Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Berselisih


__ADS_3

Di kampus Raffan malah tampak lesu, sejak semalam sampai pagi tadi dia masih saja berselisih dengan istrinya.


Istrinya mau begini sedangkan dia mau begitu, mereka pasangan muda yang satu masih ingin menikmati masa-masa indah rumah tangga berdua tapi yang satunya sudah sangat ingin memiliki anak, terlebih lagi adanya tuntutan dari sang ibu membuat Raffan jadi pusing sendiri.


Rio yang baru datang menatap heran pada temannya yang tengah menelungkupkan kepala di atas meja, bukankah kemarin dia mengerjai temannya itu? jadi dia pikir hari ini pasti Raffan akan membuat perhitungan dengannya, dia bahkan sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi Raffan, tapi begitu sampai di kelas dia malah mendapati temannya layu bagaikan seikat kangkung yang di jemur berhari-hari.


"Kenapa tuh?" tanya Rio pada Agam yang tidak tahu-menahu, dia datang Raffan sudah seperti itu mau bertanya tapi dia tidak mau mengganggu temannya yang sedang risau, sebab dari wajahnya terlihat jelas ada yang sedang mengganggu pikiran sang teman.


"Gue datang udah begitu," tutur Agam mengedikkan bahu.


"Dia datang duluan?" Rio tampaknya begitu terkejut mendengar seorang Raffan datang lebih dulu ketimbang teman-temannya yang lain, biasanya pria itu datang ketika kelas sudah sangat ramai tapi kenapa pagi ini dia datang lebih getol dari biasanya? ada yang terjadi kah? melihat dari sikapnya kali ini sangat jelas pasti ada yang sedang terjadi pada pria yang dijuluki raja drama itu.


"Woi!" Rio menyenggol lengan Raffan hingga bergeser sedikit berharap temannya itu kesal karena biasanya Raffan akan langsung nyolot jika ada yang mengganggu.


Rio dan Agam saling pandang begitu Raffan benar-benar tidak menggubris, pria itu mengabaikan apa yang Rio lakukan.


"Kemarin gue ngerjain elo kan," Rio mencoba mengingatkan agar Raffan terpancing dan kembali seperti biasa, tapi nyatanya Raffan tetap tidak bergeming hanya bergerak sedikit untuk membenarkan posisi tangannya.


Ah pria beristri itu sekarang malah terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk ketika mainan yang dia inginkan tidak di belikan.


Raffan tetap tidak mengangkat kepalanya dari atas meja yang sejak tadi bagai menempel dengan lem yang sangat kuat, sungguh hal ini membuat Agam dan Rio malah jadi bertanya-tanya lewat lirikan mata.


"Lo lagi ada masalah?" akhirnya Agam bertanya tidak mau terlalu lama menduga-duga yang nantinya hanya membuat segala praduga bermunculan bagaikan bola liar.


Tanpa mengangkat kepala Raffan menggerakkan kepalanya mengiyakan pertanyaan dari temannya yang sekarang menggeser bangkunya mendekat ke arahnya.


"Masalah apa?" Rio pun turut serta bertanya, dari tingkah laku Raffan yang sangatlah tidak biasa sudah bisa dipastikan masalah itu mungkin sedikit pelik.


Rio dan Agam menunggu dengan sabar sampai Raffan kembali bersuara, tapi bukannya bersuara pria yang kepalanya masih setia menempel di atas meja itu malah menghela napas berat lalu jarinya mengetuk-ngetuk meja.


Tuk tuk tuk tuk tuk tuk!


"Deh nih anak," Rio memutar bola mata jengah dengan tingkah Raffan, ini dia dan Agam sedang menanti jawaban eh yang di tanya malah asik bermain jari di atas meja membuat telinga Rio gatal mendengarnya.


Jari Raffan yang tadi tengah mengetuk meja pun berhenti mendengar ocehan Rio, lalu dengan begitu perlahan mengangkat kepalanya hingga akhirnya terlihat sudah wajah yang biasanya tampan berseri di tambah dengan tingkah konyol mendominasi pun berubah menjadi layu lesu letih tidak bergairah dan tak ada semangat seperti tidak makan satu tahun.


"Deefa ingin punya anak," tutur Raffan dengan suara yang lirih, jauh berbeda dengan suara yang biasanya ceria.



Rio dan Agam saling pandang lagi entah untuk yang ke berapa kalinya, sebenarnya tidak kaget sebab yang namanya orang menikah kan salah satu tujuannya itu yang untuk memiliki keturunan jadi sudah sangat wajar kalau Deefa menginginkan anak, tapi yang menjadi masalah dan membuat Rio dan Agam bingung kenapa Raffan malah jadi kayak orang yang tertekan.


