Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Jadi Ketemuannya Pindah Ke Rumah?


__ADS_3

Ini sudah hari ketiga yang kemungkinan Deefa tidak lagi datang ke TPA untuk mengajar, memutuskan menuruti permintaan suaminya meski sebenarnya hati terasa berat.


Jujur dia sudah sangat nyaman di tempat barunya itu meski belum ada satu bulan, tapi hampir semua orang yang ada di TPA itu menerimanya dengan baik terlebih lagi Deefa yang sangat menyukai anak-anak akan selalu dengan lembut mengajari mereka mengaji dan membenarkan bacaan-bacaan mereka yang terkadang masih banyak kesalahan.


Deefa juga sudah mengatakan ini pada mertuanya, lalu apa tanggapan mertuanya?


Tidak marah hanya saja bertanya kenapa tidak lagi mengajar karena yang mereka tahu menantunya itu sangat senang saat pertama kali mereka memberitahu kalau Deefa bisa mengajar di tempat teman mereka yang juga teman dari kiyai Burhan, kiyai pondok pesantren tempatnya menuntut ilmu dulu sekaligus memberikan ilmu yang sudah dia dapatkan pada santri yang baru saja masuk.


Ah padahal kemarin Deefa masih berencana untuk pergi mengajar tidak mengindahkan larangan suaminya, toh menurutnya suaminya itu juga seperti hanya sedang bermain-main saja, perlakuannya seperti anak kecil yang sedang bermain rumah tangga yang saat sorenya rumah tangga itu akan bubar karena masing-masing di panggil pulang oleh ibunya.


Itu yang Deefa pikirkan hingga kemarin tepat saat dia akan berangkat mengajar mobil suaminya malah sudah berada di halaman rumah dan pria itu langsung menghunuskan tatapan tajam padanya lalu mulai mengeluarkan lontaran-lontaran kata yang sedikit memanaskan telinga, pria itu bahkan tidak pergi kemanapun seperti biasanya, berada di rumah dengan kegiatannya memainkan game di ruang tengah sambil mengawasi dirinya.


Entahlah kenapa suami berandal nya itu malah seperti ibu-ibu bawel yang sedang mengomeli anaknya, seperti ada tiga jiwa wanita yang merasukinya hingga mulutnya berubah sangat comel berbanding terbalik dengan penampilannya yang galak juga terkesan urakan dengan celana jeans robek yang masih selalu setia menjadi andalannya.


"Assalamu'alaikum."


Suara dalam dari pintu depan membuat Deefa yang baru saja menyelesaikan sholat Dzuhur bergegas melipat mukena lalu memakai kerudung besar yang langsung pakai.


"Wa'alaikumsalam," jawab Deefa seraya melangkah menggapai pintu yang berjarak kurang lebih lima meter darinya.


Deefa sedikit terlonjak ketika mendapati siapa yang sekarang berada di balik pintu, pantas saja tadi dia merasa tak asing dengan suara dari si pemberi salam.


"Assalamu'alaikum, Tante Deefa."


"Wa'alaikumsalam," sahut Deefa menjawab salam dari gadis kecil yang entah siapa yang mengajarinya memanggil dirinya Tante.


Senyum sumringah terpancar jelas dari wajah ceria yang langsung mengambil tangannya lalu mengecup punggungnya, persis seperti yang gadis itu lakukan saat selesai mengaji.


"Maaf aku menggangu," kata Agam tak enak hati sebab malah mendatangi wanita yang sudah tidak lagi mengajar.


Ayahnya sudah mengatakan padanya bahwa wanita di depannya ini tidak lagi mengajar di TPA mereka, entah alasannya apa Agam pun tidak tahu yang dia tahu hanya Deefa mengundurkan diri, itu saja.


Sebenarnya sejak mengetahui hal itu Agam sudah sangat penasaran ingin bertanya langsung namun dia seakan tidak mempunyai alasan yang tepat untuk mendatangi Deefa, hingga sampai akhirnya Kinara, sang keponakan menyatakan kangen pada guru mengajinya itu serta memintanya untuk diantarkan ke rumah yang dia ketahui menjadi tempat tinggal sang guru.


Meski awalnya Agam di larang oleh Ayah karena khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan tapi rengekan Kinara berhasil meluluhkan hati sang Kakek yang akhirnya memberi izin, dengan catatan jangan terlalu lama.


Agam pun menyanggupi hingga disinilah sekarang mereka berada tadi dia bolos dua kelas untuk bisa mengantar keponakannya itu.


Deefa tersenyum canggung mendengar perkataan pria yang beberapa hari lalu menjadi akrab dengannya, padahal Deefa tahu pria itu adalah teman dari suaminya, tapi entah kenapa saat bertemu tak pernah sekalipun Agam membahas tentang Raffan.


Tentang bagaimana pertemanan mereka yang sudah terjalin lama, sesungguhnya Deefa sangat ingin tahu bagaimana sebenarnya seorang Raffan itu selain dari yang dia tahu karena pasti Raffan punya sisi lain yang mungkin hanya teman-temannya saja yang mengetahuinya.


"Apa kedatangan kami mengganggu?" tanya Agam ketika wanita yang sudah hari ini tidak dia lihat terlihat seperti tidak senang dengan kedatangannya.

__ADS_1


"Ah, tidak aku hanya sedikit kaget saja," sahut Deefa seraya menggelengkan kepala lambat dan kembali mengukir senyum.


