
Adzan Subuh terdengar mengema, tiba - tiba Dewi terbangun hendak ke kamar mandi,
"Loh Mas Panji belum tidur, mau solat subuh?!!"
"Iya Mbak," jawab Panji.
Sambil berjalan ke kamar mandi... Dewi berkata,
"Sudah bertahun - tahun aku tidak pernah solat Subuh. Melihat Panji solat Subuh... Kok aku jadi ingin ikut solat yaa?
Ikut solat sama Mas Panji saja, aku rindu sekali ingin sujud dan berdoa kepada Tuhan."
Setelah buang air kecil dan wudhu... Dewi berkata,
"Mas Panji, tunggu, aku mau ikut solat bareng Mas Panji."
"Baiklah," jawab Panji heran,
"Itu aku beli rukuk dan sajadah baru, Mbak Dewi pakai saja."
Setelah selesai solat berjamaah... Panji merebahkan badannya di kasur busa. Sementara, Dewi masih duduk di atas sajadah sambil wirid melantunkan tasbih dan istiqfar.
Panji yang merebahkan badannya... Mendengar suara Dewi yang merdu beristiqfar, Panji juga melihat Dewi yang menangis meneteskan air mata.
"Allahumma Sholi ala Sayyidina Muhammad wa ala ali Sayyidina Muhammad
Robby... Aku sangat merindukan saat - saat indah seperti ini, masa - masa sujud di masa kecil ku.
Yaa Robby... Ampunilah segala dosa - dosaku selama ini, yang telah melupakan-Mu, dan telah melanggar perintah-Mu.
Kadang hati ini ingin datang dan sujud di hadapan-Mu, tetapi aku tak bisa dan tak berdaya untuk melangkah.
Robby... Bimbinglah aku untuk bisa mengulang masa indah bersama-Mu.
Robby... Berilah aku rejeki yang cukup dan berlimpah, agar aku tak menjadi seorang pelacur lagi.
Jadikanlah aku hamba yang baik dan selalu ingat kepada Mu.
Allahumma Sholi ala Sayyidina Muhammad wa ala Sayyidina Muhammad
Aamiin..."
Medengar doa Dewi... Dalam hati Panji mengucapkan Aamiin 3x.
Hati Panji juga terasa sedih mendengar doa nya Dewi.
Setelah solat dan berdoa... Dewi merebahkan tubuhnya di samping Panji.
Waktu terus merambat, matahari telah meneranggi bumi.
Sambil menggeliat, Panji berkata lirih,
"Sudah jam 12 lebih, lebih baik mandi lalu solat Dzuhur.
Mbak Dewi udah hilang?"
*
Setelah selesai solat, Panji pergi ke sebuah Dealer Honda yang tak jauh dari Hotel Atlanta.
Setelah membeli sebuah motor... Panji kembali ke kamar kos melanjutkan membaca kitab.
Adzan Asar terdengar berkumandang.
Setelah selesai melaksanakan solat Asar, Panji pun melanjutkan membaca kitab lagi.
"Assalamualaikum," ucap ustadz Dani.
"Waalaikumsalam," jawab Panji kemudian membuka pintu,
"Eee, ustadz Dani, silahkan masuk ustad. Panji sudah siap nieh."
"Baiklah Mas Panji, mari kita mulai belajar membacanya," ujar ustadz Dani kemudian membuka Al qur'an.
Setelah belajar 1,5 jam, ustadz Dani dan Panji duduk santai sambil ngobrol.
"Ayoo ustadz silahkan di minum teh nya," ujar Panji,
"Ini rokok djarum super kesukaan ustadz."
"Aduuh, ngrepoti Mas Panji saja," ujar ustadz Dani,
"Terimakasih banyak Mas Panji...
Oh iya Mas Panji... Saya tadi malam mimpi ketemu sama Mas Panji."
"Mimpinya gimana ustadz, baru juga kenal langsung mimpi saya, hehehe," kata Panji.
"Mimpi Mas Panji di gendong di punggung sama seorang Nenek, dan di samping seorang Nenek itu ada seekor Harimau yang sangat besar," ujar ustadz Dani,
"Dalam mimpi itu...
Saya sedang menanggis di teras masjid seorang diri, lalu Mas Panji turun dari gendongan si Nenek, lalu mendekati saya dan memberi saya tisu dan segelas susu berwarna hijau.
