
Entah sudah berapa lama Deefa mengeluarkan air mata menangis meratapi apa yang telah terjadi sampai akhirnya dia tersadar bahwa dia bukan lagi seorang istri dan itu bukanlah mimpi.
Semua yang terjadi sebuah kenyataan yang harus dia hadapi, kenyataan yang meluluhlantahkan jiwa dan raganya, Raffan sudah menceraikannya dan itu artinya mereka bukan siapa-siapa, mereka sudah tidak terikat pernikahan itu artinya dia tidak bisa lagi tinggal satu rumah, hal itupun menyadarkan Deefa untuk segera keluar dari rumah itu.
Mereka bukan lagi mahram dan itu membuat Deefa kembali meneteskan air mata meski sudah berulang kali dia menyekanya, berusaha menghilangkan jejak tangisan di wajahnya akan tetapi itu terasa percuma, ketika dia berusaha menyekanya lalu akan kembali turun air mata yang lainnya.
Wanita itu mengatur napas agar perasaannya sedikit lebih baik tapi tetap saja tidak berubah, perasaannya tetap sama sakit sedih kecewa semua campur aduk.
Perlahan dia bergerak untuk turun dari tempat tidur sambil memeluk selimut yang tadi dipakai Raffan untuk menyelimuti tubuhnya, mengingat itu dia menjadi kembali tak kuasa menahan isak tangis.
Dia menjadi benar-benar lemah namun dia di paksa untuk tetap kuat menghadapi cobaan yang sedang Allah berikan padanya.
Dia harus pergi dari rumah ini, tapi sebelumnya dia harus mengambil pakaian di kamar atas, kamar yang juga ditempati oleh Raffan dan tadi dia tidak mendengar suara kendaraan yang pergu, itu artinya mantan suaminya berada di dalam kamar, di lantai atas entah sedang apa Deefa tidak mau memikirkannya.
Wanita itu memakai kembali pakaiannya lalu dengan gerakan yang teramat lambat dia melangkah menuju pintu, sekarang ini dia akan mengambil pakaiannya yang ada di ruang setrika, kemarin pagi dia ingat dia sudah sempat menyetrika pakaian setelah mengangkatnya dari jemuran hanya saja dia belum sempat memindahkannya ke dalam lemari.
Entah kenapa semua yang dia kerjakan jadi sering dia tinggalkan begitu saja, tidak langsung dia selesaikan, mungkin dia terlalu banyak pikiran hingga fokusnya menjadi terpecah.
Langkahnya terasa sangat berat dan ragu ketika dia mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah lantai atas, lantai tempat suaminya berada sekarang.
Mematung sejenak baru kemudian kembali melanjutkan langkah menuju tempat yang dia tuju masuk ke dalam ruangan yang pintunya memang selalu terbuka dan langsung tertuju pada tumpukan pakaian yang terlipat rapi.
Segera mengambil pakaiannya beserta pakaian dalam serta gamis yang ada di gantungan, setelah mendapatkan apa yang dia cari diapun gegas kembali ke kamar, dia harus membersihkan diri setelah itu menunggu Raffan keluar dari kamar agar dia bisa mengambil semua pakaiannya.
Mereka sudah bukan suami istri, tidak ada ikatan apapun, jelas tidak boleh berada di satu atap bahkan di ruangan yang sama.
Deefa yang sudah membersihkan dirinya pun duduk di tepi tempat tidur dengan gerak tubuh yang tampak gelisah, sudut matanya juga masih mengeluarkan air mata yang tidak tahu kenapa tidak mau berhenti seolah ada mata air di dalamnya yang tidak pernah mengering.
Kedua tangannya juga sudah saling bertaut, meremas seperti sedang menyalurkan semua perasaan yang mendera di dalam jiwa dan pikirannya.
Ini sudah hampir satu jam dia berdiam diri di dalam kamar menunggu tanpa kepastian kapan mantan suaminya akan keluar dan membiarkannya masuk ke dalam kamar untuk mengambil semua pakaian miliknya agar dia bisa segera keluar dari rumah yang menyimpan sejuta kenangan.
Deefa tidak akan pernah melupakan perjalanan rumah tangganya yang harus berakhir di usia pernikahan yang bahkan masih kurang beberapa bulan lagi untuk menginjak satu tahun.
Pernikahan yang mungkin begitu singkat tapi banyak kenangan yang tidak akan sanggup dia lupakan sekalipun dia ingin.
Wanita yang bergamis hitam dengan kerudung berwarna senada itu beranjak menuju pintu, tangannya ragu untuk membuka daun pintu kala telinganya menangkap derap langkah yang tengah menuruni anak tangga.
__ADS_1
Derap langkah berat milik suaminya yang kembali membuatnya menangis mengingat kata cerai yang baru satu setengah jam lalu dia terima.
Derap langkah yang akhirnya tidak akan pernah lagi dia dengar setelah malam ini, esok dia tidak boleh berada di rumah ini lagi.
Ini hari terakhirnya dan dosa kah dia memuaskan dirinya lebih dulu sebelum benar-benar pergi?
Dosa kah dirinya kembali menangis menyesali apa yang sudah terjadi?
Deefa menyandarkan kepalanya pada daun pintu dengan tangan yang sudah siap untuk membukanya.
