Jefri.
6 orang yang memegang pistol langsung terkejut melihat Jefri yang berdiri di depannya, lalu ke 6 orang tersebut menyelipkan senjata api di perutnya, kemudian membungkuk 90 derajat,
"Selamat malam bos Jefri.
Apa yang bisa kami bantu?"
Tanpa banyak bicara... Jefri langsung menendang wajah salah satu orang yang membungkuk,
"Kamu cari mati ya..!
Tuan Panji ini di lindungi oleh Bos Rudi..!
Cepat sujud minta maaf, atau akan aku bunuh anak istri mu juga bapak ibu mu ha!"
Mendengar ancaman Jefri yang serius... Ke enam anggota geng itu langsung sujud minta maaf kepada Panji dan Maya.
"Berdiri..!!"
Setelah puas memukuli ke 6 anggota geng hingga mukanya hancur, Jefri berkata,
"Sekarang mobil Tuan Panji kalian urus, dan besok siang kalian ganti dengan mobil baru.
Tuan Panji... Silahkan ikut dengan kami, kami antar kalian ke rumah sakit, teman mu yang terluka tembak biar aku yang mengurusnya.
Aku punya teman seorang dokter bedah di salah satu rumah sakti."
"Baiklah Jefri," ujar Panji kemudian mengajak Maya masuk mobil.
***
Pagi keluarga Maya datang menjenguk di rumah sakit.
Begitu melihat Maya hanya luka ringan, Papa nya Maya lega.
Walau begitu Papa nya Maya sangat marah kepada Panji.
Sementara Panji tidak terluka sedikit pun, bahkan saat ini Panji sedang menunggu operasi pengangkatan proyektil peluru pemuda yang di tolongnya.
"Kring..!"
Suara telpon berbunyi, melihat nama Bos Rudi... Panji langsung mengangkatnya,
"Pagi Pak Rudi... "
"Selamat pagi juga Tuan Panji. Apakah Tuan Panji terluka serius," kata Pak Rudi.
"Alhamdulillah tidak terluka sama sekali, hanya dua teman ku luka ringan akibat benturan, dan yang satunya tertembak di pahanya," ujar Panji,
"Pak Rudi... Siapa sebenarnya mereka itu?"
"Mereka hanya anjing - anjing liar saja Tuan, menurut informasi dari Jefri... Mereka bawahan Jefri," jawab Pak Rudi,
"Mereka sedang memperebutkan wilayah saja, mereka adalah para bandar narkoba dan miras.
Yang tertembak itu adalah ketua kartel narkoba di wilayah selatan. Dia menguasai jaringan di seluruh kota di Jawa Timur. Dia di juluki Naga Selatan.
"Baiklah Pak Rudi... Terimakasih banyak atas bantuan dan informasi nya. Nanti aku transfer sebagai hadiah untuk pak Rudi," kata Panji.
"Jagan Tuan..!
Di masa datang aku pasti membutuhkan bantuan tuan Panji," ujar Pak Rudi.
"Baiklah kalau begitu," kata Panji kemudian mematikan Hp nya.
***
Pagi setengah siang di rumah sakit Wiliam.. Panji memencet nomer telpon, setelah terhubung,
"Assalamualaikum Wilda."
"Waalaikumsalam Mas."
"Wilda, perintahkan menejer cabang Surabaya untuk menyiapkan Hp satelit atas nama Anton Sebastian ya. Siang ini aku tunggu di rumah sakit Wiliam," perintah Panji,
"Ingat..!
Rahasia kan identitas ku."
"Baiklah segera aku hubungi Pak Muladi untuk mengantar Hp Satelit," kata Wilda,
"Kemungkinan... Besok aku terbang ke Surabaya."
"Baiklah, kalau mau berangkat telpon aku dulu, takut nya aku sudah pergi," ujar Panji kemudian mematikan telepon nya.
Panji kembali memencet nomer telepon, setelah tersambung,
"Selamat pagi Pak Kevin."
"Selamat pagi juga Tuan Panji, ada yang bisa saya bantu," sahut Pak Kevin.
"Pak Kevin... Aku ingin bertemu Anita kariyawan Bapak, aku ingin membuka nomer rekening baru untuk seseorang," ujar Panji,
"Saya tidak bisa ke Bank saat ini, karena saya ada di rumah sakit, William kamar A-1."
"Baiklah Tuan, akan saya perintahkan Anita untuk segera menemui Tuan Panji, untuk menyerahkan ATM nya," kata Pak Kevin,
"Oh iya, apa Tuan bisa menyebutkan nama orang itu di KTP nya, saya juga butuh no Registrasi KTP serta alamatnya."
$Sebentar ya Pak Kevin."
2 jam kemudian,
xSelamat siang... Apakah bisa bertemu dengan Mas Panji..?"
"Iya saya sendiri Pak.
Bapak siapa ya?"
"Saya Muladi, ingin menyerahkan pesanan, Hp satelit buat bapak Anton Sebastian."
"Oh iya Pak, biar saya yang menerima nya, karena Pak Anton lagi tidur."
"Baiklah Pak Panji, dan ini ada titipan makan siang buat Mas Panji."
"Terimakasih Pak Muladi.
Kalau boleh tau..? Ini pemberian dari siapa ini Pak..? "
"Ini dari ibu Wilda."
__ADS_1
"Hemmm iya iya, sampaikan rasa terimakasih saya pada ibu Wilda ya..?
Tolong bilang sama ibu Wilda, kalau ngasih makan siang....Sekalian sama minum nya juga sama rokok nya."