Ketika Mas Panji mau pergi... Si Nenek itu pesan kepada ku, katanya begini "jika kamu lapar dan haus, mintalah makan dan minum kepada cucu ku ini," Si Nenek menunjuk ke arah Mas Panji.
Hanya itu mimpinya. Dari Pagi hingga sekarang... Saya terus memikirkan arti mimpi itu, apa maknanya?
Barangkali Mas Panji mengerti perihal mimpi saya."
Nenek dalam mimpi itu Nyai Sa'adah ustadz, dan Harimau itu adalah Kakek Jabat suaminya Nyai Sa'adah," jawab Panji,
"Mereka adalah orang yang sangat menyayangi saya, dan mereka yang merawat saya.
Kalau artinya mimpi itu... Saya tidak tau ustadz.
Mungkin saja... Kalau ustadz ada kesulitan, mungkin di suruh minta bantuan sama saya."
"Oh, gitu ya Mas Panji," kata ustadz Dani.
"Ustadz emang ada kesulitan apa," tanya Panji.
"Tidak ada Mas Panji, hanya saja... Ayah dan ibu saya sering menyuruh ku beristri lagi. Ayah dan ibu ku ingin menimang cucu," ujar ustadz Dani,
"Karena aku adalah anak pertama dari dua bersaudara,
tetapi... Saya belum menemukan seorang perempuan yang cocok.
Sudah sore Mas Panji, saya mau balik dulu ya."
"Iya ustadz, trimakasih banyak," ujar Panji.
"Selamat Sore... Dengan Mas Panji," tanya pegawai deler.
"Iya benar, dari deler honda ya..? Motornya taruh situ aja Pak. Ini buat beli rokok ya Pak," ujar Panji sambil memberi uang.
Adzan Magrib berkumandang, ketika Panji hendak mandi... Wilda datang dan uluk salam,
"Assalamualaikum," kemudian masuk kamar kos.
"Waalaikumsalam Wilda," jawab Panji,
"Aku mandi dulu ya."
Sambil mandi, Panji berkata dalam hati,
"Wilda berubah sangat drastis sekali ya... Setiap ke sini selalu uluk salam, gak seperti dulu, datang langsung masuk langsung mencium, kandang memeluk.
Dia juga mau cuci baju dan masak juga bersih - bersih kamar.
Semoga saja dia jadi wanita yang baik dan sukses."
Setelah mandi... Panji melihat Wilda sedang mencuci baju, lalu berkata,
__ADS_1
"Wilda, itu ada komputer baru, kamu gak usah ke rental, belajar di sini saja.
Kalau kamu balik ke kos... Gak usah jalan kaki lagi.
Itu aku belikan motor untuk tranportasi kamu les dan bepergian."
"Iya Mas Panji, terimakasih banyak ya, atas perhatiannya," ujar Wilda.
"Kamu gak mencium ku sebagai tanda terimakasih," goda Panji,
"Biasanya juga bentar - bentar memeluk dan mencium ku."
"Hemmm, baiklah," kata Wilda kemudian berdiri dan mencium pipi Panji.
"Wilda, kemarin lusa, aku beli sajadah, ruko, jilbab dan tasbih untuk mu... Barangkali kamu kepinggin solat," ujar Panji.
"Iya Mas, siap. Wilda akan coba berusaha untuk rajin solat," jawab Wilda.
"Ya gitu," kata Panji sambil memberi acungan jempol,
"Nakal boleh, asal jangan sampai ninggalin solat.
Kamu mandi dulu, terus solat berjamaah sama aku."
Setelah solat berjamaah... Wilda melanjutkan masak, Panji berkata,
"Wilda, aku pergi dulu yaa, kamu di sini saja belajar komputer dulu. Kalau mau balik ke kos, kamu naik motor saja, kalau mau tidur sini juga gak apa - apa."
"Baiklah Mas, hati - hati di jalan," kata Wilda.
Tok tok tok..!
"Mbak Dewi," panggil Panji.
"Iya Mas ganteng... Sebentar," sahut Dewi kemudian membuka pintu,
"Siaaap, ada apa ganteng!!"
"Mbak Dewi... Malam ini Mbak Dewi aku boking ya? Mau gak," ujar Panji,
"Aku boking 1 bulan."
