Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Sentuhan Menggetarkan


__ADS_3

Mobil yang Raffan bawa kini malah berhenti di tepi jalan sunyi nan sepi dan senyap dengan suara-suara mesin kendaraan karena jalanan kampung yang kalau malam tiba tidak akan ada lagi kendaraan yang melewatinya.


"Nggak ada begal kan disini?" tanya Raffan melihat ke sekitar tempat mereka berada.


"Insya Allah nggak ada," sahut Deefa melihat tingkah suaminya.


Pria yang tadi membawanya pergi begitu saja setelah pembicaraan dengan keluarga selesai dan sudah diputuskan kalau dirinya akan berada di pesantren selama satu minggu.


Raffan menghela napas lalu menjatuhkan punggungnya bersandar di kursi mobil miliknya.


"Selama gue nggak ada Lo jangan macam-macam Deef." mulai membuka mulut memberi peringatan pada sang istri yang mengangguk.


"Jawab lah, jangan ngangguk doang," cetus pria itu sambil menggerakan kepalanya kesamping agar bisa melihat wanita berwajah teduh itu.


"Deefa tidak mau menjawab selama Mas Raffan belum merubah panggilan," tutur Deefa.


Rupanya sejak awal dia sangat terganggu kala Raffan selalu menggunakan elo dan gue, menurutnya itu terkesan kasar terlebih lagi mereka adalah suami istri.


Raffan mengernyit heran, "terus mau di panggil apa? sayang? jujur aja belum bisa gue," sahut Raffan tanpa menutupi isi hatinya yang memang belum bisa meski hanya memanggil sayang saja pada wanita yang dinikahkan dengannya itu.


"Deefa ngerti, sebelumnya kita memang tidak pernah saling mengenal juga mengerti di hati Mas belum sepenuhnya menerima Deefa, panggil apa saja asalkan bukan elo dan gue lagi," jelas Deefa membetulkan ujung kerudungnya yang sedikit tertekuk.


"Ya sudah, aku kamu aja," putus Raffan akhirnya.


Setidaknya aku kamu terdengar lebih baik ketimbang harus panggilan lainnya yang nanti malah akan membuatnya jijik sendiri.


Deefa mengangguk setuju panggilan seperti itu memang jauh lebih baik ketimbang yang biasa Raffan gunakan.


Dan pembicaraan mengenai panggilan pun akhirnya selesai, keheningan kembali menyelimuti keduanya di tengah jalanan yang sepi sebab hari yang semakin malam, hembusan angin malam menerpa kala Raffan menurunkan sedikit kaca mobil di sampingnya.


"Disini memang begini ya kalau malam, sepi," ucap Raffan kembali bersuara seraya menegakkan tubuhnya guna melihat suasana di tempat itu untuk kedua kalinya.


"Iya, selepas Maghrib orang-orang di kampung ini jarang yang keluar rumah, yah kecuali mereka yang memiliki urusan mendesak, berbeda dengan Jakarta," jawab Deefa.


"Di Jakarta bahkan tengah malam saja masih sangat ramai," timpal Raffan menyetujui ucapan istrinya.


Raffan melirik istrinya yang sedang menggosokkan tangannya.


"Dingin?" tanya Raffan menyadari tingkah sang istri.


Memang angin berhembus cukup kencang pada malam ini, di tambah dengan banyaknya pohon-pohon di tempat mereka berhenti.


"Iya Mas," sahut Deefa tidak menghentikan gerakannya.


Raffan pun menaikkan kaca yang tadi sempat dia turunkan, lalu menyalakan mesin mobil hendak kembali ke pesantren.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Deefa malah terkesan tidak ingin mereka pergi dari tempat ini.


"Ke pesantren, kamu kedinginan gitu nanti malah masuk angin," cetus Raffan dengan tangannya yang siap pada kemudi mobil.


"Bisa nggak sebentar lagi aja disini?" tanya Deefa malah membingungkan pria di sampingnya.


"Mau ngapain?" bertanya seraya melihat jam di handphone, "udah mau jam 12," tambahnya lagi.


Ah ternyata sudah hampir 1 jam lebih mereka pergi dari pesantren dan nyatanya tidak banyak yang mereka obrolkan, keduanya lebih banyak diam sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Deefa takut setelah malam ini Mas Raffan akan kembali ke setelan awal," celetuk Deefa.


Raffan tersentak, setelah awal? memangnya Deefa kira suaminya ini handphone yang bisa balik pada setelan awal saat sebelum di gunakan?


