Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Raffan Yang Aneh


__ADS_3

"Teman macam apa yang deketin istri temannya sendiri!"


Sepanjang jalan menuju rumah mulut Raffan tak hentinya bersungut mengingat perkataan Gerry tentang Agam.


Oh ya ampun Raffan sedang kenapa? tidak salahkah dia menyebut Deefa sebagai istri? padahal dengan mulutnya yang dia kendalikan sendirilah yang mengatakan kalau Deefa sepupunya, lalu sekarang dengan bodohnya menyalahkan temannya yang berusaha mendekati wanita yang tidak dia akui?


Oh Raffan saat mengatakan Deefa sepupu apa otakmu sedang tertinggal di lintasan balap? Raffan yang sedang aneh atau memang dia itu tidak mempunyai otak untuk sekedar berpikir akibat yang akan terjadi jika mulutnya selalu seenaknya saja kala berbicara.


"Sialan!" makinya saat pikirannya kembali tak terima.


"Bahkan dia sudah meminta Ayahnya untuk berbicara dengan Kiyai Burhan? Agam itu otaknya di taruh dimana sebenarnya!" oceh nya kini malah mempertanyakan letak otak sang teman tanpa mau ber sadar diri hal seperti ini tidak akan terjadi seandainya saja dia mau mengakui Deefa adalah istrinya.


"Lagian si Deefa ngapain sih pakai acara nyusulin gue!"


Dan kali ini mulut durjana nya itu mencari sasaran lain, menyalahkan wanita yang sempat mendatangi bengkelnya karena dia yang tak pulang-pulang padahal hari sudah sangat malam.


Mulutnya baru mau berhenti ketika mobil yang dia kendarai sudah memasuki area perumahan menuju rumahnya.


Setelah membuka pagar rumah dia pun melesakkan mobilnya dengan cepat menuju garasi yang memang masih terbuka tapi sebelum sampai garasi tangannya itu seolah sangat gatal untuk membunyikan klakson berkali-kali sepertinya pria itu sedang mencari perhatian pada wanita di dalam rumah.


Tiiiinnn!


Tiiiinnn!


Tiiiinnn!


Suara klakson mobil yang nyaring pun memenuhi seisi halaman rumah itu bahkan mungkin terdengar sampai rumah tetangga yang berdekatan dengannya.


Dan benar saja dari arah dalam seorang wanita berlari sambil menutup kedua telinganya akibat suara bising dari klakson yang belum kunjung Raffan hentikan, tampang pria itu bahkan menyiratkan kekesalan yang naik hingga ke ubun-ubun.


"Astaghfirullah Mas Raffan!" seru Deefa menghampiri mobil sang suami dan menegur suaminya yang tak juga menghentikan perbuatannya.


Tiiin!


Tiiin!


Malah makin sengaja seperti menantang wanita berkerudung yang tak mengerti bagaimana bisa sikap suaminya itu seperti anak kecil, lagian tumben sekali suaminya itu sudah pulang padahal jam saja masih menunjuk di angka 8 dengan langit yang sudah gelap.


Ya! ini baru jam 8 malam dan Raffan sudah pulang ke rumah sekaligus membawa tingkah tak masuk akalnya, bukankah kemarin-kemarin pria itu nampak begitu berandalan dengan sikap mau menang sendirinya tapi kenapa sekarang berlaku begini? membunyikan klakson berulangkali bahkan saat berada di garasi rumah, jika sedang terjebak macet mungkin saja tindakannya itu menjadi hal yang wajar, tapi sekarang? oh ya ampun! Deefa bahkan menggeleng kepalanya tak percaya bahwa suaminya mempunyai sisi aneh seperti ini.


Deefa mengetuk kaca mobil yang masih tertutup.


Raffan dengan wajah tengilnya menurunkan kaca mobil, "kenapa? nggak seneng?" tanyanya ketus.


"Berisik Mas, nggak enak sama tetangga mereka pasti terganggu," sahut Deefa yang bukan membuat Raffan berhenti malah dengan sengaja kembali menekan klakson.


Tiiin!

__ADS_1


Tiiin!


Deefa menutup telinga seraya berteriak, "Mas Raffan!" mulai terlihat marah pada sikap sang suami.


Raffan sedikit kaget tak menyangka kalau seorang Deefa yang selama ini dia tahu begitu lemah lembut bahkan saat berbicara pun seperti orang berbisik kali ini tidak segan meneriaki dirinya.


Raffan yang memang tak pernah mau mengalah pun segera mematikan mesin mobil lalu membuka sabuk pengaman serta turun dari mobil dan membanting pintu mobil hingga meninggalkan bunyi yang membuat Deefa menghela napas.


Pria itu seperti tidak peduli pada wanita yang berada di belakangnya, tidak peduli kalau wanita itu bingung dengan sikapnya yang pulang tidak seperti biasanya.


Deefa melangkah cepat guna menyusul suaminya yang sudah menghilang ke dalam rumah tapi saat Deefa melihat pagar yang belum di tutup membuatnya memutar langkah menuju halaman untuk menutup pagar.


"Kalau minum itu duduk Mas," Deefa menegur begitu masuk ke dalam rumah dan mendapati sang suami tengah berdiri di depan kulkas dengan segelas air dingin di tangannya.


Ck


Raffan berdecak tapi kemudian dia menarik kursi untuk duduk, ya ini masih mending Deefa yang memergokinya minum sambil berdiri jika Ayah atau ibunya sudah pasti tegurannya akan lebih dari pada Deefa.


Deefa menunggu sampai Raffan selesai minum baru kemudian dia mengajukan pertanyaan, "Mas kenapa? ada masalah? kenapa pulang marah-marah?" tanya Deefa yang suaranya kembali lembut seperti semula tidak seperti saat dia membentak suaminya tadi.