"Yang bener Mas Panji? Bikin aku deg - deg kan saja," ujar Dewi tertawa,
"24 jam 50 ribu loh! Full servis, hahaha."
"Bener," jawab Panji,
"Sekarang Mbak Dewi ikut aku yaa... Aku butuh teman untuk jalan - jalan."
"Serius nieh? Baiklah, aku ganti kaos dulu," kata Dewi kemudian masuk dan ganti kaos.
Tak lama kemudian...
Panji dan Dewi berjalan menelusuri trotoar.
"Mas... Tak kira ke hotel Atlanta hahaha. Ternyata jalan - jalan di trotoar," ujar Dewi,
"Apa Mas Panji beneran mau boking Dewi 1 Bulan?"
"Bener Mbak, nanti habis jalan - jalan aku bayar chas 50 ribu x 30 hari, jadi 1,5 juta," kata Panji,
"Sekarang Mbak Dewi temani aku ke Statistik Mall."
Setengah tidak percaya... Dewi mengangguk kan kepala sambil berkata,
"Iya iya."
Setelah berada di Statistik Mall, Panji memasuki gallery toko perlengkapan muslim yang terkenal mahal,
"Mbak Dewi... Aku belikan baju muslimah, Mbak Dewi pilih sendiri. Ambil yang banyak Mbak."
"Yang benar Mas Panji? Ini harganya sangat mahal - mahal," ujar Dewi sambil melihat bandrol yang tergantung di setiap baju.
"Ambil 10 stel sekalian, besok kalau pinggin lagi, aku belikan."
"Baiklah Mas ganteng," ucap Dewi kemudian memilih baju.
Setelah kurang lebih 1 jam, Panji membayar semua baju yang di pilih Dewi. Kemudian Panji mengajak Dewi makan di Texas Chicken.
Sambil menikmati makan Malam... Dewi berkata,
"Mas ganteng... Kalau boleh tau, mengapa Mas memboking ku selama 1 bulan, sedangkan Mas Panji aku kasih gratis saja gak pernah mau. Dan mengapa Mas membelikan aku baju hingga habis 3 juta lebih."
"Karena aku mendengar doa mu tadi Subuh Mbak," jawab Panji,
"Kan Mbak Dewi berdoa ingin berhenti kerja jadi wanita penghibur, dan Mbak Dewi juga berdoa ingin mempunyai rejeki yang cukup, dan menjadi wanita baik - baik."
"Oh, gitu ya!! Padahal aku asal bunyi saja waktu berdoa.
Karena aku sudah jemu hidup kayak gini. Hidup terhina dan selalu di buat mainan sama lelaki hidung belang," ujar Dewi,
"Ternyata Tuhan mengabulkan doa ku lewat kebaikan mu.
Walau kamu... Mas Panji masih remaja, tetapi pikiran mu sangat dewasa. Kamu remaja yang cerdas. Terimakasih ya Mas ganteng... Kamu baik sekali."
Setelah selesai makan Malam, Panji dan Dewi kembali menelusuri trotoar menuju kos - kossan.
***
Setelah sampai di kos - kossan... Panji berkata lirih,
"Wilda belum balik ke kos - kossan nya, motornya masih ada.
"Assalamualaikum," ucap Panji sambil membuka pintu,
"Wilda lagi solat, lebih baik aku tunggu di teras saja."
Sementara... Dewi sudah masuk kamar kosnya.
"Mas Panji, ngapain di luar," tanya Wilda yang sudah selesai solat.
"Gak apa - apa, capaik saja habis jalan kaki," jawab Panji.
"Wilda balik dulu ya Mas," ujar Wilda.
"Kamu gak salim dulu cium tangan," goda Panji.
"Iya iya... Wilda salim sama Pak ustadz Panji," ucap Wilda kemudian salim,
"Assalamualaikum, da daa."
"Hati - hati di jalan ya," kata Panji.
Setelah Wilda pergi... Panji masuk ke kamar dan melanjutkan membaca kitab sunnah fikih.
Baru saja membaca kitab... Tiba - tiba Dewi datang dengan mengenakan jilbab dan busana muslimah.
"Mas ganteng... Cantik gak Dewi pake baju ini," ujar Dewi.
"Hemmm, cantik sekali... Jadi agak naksir diriku," goda Panji.