"Hehehehe... Mas Panji bisa saja kalau bercanda," ujar Pak Mulyadi,
"Tidak berani Mas, atau biar saya saja yang beli. Mas Panji biasa merokok apa..?"
"Marlboro Pak, kalau biasa belikan 3 bungkus ya..? Sekalian untuk rokok an malam hari.
Minumnya air aqua dingin serta kopi hitam."
"Baiklah Mas,"
Sambi berjalan dengan rasa dongkol Pak Muladi ngedumel,
"Dasar sampah masyarakat, pemuda tidak berguna.
Di kasih hati malah minta rempela, tidak tau terimakasih. Terpaksa harus memakai uang pribadi."
Tak lama kemudian, setelah menyerahkan 3 bungkus rokok dan sebotol air aqua juga sebungkus kopi... Pak Muladi pamit pergi.
"Selamat siang Tuan Panji."
"Selamat siang Anita, jangan panggil Tuan, panggil saja Panji atau Mas Panji.
Usia kita sepantaran."
"Baiklah Mas Panji, ini ATM atas nama bapak Anton Sebastian, tetapi saldonya masih kosong Mas," kata Aninta.
"Gak apa - apa, habis ini kamu transfer kan ke no rekening ini," ujar Panji,
"Sekarang duduklah, temani aku makan siang. Ini ada dua bungkus rujak, dan 1 gado - gado."
"Terimakasih Mas Panji."
"Ayo temani aku makan," ujar Panji sambil meraih tangan Anita untuk menerima sebungkus gado - gado.
"Baiklah baiklah," ujar Anita kemudian menikmati makan siang.
Setelah makan siang... Panji mengantarkan Anita ke tempat parkir.
***
Sore itu Panji berada di kamar Maya untuk melihat kondisi kesehatan Maya.
Sambil memegang lembut tangan Maya... Panji berkata,
"Dokter barusan bilang, katanya sore ini kamu boleh pulang dan di nyatakan sudah sehat.
Hanya sedikit memar di kaki dan lengan."
"Iya Kak," ujar Maya sambil menatap wajah tampan Panji.
"Sejak kapan Panji kekasih ku ini di panggil Tuan oleh kelompok gangster
..? Apakah Panji anggota kelompok Gangster juga..? Aneh," kata Maya dalam hati.
Melihat Papa nya Maya datang menjemput Maya untuk pulang... Panji sangat terkejut sekali.
"Dasar sampah, orang tak berguna..! Kamu telah mencelakakan Maya anak ku. Kalau mau mati... Jangan ngajak Maya," teriak Papa nya maya.
"Papa..!
Ngapain sih teriak - teriak..!
Panji tidak bersalah Pa..!
Panji yang telah menyelamatkan Maya."
"Omong kosong..!!
Dari dulu Papa kurang suka sama pacar mu Panji. Pemabuk suka bikin onar, tidak tau malu.
Tidak sudi Papa punya menantu seperti dia. Sudah miskin nyusahin pula. Apalagi keluarga kita berbeda keyakinan agama sama keluarga dia.
Silahkan pergi dan jauhi anakku Maya."
"Papa..!!
Maya tidak suka Papa bicara kasar sama Panji.
Walau Papa membenci Panji... Maya selamanya tetap akan mencintai Panji, selamanya."
Mendengar Maya putrinya berkata kasar dan membentaknya... Papa nya sangat marah sekali,
"Berani sekali kamu sama Papa mu, demi lelaki ini... Kamu berani membentak dan melawan orang tua mu sendiri..!
Baiklah, bukan kamu saja anakku, kalau kamu lebih memilih dia... Mulai hari ini nama mu aku coret dari daftar anggota keluarga..!
Jangan sekali - kali meminta bantuan apapun pada keluarga, kita sudah tidak punya hubungan apa - apa..!
Ikutlah dengan lelaki brengsek ini, lelaki bajingan!x
"Braak..!"
Terdengar benturan pintu kamar rumah sakit, kemudian Papa nya Maya pergi meninggal kan Maya dan Panji.
Sambil memeluk erat... Maya menanggis menyandarkan kepalanya di bahu Panji,
"Kakak... Maafkan Papa ku ya..?
Dia telah berkata kasar juga menghina mu.
Aku sangat mencintai mu, aku tidak ingin berpisah dengan mu, apapun itu resikonya."
"Sudahlah Maya, aku yang salah, pantas jika aku di hina dan di rendah kan," ujar Panji,
"Sebenarnyaamu tidak boleh membentak dan melawan Papa mu. Bagaimana pun... Beliau adalah orang tua mu, keluarga mu. Sedangkan aku...?
Hanya lah orang lain.
Sudah, jangan menangis. Mari kita pulang ke rumah ku."
"Baiklah Kak, aku berkemas dulu," kata Maya kemudian pergi bersama Panji naik taxi.
"Assalamualaikum...
Pa... Ma..."
"Waalaikumsalam," jawab ibu Lia Mamanya Panji,
"Siapa perempuan ini, kok di perban kaki dan lengannya..?"
"Ini Maya Ma, calon menantu Mama, cantik gak..?" ujar Panji.
"Diam kamu, pulang ke rumah bawah anak gadis nya orang, sakit lagi.
Duduk dulu, Mama dan Papa butuh penjelasan."
"Ma... Pnji butuh kopi panas Ma, kalau gak ada kopi dan rokok, Panji gak bisa kasih penjelasan."
"Kamu itu persis Papa mu, kopi terus...! Merokok terus..!x
__ADS_1
"Kalau gak di bikinin kopi, Panji pergi loh Ma..!!"
"Diam, duduk dulu, ini Mama mau bikin."