
"Sifat dari surat Al Fatiha itu adalah pembuka atau pengantar Gus," ujar Nyai Sa'adah,
"Doa atau keinginan hati, dalam bahasa jawanya "Krentekke Ati" itu yang mengantarkan adalah ke-Agungan surat Fatihah. Dengan sirnya fatihah... Doa atau kehendak hati itu bisa tersampaikan di hadapan Gusti Allah."
"Yang di maksud dengan sirnya Fatihah itu yang bagaimana Nek," tanya Panji.
"Sirnya Fatihah itu adalah Barokah-nya Fatihah atau karomahnya Fatihah atau juga Mukjizatnya Al fatihah," jawab Nyai Sa'adah.
"Bagaimana caranya mendapatkan barokahnya atau karomah atau mukjizatnya fatihah itu Nek," tanya Panji.
"Caranya gus Panji harus mengimani Surat Al Fatihah, "jawab Nyai Sa'adah,
"Mengimani dengan cara mendawamkan atau istiqomah dalam membaca fatihah."
"Mengapa kita harus iman kepada Fatihah Nek, kok tidak beriman kepada Allah?" tanya Panji.
"Rukun iman itu ada 6 Gus... Salah satunya beriman pada kitab - kitab Allah," kata nyai Sa'adah.
"Nek... Panji ingin bersandar di tiang kayu penyangga itu. Mari Nek, kita pindah," ujar Panji kemudian beranjak lalu di ikuti Nyai Sa'adah.
"Nek... Tau gak!! Kata teman Panji... Kyia Nuruddin itu sakit aneh, gak sembuh - sembuh," kata Panji,
"Apa Nenek tau... Kira - kira Kyai itu sakit apa Nek?"
"Kyai Nuruddin itu sakit sebab kena karma Gus... Penyakit itu ada sebab dari amal perbuatannya sendiri. Kata orang jawa " Sopo Nandur Apik Bakal Cukul Apik, Sopo Nandur Elek Bakal Cukul Elek," jawab Nyai Sa'adah.
"Maksudnya, karma apa Nek!!" tanya Panji heran.
"Kyai Nuruddin telah memarahimu bahkan dia telah mengusirmu secara tidak langsung. Dengan alasan yang dia tidak tau kebenaran yang hakiki. Hatinya terbungkus nafsu yang samar, hingga mengunakan kekuasaan atau jabatan ke-Kyai-annya untuk mendholimi dirimu. Sedangkan dirimu yang sebenarnya adalah seorang musafir, orang yang berjihad berjuang di jalan Allah, dengan mencari ilmu. Dirimu juga adalah orang yang fakir dan miskin di pesantren, karena kamu rela menghambakan diri pada kyia demi sesuap nasi, agar kamu bisa bertahan di pesantren. Dalam bahas jawa... Kyai itu kuwalat sama dirimu Gus," jawab Nyai Sa'adah.
"Kuwalat dengan ku?" gumam Panji,
"Bukankah derajat Kyai lebih tinggi dari saya yang hanya sebagai santri? Bukankah ilmu kyai lebih tinggi dari pada saya yang notabene sebagai santri? Lalu... Kok bisa kyai itu kwalat sama saya Nek?"
"Karena ke iklasan mu dalam menerima takdir... Maka ke iklasan itu menimbulkan karomah atau kekeramatan, dan kekeramatan itulah yang menghukum kyai, hingga sakit aneh," jawab Nyai Sa'adah,
"Sebab... Kyai itu tidak iklas dalam menerima takdir dari Allah yang menimpa dirinya, akhirnya malu dan memarahi mu. Itu sama dengan melawan Allah secara tidak langsung. Itulah yang di namakan "Tergeser Tanpa Terasa. yang artinya... Melakukan dosa tanpa di sadarinya."
"Oh iya Nek, apakah semua orang yang membaca Al fatihah di suatu benda seperti air, buah dan lainnnya, bisa menyembuhkan orang sakit," tanya Panji.
