
"Jadi ketemuannya pindah ke rumah?"
Bukan, itu bukan pertanyaan tapi sebuah sindiran yang Raffan lontarkan untuk dirinya dan juga Agam.
Deefa tahu benar bagaimana pedasnya mulut suaminya itu jika sudah berkata.
"Ngapain Lo disini?" tanya Raffan ketus begitu sudah berpijak di lantai teras, berdiri dengan tas ransel menggantung di bahu sebelah kanannya.
"Antar Kinara, katanya kangen sama guru ngajinya, Lo sendiri ngapain?" Agam bertanya balik.
"Ini rumah gue kalau Lo lupa! jadi sesuka hati gue mau kesini kapan aja, bukan begitu Adeefa Ranaya?" desis Raffan mengalihkan pandangan serta senyum sinis nya pada wanita yang sedari tadi menunduk meremas jari-jemarinya.
"Om Raffan galak banget," celetuk Kinara yang padahal sejak tadi masih berkutat dengan tanaman, entah apa yang bocah itu lakukan.
"Apa Lo bocil!" Raffan berkata galak membuat Deefa membulatkan mata.
Ternyata tidak hanya dengannya saja Raffan itu galak tapi juga pada anak sekecil Kinara seorang Raffan bisa dengan santainya menunjukkan sikap galaknya.
"Dih marah-marah Mulu, cepat tua loh Om nanti nggak ada yang mau," sahut Nara seraya melipat tangannya di dada, bocah itu terlihat tidak ragu sama sekali untuk menjawab setiap perkataan Raffan.
"Kinara.." Deefa memanggil gadis yang memakai setelah baju muslim itu dengan lembut agar Kinara tidak lagi menyahuti perkataan Raffan yang kini berdiri menjulang di depan sang gadis kecil yang harus mendongak agar bisa beradu pandang dengan Raffan membalas tatapan tajam dari pria itu.
"Biarkan saja Dee, mereka memang seperti ini jika bertemu," beritahu Agam.
Ya, karena apa yang dia katakan memang benar, Raffan sudah mengenal Kinara begitupun sebaliknya, karena Raffan yang dulu memang sering sekali datang ke rumah Agam untuk urusan bengkel sesekali bersama dengan teman-teman mereka yang lain.
"Lah gue biar tua juga masih ganteng banyak yang mau, lagian kalau gue tua Om Lo juga tua," kata Raffan sengaja menunjuk Agam dengan dagunya.
"Loh kok jadi bawa-bawa gue, kan yang berantem kalian." Agam tampak tidak mau dilibatkan dalam adu mulut antara Raffan dan Kinara yang sama-sama anak tunggal yang tentunya tidak ada yang mau mengalah.
Kinara anak satu-satunya dari Dinar karena setelah melahirkan Kinara Dinar dinyatakan tak bisa lagi hamil akibat penyakit rahim yang di deritanya, sehingga rahimnya harus di angkat.
"Ponakan Lo songong," celetuk Raffan.
"Om Raffan yang songong, datang-datang bukan ngucap salam malah ngomel-ngomel," sambar Kinara menampilkan senyuman juteknya.
Raffan membungkuk tepat di depan wajah Kinara lalu bibirnya bergerak, "assalamu'alaikum!" Raffan langsung mengucap salam dengan keras membuat Kinara tersentak mundur seraya menutup kedua telinganya.
"Om Raffaaaan," teriak Kinara nyaring.
"Apa?!" bertanya dengan sudut bibir terangkat.
"Tante Deefa," rengek Nara menarik tangan Deefa.
"Salah ngadu Lo, ngadu tuh sama Om Lo," sungut Raffan melihat tingkah keponakan dari temannya itu.
"Sama aja, orang Tante Deefa juga sebentar lagi jadi Tantenya Nara," Kinara menyahut spontan membuat Raffan menatap Deefa dengan tatapan yang seperti ingin menikamnya.
Bibir Deefa bergerak seperti mengatakan sesuatu dibarengi dengan gelengan kepalanya yang tampak samar.
"Nara sebaiknya kita pulang yuk, Nara kan juga sebentar lagi harus mengaji."
Agam berusaha untuk memperbaiki suasana yang tidak tahu kenapa mendadak terasa panas dan menegangkan begitu kedatangan temannya.
"Nah iya benar mending pulang sana anak kecil jangan kelayapan aja," sambar Raffan dengan nada bicara yang masih sama seperti awal dia datang.
"Nggak mau ah Om, tadi katanya mau ngajak Tante Deefa jalan-jalan ke Dufan kok sekarang malah mau ngajak pulang."
Celotehan Kinara sontak membuat Raffan kembali memandang pada Deefa tapi kali ini bergantian dengan pria yang berdiri sedikit ke sebelah kiri Kinara.
"Eh nggak Om bilangnya kapan-kapan kita ajak Tante ke Dufan itu juga kalau Tante Deefa nya mau bukan hari ini Nara, kalau hari ini kan kamu juga mesti ngaji."
Agam berkata cepat karena merasa tak enak hati dengan Deefa.
Ya. hanya dengan Deefa tidak ambil pusing pada Raffan yang sekarang malah bolak-balik melihat dirinya dan Deefa bergantian, toh Deefa hanya sepupu saja bagi temannya itu.
"Maaf ya Deef, nggak usah terlalu di anggap omongan Nara," ucap Agam pada Deefa yang entah kenapa wajahnya menjadi pias.
