Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Jangan Ceramah Terus


__ADS_3

Tadi setelah habis-habisan menggoda istrinya Raffan pun di minta untuk menemui kiyai Burhan, pria itu ingin memberikan sedikit nasihat untuk anak muda yang tampaknya masih harus banyak belajar dan diajari.


Hampir satu jam lebih Raffan mendengarkan kiyai Burhan yang terus menasehatinya, mengajarkannya tentang harus seperti apa seorang suami terhadap istrinya, terlebih lagi tentang kelalaian yang sudah dia perbuat hari ini.


Kelalaian yang membuat semua orang panik terlebih lagi istrinya yang tak henti menangis.


Mata Raffan sudah mengantuk lagi padahal tadi dia sudah tidur di hotel tanpa ada yang mengganggu sama sekali bahkan dia sampai terbangun sendiri setelah sekian lamanya bertamasya ke alam mimpi.


Entah mimpi apa dia tadi hingga saat ini dia harus mendengarkan kiyai Burhan yang seperti tidak lelah untuk menasehati dirinya, padahal sepertinya sangat percuma sebab Raffan di nasehati hanya akan masuk telinga kanan lalu keluar lagi melalui telinga kiri, capek-capek mulut saja.


Dan sekarang saat sudah berada di dalam kamar untuk tidur lagi-lagi telinganya di suguhkan oleh suara sang istri yang tidak berbeda jauh dengan kiyai Burhan tadi.


"Jangan ceramah lagi Deef, telingaku rasanya sudah sangat penuh," protes Raffan seraya membekap telinganya dengan bantal.


"Tidak ceramah hanya mengingatkan agar kedepannya Mas Raffan lebih baik lagi," kata Deefa yang duduk di samping tubuh suaminya.


Raffan menarik napas panjang lalu menyingkirkan bantal dari telinganya, pria itu beranjak duduk lalu mengambil handphone yang tadi dia charger, "bagiku semua yang keluar dari mulut Abah, Ayah, ibu serta kamu adalah ceramah," tekan Raffan tak mau mengalah.


"Walaupun Deefa hanya meminta Mas untuk beristirahat dan.."


"Dan apa?" potong Raffan mengalihkan perhatiannya dari layar handphone, dirinya sudah siap untuk bermain game.


"Berhenti main game, ini sudah jam 3 pagi, sebaiknya Mas istirahat, bukankah tadi Mas bilang kalau kita akan kembali ke Jakarta jam 8," Deefa mengingatkan suaminya yang sekarang malah terlihat tengah memikirkan sesuatu.


Raffan meletakkan handphone di sebelahnya lalu menggeser tubuhnya mendekat pada sang istri mengikis jarak antara mereka yang sejak tadi dipertontonkan.


"Mau unboxing disini?" untuk kedua kali mengucapkan kata unboxing yang belum sempat di jawab oleh Deefa.


Deefa mengerti maksud perkataan suaminya itu, dia sadar ini adalah kewajibannya sebagai seorang istri tapi entah kenapa dia malah jadi takut sendiri mengingat usia Raffan yang lebih muda darinya membuat dia malah jadi minder sendiri, mampukah dia mengimbangi suaminya itu.


Deefa menjadi lebih gugup ketika tangan Raffan dengan sengaja mengelus lengannya yang tertutup oleh baju tidur daster berlengan panjang.


Rasanya paru-paru Deefa tidak mendapatkan asupan oksigen yang cukup, udara disekitarnya seperti mendadak terasa sangat-sangat panas padahal biasanya di jam seperti ini udara menjadi lebih dingin.


"Kata orang berhubungan di jam-jam segini itu malah lebih bagus," celoteh Raffan dengan bibirnya yang menunjukkan senyuman berbahaya.


"Tapi kayaknya kalau unboxing disini kurang seru, nggak akan bisa bebas bersuara," kata Raffan kemudian menidurkan tubuhnya kembali.


Baru saja Deefa ingin bersuara tapi suaminya itu malah lebih dulu berubah pikiran membuat Deefa akhirnya bisa bernapas lega, selamat dari unboxing yang sejak tadi di gaungkan oleh suaminya.


Suami berandal sekaligus brondongnya itu selalu memiliki kosakata yang seenak hatinya saja, berkata unboxing seakan istrinya itu adalah sebuah paket yang sudah di nantikan kedatangannya.


******


"Bagaimana Yah?" tanya Hayati pada suaminya yang baru selesai berbicara dengan kiyai Burhan.


"Raffan baru saja sampai," katanya dengan rasa lega yang langsung saja menyambar istrinya.

__ADS_1


Sejak tadi mereka terus menantikan kabar anaknya itu, bahkan sampai menghubungi orang-orang yang dia kenal untuk membantu mencari keberadaan anaknya yang terkadang memang selalu membuat mereka khawatir.


"Alhamdulillah, tapi Raffan tidak kenapa-kenapa kan Yah?" nyatanya kelegaan dalam hati sang istri belum sepenuhnya, terlebih lagi sudah berjam-jam anaknya itu tidak diketahui berada dimana.


"Dia itu tidur di hotel, jelas tidak akan terjadi apa-apa," lontar ustad Imran memberitahu apa yang tadi kiyai Burhan katakan padanya.


