
Di dalam kamar mulut Raffan berkomat-kamit tak jelas.
Jarum jam di dinding menunjuk pada angka 8 malam, tadi setelah Agam pergi Raffan tidak bertemu dengan Deefa, wanita itu seperti mengurung diri di dalam kamar bahkan wanita itu tidak masak untuk makan malam.
Perut Raffan yang sudah sangat keroncongan pun memaksanya untuk turun.
"Punya istri kayak nggak punya istri gue!" berkata kencang tepat ketika dia berada sangat dekat di depan kamar Deefa, sengaja agar wanita di dalam sana mendengarnya.
"Uang belanja di kasih tiap hari tapi tetap aja gue nggak di masakin, besok-besok nggak gue kasih uang belanja!"
Makin sengaja mengeraskan suaranya seraya kedua telinganya dia pasang agar bisa mendengar pergerakan di dalam sana.
Ceklek!
Suara kunci yang di putar pun membuat Raffan bergegas pergi ke dapur lalu membuka-buka lemari penyimpanan guna mencari mie instan untuk dia masak.
"Deefa saja."
Suara halus beserta tangan yang tak sengaja menyentuh tangan Raffan untuk mengambil mie membuat Raffan menelan salivanya susah payah.
Untuk beberapa detik tubuh mereka sangat dekat dengan Deefa yang berjinjit untuk bisa menggapai lemari penyimpanan yang terletak di atas.
"Nggak usah, gue bisa sendiri! dari pada Lo nggak ikhlas!" Raffan menyadarkan dirinya dari keterbengongan sebab dari jarak ini wajah Deefa terlihat dengan jelas.
Betapa wajah itu yang mulus tanpa cela tidak ada bekas jerawat sama sekali bahkan pori-porinya saja tidak terlihat sama sekali.
Mulus, benar-benar mulus dengan warna kulit yang kuning langsat ciri khas wanita Indonesia.
"Ikhlas, Deefa ikhlas melayani suami Deefa," sahut Deefa dengan suara yang pelan setara bisikan mungkin karena posisi mereka yang berdekatan membuat Raffan bisa mendengar jelas apa yang terucap dari wanita di sampingnya.
Mendengar itupun Raffan menggeser tubuhnya memberi ruang pada wanita yang memakai kerudung itu untuk memasak mie instan untuk mengisi perutnya lapar.
Pria itu pun beranjak menuju meja makan menjadi penonton, memperhatikan setiap gerak wanita di dekat kompor sana.
Tidak membutuhkan waktu lama sampai akhirnya harum mie mulai mengitari ruang makan menandakan bahwa mie yang Raffan tunggu sudah siap untuk dia santap.
Mie di atas meja masih begitu mengepul, asapnya membimbing naik mengeluarkan bau yang sedap dan menggugah selera.
"Lo mau kemana?" tanya Raffan pada Deefa yang setelah meletakkan segelas air putih hendak meninggalkannya.
"Deefa mau ke kamar," sahut Deefa.
"Suami Lo lagi makan Deef, mending Lo temenin sekalian tungguin gue ngisi perut karena setelah itu gue mau marah sama elo," beber Raffan.
__ADS_1
Sungguh perkataan Raffan membuat Deefa tak mengerti, suaminya kesal karena dia tidak masak, begitu?
Iya dia memang lalai karena tadi memilih untuk berdiam diri di kamar melupakan kewajibannya, tapi apakah salah jika dia merasa kecewa dan kecewanya itu dia tunjukkan dengan tidak keluar kamar, tidak melakukan kegiatan apapun selain sholat, karena di dalam kamar dia masih bisa sholat tepat waktu.
Hanya saja dia memang ingin mengurung diri sebagai bentuk protes karena omongan Raffan yang seperti mencubit hatinya dan sengaja menyayat kan luka tak berbentuk.
Tentang sepupu, iya ini sudah kedua kalinya seorang pria bersuami mengakui istrinya sebagai sepupu oh apakah Deefa menikah dengan seorang suami yang benar kata Rio yang menjuluki Raffan si raja drama!
"Deefa mau ke ruang baca, nanti panggil saja kalau sudah selesai," putus Deefa lalu beranjak menuju lantai atas dimana terdapat ruang baca yang memang menjadi salah satu tempat terbaiknya untuk membaca.
Ck.
Raffan berdecak tapi tidak lagi berucap apapun untuk menghentikan sang istri, konsentrasinya kini terfokus pada semangkuk mie rebus yang sejak tadi menggodanya untuk segera dinikmati, jadilah setelah Deefa pergi dia gegas menyendok mie demi mie beserta kuahnya yang terasa hangat ketika masuk melewati tenggorokannya.