"Tidak semua orang bisa Gus... Hanya orang yang mendawamkan fatihah atau orang yang istiqomah membaca fatihah, dia-lah yang bisa mengobati orang sakit apa saja. Bukan dari surat atau ayatnya, tapi dari orang nya. Fatihah itu hanya sebuah alat atau kendaraan saja," jawab Nyai Sa'adah.
Sorot lampu motor terlihat di gapura makam, Panji pamit untuk kembali ke Losmen. Tak lama kemudian, motor pun meluncur di tengah kegelapan lalu menembus jalan raya.
Setelah berhenti di depan Losmen dan Panji turun dari motor... Kang Mumun langsung pamit pulang.
"Selamat Malam Pak Panji," sapa Pak satpam.
"Selamat pagi juga Pak."
"Oh iya, tadi kunci kamarnya di ambil sama Non Ruli," ujar Pak satpam.
"Baiklah Pak, terimakasih atas pemberitahuan nya," kata Panji bergegas pergi.
"Hemmm... Di kunci dari dalam kamarnya," gumam Panji.
Tok tok tok...!
"Sebentar...!" terdengar suara Ruli berteriak, lalu pintu terbuka,
"Eehhh si Bos, dari mana kok menjelang Pagi baru datang."
"Dari main Ruli," jawab Panji kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang,
"Capaik... Banget."
"Tengkurap Bos, biar aku pijitin," kata Ruli kemudian duduk di atas ranjang di samping tubuh Panji.
Sambil menikmati pijitan Ruli... Panji melihat lipatan sajadah dan ruko juga tasbih di pojok keramik.
"Hemmm... Kamu habis solat?!! tanya Panji
"Kok tau bos, kalau aku solat," kata Ruli.
"Itu ada sajadah di pojok, biasanya juga di sampiran," ucap Panji.
"Iya Bos, tadi jam 12 aku gak bisa tidur, dari pada gak ada kerjaan... Yaa aku solat saja," jawab Ruli,
"Sekali - kali biar pernah solat Malam."
"Solat apaan tadi..? Dan baca wirid apa," kata panji.
"Solat Tobat Bos, biar berkurang dosanya, hahaha," jawab Ruli sambil tertawa,
"Lalu Solat hajat Bos. Wirid, istiqfar saja."
"Solat hajat? Kamu punya hajat apa," tanya Panji
"Hemmm... Aku pingin pindah dari kampung ku, karena... Status ku juga keluarga ku sangat buruk di mata masyarakat desa. Mereka sering gosib-pin aku. Yang ***** lah, yang pelacur-lah, makan duit haram-lah. Padahal, kalau aku ajak tidur mereka senang dan tidak nolak loh Bos hahaha... Kan munafik mereka! Mengatakan aku pelacur *****, tapi dia pinggin tidur menikmati tubuhku," jawab Ruli,
"Tidak kayak kamu Bos Panji, gak pernah ngatain aku pelacur, malah membantu ekonomi ku. Bos juga gak pernah bercinta dengan ku, walau sebenarnya... Kalau Bos mau bisa kapan saja."
"Ya... Besok lusa kamu pindah saja ke sini, dekat pasar Kramatwatu," kata Panji sambil menikmati pijitan Ruli,
"Kamu bisa usaha jualan apa gitu, untuk memenuhi kebutuhan hidup."
"Gak punya uang Bos untuk beli rumah di daerah sini.
Bisa makan saja itu sudah Alhamdulillah," kata Ruli.
"Nanti aku yang beliin rumah untuk mu," kata Panji,
"Itu ada uang pemberian Mbah Wali Hasan. Kalau buat beli rumah lebih dari cukup... Aku juga sudah belikan motor untuk mu."
Mendengar ucapan Panji... Ruli tersentak kaget, tapi Ruli diam saja,
"Bos, aku lapar, pinggin makan di depan.
Apa Bos mau ikut makan?"
__ADS_1
"Baiklah, aku juga belum makan Malam," kata Panji kemudian bangun.
Setelah selesai makan, Panji istirahat di kamar Losmen, sementara Ruli pulang dengan naik ojek perempatan.
Waktu terus berlalu, Panji mengeliat sambil membuka kedua matanya.
