
"Selamat Malam Mas Panji ganteng," sapa Dewi yang lagi santai di teras kos - kossan.
"Eeeh, Mbak Dewi, Malam juga Mbak," jawab Panji.
"Kenapa kepalanya di peganggi terus," tanya Dewi.
"Sini Mas Panji, ngopi dulu sama Dewi."
"Ini kepala ku agak pening.
Ngopi di kamar aja Mbak, aku pinggin santai baca buku. Mbak Dewi gak kerja malam ini," tanya Panji.
"Dewi libur Malam ini, uang ku masih banyak, kan habis kamu kasih uang tadi sore," ujar Dewi,
"Jadi... Dewi pinggin istirahat santai di kos - kossan.
Panji, kamar kamu enak banget sekarang, ada Ac nya, baunya juga harum, jadi pinggin tidur di kamar mu."
"Boooleeh, silahkan kalau mau istirahat di kamar ku, tetapi ada syaratnya," kata Panji.
"Apa itu syaratnya," tanya Dewi penasaran.
"Syaratnya... Buatkan aku kopi hitam agak pait, dan pijitin kaki ku," jawab Panji.
"Gimana... Mau gak!!"
"Hahahaha, itu ajah syaratnya!!
Tak kirain di ajak tidur bareng, hahaha," ujar Dewi,
"Baiklah Panji, tak bikini kopi dulu, kamu tungguh di kamar yaaa."
Setelah berada di dalam kamar kos, Panji membongkar kardus berisi kitab terjemahan Bahasa Indonesia.
Tak lama kemudian, Dewi keluar dari kamarnya sambil membawah talam berisi 2 cangkir kopi dan camilan.
"Haaai! Dewi, mau kemana kamu, bawah talam segala," tanya Eka yang tinggal di kamar sebelah kamar Dewi.
"Kamu Eka, dari mana kamu, cantik banget," tanya Dewi.
"Biasaaa, ada yang boking tadi Sore, ini baru pulang," jawab Eka,
"Mau kemana siiih, kok bawah talam segala?"
"Mau ke kamar Panji, nganterin kopi.
Gak mau mandi air hangat di kamarnya Panji," kata Dewi tersenyum.
"Boleh boleh, asik juga nieh mandi air panas," kata Eka kemudian melangkah,
"Iya ya, baru ingat kalau tadi siang Panji pasang Ac dan renovasi kamarnya."
"Selamat Malam Panji," sapa Eka kemudian mendekat, lalu mencium pipi Panji,
"Makasih banget yaa, tadi di kasih uang banyak bangeeeeeet. Alhamdulillah, bisa buat bantu keluarga di kampung."
"Iya Mbak Eka, sama - sama," jawab Panji,
"Sering - sering aja ya cium Panji, gratis kok."
"Panji, ini kardus apa..? Kok banyak banget!!!" tanya Dewi sambil menyalahkan Tv.
"Ini buku semua Mbak," kata Panji.
Setelah membongkar 1 kardus... Panji mengambil buku kitab Fikih, lalu membacanya sambil tengkurap memeluk bantal.
***
Melihat Dewi dan Eka tertidur di depan Tv yang menyalah... Panji yang tengkurap kemudian beranjak pindah di teras kos - kossan sambil membaca kitab terjemah.
Setelah menaruh kitab di atas meja dan menyulut rokok marlboro... Panji berkata lirih,
"Kenapa sejak tadi aku teringat kata - kata Mbah Dirjo ya? Padahal Mbah Dirjo itu galak banget!
Mancing ikan besar umpannya juga besar?
Terus... Mbah Dirjo mengampar kepala ku tadi sambil bilang perminta'anku untuk bisa melihat wujud Rupa Gusti Allah itu terlalu berlebihan dan terlalu muluk.
Itu yang membuat mbah Dirjo marah kepada ku?
Iya iya... Apa yang di katakan mbah Dirjo itu benar, aku harus bisa ngaji Al qur'an dulu.
Jadi... Hanya wali lah yang bisa melihat wujud Rupa Allah dengan kedua mata dohirnya.
Yang membuat aneh... Mbah Dirjo bisa merubah daun menjadi uang dangan jumlah jutaan.
Siapa sebenarnya Mbah Dirjo itu..?
Aku besok harus minta maaf sama Mbah Dirjo, karena aku telah meng-ungkit - ungkit apa yang telah aku berikan pada Mbah Dirjo."
Coba aku baca kitab perjalanan hidup wali - wali Allah yang tadi aku beli" ujar Panji kemudian bergegas masuk kamar, lalu membongkar kardus berisi kitab.
Sambi membongkar kardus... Panji berkata lirih,
"Hemmm kamar ada Ac nya dan karpet tebal berbulu, Dewi dan Eka nyenyak sekali tidurnya.
