
"Di suruh menginap malah membohongi istri, tidakkah kamu sadar kalau ini adalah teguran yang Allah berikan untukmu!"
Krek!
"Aduuuuhhhh, ampun Ayah sakit!!"
Raffan begitu histeris ketika pergelangan kakinya di tarik untuk memperbaiki posisi tulang dan juga urat-uratnya yang tidak benar, bahkan telinga Raffan bisa mendengar bunyi khas dari tulang kakinya itu.
Tarikan demi tarikan, pijatan demi pijatan masih terus di lakukan, tidak hanya tangannya yang bergerak tapi juga mulutnya ikut melakukan hal yang sama, mengurut di bagian kaki lalu berceramah di bagian mulutnya.
Gerakan tangan ustad Imran mulai sedikit melembut membuat Raffan bisa sedikit bernapas lega lalu kedua matanya mencoba memejam dan berusaha menulikan telinganya dari ceramah yang Ayahnya lantunkan.
"Kamu ini seharusnya lebih banyak belajar tentang agama, apa tidak bosan selalu membuat masalah! astaghfirullahaladzim Raffan Raffan!" ustad Imran seperti kehabisan kata-kata untuk anaknya itu.
"Raffan kan masih perlu beradaptasi Ayah, tidak bisa begitu saja langsung menjadi orang Sholeh seperti yang Ayah inginkan, menjadi suami yang baik bagi Deefa, kan Raffan juga sudah mengatakan kalau Raffan akan coba buat berubah tapi ya nggak langsung bertahap," sahut Raffan dengan mata yang tak mau terbuka.
Sedangkan di sudut kamar ibu dan istrinya sedang duduk menyaksikan Ayah dan anak yang memang tak pernah mau saling mengalah jika sudah bertemu.
Krek!
Mata Raffan membelalak kala kembali merasakan tulang belulangnya di tarik sampai berbunyi yang bukan hanya dia saja yang mendengar melainkan istri dan ibunya juga, bahkan kedua wanita itu berdiri bersamaan.
"Ampuuun Ayaaaahhh sakiiit!"
Dan teriakan kesakitan kembali membahana mengisi kamar, begitu kencang layaknya orang yang disiksa habis-habisan.
"Berani membuat ulah tapi tidak berani mengambil resiko, ini resiko karena susah diatur susah dibilangin dari sebelum menikah sampai menikah masih saja begini, kodrat mu sebagai lelaki harus bertanggung jawab kepada istrimu bukannya pada balapan gila yang selalu saja membuat celaka!" cerocos ustad Imran tak lagi tahan mengeluarkan omelan demi omelan yang mungkin hanya masuk telinga kanan lalu keluar dari telinga kiri, ngelos tanpa ada yang menampung.
"Hobi mu itu nyusahin orang lain tahu nggak! bukan hanya Ayah dan ibu yang kamu susahkan sekarang tapi juga istrimu!" sentak ustad Imran kembali mengurut tak peduli anaknya itu melolong kesakitan karena pergelangan kakinya dia tarik untuk di benarkan letak yang gesernya.
"Sakit Ayah," rengek Raffan yang sekarang terdengar seperti anak kecil sambil menutupi wajahnya yang memerah.
"Astaghfirullahaladzim, malu sama Deefa!" seru ustad Raffan ketika melihat anaknya itu menangis.
"Biarin aja, orang Raffan kesakitan ya nangis lah!" ketus Raffan.
"Ada perban Deef?" tanya ustad Imran pada menantunya.
"Ada Ayah, sebentar Deefa ambilkan," kata Deefa lalu bergegas mengambil kotak obat di atas meja rias.
"Ini Ayah," katanya memberikan gulungan pernah berwarna putih yang baru dia ambil kepada sang mertua.
Ustad Imran pun membalut pergelangan kaki sang anak yang sudah selesai dia urut, "seminggu kamu baru bisa jalan normal," ujarnya, entah untuk menakuti sang anak atau memang itu kenyataan yang jelas untuk saat ini Raffan tidak bisa berjalan dengan benar karena tidak serta-merta langsung sembuh begitu selesai diurut.
"Mana lagi yang perlu Ayah urut?"
"Udah nggak ada," Raffan menjawab cepat seraya menggeleng.
"Pinggangnya Ayah, tadi pagi Deefa lihat pinggang Mas Raffan biru."
"Bohong Ayah bohong, nggak ada udah nggak ada yang perlu di urut lagi." Raffan membantah ucapan Deefa sebab dia tidak mau lagi merasakan urutan dari tangan Ayahnya yang seperti orang kalap.