Mulutnya mengucapkan basmalah sebelum benar-benar memantapkan diri membuka pintu kamar yang memisahkan dirinya dengan ruangan lain yang tadi di lewati oleh mantan suaminya.
Napas Deefa tercekat dengan gerakan pelan dia mengeluarkan sedikit kepalanya, melihat dan memasang telinga dengan baik untuk memastikan Raffan berada dimana.
Telinganya mendengar suara sendok yang beradu dengan gelas menandakan bahwa Raffan kini ada di dapur membuat minuman yang sepertinya Teh, tidak mungkin kopi sebab Deefa sama sekali tidak mencium harum kopi yang di siram air panas.
Hati Deefa mencelos menyimpan kecewa, saat dia tengah menangis dan larut dalam kesedihan, pria yang baru saja menceraikannya bisa begitu tenang seolah tidak pernah melakukan apapun.
Deefa tidak tahu seperti apa perasaan Raffan saat ini, apakah sedih juga kecewa.
Langkah kaki Deefa begitu cepat menaiki anak tangga gegas masuk ke dalam kamar tanpa menutupnya dia harus cepat-cepat mengambil seluruh pakaiannya sebelum Raffan kembali.
Gerakan Raffan yang tengah mengaduk teh terhenti saat melihat makanan di atas meja.
Makanan yang belum tersentuh sama sekali terlihat sudah dingin, dia ingat tadi Deefa menawarkannya untuk makan, akan tetapi perasaan marah membuatnya menjadi kalut, tidak peduli dan mengabaikan tawaran mantan istrinya tapi malah melakukan hal yang jahat.
Sungguh dia sendiri pun merasa dirinya jahat, meniduri wanita yang menjadi istrinya dalam keadaan marah lalu setelahnya menjatuhkan talak.
Mungkin dia adalah pria paling kejam yang ada di muka bumi, pria brengsek hanya karena emosi melakukan perbuatan yang pastinya sangat menyakiti wanita yang dia cintai.
Dia akui dia sangat mencintai Deefa, tidak menampiknya setelah menyadari betapa besar rasa yang dia punya untuk wanita itu, akan tetapi ego malah menghancurkan semuanya hanya karena dia ingin menunjukkan bahwa dia tidak pernah main-main dengan perkataannya.
Peringatannya tidak di dengar dan itu membuatnya marah hingga tidak bisa berpikir akhir cerita yang nantinya akan membuat luka.
Kedua matanya terlihat merah karena tadi pun dia menangis, menyesal tapi dia juga keras hati.
Meski bagaimanapun dia ini laki-laki sekalipun usianya lebih muda tetap dialah yang menjadi kepala keluarga, seharusnya istrinya mendengarkan perkataannya.
__ADS_1
Raffan duduk di kursi makan, menunduk dengan kedua tangan yang menopang kepala menunjukkan dia yang gelisah bercampur marah.
"Arrghh." menggeram sambil menarik rambutnya sendiri, rambut yang masih terlihat basah karena diapun tadi membersihkan dirinya setelah menceraikan Deefa dengan sangat kejam.
Deefa memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper besar, lalu beranjak untuk keluar dari kamar yang kembali membuatnya meneteskan air mata, tapi langkahnya terhenti saat di depan pintu mendapati sang mantan suami, entah berapa lama pria itu berada di tempat itu, Deefa tidak menyadari karena dia yang fokus pada barang-barang miliknya yang akan dia bawa.
Kedua mata mereka saling menatap, begitu dalam dan lama seperti tengah menyelami perasaan masing-masing sampai akhirnya Deefa memalingkan wajah, memutus kontak mata mereka.
Raffan melihat pada koper yang ada di samping mantan istrinya, menatap gamang dengan matanya yang merah.
"Ini tengah malam," kata Raffan singkat.
Tanpa dijelaskan Deefa sudah cukup mengerti, pria itu tidak mau dia pergi malam ini, tapi Deefa tidak akan mendengarkan.
"Kita bukan suami istri lagi, tidak baik berada dalam satu atap," jawab Deefa dengan suara lirih tanpa melihat pria yang ada di depannya.
Pria yang hatinya menangis gelisah tengah menatapnya penuh kecewa.
Mereka dua orang keras kepala sama-sama menyimpan kecewa tapi tidak ada satupun dari mereka yang ingin berbicara dengan tenang dan membicarakan apa yang sudah terjadi.
Raffan menghela napas panjang juga berat tanpa memalingkan wajah bahkan merubah pandangannya sekalipun.
Pria itu tetap menatap wajah yang ada di depannya, menyaksikan mata yang membengkak terlihat jelas meskipun Deefa memalingkan wajahnya.
Detik ini sebenarnya Deefa bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tentang kedatangannya ke rumah sang mantan mertua, meluruskan kesalahpahaman dengan begitu Raffan pasti akan memintanya rujuk sebelum semuanya benar-benar berakhir, keduanya masih bisa rujuk tanpa perlu menunggu lama.
Akan tetapi mulut Deefa seakan bungkam untuk menyatakan kebenaran.
"Kalau begitu aku yang akan keluar dari rumah," kata Raffan bergegas masuk ke dalam kamar mengambil kunci motor yang entah berada dimana.
Sedangkan Deefa sudah menyeret kopernya.
Setelah mendapatkan kunci motornya dia segera berlari menuruni tangga mencari keberadaan sang mantan istri namun sudah tidak ada.
"Deefa!!"
****
__ADS_1