Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Jadi Mandor!


__ADS_3

"Cepetan lah, Lo berdua jadi cowok tenaganya nggak ada!" omel Raffan pada dua temannya yang tengah mencoba mengeluarkan lemari dari kamar lama Deefa.


Perut mereka memang sudah terisi dengan makanan dan sangat kenyang, tapi makanan itu benar-benar belum masuk dengan benar ke dalam pencernaan dan Raffan sudah memaksa mereka untuk mengangkat lemari, bukankah seharusnya mereka duduk-duduk santai dulu menunggu makanan meluncur turun ke dalam pencernaan mereka?


Tapi dengan konyolnya Raffan malah menarik keduanya ke dalam kamar di saat Deefa sedang ke halaman belakang untuk menjemur pakaian yang sudah dia cuci.


"Lemari Lo terbuat dari batu ya, berat bangat ini," protes Gumay yang kewalahan dengan lemari berpintu tiga itu.


"Lo pikir zaman purba!" dengus Raffan, "mana ada lemari dari batu."


"Ada aja kalau Lo kurang kerjaan mah pesan lemari dari batu!" sambar Gumay tak mau kalah, terlebih lagi Raffan tengah melakukan perbudakan pada mereka, seolah mereka sekarang berada di zaman penjajahan.


"Bantuin apa Raf, ngapain Lo malah jadi mandor," celetuk Rio yang sejak tadi melihat Raffan hanya sibuk mengoceh sedangkan anggota tubuhnya malah tengah menganggur di dekat tempat tidur.


"Gue ngarahin Lo berdua biar nggak kepentok," menjawab sesuka hati menyelamatkan diri dari tudingan Rio yang memang nyata.


"Brengsek emang!" maki Gumay mendengar Raffan yang selalu saja bisa memberi jawaban dengan cepat.


"Mas."


Panggilan dari arah luar kamar membuat Raffan dengan tergesa mendekati lemari lalu bertingkah seolah tengah membantu Gumay dan Rio mengangkat lemari itu.


"Aku lagi angkat lemari Deef," sahut Raffan dengan suara kencang.


"Raja drama berulah," sungut Gumay melihat tingkah laku Raffan.


"Oh ya sudah," kata Deefa ketika mengintip di depan pintu yang terbuka lebar.


Raffan menunjukkan cengiran puas ketika Deefa hendak meninggalkan tempat itu.


"Mbak Deefa," suara Gumay membuat Deefa berhenti.


"Mbak Deefa! Lo pikir istri gue pelayan kantin kampus yang Lo panggil Mbak!" cecar Raffan tidak terima dengan panggilan Gumay terhadap istrinya.


"Oh Kak Deefa kalau begitu," kata Gumay lagi.


"Dia bukan Kakak Lo!" tetap tidak suka dengan panggilan yang Gumay katakan.


"Deefa aja panggil Deefa," saran Rio.


"Jangan songong! Deefa lebih tua dari kalian." malah lebih tidak suka membuat Rio dan Gumay bingung terlebih saat ini Deefa tengah melihat ke arah mereka.


"Lo aja panggil Deefa, Raf," Rio membela diri sebab sedari tadi dia mendengar Raffan memanggil Deefa meski kadang juga memanggil sayang.


"Gue suaminya, mau dia lebih tua tetap aja gue kepala keluarga, nama gue ada diurutan paling atas di kartu keluarga." mengatakan posisinya dengan wajah yang songong dan penuh kemenangan saat Gumay dan Rio tak lagi bisa berkata.

__ADS_1


"Kamu ngapain masih di situ?" sekarang beralih pada Deefa yang sedari tadi belum beranjak.


"Mereka kan panggil Deefa Mas," sahut Deefa melihat Gumay dan Rio bergantian.


"Nggak jadi!" Raffan menjawab tegas.


Deefa pun mengedikkan bahu lalu pamit pada mereka.


"Ya terus, ke kanan sedikit mentok pintu itu."


Dan sekarang terdengarlah suara Raffan yang tengah memberi arahan kepada temannya yang berusaha memindahkan lemari dengan hati-hati, karena jika lemari lecet sedikit saja Raffan mengancam tidak akan mentraktir mereka kalau menang balapan nanti malam, padahal mereka dengan jelas mengenal bagaimana seorang Raffan itu, ancaman tidak akan pernah benar-benar dia buktikan, hanya sekedar omong kosong belaka agar keinginannya dipenuhi.