Kasihan si Mbak - Mbak ini, demi kelangsungan hidup dia rela menjual tubuhnya.
Aku kasih uang 50 ribu senangnya minta ampun. Kira - kira berapa yaa tarif sekali boking? Kok tak kasih uang 50 ribu senang sekali.
Semoga saja Mbak Dewi dan Mbak Eka menjadi orang yang baik dan kaya raya, dan semoga mendapatkan suami yang baik yang mau menerima mereka apa adanya."
"Lah ini bukunya," kata Panji sambil berdiri kemudian ke teras kos kembali.
Sambil menikmati kepulan asap rokok... Panji berkata lirih,
Salah satu jalan suluk para wali - wali Allah yang di tempuh adalah solat malam 100 rokaat hingga 400 rokaat, dan dzikirullah yang tidak ada henti - hentinya, walau sang wali itu tidur.
Seorang salik calon wali, dia harus melakukan suluk khusus, yang sangat berat di bawah bimbingan seorang Mursid atau guru Torekot.
Waduuuh..! Solat 100 rokaat semalam, kalau bengini caranya..? Gak bisa dugem ke Diskotik aku, gak bisa nongkrong ke cafe dan jalan - jalan.
Beraaat beraaat!
Lalu..? Di mana aku bisa menemukan seorang guru Mursid itu?
Setiap hari ketemu purel - purel terus! Hemmm, kepinggin jadi wali saja ribet sekali, apa gak ada jalan pintaaas?"
Glodaaak!
Panji kaget mendengar suara barang jatuh dari dapur, kemudian bergegas ke dapur, lalu berkata lirih,
"Tidak ada yang jatuh..? Apa ini perbuatan arwah orang bunuh diri di kamar ini yaa?
Setan..! Tak kasih tau yaa... Kamar ini sudah aku tempati, jadi jangan suka iseng ganggu aku, atau ngaget - ngagetin aku!"
"Kalau kamu masih suka iseng... Aku patahkan tangan mu, ingat itu! Kamu kira aku takut apa!
__ADS_1
Udah, diam, aku mau belajar," ucap Panji kemudian ke teras lagi.
Setelah membaca beberapa lembar buku perjalanan hidup para wali Allah... Panji pun merebahkan badannya di karpet tebal kemudian tertidur.
Ketika Panji tidur... Panji bermimpi di datangi Nyai Sa'adah.
Dalam mimpi itu.. Panji di suruh sering berkunjung ke rumah Mbah Wali Dirjo.
***
Waktu terus berlalu, sambil mengeliat, Panji melihat jam dinding lalu berkata lirih,
"Sudah jam 1 Siang, lebih baik mandi dulu setelah itu cari makan.
Kemana Dewi sama Eka, kok gak ada?
Tok tok tok!
"Assalamualaikum," ucap Devi.
"Waalaikumsalam," sahut Panji kemudian membuka pintu,
"Eeee, Evi, ayo masuk sini, aku mau mandi dulu biar kelihatan ganteng."
Setelah duduk di karpet coklat muda... Devi berkata lirih, "Bagus banget kamar kos Panji ini.
Ad Ac nya lagi, mewah banget."
"Selamat Siang," ucap Aini yang berdiri di teras.
"Selamat Siang juga," jawab Evi,
"Eeee, Non Aini, ayoo masuk, Panji masih mandi.
Baru pulang sekolah ya?"
"Iya Devi," ujar Aini kemudian duduk di atas karpet.
"Haai Aini, pulang sekolah kok gak langsung pulang ke rumah," ujar Panji.
"Di rumah juga sepi Panji, makanya aku mampir main ke sini," kata Aini,
"Mas Panji gak ada acara siang ini?"
"Hemmm, gak ada, hanya mau beli kipas angin saja, sama cari makan siang sama Devi," ujar Panji,
"Kamu mau ikut?"
"Boleh," jawab Aini,
"Kebetulan aku tadi mau ajak kamu jalan - jalan ke Statistik, nongkrong - nongkrong aja sambil main.
Kebetulan ada Devi, sekalian ikut biar rame."
"Itu kardus banyak banget? Apaan sih isinya," tanya Aini.
"Itu buku," sahut Devi.
"Oh... Iya iya, nanti sekalian beli rak buku sama meja belajar," kata Aini.
Tak lama kemudian...
Panji dan Devi juga Aini menaiki mobil mewah yang terparkir di depan hotel. Tak lama kemudian mobil pun meluncur.
Setelah berada di lantai 1 Statistik Mall... Aini masuk ke sebuah gallery Electronik. Setelah membeli kulkas dan kipas angin juga lampu belajar... Aini keluar toko dan masuk kesebuah toko buku, lalu memesan meja belajar dan lampu belajar juga rak buku dan peralatan melukis.