"Tadi Mas Raffan sendiri yang bilang kalau pinggangnya sakit terus Deefa juga lihat, masa di bilang bohong."
__ADS_1
"Deefa tidak mungkin bohong!" ustad Imran gegas membalik tubuh anaknya dengan cepat membuat Raffan tidak bisa mengelak.
Ustad Imran menaikkan kaos Raffan lalu menggelengkan kepalanya, "sudah begini masih juga berbohong," tuturnya menarik napas dengan kelakukan sang anak.
"Kamu kenapa sih Deef mesti ngomong? seneng banget ya lihat suaminya kesakitan," cerocos Raffan memarahi sang istri.
"Bukan begitu Mas, Deefa hanya tidak mau Mas Raffan nahan sakit dan tidak bisa bergerak dengan benar," jawab Deefa.
"Sakit gimana sih, dalam keadaan kayak gini aja aku masih bisa goyangin kamu, mau berapa ronde juga aku masih bisa!"
Pletak!
"Aduh!"
Raffan mengaduh kala kepalanya di jitak oleh Ayahnya yang kesal mendengar ucapannya.
"Ada orang tua saja masih bisa berbicara mesum begitu!" omel ustad Imran.
Sedangkan Deefa malah jadi menunduk malu terlebih lagi ibu mertuanya yang malah tengah senyam-senyum melihat ke arah dirinya.
"Lagian mantu Ayah noh ngeselin, tukang ngadu," celetuk Raffan kesal karena untuk kedua kalinya dia harus merasakan sakitnya di urut.
Seumur hidupnya ini adalah urut yang sangat sakit luar biasa sampai dia rasanya ingin menghancurkan tempat tidur, bukan lebay tapi memang sepertinya ustad Irman memang sengaja mengeluarkan tenaganya untuk memberi sedikit memberi pelajaran kepada anak bandelnya itu.
Dari remaja sampai setelah menikah pun masih saja keras kepala dan selalu tidak mau mengalah bahkan dengan istrinya sekalipun.
"Iya Bu, Deefa ngerti," jawab Deefa seraya mengulas senyum lembut.
"Kalau sudah sangat keterlaluan dan tidak bisa dinasehati baik-baik kamu boleh memberinya pelajaran, ibu serahkan Raffan sama kamu Deef, ibu percaya kamu pasti bisa membuatnya jauh lebih baik," papar wanita paruh baya sambil mengelus punggung sang menantu.
\*\*\*\*\*
"Raffan sialan!" umpat Faranisa, ketika tidak sengaja melihat foto Raffan di galery handphonenya.
"Ciee masih nyimpen foto mantan nih Yee." ledek teman-temannya yang sengaja melihat ketika Fara mengumpat.
__ADS_1
"Dih sok kegantengan benget tuh orang!" ketus Fara tak terima di ledek oleh temannya karena foto Raffan yang memang belum dia hapus.
"Kalau kata gue sih memang ganteng si Raffan itu Far," celetuk Seira.
"Bukan cuma kata Lo Se, kata gue dan anak-anak yang lain juga kok, emang ganteng dan juga badboy banget loh, gue suka ketar-ketir kalau ketemu dia," timpal Devi memuji pria bernama Raffan.
"Lo ambil sana kalau mau, gue mah nggak doyan sama laki orang!" sentak Fara dongkol
Mereka tentu sudah mendengar kalau Raffan sudah menikah tapi siapa wanitanya mereka belum tahu ataupun melihatnya langsung membuat mereka sangat penasaran.
"Ngomong-ngomong dia nikah sama siapa sih? anak fakultas mana gitu? apa anak kampus sini juga?" Seira mengeluarkan pertanyaan yang mendapat kedikkan bahu dari kedua temannya.
"Kalau anak sini juga pasti udah ketahuan lah, nggak mungkin anak sini kayaknya sih," terang Devi.
"Iya juga sih," imbuh Seira.
Sedangkan Fara sekarang sedang sibuk menghapus foto Raffan dari galery nya, foto pria ngeselin yang membuatnya akan selalu kesal kalau melihatnya.
"Ngapain Lo hapus?"
"Mau buat apaan memangnya gue simpan foto cowok sialan kayak dia ini!" bentak Fara.
"Kali mau Lo pelet," sahut Devi.
"Hahahahaha."
Devi dan Seira pun kompak tertawa saat Fara mendengus kesal mendengar ocehan tak masuk akal itu, memangnya dia wanita tidak laku sampai harus memelet seorang pria.
"Yang modelan Raffan begini sepuluh juga gue bisa dapetin!" celetuk Fara dengan lirikan mata sinis.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*