
Suara ketukan pada pintu membuat seorang wanita yang sedang terlelap dalam tidurnya harus terpaksa bangun.
Dia hanya seorang diri di rumah karena suaminya yang tidak pulang membuat dia sebenarnya takut untuk membuka pintu, ngeri kalau yang datang itu adalah orang jahat.
Aliya berjalan lambat memasang wajah waspada, "maling tidak akan ketok pintu dulu kan?" bertanya sendiri sambil kakinya menuju ke dekat kaca yang tertutup oleh gorden.
Tangan lentiknya pun bergerak untuk menyingkap sedikit gorden agar dia bisa melihat siapa yang berada di depan rumahnya dan mengetuk pintu di tengah malam menjelang pagi.
"Deefa!" sangat terkejut kala matanya menangkap siapa yang kini berdiri di depan pintunya.
Aliya pun bergerak cepat untuk membuka pintu agar Deefa bisa masuk.
"Assalamualaikum," ucap Deefa lagi karena salamnya yang tadi belum di jawab oleh Aliya.
"Wa'alaikumsalam, ayo masuk," ajak wanita yang mengenakan gaun tidur dengan rambut yang tergerai.
Deefa pun segera masuk dengan membawa kopernya dan itu tentu saja membuat Aliya tertegun bingung.
Pertanyaan kenapa Deefa tengah malam datang ke rumahnya dengan membawa koper lantas menyeruak memenuhi isi kepala meski tangannya tetap bergerak untuk menutup pintu.
"Boleh aku disini sebentar? hanya sebentar saja karena aku juga sedang memesan taksi," suara Deefa terdengar sangat lirih menyiratkan kesedihan dan juga beban yang sedang dia tanggung.
"Taksi? ini hampir pagi Deef, memangnya kamu mau kemana?" Aliya berdiri mematung mendengar jawaban dari tetangga rumah yang memang sudah sangat akrab dengannya.
Wanita cantik dengan pakaian tertutup dan selalu terlihat santun serta ramah kini wajahnya memperlihatkan kesedihan bercampur dengan resah yang entah bagaimana melukiskannya yang jelas wajah Deefa tidak lagi sama seperti biasanya saat mereka saling berbagi cerita tentang masakan apa saja yang biasa mereka masak.
"Aku mau pulang ke kampung," sahut Deefa dengan suara yang berat.
Jelas sekali terlihat bahwa wanita di depan Aliya ini tengah mengalami masalah.
"Suamimu? apa suamimu tidak ada di rumah?" tanya Aliya.
Bukan hal aneh jika dia mempertanyakan suami dari temannya itu, karena biasanya dia kerap kali mendapatkan pemandangan yang sangat harmonis dari pasangan yang rumahnya terhalang beberapa rumah darinya.
Mulut Deefa yang membisu dengan jelas sudah memberikan jawaban atas pertanyaan yang Aliya berikan.
Deefa bertengkar dengan suaminya dan itu kesimpulan yang Aliya dapatkan.
Raffan berlarian menuju gerbang perumahan napasnya sudah benar-benar sesak karena dia malah melupakan motornya.
Andai dia berpikir jernih mungkin saat ini dia tengah berada di atas motornya, namun sayangnya dia panik saat Deefa sudah tidak ada di rumah.
"Pak, lihat istri saya tidak?"
Bertanya pada security perumahan yang pastinya sudah mengenal siapa saja orang yang tinggal di perumahan tempat dia bekerja dan harus dia jaga setiap harinya, meski pun bergantian akan tetapi dia juga harus hafal wajah serta nama keluarga yang tinggal di perumahan itu.
__ADS_1
"Wah nggak lihat tuh Mas, dari tadi saya jaga nggak ada lihat Mbak Deefa," sahut security yang di bajunya tertera nama Sudarman.
Raffan menjadi semakin cemas, istrinya tidak ada di rumah dan security juga tidak melihatnya, lalu Deefa sekarang dimana?
Jika masih ada di rumah sangat tidak mungkin karena tadi pun dia sudah memeriksa ke semua ruangan namun Istrinya benar-benar tidak ada, sedangkan Raffan pun tidak pernah tahu kalau di perumahan ini istrinya memiliki teman dekat karena saat dia pergi atau pulang ke rumah istrinya selalu ada atau istrinya selalu sendiri di rumah.