"Enak sekali jadi anak orang kaya itu," ujar Devi,
"Devi, ayo kita ke lantai 4, kita makan Siang dulu, setelah itu kita balik ke kos - kossan.
Karena, barang - barang yang tadi aku beli akan segera di kirim."
Sambil menikmati Texas Chicken Goreng, Burger dan segelas es coca - cola... Panji, Devi dan Aini ngobrol dengan santai.
"Devi udah gak kerja di cafe SAS ya? Kok hari ini gak masuk kerja," tanya Aini.
"Iya Non Aini, aku di suruh Panji berhenti kerja," jawab Devi.
"Lalu, kamu mau kerja di mana," tanya Aini.
"Gak kerja, mau kursus bahasa inggris, kursus komputer dan menejemen bisnis, dan kursus mengemudi," kata Devi.
"Oh gitu ya? Lalu setelah kursus... Mas Panji mau cariin kerja gitu!!" tanya Aini.
"Katanya sih gitu, Mas Panji yang cariin kerja," ujar Devi,
Iya kan Mas Panji..?"
"Iya nanti aku yang cariin pekerjaan, yang penting kamu punya ilmunya dulu," kata Panji.
"Mas Panji... Devi rencananya mau kamu carikan kerja apa," tanya Aini.
"Kerja dagang saja, sewa tanah buat buka toko," jawab Panji.
"Devi... Pekerjaan apa yang kamu sukai," tanya Aini.
"Kuliner Non, urusan masak memasak hehehe, seperti yang ada di cafe SAS," jawab Devi.
"Begini saja... Mama ku punya Hotel dan Lestoran dekat Bandara.
Bagaimana kalau kamu kerja di restorannya milik Mama ku selama 1 atau 2 tahun.
Setelah kamu pintar dan menguasai ilmu bisnis restoran... Kamu membuka usaha sendiri," ujar Aini,
"Kayak buka usaha cafe gitu."
"Boleh, gak apa - apa," jawab Devi,
"Tetapi... Semua terserah Mas Panji, dia setuju apa tidak? Karena, Mas Panji yang punya rencana."
"Aku setuju saja, tetapi kamu harus tetap kursus, biar kamu pintar," jawab Panji.
"Baiklah, nanti aku bilang sama Menejer Restoran, biar dia yang atur," ujar Aini,
"Besok siang Devi pergi ke restoran yaa... Temui menejernya, ini alamat nya.
Bilang aja saya yang Nyuruh."
"Ayo kita balik ke kos, sudah Sore," kata Aini kemudian berdiri.
"Mas Panji, Non Aini... Aku jalan kaki saja yaa? Kan dekat sini kos ku," ujar Devi,
"Soalnya, aku harus mencari kos yang dekat Bandara, biar dekat dengan tempat kerja baru ku."
"Baiklah Devi, ambillah uang ini untuk kebutuhan mu selama di tempat kos baru," kata Panji sambil memberi setumpuk uang,
"Jangan lupa cari tempat kursus yaa?
Jaga diri baik - baik, semangat dan rajin rajin belajar.
__ADS_1
Kalau libur kerja... Jangan lupa main ke tempat kos ku."
"Terimakasih Mas Panji.
Terimakasih Non Aini, da daaa," ucap Devi sambil melambaikan tangannya.
Mobil pun meluncur perlahan lahan.
Setelah parkir di area Hotel... Aini dan Panji berjalan menuju kos - kossan.
Setelah berada di kamar kos, dan memasukkan barang pesanan yang ada di depan kamar... Panji menata buku di atas rak.
Sementara Aini menyimpan belanja makan dan minuman di dalam kulkas baru.
Setelah selesai dan santai, panji berkata,
"Aini... Tweimakasih atas kasur busanya juga kulkas dan semuanya."
"Sama - sama Mas Panji," jawab Aini sambil menata kayu untuk melukis.
"Siapa yang mau melukis ini," tanya Panji heran.
"Aku Mas Panji.
Nanti... Kalau ada waktu luang main kesini, aku akan melukis," kata Aini kemudian duduk santai.
Mengapa Aini melakukan semua hal ini kepada ku? Merenovasi kamar, pasang Ac sower air panas dingin, membeli kulkas dll," tanya Panji.
"Mulai pertama bertemu kamu... Aku suka kepada mu, aku ingin dekat dan berteman dengan kamu," jawab Aini.
"Mengapa kamu suka berteman dengan ku," tanya Panji.
"Aku melihat diri mu... Kamu sangat tenang, santai, bebas orangnya, dan kamu sangat bahagia menikmati hidup," ujar Aini,
"Aku juga merasa... Ada sesuatu hal yang istimewa di dalam diri mu.
Aku juga merasakan seperti ada ikatan batin yang sangat kuat dengan mu."
"Oh gitu yaa...
Kamu ini orang Cina apa Korea atau orang Thailand," tanya Panji.