Raffan meletakkan gelasnya terlihat bingung dengan pertanyaan yang Deefa tujukan padanya.


Marah-marah? apa sikapnya tadi terlihat seperti orang yang sedang marah? Raffan bahkan tidak mengerti dan sulit mengartikan sikapnya sendiri, yang dia tahu tadi dia sangat kesal saat mendengar cerita dari Gerry, apa benar hal itu pemicu kemarahan yang dia tunjukkan tadi?


"Lo masak apa?" tanya Raffan mengalihkan pembicaraan, sepertinya dia malu mengakui tingkah anehnya sendiri.


Deefa membuka setiap tutup tempat makan yang ada di atas meja, makanan yang tadi sore selalu dia masak meskipun Raffan jarang makan di rumah terlebih lagi karena pria itu yang selalu pulang malam.


"Sayur sop nya Deefa hangatkan dulu," kata Deefa beranjak ke dapur dan menghangatkan sayur sop yang memang masih berada di dalam panci.


Sayur sudah terhidang di atas meja dan Deefa dengan kewajibannya sebagai istri pun cekatan menyendok nasi serta lauknya ke dalam piring di depan sang suami.


Raffan tidak mengeluarkan suara hanya gerak tubuhnya saja yang tidak bisa diam seperti ada yang sesuatu yang membuatnya gelisah.


"Mas kenapa?" tanya Deefa menghentikan gerakannya yang akan mengambil potongan tempe.


"Gue mau tanya," kata Raffan akhirnya.


"Nanti saja selesai makan," sahut Deefa menolak.


"Gue mau tanya sekarang Deefa!"


Raffan berkata dengan mata yang menajam kekeh pada keinginannya, ah dasar berandal labil.


Raffan tampak menyadari ketika istrinya menarik napas, tentu Raffan sadar wanita itu sedikit keberatan karena nasi serta lauknya sudah bersatu di dalam piring bukankah akan menjadi dingin jika tidak langsung di makan?


Meski sadar tapi nyatanya Raffan tak begitu peduli keras kepalanya akan memaksa bertanya lebih dulu mengeluarkan isi hatinya yang sejak tadi dia bawa dari bengkel.

__ADS_1


"Ya sudah, Mas mau tanya apa?" akhirnya Deefa menyerah, percuma menolak karena pria di depannya itu tidak akan menyerah sebelum keinginannya terpenuhi, terlihat sangat egois memang tapi biarlah ketimbang pria itu tidak jadi makan hanya karena tidak boleh mengajukan pertanyaan yang entah apa Deefa pun belum tahu.


"Lo tiap hari di antar pulang sama Agam?" Raffan tanpa berpikir langsung bertanya.


"Kak Agam?" kening Deefa mengerut.


"Nggak usah pura-pura nggak kenal deh!" dengus Raffan.


Raffan salah faham, bukan Deefa berpura-pura tidak mengenal pria bernama Agam, bukan itu maksudnya tadi dia hanya mengulangi apa yang Agam ucapkan untuk meyakinkan bahwa apa yang dia dengar tidak salah.


"Bukan itu maksudnya," terang Deefa.


"Terus apa?"


"Kenapa tiba-tiba Mas Raffan tanyain soal Kak Agam?" bingung Deefa.


Bola mata Raffan berputar mendengar Deefa menyebut Agam Kakak.


Deefa memanggil Agam Kakak? apa itu tidak berlebihan, setidaknya Deefa tahu kalau pria itu memiliki umur yang sama dengannya bukan?


"Usia dia sama dengan gue Deefa, nggak perlu panggil dia Kakak, seharusnya Lo panggil dia Adik karena itu lebih terdengar masuk akal," cemooh Raffan.


"Deefa ngerti tapi di TPA itu Deefa mengajar anak-anak sudah sewajarnya Deefa memberi contoh yang baik bagi mereka agar mereka, lagi pula di TPA juga semua guru-guru saling memanggil Kakak kok," jelas Deefa tak mau Raffan berpikiran lain.


"Ya tapi ini di rumah bukan di TPA dan Lo lagi ngomong sama suami Lo!" tekan Raffan menghentak sendok di dalam piring hingga menimbulkan bunyi dentingan.


"Sejak kapan Mas Raffan anggap Deefa seorang istri? sedangkan di depan teman-teman Mas saja tidak mengakui bahkan menganggap Deefa ini sepupu," serang Deefa yang selalu merasa serba salah dengan sikap Raffan, sebenarnya pria itu ingin bagaimana sih?


"Kok Lo ungkit-ungkit itu!" keluh Raffan merasa tak senang Deefa mengatakan hal yang pernah dia katakan.


"Hanya mengingatkan bukan mengungkit, lagipula Deefa sudah mengatakan dengan jelas kalau Mas Raffan masih seenaknya saja bertindak sesuka hati, Deefa juga bisa melakukan hal yang sama, Deefa pernah mengatakan itu kalau Mas Raffan lupa."


"Lagian Lo itu bisa-bisanya berduaan dengan lawan jenis, dosa Deefa!"



"Nggak berdua Mas karena Kak Agam selalu mengajak Kinara," jelas Deefa.



"Oh bagus, bahkan sudah akrab dengan ponakannya!"


Setelah mengatakan itu Raffan bangkit dari duduknya dengan wajah yang nyolot.


"Mas mau kemana? makanannya belum di makan," Deefa ikut berdiri.


"Mau tidur, udah nggak nafsu makan gue!" sahutnya ketus melenggang pergi dengan langkah cepat.

__ADS_1


Di lantai bawah Deefa bisa mendengar suara pintu yang di banting dengan keras membuatnya mengelus dada sambil menundukkan kepala dan mulutnya tak henti beristighfar.


*******


__ADS_2