Tentang anaknya yang tidur nyenyak di hotel sedangkan mereka harus kalang kabut memikirkan keberadaannya, bahkan sampai merepotkan orang lain.


"Astaghfirullahaladzim Raffan," ibunya bahkan terdengar sangat geram pada anaknya sendiri.


"Ayah tidak mengerti kenapa anak itu tetap saja koslet, padahal sudah menikah setidaknya ingatlah pada istrinya beri kabar sebelum melakukan apapun," ustad Imran berkata dengan raut wajah yang terlihat marah namun tertahan, karena mau marah dengan siapa kalau tersangkanya saja tidak ada.


"Apa kita salah ya Yah," kata Hayati kepada pria yang sedang menyeruput kopi hitam yang dia buat tadi.


Kopi hitam agar suaminya itu tidak mengantuk karena menunggu kabar tentang anaknya yang baru dia ketahui ketika menjelang pagi, itupun melalui kiyai Burhan, bukan anak berandalan nya yang memberi kabar.


Ustad Imran menghela napas berat, ini bukan pertama kalinya sang istri mengatakan hal serupa bahkan malah terbilang cukup sering setelah mereka menikahkan Raffan, seolah istrinya itu menyesali keputusannya menikah kan anak semata wayangnya itu.


"Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, seperti juga Ayah, Ayah tidak mau Raffan terus menerus terjerumus dalam pergaulan, sekarang mungkin hanya sekedar balap liar atau nongkrong sampai pagi, tidak cuma itu bahkan ibu pun tahu Raffan juga sempat berurusan dengan polisi akibat balapan yang berujung tawuran, bukan tidak mungkin akan ada hal buruk lainnya yang dia lakukan jika kita tidak mencegahnya," papar ustad Imran mengingatkan tentang apa saja yang dilakukan oleh anak mereka.


"Tadinya ibu berpikir begitu, tapi ketika melihat tingkah laku Raffan yang masih tetap saja ibu sendiri merasa menyesal.."


"Menyesal menikahkan Raffan dengan Deefa?"


Hayati mengangguk menjawab pertanyaan sang suami, jujur ada rasa bersalah yang terselip dalam hatinya terhadap Raffan juga Deefa.


"Lalu mau minta mereka cerai saja?"


"Jika itu yang terbaik," sahut sang istri.


"Terbaik apanya? saat di pesantren waktu itupun jika Raffan mau dia sudah cerai dengan Deefa, tapi nyatanya mereka malah mengambil keputusan untuk tetap bersama, dan Raffan yang meminta itu!" tegas ustad Raffan mengingatkan kalau saja istrinya itu lupa.


"Ibu tidak usah memikirkan apapun lagi, Raffan akan segera berubah dan Ayah yakin Deefa pasti bisa merubah suaminya itu, kita serahkan semuanya kepada Allah."


Sejak dulu istrinya itu memang teramat memanjakan Raffan, mungkin karena anak satu-satunya dan segala apapun yang Raffan katakan selalu saja di turuti bahkan istrinya itu jugalah yang membujuknya agar tidak memaksa Raffan masuk pesantren ketika anaknya itu menolak dengan segala janji yang nyatanya hanya omong kosong belaka.



Ustad Imran beranjak menuju ke dalam kamarnya setelah mendengar adzan subuh berkumandang mengganti pakaian sebelum akhirnya berangkat menuju masjid.



\*\*\*\*\*



Deefa tengah menikmati wajah tampan Raffan yang terlihat sangat tenang saat sedang tidur seperti ini, tidak ada mulut bawel yang asal bicara karena hanya ada dengkuran halus yang memperlihatkan kalau pria itu masih sangat pulas dan larut dalam tidurnya.

__ADS_1



Hingga suara adzan subuh mampu membuat Deefa menyadarkannya dari wajah sang suami.



Wanita itupun berniat untuk membangunkan suaminya dengan cara menepuk lembut lengan kekarnya.



"Mas," panggilnya dengan suara yang mendayu-dayu.



Satu kali, dua kali sampai tiga kali tidak ada respon yang Raffan berikan, pria itu masih saja tenang dalam tidurnya.



Deefa akhirnya menundukkan wajahnya hingga wajah Raffan tepat berada di depan matanya.



"Ya Allah sungguh sempurna ciptaan mu ini," katanya memuji keberhasilan Allah dalam menciptakan tampilan fisik Raffan Alawi di tengah sifatnya yang masih banyak kekurangan.



Balas hangat Deefa tak ayal menerpa wajah Raffan yang anehnya malah karena terpaan napas itu Raffan bergerak menandakan dia akan bangun dari tidurnya.



Menyadari itu Deefa hendak menjauh tapi terlambat, Raffan sudah keburu membuka matanya lalu tangannya bak kilat menahan tengkuk Deefa hingga tidak bisa bergerak menjauh.



"Sudah adzan subuh," ucap Deefa dengan kegugupan yang melanda.



Setalah kejadian di mobil seminggu yang lalu ini kedua kalinya mereka berhadapan dengan sangat dekat, kening bertemu kening mata bertemu mata napas bertemu napas hidung bertemu hidung lalu bibir bertemu bibir.



"Sarapan pagi sebelum sholat subuh," cetus Raffan lalu berbalik menukar posisi, menindih sang istri.



\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2