"Ngaco!" imbuh Raffan dengan penuturan konyol dari bibir sang istri.


"Yah kita tidak pernah tahu kan isi hati manusia?"


"Jadi masih belum percaya juga? padahal tadi udah minta maaf loh, kamu juga udah maafin dan terima saat aku minta buat kita perbaiki rumah tangga kita," cerocos Raffan tak terima pada keraguan yang dilontarkan oleh istrinya itu.


Rasanya sangat aneh, mereka termasuk keluarga sudah sepakat dan menerima keputusan yang sudah benar-benar diambil tapi sekarang istrinya malah terlihat ragu, ada yang salah kah dengan dirinya?


Deefa tak menjawab malah sibuk dengan segala pikirannya.


"Berarti harus melakukan sekaligus mengabadikan momen yang bisa kamu tunjukkan kalau-kalau besok pagi aku kembali ke setelan awal," cetus Raffan membuat Deefa menatap tak mengerti.


Namun bukannya menyelesaikan perkataannya pria itu malah memajukan sebagian tubuhnya, mengikis jarak diantara mereka menjadikan wajah mereka saling berhadapan hingga napas yang kini saling menerpa wajah masing-masing.


"Mas." suara Deefa terdengar lemah dan lirih tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya.


"Diam dulu," kata Raffan.


Wajah mereka sudah semakin dekat bahkan hidung pun saling menempel menimbulkan gelenyar aneh di dalam diri mereka, terutama Deefa yang baru mengalami hal seperti ini dalam hidupnya.


Sungguh dia wanita dewasa yang tidak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis sebelumnya, tentu agama melarang karena berdekatan dengan lawan jenis tanpa hubungan sah hanya akan menjadi ladang dosa.


Dirinya sungguh beruntung karena orang tuanya memilih menitipkannya di pondok pesantren hingga tidak terjerumus pada pergaulan bebas seperti yang menimpa sebagian teman-teman sebayanya.


Mata Deefa sontak terpejam kala merasakan bibirnya menyentuh bibir sang pria, pria yang halal baginya dan mempunyai hak atas tubuhnya.


Perlahan Deefa bisa merasakan bibir sang suami bergerak semakin panas seperti menuntut dirinya yang tak pandai itu untuk memberikan balasan.


"Ini yang pertama?" tanya Raffan setelah menjauhkan wajahnya sebab tak ada balasan.


Deefa hanya mengangguk memberi jawaban dengan pipi yang merona.

__ADS_1


Raffan menghela napas, "bagus lah," katanya kemudian.


"Harus di abadikan," celetuk Raffan lalu sekarang sibuk mengambil handphone.


Pria itu kembali mencium wanita yang jantungnya lagi-lagi seakan mau keluar karena tindakannya.


Bibir yang biasanya dipergunakan untuk berbicara kini kembali bertemu dan menimbulkan suara yang cukup asing bagi Deefa.


Cekrek


Deefa terkejut mendengar suara kamera disertai dengan lampu kamera yang menyilaukan.


"Nanti aku kirim," kata Raffan membenarkan posisi duduknya Yaang sedari tadi miring menghadap Deefa yang menggigit bibir bawahnya.


Wanita itu tengah menyelami sensasi aneh yang dia rasakan akibat sentuhan dari pria yang sekarang sibuk dengan handphonenya.


Sungguh hal itu menimbulkan getaran-getaran tak wajar yang selama hidup baru dia rasakan.


Ah, inikah yang namanya bersentuhan? inikah yang dinamakan bercumbu?


Lalu.. inikah yang di maksud momen oleh suaminya? momen yang katanya harus diabadikan.


"Aku mau lihat," kata Deefa yang malah penasaran dengan foto yang diambil oleh suaminya.



"Sudah aku kirim ke nomor kamu, nanti lihat di handphone kamu saja," sahut Raffan lalu gegas menyimpan handphonenya ke dalam saku.



"Ada telepon masuk," beritahu Deefa ketika ada dering dari handphone yang baru saja masuk ke saku celana suaminya.



"Sudah malam banget, kayaknya kita mesti balik ke pesantren."



Mengabaikan perkataan istrinya dan malah seperti mengalihkan dengan mengajak istrinya untuk segera ke pesantren.



"Iya," jawab Deefa singkat menatap suaminya yang mulai menjalankan mobil meninggalkan tempat yang akan menjadi saksi ciuman pertamanya dengan sang suami.


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2