
Selepas pemakaman Deefa masih setia berada di pusara dengan batu nisan bertuliskan nama pria yang dia panggil Bapak.
Seorang pria yang menjadi Bapak kandungnya yang memang sudah berusia setengah abad itu dan sering sakit-sakitan akhirnya sekarang sudah tidak lagi bisa Deefa lihat, meskipun mereka tidak tinggal bersama sejak Deefa kecil tapi tetap saja kasih sayang dan ikatan mereka begitu kuat, darah yang mengalir di tubuh Deefa adalah darah sang Bapak.
Orang tua yang tidak pernah mau melihatnya bersedih bahkan saat Deefa sempat hampir berpisah dengan Raffan pun, Bapaknya itu turut merasakan apa yang Deefa rasakan, sakit hati serta kecewa yang putrinya rasakan senantiasa dia rasakan juga, mungkin jika pria tua itu tahu kalau saat ini Deefa tengah tertekan oleh Ibu mertuanya Deefa yakin Bapaknya itu turut bersedih juga.
"Mau hujan sayang, lebih baik kita pulang sekarang," bujuk Raffan yang setia menemani istrinya itu sejak dari pertama mereka datang, pria itu terus berada di samping istrinya, kalau pun harus pergi untuk membantu para tetangga yang sibuk dia akan kembali dengan cepat.
Dia memperlihatkan betapa dia sangat setia menemani wanita yang menjadi istrinya itu, wanita yang tengah berduka karena kehilangan sosok yang disayangi jelas bukan hal yang mudah, akan ada tangisan dan kesedihan yang menghiasi wajah cantik istrinya itu.
"Aku masih mau disini Mas," Deefa menolak ajakan dari pria yang ikut berjongkok di sampingnya.
Tempat pemakaman itu sudah sangat sepi dan hanya menyisakan mereka berdua, sedangkan para pelayat yang tadi turut serta mengiringi ke pemakaman sudah pulang ke rumah mereka masing-masing dan sebagian mungkin masih ada di rumah duka guna menemani si penghuni rumah yang baru saja ditinggalkan.
"Tapi langit sudah sangat gelap, dan hujan mungkin akan turun dengan deras," ucap Raffan menatap langit yang menghitam serta hembusan angin yang menciptakan harum tanah sebagai pertanda bahwa apa yang dia katakan memanglah benar.
"Besok kamu masih bisa kesini lagi," bujuk Raffan ketika mulai merasakan tetesan-tetesan kecil air yang turun dan mengenai kulit tangannya.
Untunglah sebelum hujan turun makin deras Deefa mau juga di ajak pulang, dan sekarang mereka sedang berjalan dengan sedikit berlari agar air hujan tidak semakin membasahi pakaian mereka.
Jarak pemakaman dengan rumah Deefa tidak terlalu jauh hanya saja untuk menuju tempat itu harus melalui jalan yang berbelok-belok dan cukup sempit sehingga mereka tidak perlu membawa mobil.
Tepat saat mereka tiba di rumah orang tua kandung Deefa bukan turun dengan sangat deras disertai dengan angin yang menerbangkan dedaunan kering yang lepas dari dahannya.
"Assalamualaikum," ucap Deefa dan Raffan saat hendak masuk ke dalam rumah yang masih ada beberapa orang pelayat termasuk Ayah dan Ibunya Raffan yang semalam langsung menyusul begitu diberitahu oleh Raffan.
Mereka tampak tengah menemani wanita tua yang baru saja kehilangan suaminya, wanita tua yang mungkin harus terbiasa untuk hidup seorang diri di rumah itu, karena setelah ini pasti orang-orang akan pulang ke rumah mereka masing-masing begitupun dengan putri semata wayangnya yang akan kembali ke Jakarta bersama dengan suaminya.
__ADS_1
"Mas," Deefa duduk di tepian tempat tidur kamar miliknya yang sudah begitu lama tidak dia tempati, tempat tidur dari kayu dengan kasur kapuk yang begitu sederhana hanya dilapisi dengan seprai agar kasur menjadi rapi dan nyaman untuk ditempati.
"Kenapa? kamu lapar? aku ambilin makan ya?" tanya Raffan pada sang istri.
Sejak semalam istrinya itu belum makan apapun bahkan mereka langsung berangkat begitu mendapatkan berita duka itu, tidak sempat untuk mengisi perut dan ini sudah malam lagi, itu artinya hampir 24 jam istrinya dan dia tidak makan apapun hanya air putih yang masuk ke dalam perut mereka.