"Hemmm... Sudah jam 1 Siang," gumam Panji setelah melihat jam dinding,
"Lebih baik mandi dulu kemudian solat Dzuhur."
Tak lama kemudian setelah solat Dzuhur, Panji membuka cendela lalu duduk di kursi. Setelah memencet tombol telpon panji berkata,
"Mbak, pesan kopi ya, sama pisang goreng."
"Baiklah Tuan Panji, sebentar lagi pesanan di antar," kata pelayan.
Tak lama kemudian,
Tok tok tok...!
Setelah pintu terbuka,
"Selamat siang Pak... Ini pesanan Bapak, kopi dan pisang goreng," kata pelayan.
"Taruh di meja teras kamar ya Mas," jawab Panji kemudian menutup kamar lalu duduk di kursi teras,
"Oh iya Mas? Mbak Dewi kemana kok Mas-nya yang antar kopi? Biasanya kan Mbak Dewi."
"Mbak Dewi nya izin gak masuk kerja Pak, karena, anaknya lagi sakit," jawab pelayan cowok.
"Anaknya Mbak Dewi sakit apa Mas," tanya Panji.
"Katanya pendarahan di otak kepalanya, habis jatuh dari sepeda ontel," ucap pelayan cowok,
"Sekarang anaknya Mbak Dewi lagi opname di rumah sakit kota Serang Banten. Kabarnya harus di operasi Pak."
"Saya minta alamat kamar inap rumah sakit nya ya Mas," ujar Panji.
"Baiklah Pak, habis ini saya hubungi lewat telpon," kata pelayan cowok kemudian pamit pergi.
Sambil menikmati secangkir kopi hitam dan pisang goreng, Panji duduk santai di teras kamar Losmen.
"Selamat siang Pak Panji," ujar seorang laki - laki setengah tua.
"Selamat siang juga Pak Beni," jawab Panji sambil berdiri lalu berjabat tangan,
"Silahkan duduk Pak, mari."
"Kami baru saja telah menyelesaikan transaksi pembelian rumah yang Bapak sampaikan kemarin. Dan pihak kami telah mengurus sertifikat kepemilikan rumah atas nama ibu Ruli Widya Wati, dengan jalur lewat orang dalam," ujar Pak Beni orang Notaris,
"Alhamdulillah, ini baru selesai dan kami antar surat - surat kemari. Tinggal sisa pembayaran dan jasa kami yang telah di sepakati di atas materai kemarin Pak. Hemmm... Ini jumlah uang yang harus Bapak lunasi."
"Jadi semua totalnya 59 juta ya Pak, kurangnya 9 juta," kata Panji.
"Iya Pak, benar," jawab Pak Beni orang Notaris.
"Sebentar ya Pak," kata Panji kemudian masuk kedalam kamar. Tak lama kemudian,
"Baiklah Pak Panji, terimakasih telah mempercayakan tim kami untuk mengurus bisnis Bapak di wilayah kami.
Selamat dan sukses ya Pak. Kami mohon pamit. Selamat siang," ujar Pak Beni Notaris.
"Selamat Siang kembali," kata Panji.
Baru saja menyulut rokok... Seorang seles motor Honda menyapa,
"Selamat siang Pak."
"Selamat Siang juga Mas, ayoo duduk sini. Gimana... Bisa selesai hari ini," tanya Panji.
"Bisa lah Pak, gak ada yang gak bisa Pak, kan ada uang pelicinnya, jadi hari ini sudah selesai semua," jawab sales motor.
"Baiklah Mas, terimakasih ya," kata Panji,
"Ini ongkos jasanya dan ini buat beli bensin."
"Terimakasih Pak Panji, saya balik dulu ke kantor.
Selamat siang," ujar sales motor.
"Selamat siang kembali Mas," jawab Panji kemudian masuk ke kamar untuk menyimpan surat - surat.
Setelah solat Asar... Dengan mengenakan cleana jeans biru dongker dan kaos putih, Panji berjalan keluar losmen.
Setiba di halaman losmen, Panji melihat Ruli turun dari motor tukang ojek.