"Papaku orang Cina, Mama ku asli Bandung, blasteran Cina dan Jawa," ujar Aini,
"Tetapi aku mirip dengan Mama ku, hehehe.
Kenapa emang..?"
"Gak pa - pa, tanya ajah. Yaa kamu putih banget dan cantik sekali, ternyata blasteran Cina dengan Jawa," ujar Panji.
"Mas Panji... Kamu gak sekolah kok beli buku sebanyak ini?!! Buku tentang Agama lagi. Buat apa? Mau jadi Ustadz yaa," ujar Aini.
"Dulu aku pernah belajar di pesantren, karena kitab kuning itu bahasa Arab, dan aku tidak bisa membacanya... Lebih baik aku beli kitab terjemahan Bahasa indonesia.
Kan sama saja, yang penting isinya," kata Panji,
"Anggap saja aku mesantren di Jakarta, di kamar kos - kossan. Lebih enakan belajar disini bebas dan cepat pintar, dari pada di pesantren. Ribet di pesantren itu, dan banyak aturan. Kalau di pesantren... Satu kitab bisa khatam 1 tahun bahkan 2-3 tahun. Kalau di tempat kos ini, 1 minggu juga khatam."
"Oh... Begitu ceritanya. Oh iya, Hari Raya Idul Fitri kurang 2 minggu lagi. Kamu mau balik ke Surabaya apa di Jakarta saja," tanya Aini.
"Gak tau, mau kemana, apa kata besok sajalah," kata Panji.
"Jalan - jalan di Bandung saja sama aku," ujar Aini,
"Aku orang kristiani, tetapi... Nenek dari Mama ku Islam.
Mama ku waktu menikah dengan Papaku... Mamaku masuk kirsten."
"Agama bukanlah penghalang hubungan pertemanan, juga bukan penghalang hubungan dengan keluarga.
Agama itu sama saja, yang membedakan hanya cara beribadah dan ke-Tahuidtannya saja.
Ini pendapat ku.
Yang penting saling menghormati dan menghargai kepercayaan masing - masing," kata Panji.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Panji kemudian berdiri,
"Eeeh, kamu Wilda, ayoo masuk sini."
"Iya Panji," ujar Wilda kemudian masuk dan duduk di atas karpet.
"Mas Panji... Aini mau balik dulu yaa, ini sudah Sore, banyak PR dari sekolah. Besok ketemu lagi yaa?
Da daaa."
"Siap, sampai jumpa," kata Panji.
"Wilda, ayo di minum, ini ada teh buah vita," ujar Panji,
"Kok tau aku disini?"
"Iya Panji, terimakasih. Di beri tau sama Devi," jawab Wilda,
"Devi tadi pamit, katanya mau pindah kos dekat Bandara.
Katanya dia mau kerja di sana, dan katanya kamu yang membantu Devi."
"Iya benar, aku yang membantunya, tetapi temen ku Aini yang memberi pekerjaan untuk Devi," jawab Panji.
"Panji... Wilda minta maaf yaa? Kemarin - kemarin aku telah menyinggung perasaan mu," ujar Wilda,
"Karena, kondisi kejiwaan ku tidak labil."
"Iya Wilda sama - sama," jawab Panji,
"Tetapi... Perasaan ku, kamu tidak punya salah kepada ku.
Jadi buat apa minta maaf."
"Kemarin lusa kan aku kamu suruh les privat dan aku ngomel - ngomel ke kamu," ujar Wilda,
"Aku terlalu egois."
"Wilda... Kemarin itu aku hanya berusaha merubah jalan hidup mu saja," kata Panji,
'Aku ingin kamu pintar dan mempunyai bekal ilmu untuk kehidupan yang lebih baik. Bukanya aku mengatur hidup mu, tetapi aku ingin kamu menjadi orang yang lebih baik dan mapan dalam ekonomi. Tetapi... Semua terserah kamu, mau yaa syukur gak mau ya gak apa - apa."
"Baiklah Panji, sekarang aku mau mengikuti kata - kata mu, aku mau les privat seperti kata mu kemarin lusa," ujar Wilda.
"Baiklah Wilda, aku mau membantu mu, kamu tidak usah kerja di Bar lagi, semua kebutuhan hidup mu di Jakarta... Aku yang tanggung. Tetapi ada syaratnya," kata Panji.
"Syaratnya apa," tanya Wilda.
"Kamu harus mencuci bajuku, membersihkan kamar kos ku dan menyediakan makan minum untuk ku," jawab Panji.
"Hemmm, baiklah, aku mau," kata Wilda.
__ADS_1
"Wilda... Aku memberi syarat begini, agar kamu ada kegiatan, biar kamu terbiasa seperti wanita umumnya.
Dan kelak, kalau kamu sudah punya suami... Kamu sudah bisa mengerjakan urusan rumah tangga," ujar Panji.