Deefa menggeleng lambat menatap pria yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk karena pria itu baru saja selesai mandi, "aku ingin disini dulu nemenin Emak apa Mas keberatan?"
Raffan menghentikan apa yang sedang dia lakukan lalu mendekati wanita yang tetap memakai kerudung meskipun sekarang mereka hanya berdua saja di dalam kamar dengan handuk berwarna putih masih berada di tangannya, "sampai kapan? kalau hanya dua atau tiga hari aku bisa menemanimu disini, kita akan pulang bersama," ujar Raffan mengatakan rencananya.
Untuk kedua kalinya Deefa menggelengkan kepala menyiratkan bukan begitu yang dia inginkan.
"Kamu mau berapa lama?" tanya Raffan lagi seraya menatap dalam wanita di depannya yang sekarang menunduk, mungkin merasa tidak enak mengatakan apa yang dia inginkan, karena biar bagaimana pun dia sudah menjadi seorang istri dan istri harus mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya selagi tidak menyalahi aturan Allah.
"Mungkin satu bulan."
"Hah?" Raffan hampie saja terkena serangan jantung mendengar permintaan istrinya.
"Deefa tidak tega tinggalin Emak sendiri, setidaknya sampai Emak terbiasa," Deefa memberikan alasan.
"Tapi kalau memang Mas keberatan tidak apa-apa Deefa akan ikut Mas pulang ke Jakarta kapan pun Mas mau," Deefa menyambung perkataannya dan ini yang menjadikan Raffan tidak tega jika harus memaksakan keinginannya.
Alasan yang istrinya berikan cukup masuk akal dan bisa diterima, tapi jujur saja dia rasanya dan sebenar-benarnya tidak bisa kalau harus berpisah dengan istrinya selama satu bulan, dia seorang pria normal yang sewaktu-waktu membutuhkan belaian dari istrinya.
"Aku izinkan tapi jangan sampai satu bulan juga Deef, setidaknya kamu harus kasihan dengan teman main mu," oceh Raffan bernegosiasi agar istrinya tidak sampai satu bulan.
Padahal tadi pun Deefa mengatakan hanya sekedar mungkin bukan pasti dia akan satu bulan di rumah orang tuanya, tapi kenapa Raffan malah tidak mengerti.
__ADS_1
"Teman main?" bingung Deefa dengan ucapan yang suaminya lontarkan, memangnya siapa teman mainnya?
Raffan memberi kode dengan matanya pada bagian tubuh yang dia sebut sebagai teman main.
Deefa meringis malu begitu sadar bagian pribadi suaminya lah yang di maksud itu, dalam keadaan Deefa yang matanya masih merah dan sedikit bengkak karena menangis pun bisa-bisanya Raffan malah membuat dia menjadi sangat malu.
"Jangan lama-lama ya sayang," bisik Raffan pada wanita yang meremas ujung kerudungnya.
Deefa mengangguk mengiyakan permintaan pria di sampingnya.
Cup!
Raffan pun menghadiahkan kecupan di kening istrinya lalu mengelus-elus lembut puncak kepala yang tertutup kerudung itu.
Sekarang mereka sedang berada di halaman rumah yang tampak becek setelah hujan melanda satu jam yang lalu, mereka berada di halaman ini untuk mengantarkan Ayah dan Ibunya Raffan yang akan segera kembali ke Jakarta, sedangkan Raffan masih akan berada di kampung halaman istrinya sekitar dua atau tiga hari, yah itupun kalau dia tidak kumat, kalau kumat sepertinya dia baru akan kembali ke Jakarta bersamaan dengan istrinya.
Sepanjang ini Raffan sama sekali tidak melihat Ibu dan istrinya mengobrol, keduanya terlihat seperti orang asing yang tak saling mengenal, ah tidak lebih tepatnya dia melihat ibunya yang seperti tidak menganggap keberadaan Deefa, sedangkan Deefa Raffan lihat sendiri bagaimana istrinya itu berusaha untuk mendekat dan mengajak Ibunya berbicara seperti dulu saat ibunya belum menuntut cucu dari mereka.
"Sabar sayang, nanti juga ibu akan baik lagi kayak dulu," kata Raffan menenangkan istrinya yang tengah menatap mobil yang sudah melaju menjauh membawa kedua orang tuanya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*