"Ruli," panggil Panji.
"Hai Mas Panji, mau kemana," tanya Ruli kemudian mendekat.
"Gak salim dulu sama aku, cium tangan," goda Panji.
"Kayak kyai saja pake salim cium tangan," ujar Ruli,
"Tapi... Baiklah, kan Mas Panji orang baik - baik, ganteng lagi!"
"Ayoo temenin aku jalan - jalan," ajak Panji.
"Baiklah," sahut Ruli kemudian menggandeng lengan Panji lalu berjalan menelusuri trotoar.
"Ruli, itu ada toko perhiasan, mau gak aku beliin perhiasan," ujar Panji.
"Gak usahlah Mas, malu aku di belikan perhiasan," ujar Ruli,
"Mas Panji telah banyak membantu kesulitan ku, jadi gak usah-lah."
"Gak apa - apa, hitung - hitung buat simpanan, kalau aku gak di sini lagi, dan kamu butuh uang mendadak... Kamu bisa jual itu perhiasan," kata Panji kemudian masuk ke toko perhiasan,
"Semalam aku di kasih uang sama orang Cina dari Jakarta, namanya Pak Hong Shi. Di dalam amplop, kayaknya ada uang 1 jutaan. Buat beli perhiasan saja... Mumpung ada, hahaha."
__ADS_1
"Benar kata kyai - kyai kalau ceramah, siapa yang suka memberi orang lain... Dia akan banyak rejekinya," gumam Ruli,
"Seperti Bos Panji ini, dia suka memberi orang lain, dia banyak rejekinya. Tanpa susah payah bekerja... Bos Panji selalu mendapat uang jutaan."
Setelah membeli perhiasan... Panji dan Ruli balik ke Losmen. Setelah solat Magrib berjamaah, Panji berkata,
"Ruli, aku mau pergi dulu ya, ada perlu sebentar.
Kamu pulang boleh, tidur sini juga boleh, terserah kamu lah. Jangan naik ojek lagi, Ini kunci motor mu, ini surat - suratnya, motornya di parkiran, tanya saja sama Pak Satpam ya... Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Mas Panji, boleh kah aku memeluk mu," kata Ruli langsung memeluk tubuh Panji erat - erat,
"Terimakasih ya Mas... Kamu terlalu baik untukku, dengan apa aku harus membalas semua kebaikan mu? Tak kan ada orang lain yang dapat mengantikan posisi mu di hatiku. Kamu adalah orang terbaik dalam hidup ku."
"Sudahlah Ruli, jangan menangis," ucap Panji melepas pelukan Ruli,
"Yang aku berikan kepada mu itu adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada mu. Itu tandanya... Tuhan sangat menyayangi hambanya yang berlumur dosa. Jadi... Kamu juga harus sayang sama Gusti Allah. Nakal boleh tapi hati harus selalu ingat sama Gusti Allah. Aku hanyalah sebuah perantara saja, lagian, uang itu adalah pemberian orang lain."
"Aku tinggal dulu ya," ujar Panji.
"Baiklah Mas, hati hati ya," kata Ruli.
***
Dengan Motor bututnya... Sehabis Magrib, kang Mumun mengantar Panji pergi ke kota Serang. Motor melaju dengan kecepatan sedang, dan tak lama pun Panji sudah berada di halaman parkir rumah sakit Harapan Bangsa.
Setelah bertanya pada salah satu security... Akhirnya Panji bertemu Dewi di salah satu Room class Ekonomi.
"Assalamualaikum Mbak Dewi," salam Panji.
"Waalaikumsalam Pak Panji," jawab Dewi kemudian bersalaman,
"Bapak kok bisa tau sini? Oh iya Pak Panji, kenalkan ini suami saya."
"Salam kenal kembali Pak," ucap Panji.
"Tau dari salah satu karyawan yang mengantar kopi," ujar Panji,
"Bagaiman kondisi putra Mbak Dewi saat ini?"
"Kata dokter tidak apa - apa Pak. Hanya saja... Lusa operasi pengangkatan darah beku di kepala bagian belakang," jawab Dewi dengan mimik wajah yang terlihat sedih.