"Hahaha, bisa ajah kamu Mas ganteng. Dewi bikinin kopi panas Mas, habis ini Dewi ikut baca kitab, siapa tau dewi jadi bu Nyai, hahaha," ujar Dewi.
Tak lama kemudian...
"Ini Mas ganteng kopi nya," ujar Dewi kemudian mengambil kitab di atas rak.
"Fadilah sholawat," gumam Dewi,
Solawat irodah.
Mas Panji... Apa artinya irodah itu."
Irodah adalah salah satu sifat Gusti Allah, yang artinya Berkehendak," jawab Panji,
__ADS_1
"Maksudnya... Gusti Allah menghendaki apa yang tidak mungkin menjadi mungkin."
"Ooh iya iya," kata Dewi kemudian melanjutkan membaca,
"Siapa yang istiqomah membaca sholawat irodah ini sehari 1000x, maka Allah akan membuka kan 70 pintu rahmat dan mengabulkan 1000 hajatnya."
"Apa benar Mas, kalau membaca sholawat irodah itu akan di bukakan 70 pintu rahmat dan di kabulkan 1000 hajatnya," tanya Dewi.
"Iya bener itu, sebab orang yang membaca sholawat secara istiqomah... Akan mendapatkan syafa'at dari kanjeng Nabi. Mendapat syafa'at di dunia dan akhirat," ujar Panji,
"Tetapi... Kalau Mbak Dewi membaca sholawat tanpa pamrih... Tanpa permintaan apa - apa, membaca sholawat karena cinta kepada kanjeng Nabi... Maka akan di buka kan 70 ribu rahmad dan di kabulkan semua hajatnya, bukan 1000 hajat lagi.
Kalau membaca sholawat itu yang ikhlas, agar di dunia dan di alam kubur juga alam akhirat di beri syafa'at oleh kanjeng Nabi.
Kalau membaca solawat itu ada pamrihnya atau minta imbalan atau karena Fadilahnya... Maka syafa'at itu di berikan hanya di dunia saja, dan di akhirat tidak mendapat syafa'at."
"Lalu... Mengapa di kitab sholawat ini kok di terangkan Fadilah nya, kan nanti orang bersolawat karena Fadilah nya, ada pamrihnya," ujar Dewi.
"Itu hanya taktik dan politik para ulama pengarang sholawat, agar orang awam mau membaca sholawat," jawab Panji,
"Kalau orang tau fadilah nya kan dia bersemangat untuk bersholawat.
Kalau gak ada embel - embel fadilah nya... Mana ada orang yang mau bersholawat?
Seperti orang solat, kalau gak di iming - imingi surga... Mana ada orang solat?
Coba kalau gak di janjikan surga... Mana ada orang solat?
Itu juga taktik dan politiknya gusti Allah."
"Berarti Tuhan itu juga berpolitik ya Mas," ujar Dewi.
"Iya, Gusti Allah itu Maha Berpolitik.
Dengan politikNya... Maka ada yang namanya perbedaan pendapat Ulama," kata Panji.
"Aduuuh... Ternyata kamu pintar juga ya, kayak kyai ajah kalau menjabarkan," kata Dewi,
"Mulai malam ini... Aku akan baca sholawat irodah dengan ikhlas tanpa pamrih."
"Kalau baca solawat irodah... Minimal sehari semalam itu 1000x sampai 3000x.
Maksimal nya bebas," ujar Panji.
Baiklah Mas ganteng.
Aku sudah ngantuk, mau tidur sini ajah," kata Dewi kemudian merebahkan badannya di kasur busa.
"Sudah jam 12, " Gumam Panji sambil melihat jam dinding,
"Dewi juga sudah tidur, lebih baik aku belajar solat saja."
Setelah wudhu dan menggelar sajadah... Dewi berkata,
"Gak bisa tidur Mas Panji. Mas Panji mau solat apa..? Aku ikut jamaah ya?"
"Boleh, buruan wudhu.
Mau Solat isak, solat hajat dan solat tahajut," jawab Panji.
"Tunggu ya Mas ganteng," kata Dewi.
Setelah wudhu... Panji solat berjamaah dengan Dewi.
Setelah solat Isak, solat Hajat 12 rokaat dan solat Tahajut 12 rokaat... Panji bertawasul kemudian membaca dzikir ismudzat.
