
"Aku pergi ya," pamit Raffan pada Deefa.
"Mas bilang cuma sebentar, tidak lupa kan?" Deefa mengingatkan sang suami yang hendak mengambil kunci mobilnya.
"Iya, janji pulang cepat," jawab Raffan.
"Jangan selalu mudah mengumbar janji tanpa tahu apakah benar-benar bisa menepatinya atau tidak," ujar Deefa yang kerap kali mendengar suaminya melontarkan janji, padahal mungkin saja janji itu tidak bisa dipenuhi dan nantinya hanya akan menimbulkan dosa akibat janji yang diingkari.
"Terus aku harus jawab apa?" Raffan menggaruk belakang telinganya menunjukkan raut wajah yang sudah bisa menebak kalau sebentar lagi istrinya itu akan mulai ceramah.
"Insya Allah, karena semua yang berlaku di dunia ini atas kehendak Allah, manusia hanya bisa berencana dan Allah tetaplah sang penentu, jadi sebaik-baiknya manusia adalah.."
"Oke aku ngerti, insya Allah aku pulang cepat, setelah urusan selesai akan langsung pulang," ucap Raffan memotong ucapan istrinya agar tidak lebih panjang lagi memberikan ceramah padanya padahal saat ini seharusnya dia sudah berangkat karena teman-temannya sudah menunggu.
Deefa menghela napas lalu menatap pada suami yang selalu saja menyela setiap kali dia ingin memberikan sedikit penjelasan agar suaminya itu mengerti dan menjadi lebih baik.
"Jangan cemberut sayang." mulai melancarkan rayuan gombal dari mulut berbisanya dengan tangan yang mencubit gemas kedua pipi sang istri.
Deefa pun akhirnya mengeluarkan senyum, sangat tidak baik mengiringi kepergian seorang suami dengan wajah yang di tekuk.
"Nah gitu dong, kan jadi makin keluar auranya," celoteh Raffan lalu mengajak istrinya untuk mengantar dia sampai ke pintu.
"Hati-hati di jalan," kata Deefa setelah mencium punggung tangan suaminya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," sahut Deefa yang menunggu mobil suaminya sampai tak terlihat baru kemudian dia menutup pintu dan menguncinya.
Langit sudah gelap dan dia hanya seorang diri di rumah, komplek perumahan pun terlihat sangat sepi karena sebagian penghuninya sudah berada di dalam rumah dan sebagian lagi mungkin masih berada di luar rumah dengan kegiatan mereka masing-masing.
Sekarang ini di bengkel sudah tampak ramai dengan pemuda yang berkumpul, tentu saja untuk menyaksikan balapan yang akan selalu membuat mereka bertaruh siapa jagoan mereka dan mereka akan memilih Raffan sebab pria itulah yang selalu saja memenangkan balapan hingga mereka tidak ragu lagi untuk mempertaruhkan uang mereka.
Raffan sangat mengerti ini adalah judi dengan resiko nyawanya sendiri maka dari itu dia tidak berani untuk meminta izin pada istrinya yang dengan jelas pasti akan melarang dan tidak akan membiarkannya melakukan hal ini dan entah kenapa dia malah tetap melakukannya diam-diam.
Lalu sekarang Raffan yang sudah sampai di bengkel sudah sibuk meminta Rio dan Gerry untuk menyetel ulang motor yang akan dia gunakan.
Motor milik Gerry sebab motor Raffan sendiri berada di rumah orang tuanya, sangat tidak mungkin jika dia mengambil motornya itu karena itu sama saja memberitahukan kepada orang tuanya kalau dia akan kembali melakukan hobi berbahayanya, jika orang tuanya tahu sudah pasti Deefa pun akan jadi tahu, dan Raffan tidak akan membiarkan telinganya panas akibat ceramah yang ketiga orang itu ucapkan untuk dirinya sepanjang malam.
__ADS_1
"Kenapa Lo ngelihatin gue?" tanya Raffan ketus pada Agam yang sejak dia datang memberikan tatapan yang sangat tajam padanya.
Sepertinya Agam sangat yakin kalau Raffan belum meminta izin pada Deefa tentang balapan ini.