"Kata tim dokter... Berapa biaya yang harus Mbak Dewi persiapkan," tanya Panji.
"Kata salah satu dokter... Kami harus menyiapkan uang sebesar 11 juta Pak," jawab Dewi.
"Baiklah Mbak Dewi, saya mau pamit dulu, ini ada hadiah dari saya... Insallah cukup buat biaya operasi putra Mbak Dewi dan cukup untuk operasional Mbak Dewi selama di rumah sakit," ujar Panji.
"Terimakasih banyak ya Pak," ucap Dewi meneteskan air mata,
"Semoga amal kebaikan Bapak di balas oleh Gusti Allah, semoga Bapak bertambah banyak rejekinya."
"Aamiin... Assalamualaikum," salam Panji.
"Waalaikumsalam," jawab Dewi.
Setelah keluar kamar anak - anak... Panji berjalan perlahan - lahan menuju halaman parkir rumah sakit. Di salah satu lorong... Panji mendengar suara perempuan memanggilnya.
"Panji..!"
Melihat Bu Nyai Shinta berdiri di depan pintu lorong... Panji mendekat,
"Assalamualaikum Bu Nyai..."
"Waalaikumsalam Panji," jawab Bu Nyai Shinta,
"Panji habis dari mana? Kok berada di rumah sakit?!!"
"Dari menjenguk putranya teman Bu Nyai," jawab Panji,
"Apakah Pak Kyai nya okname?"
"Iya kang Panji, di kamar ini, sudah 3 hari Kyai Nurudin okname," ucap Bu Nyai Shinta sambil menunjuk ruang kamar di belakangnya,
"Ini tadi mau nebus obat di apotik."
"Kalau di ijinkan... Boleh kah Panji memberi air doa untuk Pak Kyai? Barangkali ada jodoh dan bisa sembuh."
"Boleh Kang Panji, boleh," seru bu Nyai Shinta,
"Bu Nyai dengar dari Pak Kyai, kamu pernah mengobati salah satu santri putri, dan sembuh. Mari kita ke kantin beli air aqua."
Setelah membaca surat Al fatiha 1x Panji berkata,
"Ini Bu Nyai, air doanya, semoga Pak Kyai sembuh dan bisa ngulang ngaji kembali.
Dan ini ada sedikit uang untuk melunasi biaya rumah sakit. Panji minta maaf bila selama membantu Bu Nyai, Panji mempunyai kesalahan. Panji mohon pamit dulu Bu Nyai."
"Panji, bawalah amplop ini kembali," kata Bu Nyai sambil mengembalikan amplop,
"Uang ini Panji pakai untuk keperluan sehari - hari."
"Tidak Bu Nyai, Panji sudah punya uang banyak. Uang ini adalah bentuk rasa hormat saya pada Pak Kyai sekeluarga, karena... Berkat doa dan ilmu dari Pak Kyai, Panji jadi mengerti tentang agama dan kehidupan.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Bu Nyai Shinta sambil menatap Panji berlalu hingga tak terlihat,
"Sebenarnya... Aku senang Panji membatu pekerjaan rumah, dia anak yang rajin dan baik sekali, walau dia itu nakal. Dari mana Panji mendapatkan uang? Dia tinggal di mana? Coba aku lihat, berapa uang di dalam amplop cokelat ini."
"Haaa... 1 juta!!" gumam Bu Nyai Shinta tidak percaya,
"Uang 1 juta adalah jumlah yang sangat banyak. Uang baru dengan lebel BCA. Baru kali ini aku pegang uang sebesar 1 juta."
Di halaman parkir Panji melihat kang Mumun yang sedang duduk santai menghisap rokok,
"Kang Mumun... Ayo kita pergi, kita makan dulu ya."
"Siap Bos Panji," kata kang Mumun lalu menghidupkan motor,
__ADS_1
"Kita mau makan apa Bos?"
"Makan sate saja kang, sekalian bungkus untuk istri dan anak - anak kang Mumun," jawab Panji.