Suara seruputan dari kuah terdengar begitu syahdu di tengah hening nya malam.
Deefa menutup buku yang dia baca begitu melihat suaminya sudah berdiri di tengah ruangan, entah sejak kapan pria itu berada di ruang baca, sungguh Deefa tidak mendengar suara ketukan sebagai permintaan izin untuk masuk.
Ah ya, tentu Raffan tidak akan meminta izin lebih dulu, ini rumahnya dan jelas daerah kekuasaannya pria seperti itu jelas akan bertindak sesuka hatinya.
"Lo ngambek ya?" tanpa berbasa-basi langsung menanyakan hal yang seharusnya Raffan sudah tahu jawabannya.
"Menurut Mas gimana? berhak nggak Deefa marah?" jawab Deefa balik bertanya seraya menyimpan buku di atas pangkuannya.
"Lah? gue tanya Deef, ngapain Lo balik tanya," tutur Raffan menduduki kursi di dekat jendela.
Entahlah apakah pria ini sadar rasanya hari ini dia sering kali menyebut dirinya suami.
Iya, mengakui bahwa dirinya adalah suami dan Deefa sebagai istrinya seakan telah melakukan kesalahan.
"Deefa minta maaf jika perlakuan Deefa sebagai istri menyinggung perasaan Mas, hanya saja.."
"Ya kalau salah ngaku salah nggak usah ada pembelaan diri," menyela perkataan sang wanita.
"Lagian kalau mau marah harusnya gue yang marah sama elo!" tambah Raffan.
Deefa mengangkat wajahnya guna melihat pria yang sejak tadi menempatkan dirinya seolah seorang suami yang baik dan tengah marah dengan kelalaian yang di perbuat oleh istrinya.
"Bisa-bisanya si Nara bilang kalau Lo bakal jadi Tantenya, maksudnya apa kayak gitu?!" dengus Raffan membalas tatapan Deefa namun dengan begitu sengit.
"Deefa nggak tahu Mas, benar-benar tidak tahu," sahut Deefa.
Kenyataannya memang dia tidak tahu apa-apa, tentang kedatangan Agam dan Kinara juga tentang perkataan Kinara.
__ADS_1
Sungguh Deefa tidak tahu apa-apa juga tidak mengerti.
"Si Agam tuh suka sama elo, tahu nggak!?" hardik Raffan dengan deru nafas yang tidak lagi terkontrol.
"Demi Allah Deefa tidak tahu apa-apa Mas, Deefa juga tidak meminta Agam untuk suka sama Deefa."
Tidak tahu kenapa rasanya hati Deefa mendadak sangat penuh hingga menimbulkan sesak yang teramat dan menyulitkan pernapasannya.
"Tidak meminta tapi sikap Lo genit!"
Genit?
Dirinya genit?
Maksud dari kata genit itu apa? sedangkan selama bertemu dengan Agam di tempat mengajar dia merasa tidak bersikap berlebihan, bersikap selayaknya seorang guru yang bertemu dengan guru lainnya saling menyapa juga mengobrol, itupun tidak hanya berdua saja.
Deefa menggeleng kepalanya.
"Kalau Lo nggak genit kan nggak mungkin dia berani deketin elo, nggak mungkin dia datang-datang kesini, awalnya tuh semua dari elo Deef! minta anter segala kalau mau pulang kan tinggal pesan taksi," cemooh Raffan.
Sungguh pria itu sepertinya tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan, tidak sadar kalau perkataan yang terkesan menuduh itu terdengar begitu menyakitkan bagi wanita yang memang tidak tahu kenapa hal seperti ini bisa terjadi.
Dia tidak pernah meminta Agam untuk mengantarnya pulang bahkan dia sudah berusaha untuk menolak tapi pria itu memaksa, dan yang paling tidak bisa dia percayai adalah berulang kali Raffan mengatai dirinya genit.
Sudah! Deefa tidak sanggup mendengar apapun lagi, tidak sanggup mendengar tuduhan demi tuduhan yang dilontarkan oleh pria yang menikahinya hampir satu bulan yang lalu.
Hatinya kecewa sekaligus sakit hingga tidak sanggup untuk berada satu ruangan dengan pria yang sekarang tengah menatapnya dengan sangat tajam.
Tajam seolah sedang berhadapan dengan musuhnya, ya Allah Raffan, Raffan wanita yang sejak tadi kamu sakiti hatinya adalah istrimu sendiri, bagaimana bisa sikapmu seperti ini.
__ADS_1
"Gue belum selesai ngomong!" seru Raffan kala Deefa berlari pergi meninggalkannya.
*****