Mengingat soal balapan nyatanya Raffan belum juga berbicara pada istrinya itu, sepertinya memang tidak ada niat untuk meminta izin, jadi biarkan saja dia menerima akibatnya nanti.


Selangkah demi selangkah Gumay dan Rio membawa lemari itu ke lantai atas, meniti anak tangga dengan keringat yang sudah bercucuran menunjukkan kalau saat ini mereka sungguh merasa panas sekaligus lelah.


Akhirnya dengan susah payah lemari itupun kini berjejer rapi di samping lemari milik Raffan yang sudah terisi penuh.


"Padahal itu ada lemari, ngapain masih ngangkut lemari yang di bawah juga," sungut Gumay menjatuhkan tubuhnya di lantai, dia dan Rio cukup tahu diri untuk tidak meniduri kasur yang sekarang menjadi tempat perang Raffan dan Deefa.


Dulu mungkin mereka tidak akan segan bergulingan di atas tempat tidur, tapi sekarang sudah tidak lagi sama, sungguh sangat tidak sopan dan tidak beretika jika mereka masih menyamakan dengan yang dulu.


Dulu Raffan seorang bujangan sama seperti mereka, tapi sekarang tidak lagi karena ada seorang wanita yang menemaninya tidur dengan status istri dan sangat halal untuk diapakan juga.


Mata Gumay dan Rio membelalak lebar dengan kepadatan lemari itu layaknya lalu lintas ibukota yang sering sekali terjadi kemacetan.


"Di sana masih ada pakaian milik istri gue yang belum kebagian tempat, kalau lemari ini nggak di pindahin terus mau di taruh dimana pakaian istri gue?" menunjuk sudut ruangan yang mana terdapat tumpukan-tumpukan tinggi dengan berbagai macam warna, jelas itu pakaian serta kerudung milik Deefa yang tengah menanti untuk di masukkan ke dalam lemari.


Rio yang tadinya berdiri pun ikut menjatuhkan tubuhnya ke lantai duduk di samping Gumay yang masih ngos-ngosan, napasnya masih terdengar berat bagaikan seorang yang baru menyelesaikan Marathon.


"Teman-teman Mas sudah pulang?" tanya Deefa yang tengah menuruni anak tangga.



Tadi dia berada di ruang baca, merapikan buku-buku bacaan yang memang sangat berantakan, mungkin saat dia tidak ada Raffan menyibukkan dirinya membaca juga mempelajari apa yang belum dia ketahui tentang hukum-hukum menyangkut rumah tangga serta suami istri, sebab buku-buku yang berantakan serta berserakan di atas meja lebih banyak tentang hal itu.



"Sudah, buru-buru mereka," jawab Raffan sambil menutup pintu, berbohong padahal temannya itu tadi masih sangat betah tapi dia yang memaksanya untuk pulang setelah puas menguras tenaga mereka.



"Nanti kita ke rumah Ayah dan Ibu ya."


__ADS_1


"Ngapain?" tanya Raffan mengikuti sang istri yang menuju dapur.



"Mereka minta kita ke sana, ibu kangen sama aku katanya," jawab Deefa membuka lemari pendingin mengeluarkan buah-buahan yang ingin dia makan, "Mas mau?" tawarnya pada Raffan yang menggeleng.



"Berapa lama?" tanya Raffan dengan wajah waspada.



"Nginep, besok pagi baru pulang," jawab Deefa mencuci buah apel di wastafel lalu mengelapnya dari air yang tersisa.



"Aku ada urusan nanti malam, besok aja deh kesananya," ucap Raffan.



Deefa meletakkan apel di piring lalu beralih menggambil pisau, "urusan apa? penting banget?" tanya Deefa dengan pisau yang ada di tangannya.



Raffan sedikit ngeri dengan pisau berkilau yang menunjukkan kalau benda itu sangat tajam dan bisa memotong apa saja, mungkin termasuk dirinya?



"Lumayan penting," katanya sambil melirik pisau yang sekarang tengah mengupas kulit apel.



"Nggak bisa di tunda dulu?"



Raffan menggeleng cemas lalu mulutnya berkata, "nggak bisa sayang, benar-benar penting, nginepnya lain kali aja ya."



Deefa mengerutkan kening, "tadi lumayan penting, kok sekarang jadi benar-benar penting?" memicing curiga.


Raffan tertawa kaku menyadari kalau Deefa sangat teliti sekali membuat dia harus membujuk istrinya itu lebih keras lagi agar Deefa percaya padanya.


*******

__ADS_1


__ADS_2