"Ya Allah Deefa kamu kemana," suara Raffan terdengar frustasi sekarang yang ada di dalam dirinya bukan lagi kemarahan tapi berubah menjadi ketakutan, ketakutan yang perlahan makin membesar.
"Kenapa Mas?" security lainnya yang tadi sedang berbicara dengan warga perumahan datang menghampiri melihat Raffan yang berwajah panik.
"Kamu lihat Mbak Deefa nggak, Pri?" security bernama Sudarman membantu Raffan untuk bertanya.
Pria yang dipanggil Pri itu sontak menggeleng tapi kemudian wajahnya terlihat sedang berpikir, entah memikirkan apa sampai sekitar satu menit kemudian pria itupun kembali membuka mulut.
Deg
Jantung Raffan memompa makin cepat lalu matanya menatap pada sang security.
"Taksi?" bibir Raffan bergerak untuk mengulang apa yang barusan diucapkan pria di depannya.
Sang security mengangguk mengiyakan, "tanyain alamat eh taunya yang di tuju alamatnya Mas Raffan tapi nama yang pesan ya istrinya Mas Raffan, Mbak Deefa langsung saja saya jelasin dimana rumahnya nah tuh taksi langsung.."
Raffan langsung berlari cepat tanpa menunggu security menyelesaikan penjelasannya.
Kalau Deefa memesan taksi dari alamat rumah itu artinya Deefa masih berada di rumah.
Tidak, bukan di rumah tapi di sekitar rumah namun bersembunyi darinya.
__ADS_1
Pria itu kembali berlari menuju rumah dan mencari taksi yang tadi di katakan oleh security dan larinya terhenti saat di seberang sana dia melihat taksi yang melaju dengan kecepatan tinggi, taksi yang seolah tidak ingin di kejar membuat Raffan mematung dan hanya diam saja menatapnya.
Deefa di dalam mobil pun sempat bertatapan dengan sepasang mata suaminya yang memancarkan kecewa namun dia tidak berniat untuk menghentikan taksi yang melaju.
Tubuh Raffan benar-benar membeku tanpa berkedip satu kali pun hingga rintikan air mata mulai turun dari sepasang matanya seperti mengiringi kepergian sang permata hati dari hidupnya.
"Andai kamu membujukku Deef, andai kamu memintaku untuk menarik kata-kataku, aku akan lakukan Deef," suara Raffan terdengar sangat lirih dan menyedihkan.
"Tapi kamu tidak berusaha untuk membujukku! kamu tidak berusaha untuk memperbaiki kesalahan yang sudah kita buat! kamu memilih pergi! kamu menyerah tanpa mau berjuang lebih dulu!" Raffan berteriak kencang tak peduli andai ada tetangga yang mendengar dan menyaksikan apa yang dia lakukan saat ini.
"Bahkan kamu pun melihatku ada disini, tapi kamu tetap tidak berhenti," kalimat Raffan terdengar sangat kecewa menusuk dan menyakiti hatinya sendiri.
Deefa menghapus air mata yang membasahi hampir seluruh wajahnya, menguatkan diri agar tidak lagi menangis memikirkan kehidupan yang sempat dia lalui.
Taksi terus melaju membelah jalanan ibukota yang mulai lengang pada dini hari, membawa penumpangnya menuju stasiun kereta seperti yang diminta oleh sang penumpang yang duduk dengan menyimpan kesedihan mendalam.
Dua anak manusia yang saling merasakan sakit dan kecewa namun masih terus berkeras hati.
"Setelah ini Deefa doakan Mas Raffan bisa hidup bahagia dan bisa memiliki banyak anak," gumam Deefa mencoba untuk tersenyum.
Dengan tulus dia mendoakan kebahagiaan untuk mantan suaminya, mengabaikan kesakitan yang dia rasakan.
Sedangkan dia setelah ini akan memilih untuk hidup sendiri.
Menikah untuk kedua kalinya tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
"Deefa pamit Mas."
\*\*\*\*
__ADS_1
Selesai......?