Baru saja berdzikir kurang lebih setengah jam, Dewi merasa ngantuk, lalu merebahkan kepada di samping paha Panji.
Melihat Dewi tidur di sampingnya... Panji tetap melakukan dzikir ismudzat perlahan - lahan.
Disaat dzikir... Panji mendapat bisikan suara dari Syeh Hamdani Al bantany,
"Gus... Lelaku yang sangat sulit itu adalah Lelaku Lawan Arus"
Sambil berdzikir Panji bertanya,
"Apa itu Syeh, Lelaku Lawan Arus?"
Lelaku Lawan Arus adalah... Gus harus melanggar aturan Syari'at dalam menjalankan Torekot," jawab Syeh Hamdani.
"Maksudnya bagaimana Syeh... Aku kurang faham," ucap Panji sambil berdzikir.
"Sembunyikan lah amal ibadah mu... Perlihatkan lah keburukan mu," ujar Syeh Hamdani,
"Ini untuk menguji seberapa besar iman mu juga seberapa kuat dirimu dalam menjalankan Lelaku."
"Bisakah Syeh memberi contoh," tanya Panji.
"Belajarlah menjadi orang gila atau pura - pura gila, tetapi jangan sampai putus dzikir mu," jawab Syeh Hamdani,
"Solatlah sambil melihat Tv. Solatlah di depan perempuan cantik yang telanjang, solatlah di pinggir jalan, di tengah keramean.
Jangan tunjukan kebaikan mu pada mahluk, tetapi tunjukkanlah kebaikan mu di hadapan Allah."
"Apa Syeh ini sudah gila ya," kata Panji,
"Mengajari aku salah dan sesat?"
"Gus tau kan Mbah Dirjo...? Dia seorang wali Allah yang menjalankan Lelaku Lawan Arus," ujar Syeh Hamdani.
"Apa benar Mbah Dirjo itu seorang wali Allah? Aku tidak percaya," kata Panji.
"Gus tidak percaya, karena hati kamu masih terhijab. Gus hanya melihat dengan kedua mata dohir saja," ujar Syeh Hamdani,
"Begini saja... Besok jam 10 pagi, kamu berkunjung ke rumahnya. Kamu akan menyaksikan sendiri kewaliannya Mbah Dirjo.
Saat Gus berkunjung... Bacalah wirid ya Asik ya Asik."
"Baiklah Syeh, akan aku laksanakan petunjuk dari Syeh," kata Panji,
"Kalau semua tidak terbukti... Syeh jangan menyesal."
# Pengumuman.
*sekelumit cerita indah berakhir Luka.
"Santri Mbeling"
Setelah kepergian Panji untuk ke dua kalinya... Aini baru menyadari kalau dirinya jatuh cinta kepada Panji sahabatnya.
Karena rasa rindu membuat dirinya sangat tersiksa... Akhirnya Aini melakukan perjalanan keliling Asia.
Dan pada suatu perjalanan yang sangat menyedihkan... Aini akhirnya menjadi pengamen jalanan dan menjadi pelukis jalanan di beberapa ibu kota di wilayah Asia.
Semua bisnis Aini di serahkan dan di urus sama Wilda dan Evi orang kepercayaan nya.
Hingga pada suatu hari yang tidak di sengaja... Ketika Aini melakukan perjalanan di pulau Bali, Aini bertemu Panji di pinggir jalan di sekitar Pantai Kuta.
Ketika pada perjalanan di JAGAD Timur pulau Bali... Panji mengalami Majedub tingkat tinggi dan tidak mengenal Aini.
Apakah Aini masih ada rasa cinta di hatinya?
Simak Episode selanjutnya
Dalam kisah "Cinta bertepuk sebelah Tangan"
#iklan Santri Mbeling
Syeh Abdul Jalil Al Qurtubi, Guru Besar Mursid Torekot Al Jabbari, adalah Guru spiritual pertama Ahmad Panji Hening.
Dalam bimbingan syeh Abdul Jalil Al Qurtubi selama 25 tahun lewat jalur Patas... Inilah Awal Panji mengalami Majedub Tingkat Tinggi selama bertahun - tahun.
#Panji Daftar Wali Lewat jalur Temen "Bersungguh sungguh"
__ADS_1