Agam membalas senyum itu, "kalau memang mengganggu atau kamu sedang sibuk tidak apa-apa biar aku ajak Kinara pulang, karena sejak kemarin dialah yang memaksaku untuk mengantarnya bertemu denganmu," jelas Agam merasa tak enak hati.


Deefa pun melihat pada gadis kecil cantik menggemaskan yang memang sedari kecil sudah diajarkan untuk menutup auratnya, mendapati Kinara yang sudah menggelayut manja di lengannya membuat Deefa tidak tega untuk meminta mereka pergi.


"Lagian Om Agam kan udah Nara bilang, buat bujuk Tante Deefa kembali mengajar, tapi Om Agam malah diem aja," celoteh Kinara yang memang selalu jujur menyampaikan apa yang dia inginkan.


"Ya gimana Om bujuknya, sedangkan Abah aja larang Om buat menemui Tante Deefa," jawab Agam sedikit malu karena harus diomeli oleh ponakan bawelnya itu di depan wanita yang dia suka.


"Ya Om bujuk lah katanya kan suka."


Deg!


Aduh jantung Deefa serasa ingin copot saja dari tempatnya mendengar betapa polosnya Kinara berkata mengakui kalau Omnya itu suka padanya.


Astaga Nara wanita yang sedang kamu bicarakan ini sudah bersuami, bagaimana Deefa mengatakan hal yang sebenarnya agar gadis kecil serta pria di depannya ini tak lagi berharap apapun darinya, sedangkan Raffan saja dengan jelas mengatakan pada Agam kalau dia hanyalah sepupu.


Deefa menunduk merasakan wajahnya memanas serta hati yang mulai tak tenang, pun dengan Agam yang mungkin merasakan hal yang sama sepertinya.


Wajah Agam sedikit memerah mungkin malu sebab mulut keponakannya itu tidak bisa berhenti jika sudah berbicara, mengatakan apa saja yang dia ketahui tanpa segan.


"Naraaa," kata Agam dengan gemas seraya menutup mulut sang keponakan.


"Emm emm," Kinara mengeluarkan kata-kata yang tak jelas dengan matanya yang membola serta tangannya yang menepuk lengan sang Om meminta untuk di lepaskan.


Agam pun menurut dengan senyum kaku melepaskan tangannya dari bibir tipis sang keponakan.


"Tante," panggil Kinara.


"Ya," jawab Deefa yang masih berdiri di ambang pintu, sejak tadi dia belum mempersilahkan tamunya itu masuk.


Mungkin Deefa tidak bisa membiarkan Agam dan Kinara masuk karena di rumah hanya ada dirinya, yang namanya fitnah akan datang kapan saja meski pun kita sudah berusaha agar tidak menimbulkan fitnah.


"Nara haus, boleh minta minum?"


Ah ya ampun selain belum mempersilahkan tamunya itu duduk bahkan sekarang tamunya itupun malah meminta sendiri minuman karena haus.


Astaga sungguh pikiran Deefa tengah melayang entah kemana ketika kedatangan dua orang yang tidak pernah dia sangka.


"Oh iya, biar Tante ambilkan Nara bisa duduk di sana." Deefa menunjuk bangku yang ada di teras.


Kinara mengangguk antusias lalu berlari riang menuju bangku yang berada di dekat pot yang terbuat dari keramik dan berisi tanaman hias.

__ADS_1


"Silahkan duduk," kata Deefa pada Agam sebelum dia beranjak masuk ke dalam.


Agam mengangguk lalu menyusul keponakannya yang sedang mengayun-ayunkan kakinya di bangku yang memang cukup tinggi untuk ukuran tubuhnya.


Mereka bertiga mengobrol di teras rumah dengan Kinara yang selalu berhasil membuat Deefa tersenyum dengan tingkahnya, banyak kelucuan yang gadis kecil itu bicarakan.


Sedangkan Agam diam-diam mencuri pandang pada wanita yang sejak tadi memamerkan senyum indahnya, sungguh Agam merasa semakin ingin memiliki wanita di depannya itu.



Ketiganya tampak menunjukkan senyum yang cerah sampai ketika suara mobil memasuki pagar yang sejak tadi memang dibiarkan terbuka.



Deefa langsung bangun dari duduknya begitupun dengan Agam, keduanya tahu dengan jelas mobil siapa yang kini tengah melaju semakin mendekat.



Di dalam mobil Raffan memicingkan matanya guna mempertegas penglihatannya mengenali siapa yang tengah berada di teras rumahnya.



"Agam?!" tanyanya bingung lalu melihat pada mobil yang terparkir di dekat pagar.



"Sialan, pantesan di kampus nggak ada, rupanya lagi ngapelin istri orang!" rutuknya.



Raffan turun dari mobil lalu setengah berlari menghampiri kedua orang dewasa beserta anak kecil yang sejak hari ini menjadi begitu menyebalkan karena Raffan tahu bocah itulah yang dijadikan alasan oleh Agam untuk bisa menemui istrinya.



Agam bersikap tenang merasa tidak aneh jika Raffan mengunjungi Deefa, bukankah mereka itu sepupu wajar bila Raffan mengunjungi sepupunya.



Baru saja Agam akan menyapa temannya itu tapi yang mau di sapa malah sudah mengatakan hal yang menyindir dirinya dan juga wanita berkerudung yang sedang berdiri bersama Kinara.



"Jadi ketemuannya pindah ke rumah?"

__ADS_1



\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2