"Lo nggak ngomong kan sama Deefa?" langsung mengutarakan apa yang ada di kepalanya tanpa basa-basi.
Raffan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan kemudian berkata, "nanti selesai balapan gue bilang," katanya dengan enteng.
Agam menghela napas lalu berdecak tanda dia sangat gemas sekaligus geram dengan tingkah Raffan yang sudah menikah namun kelakuannya masih tidak juga berubah, layaknya anak kecil yang akan berbohong pada orang tuanya ketika akan melakukan perbuatan yang jelas tidak akan diberi izin.
"Ehm!" Gerry akhirnya mendehem agar suasana tegang mencair, karena jika dibiarkan bisa-bisa si Raffan akan emosi.
Mereka kenal betul bagaimana seorang Raffan, raja drama dengan emosi yang akan mendominasi jika ada suatu hal yang tak sejalan dengan dirinya, dan Agam selama ini memang kerap kali berbeda pendapat dengan Raffan jauh sebelum Raffan menikah, keduanya kerap kali beradu argumen, berdebat tentang jalan pikiran yang berbeda.
Yang satu dengan tingkah sesuka hati dan yang satunya lagi akan selalu memikirkan pendapat orang lain sebelum bertindak.
Raffan beralih melihat pada Gerry yang mengerahkan kunci motor, "Lo yang tes atau gue?" tanyanya menawarkan pilihan tentang siapa yang akan mengetes motor yang akan di pakai oleh Raffan nantinya.
"Gue aja," kata Raffan merampas kunci dari tangan Gerry.
Raffan pun mulai menyalakan motor besar lalu mulai menjalankannya menjauh dari bengkel menuju jalanan yang memang akan selalu sepi saat malam tiba.
"Gimana? ada masalah nggak?" tanya Gerry saat Raffan kembali.
"Nggak ada, udah oke ini," jawab Raffan membuka helm.
Hingga akhirnya mereka kini sudah bersiap untuk melakukan balapan karena Marco juga memang sudah tidak lagi bisa bersabar untuk membuat Raffan kalah.
__ADS_1
Pria dengan rambut keriting itu selalu berambisi untuk mengalahkan Raffan meski hanya sekali saja karena sudah sekian kali berhadapan dengan Raffan tapi tidak juga menjadi pemenang.
Raffan dan Marco sudah berada di garis star dengan suara mesin motor yang meraung ganas serta di tonton oleh pemuda-pemuda yang setiap malam selalu menikmati ajang balap liar di tempat itu.
Hingga akhirnya balapan pun di mulai membuat kedua pemuda itu langsung tancap gas dengan gilanya tak peduli seberapa kencang mereka saat ini yang jelas mereka masing-masing ingin menjadi pemenang.
Sorak-sorai mulai terdengar keras menyemangati jagoan mereka, meski jagoan mereka sudah semakin jauh dan tidak terlihat tapi semangat malah terus membara dan berkobar di tengah langit malam yang gelap.
Dari kejauhan lampu dari dua motor itu perlahan mulai mendekat menandakan sebentar lagi mereka akan mengetahui siapa yang akan menjadi pemenang dalam balapan malam ini.
Dan Gumay juga yang lainnya pun langsung berseru kegirangan manakala Raffan lah yang lagi-lagi menjadi pemenang.
Marco lagi-lagi di buat kesal bahkan sampai memukul motornya sendiri, tapi kemudian dia menatap pada motor Raffan saat mendengar teriakan teman-teman, motor itu masih melaju dengan kencang bukan mengurangi kecepatan malah seperti tidak terkendali sampai akhirnya..
"Raffan!"
Suara-suara kencang yang memanggil pria yang kini sudah tersungkur bersama motornya yang masih saja melaju meskipun sudah terjatuh di aspal hingga menyeret tubuh Raffan.
Raffan jatuh dari motor membuat kepanikan dalam sekejap menyergap mereka, semua berlarian untuk melihat kondisi pria yang tadi terseret motor, bisa dipastikan tubuhnya akan sudah terluka saat ini.
__ADS_1
*******