Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Raffan Dengan Tingkahnya


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 22:00 malam dan Raffan belum juga sampai.


Sungguh hati istri mana yang tidak akan khawatir jika sudah seperti ini?


Ingin rasanya Deefa pergi untuk mencari suaminya itu, tapi harus kemana dia mencarinya? sedangkan sejak tadi handphone pria itu tak juga kunjung bisa di hubungi.


Deefa terus merapalkan doa dari bibirnya yang sesekali bergetar menahan tangis, sungguh dia tidak mau kalau terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.


"ASTAGHFIRULLAHALADZIM!" begitu lantang beristighfar kala melihat jarum jam yang menggantung di dinding kamar hotel tempatnya berada.


Raffan pun kelimpungan tak jelas di atas tempat tidur empuk yang berjam-jam lamanya memberikan kenyamanan untuknya.


Tadi saat di jalan dia benar-benar mengantuk dan tidak tahan lagi hingga memutuskan untuk mencari hotel, niatnya tidur satu atau dua jam agar dia kembali segar dan bisa melanjutkan perjalanan tapi kenyataannya dia malah kebablasan hampir sepuluh jam lebih.


Pria itu mencari-cari handphonenya yang di saat seperti ini malah seperti menghilang, mengangkat bantal serta selimut agar benda itu bisa dia temukan.


"Lah gue cari bolak-balik malah ada disini!" katanya ketika tak sengaja menoleh pada meja dan mendapati benda yang sedari tadi dia cari malah teronggok tenang di sana.


Segera saja mengambil handphonenya yang ternyata.. mati.


"Bisa-bisanya abis baterai," katanya mendapati handphone yang tak menyala.


"Gue chas dulu deh," katanya seolah saat ini menyalakan benda itu adalah hal yang paling penting.


"Dari pada Lo nungguin nih handphone di chas mendingan Lo langsung jalan Raffan!" berseru mengomeli dirinya sendiri.

__ADS_1


Entahlah sepertinya Raffan ini memang type manusia yang banyak sekali tingkahnya, apa saja yang ada di pikirannya kadang membuat siapapun yang mendengarnya malah jadi kesal, dan sekarang dirinya pun kesal pada dirinya, entahlah bagaimana cara penyebutannya.


Pria itu berloncatan tak jelas saat turun dari tempat tidur lalu berlari menggapai jaket yang dia tinggalkan di sofa kamar itu, memakainya dengan cepat lalu memakai sepatu dan yang terakhir menyambar kunci mobil yang tadi dia tinggalkan di dekat jaket.


Waktunya terbuang banyak padahal seharusnya dia sudah bisa bertemu dengan istrinya yang sudah seminggu ini membuatnya tidak enak tidur bahkan tidak tidur sama sekali.


Derap langkahnya terdengar begitu keras seiring sepatu yang bertemu dengan lantai, handphone mati membuatnya tidak bisa memberi kabar pada sang istri.


Selesai dengan hotel dia pun segera menuju mobilnya di parkiran, gegas menyalakannya dan tanpa otak langsung membawanya dengan kencang, hampir saja menghancurkan palang jika petugas tidak segera membukanya.


Kembali berada di jalanan yang sudah tampak lebih lengang membuatnya semakin bebas melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi guna bisa segera sampai, masih butuh waktu dua jam lagi untuk sampai di pesantren yang tanpa dia tahu kalau di tempat itu sudah banyak orang yang berkumpul bersiap untuk mencari keberadaannya, entah mereka mau mencari kemana yang jelas bisa sedikit saja mendapat informasi tentang dirinya.


Astaghfirullah Raffan, kenapa semua tingkah laku mu seolah selalu saja membuat orang pusing, tidakkah kamu berpikir orang-orang itu masih belum mengenal kamu dengan segala tingkah laku mu, tak salah rasanya jika Gumay menjuluki mu Raja drama, karena lihatlah sekarang akibat lalai mengabari kalau dia akan singgah di hotel untuk istirahat malah membuat wanita itu tak bisa berhenti menangis.


Padahal tadi pagi Deefa terlihat begitu berseri, memakai riasan wajah yang padahal Salimah tahu Deefa sangat jarang bahkan mungkin hampir tidak pernah memakainya, akan tetapi wajah cantiknya itu dalam hitungan jam langsung berubah tak karuan akibat air mata yang mendera.


Sedih dan nelangsa sudah pasti di rasakan Deefa, sebagai seorang istri suami terlambat pulang saja sudah cukup membuat cemas, apalagi sampai tidak ada kabar sama sekali seperti sekarang.


Suara Deefa bahkan terdengar bergetar kala Umi sesekali mengajaknya bicara, memintanya untuk makan tapi wanita itu terus menolak.


"Bagaimana Deefa?" tanya kiyai Burhan saat istrinya menghampiri.


"Masih terus menangis," kata Umi dengan helaan napas berat.


Kiyai Burhan pun melakukan hal yang sama, wajah tuanya pun memancarkan ketidak nyamanan saat ini, diapun sudah berulang kali berbicara dengan Imran tentang hal ini, temannya itupun juga tidak bisa diam saja tentang nasib anaknya yang belum ada kabar sama sekali, dia berusaha mencari bantuan dari para kenalannya yang mungkin saja bisa membantu.

__ADS_1


"Abah sudah minta anak-anak untuk berkeliling rute yang dilalui Raffan, sambil kita meminta pada Allah untuk menjaga Raffan dimana pun dia berada saat ini, terlebih lagi menguatkan kita jika saja harus di hadapkan pada kemungkinan terburuk."


"Maksud Abah apa?" suara Deefa makin bergetar mempertanyakan apa yang barusan kiyai Burhan katakan.


"Mas Raffan tidak akan apa-apa Abah, Mas Raffan mungkin hanya salah jalan," kata Deefa lagi.


Dia berusaha memikirkan hal baik tentang suaminya agar segala pikiran buruk bisa terkalahkan, tapi tetap saja tangisnya tidak juga mau berhenti meski berusaha berpikiran positif.


Selesai mengatakan itu Deefa kembali menangis bahkan kali ini tubuhnya seakan tidak kuat untuk berdiri, kakinya menjadi lemah tak bertenaga dengan telapak kaki yang seakan enggan untuk menahan berat tubuhnya.


Wanita itu jatuh pingsan hingga membuat semua orang panik berlarian menuju tubuhnya yang sudah berada di lantai depan kamar tidurnya.


Umi dan Salimah pun segera membawa Deefa masuk kembali ke dalam kamar dan merebahkannya ke atas tempat tidur, menyelimuti tubuhnya yang sejak pagi belum di isi oleh makanan.


Wanita itu bukan hanya tidak bisa tidur, tapi juga tidak bisa makan karena begitu bahagia bahwa suaminya akan datang menjemput.



Umi tengah mengoleskan minyak angin di leher Deefa ketika ada mobil yang memasuki halaman pesantren.



Suara mesin mobil yang begitu jelas membuat Kiyai Burhan segera meninggalkan kamar dan menuju teras.


********

__ADS_1


__ADS_2