__ADS_1


Istrinya ingin punya anak yang berikan saja mereka yakin seratus persen si Raffan ini bibitnya pasti sangat sehat toh di lihat dari segi usia masih sangat muda pasti juga gempurannya begitu kuat dengan semangat juang 45, tentu tidak akan keberatan menggempur setiap saat apalagi itu memang kesenangannya Raffan.



"Lah ngaco, Deefa ingin anak kenapa Lo pusing amat, tinggal gempur saban hari ntar juga jadi," celetuk Rio ceplas-ceplos masa bodo dengan mahasiswa-mahasiswi yang sudah mulai berdatangan termasuk Gerry yang sudah ikut bergabung dengan mereka.



"Siapa yang mau punya anak?" si Gerry baru juga datang sudah ikut nimbrung saja layaknya petasan rentet yang di bakar satu meledak semua.



"Tuh," Rio menunjuk Raffan dengan ujung bibirnya.



"Deefa hamil?" Gerry bertanya seraya mendudukkan bokongnya di bangku depan Raffan.



Raffan menggeleng.




"Dih bego," dengus Rio kesal dengan Gerry, "orang kalau baru datang tuh jangan asal nimbrung apa, nyusahin jadinya," cetus Rio melemparkan kertas yang dia remas-remas ke arah wajah Gerry.



"Terus Lo kenapa kayak gini Raf? kan wajar kalau Deefa mau punya anak dari Lo, kalian suami istri," kata Agam berusaha memberi pengertian pada temannya yang begitu lesu.



"Gue juga mau kasih dia anak, siapa yang nggak mau punya anak, tapi kan nggak sekarang-sekarang ini," papar Raffan.



"Lo belum siap?" tanya Rio, sedangkan Gerry memilih untuk mendengarkan saja ketimbang salah lagi.



Raffan menggeleng, "bukannya belum siap."

__ADS_1



"Terus apa?" tanya Agam, sungguh saat ini Agam terlibat lebih ngemong ketimbang teman-temannya itu yang selalu saja berkelakuan konyol membuat orang nestapa karena ulah mereka.



"Gue sama dia ini baru enam bulan nikah, belum terlalu lama jadi gue masih ingin nikmatin masa-masa berdua lagian Allah juga belum kasih kok, kalau Allah mau juga udah di kasih dari bulan-bulan lalu, ini kan artinya Allah masih ingin gue sama Deefa berdua dulu tapi kenapa dia malah pusing mikirin anak terus, kenapa mesti dengerin omongan ibu gue yang jalanin kan gue sama dia, maksud gue nggak usah lah dengerin omongan ibu," papar Raffan menceritakan apa yang dia alami saat ini.



"Jadi sebenarnya yang maksa buat cepat-cepat punya anak itu Deefa atau ibu Lo sih? kok Lo jadi bawa-bawa ibu Lo?" tanya Gerry yang mulai gatal ingin ikut campur dalam pembicaraan, sebagai teman dia juga ingin ikut nimbrung dong.



"Tadinya Deefa santai nggak ada bahas soal anak tapi pas ketemu ibu dan ibu tanya dia udah hamil atau belum eh sekarang dia yang jadi maksa gue terus buat ke dokter sama dia biar periksa," jelas Raffan.



"Jadi karena ibu Lo?" tanya Agam.



Raffan mengangguk, "pusing gue lah!" lontar Raffan kembali mendaratkan kepalanya di atas meja.



"Nikah pusing nggak nikah pusing, belum nikah di paksa nikah eh udah nikah di paksa cepat-cepat buat punya anak, nasib mu Raf Raf," celoteh Gerry dengan kepala yang menggeleng lambat.



Agam terdiam sudah tidak tahu mau bicara apa lagi dia menyandarkan tubuhnya di bangku lalu sesekali melirik pada Raffan seraya menghembuskan napas berat.



Begitupula dengan Rio, salah satu temannya Raffan itu menatap Raffan lalu melakukan hal yang sama dengan Agam, menarik napas lalu melepaskannya dengan suara yang berat.



Sedangkan Gerry malah sibuk membuat video tentang kelakuan Raffan yang sedang resah gelisah galau lalu mengirimkannya pada Gumay yang masih berada di rumah sakit, Gerry juga ingin Gumay melihat seperti apa seorang Raffan si raja drama yang biasanya berisik tapi sekarang malah seperti tikus ke siram air kusut dan kucel tak jelas.



Kalau saja ada Gumay mungkin Raffan sudah habis dijadikan bahan ledekan serta cercaan temannya itu, istri minta anak bukannya senang eh malah di buat pusing, ribet memang.

__ADS_1


*******


__ADS_2