"Kan bisa libur dulu Om ngajinya," sahut Nara tak mau kalah.
__ADS_1
Tentu saja bocah kecil itu terlihat jauh menyebalkan di mata Raffan Alawi, dan sepertinya mulai detik ini akan mencoret nama Kinara dari daftar bocah-bocah lucu nan menggemaskan.
"Nggak bisa Nara, nanti Mama sama Papa bakalan marahin kamu termasuk juga Abah, kamu tahu sendiri kan gimana Abah kalau marah?"
Agam membulatkan matanya menakuti sang keponakan yang langsung bergidik melihat ekspresinya.
"Ya udah ayo pulang," kata Nara akhirnya.
"Nah gitu dong," ucap Agam memamerkan senyumnya sukses membuat keponakan bawelnya itu menurut.
"Deef, aku sama Nara pulang dulu ya lain waktu kita pasti ketemu lagi."
"Udah cepat pulang sana, nggak usah banyak omong, nanti malam jangan lupa ke bengkel!" usir Raffan mengibaskan tangannya tak senang hati padahal temannya masih ingin berbicara dengan wanita yang hanya memberi respon dengan anggukan.
"Insya Allah," jawab Agam.
"Ck, Lo udah berapa hari nggak nongol di bengkel Gam, gantian lah," protes Raffan mendengar jawaban temannya.
"Nara pamit dulu sama Tante Deefa," pinta Agam pada Nara mengabaikan Raffa yang bicara padanya.
Kinara pun gegas mendekat pada Deefa, mengambil tangan wanita dewasa yang tidak tahu kenapa mengambil perhatiannya sejak pertama mereka bertemu.
"Nara pulang ya Tante cantik."
"Kecil-kecil udah pinter gombal!" dengus Raffan.
"Iya, ngajinya yang rajin ya jangan bolos-bolos," tutur Deefa mengelus puncak kepala yang tertutup kerudung langsung itu.
"He em," sahut Nara.
"Assalamu'alaikum," ucapnya kemudian.
Agam pun turut mengucapkan salam lalu melangkah tapi kemudian berhenti setelah melewati Raffan sekitar dua langkah dari tempat sang teman berdiri.
"Lo nggak pulang juga?" tanyanya pada Raffan yang gegas melihat padanya.
"Nggak." menjawab cepat.
Sejak tadi dia memang penasaran ada urusan apa Raffan mendatangi Deefa, yah meski mereka sepupu tapi kan pasti ada suatu urusan hingga membuat Raffan sampai menemui Deefa bukan?
"Nggak ngapa-ngapain ini rumah gue Gam, gue mau kesini atau nggak ya urusan gue dong," beber Raffan mengingatkan bahwa memang dialah sang pemilik rumah, jadi tidak perlu ada yang repot bertanya mau apa dia di rumah ini.
"Lagian patut Lo ingat ya, gue ini sepupunya ngapain si Lo repot banget!" tambah Raffan membuat Deefa lagi-lagi kecewa karena masih saja menganggapnya sepupu.
Bukankah dengan kedatangan Agam Raffan seharusnya sadar bahwa semua ini terjadi karena ulah dirinya yang tidak mengakui pernikahan mereka, lalu kenapa sekarang tampak belum juga jera dan sadar diri?
"Lo dan Deefa itu sama-sama dewasa Raf, sekalipun sepupu tapi Lo nggak bisa meminta setan untuk tidak bekerja kan?"
Raffan mengerutkan keningnya.
"Deefa masuk ya," kata Deefa tidak ingin mendengar apapun lagi.
Agam dan Raffan melihat pada Deefa yang sudah melenggang masuk membiarkan pintu terbuka.
Agam pun segera menuju pintu lalu menutupnya.
__ADS_1
"Ngapain Lo tutup! terus ngapain Lo bawa-bawa setan segala?!" sengit Raffan memindai Agam yang sudah kembali berdiri di dekatnya.
"Setan itu akan menjadi orang ketiga di antara dua manusia berlawanan jenis yang hanya berduaan, sebaiknya kita lebih menjaga diri, gue nggak mau Lo kena hasutan setan hingga berbuat hal tak baik terhadap Deefa, cukup Lo ke hasut buat lakuin hal lain aja gue nggak mau temen gue makin banyak siksaannya saat di neraka nanti," cerocos Agam.
Bola mata Raffan membulat dengan lebar dan sempurna, "sialan! Lo nyumpahin gue masuk neraka?" bentak Raffan.
Agam tertawa tipis lalu berkata, "ya udah makanya pulang."
Raffan menggeleng, "Ayah dan ibu gue mau kesini."
"Ya udah gue temenin."
"Ck! nggak usah mending Lo bawa tuh bocil pulang," tuntut Raffan.
"Tapi Raf," Agam memperlihatkan keraguan.
"Gue nggak tunggu disini nggak masuk gue, lima menit lagi."
"Mereka udah di jalan?" tanya Agam.
Raffan mencebikkan bibirnya.
"Ya udah gue pulang kalau gitu," kata Agam.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," sahut Raffan.
Setelah mobil temannya menghilang Raffan mondar-mandir di teras seraya melihat jam tangannya.
"Udah lima menit," celetuk Raffan.
"Gue nggak bilang Ayah gue datang dalam lima menit, gue bilang lima menit lagi gue masuk cuma nggak gue lanjutin," tutur Raffan dengan senyuman ngeselin.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*