Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Kok Malah begini?


__ADS_3

"Kan udah gue bilang Kak jangan sampai berlebihan! tapi kok Lo malah bikin kayak gini, kenapa sampai Raffan masuk penjara!?" Raisya mengamuk marah pada Kakak sepupunya.


Tidak tahu kenapa Raffan dan temannya yang lain sampai tidak mengetahui kalau Raisya dan Marco adalah saudara, Raisya adik sepupu dari Marco dan wanita itu jugalah yang memberitahukan Marco bahwa Raffan sudah menikah, siapa wanitanya dan seperti apa dia jugalah yang mengatakannya dengan harapan Marco bisa membantunya untuk bisa memisahkan Raffan dengan istrinya itu.


Tapi sekarang dia malah di buat marah ketika Marco memukuli Raffan bahkan sekarang Raffan harus berada di kantor polisi.


"Ya mana gue tahu kalau ada orang yang lapor polisi, yang jelas gue nggak ada manggil-manggil polisi buat datang, gila aja kali! gue juga nggak mau di penjara!" sahut Marco kesal karena dia memang tidak memanggil polisi tapi sekarang adik sepupunya itu malah terus menuduhnya.


Coba pikir, orang bodoh mana yang sedang terlibat perkelahian malah menghubungi polisi? bukankah itu artinya sama saja dia bunuh diri? sama saja dia menyerahkan diri untuk di penjara dengan sukarela.


"Tapi kenyataannya sekarang Raffan di penjara Kak!" seru Raisya meluapkan emosi yang sejak kemarin tak terbendung ketika mendengar kabar kalau Raffan dan Marco ada di kantor polisi dan di penjara, dan yang lebih tidak dia terima adalah Kakak sepupunya sudah dibebaskan tapi pria yang dia sukai malah tetap berada di dalam sel.


"Gue juga di penjara kemarin," sahut Marco tenang seraya bercermin melihat wajahnya yang babak belur akibat perkelahiannya dengan Raffan, si musuh bebuyutan.


"Tapi Lo bebas sedangkan Raffan masih belum!" ketus Raisya menjawab dengan kibasan tangan yang serampangan.


"Tapi muka gue lebih babak belur ketimbang cowok sialan yang Lo suka itu!" Marco menjawab sinis.


Dia selalu saja tidak suka kala Adik sepupunya terus saja membela musuh bebuyutan yang selalu saja menang balapan dari dirinya, benci rasanya setiap kali selalu Raffan Raffan dan Raffan yang Marco dengarkan dari mulut wanita cantik yang sekarang menuntut ilmu untuk menjadi seorang pengacara.


Raisya mendengus tak senang dengan setiap pembelaan yang Marco lontarkan.


"Lo kan anak hukum nih, Lo bela aja sana cowok idaman Lo, saingan deh tuh sama istrinya, lagian gue bingung sama elo ya Sya, udah kayak gini kan ketahuan kalau Raffan itu ngebela istrinya sampai masuk penjara itu artinya dia sayang sama istrinya dia nggak mau ada orang yang hina istrinya, gue jadi penasaran kayak gimana sih tuh cewek sampai bisa ngegeser Fara yang dulu mati-matian Raffan kejar," celoteh Marco.


Raisya menggerutu mendengar semua ucapan Marco, tak senang hati mendengarnya terlebih lagi perkataan yang seakan mengingatkan dirinya bahwa Raffan begitu sayang dengan wanita bernama Deefa, yang setelah dia cari tahu memang berwajah cukup cantik ditambah dengan kesantunan serta kesopanannya dalam berpakaian.


"Kenapa penasarannya baru sekarang setelah Raffan di penjara! padahal yang gue mau tuh Lo deketin istrinya Raffan buat dia suka sama elo, sekarang kalau udah kayak gini gimana?!" dengus Raisya, apa yang dia pikirkan malah tidak sejalan, Kakak sepupunya malah membuat ulah.

__ADS_1


"Lo kan anak hukum, ya udah Lo bantuin tuh cowok idaman Lo biar bisa bebas," celetuk Marco tanpa berpikir.


"Gue anak hukum belum jadi pengacara! Lo tuh kalau ngomong sama bertindak itu sama-sama nggak pake otak!"


Sejak kemarin Marco terus saja memancing emosi Adik sepupunya dengan perbuatan yang tidak sesuai dari harapan, bisa-bisanya membuat Raffan babak belur lalu masih juga memenjarakannya, ingin rasanya Raisya ini mencuci otak Kakak sepupunya itu agar sedikit lebih jernih dalam mengambil keputusan dan melakukan sesuatu.


Marco hanya mengedikkan bahunya lalu mengambil obat merah untuk mengobati luka di bagian punggung tangannya akibat terkena aspal karena Raffan sempat menyeretnya.


Sudut bibir Marco berkedut mengingat bagaimana buasnya Raffan saat sedang emosi, sebenarnya dia patut bersyukur karena ada yang melaporkan perkelahian itu pada pihak polisi karena jika tidak sudah dipastikan pilihannya cuma satu, yaitu masuk rumah sakit atau masuk kuburan kehilangan nyawa di tangan Raffan.


*****


"Pesan yang Marco kirim udah Lo serahin kan ke pengacara?" tanya Agam pada Gumay di tengah mereka mengunjungi Raffan di dalam penjara.


"Udah, cuma kan kata pengacara nih cunguk sering banget terlibat masalah, polisi juga mikir-mikir buat bebasin," celetuk Gumay melihat Raffan yang sudah mendelik di panggil cunguk olehnya.


"Gue juga tahu Lo itu membela istri Lo, sebab biar bagaimanapun seorang suami harus menjaga harkat dan martabat istrinya itu sudah tanggung jawab Lo, tapi nggak kayak gini juga Raf, ini ngerugiin semua yang ada disekitar Lo termasuk diri Lo sendiri," kata Agam lagi bahkan Raffan yang ingin angkat suara malah tidak dibiarkan.


Berkali-kali Raffan membuka mulut guna bersuara tapi berkali-kali juga Agam menyelanya seolah tidak membiarkan Raffan untuk berbicara sekedar mengeluarkan pembelaan diri, karena bagi Agam ini bukan saatnya Raffan untuk membela diri.


"Gue juga nggak suka ada orang yang hina Deefa, jelas nggak suka karena gue tahu seperti apa Deefa itu," tutur Agam kemudian yang membuat Gumay mendelik kaget dengan pernyataannya dan Raffan pun melakukan hal yang sama dengan hidung yang kembang kempis menahan emosi.



Suami mana yang suka mendengar ada pria lain apalagi itu adalah temannya sendiri malah terus menyebut-nyebut nama istrinya disaat Raffan sudah pernah mengingatkan untuk tidak lagi menyebut nama istrinya itu.


"Gan, Agam!" Gumay bahkan sudah berusaha untuk memperingatkan tapi Agam masih saja terus membicarakan Deefa.

__ADS_1


"Sengaja biar si pembuat onar yang raja drama ini mau sadar, bahwa ada banyak pria termasuk gue yang kapan aja bisa deketin istrinya kalau dia terus membuat ulah dan menginap di penjara, Lo pikir istri mana yang bakalan tahan punya suami emosian dan ditinggal-tinggal kayak gini, kalau buat kerja sih mungkin masih sangat wajar dan istri bakal maklum, lah ini ditinggal masuk penjara, Lo pikir bakalan kayak gimana perasaan Deefa? gue yakin tiap hari juga nangis terus dia," cerocos Agam makin tak terkendali.



Sungguh Agam hanya ingin Raffan bisa sadar dan mau merubah semua sifat dan kelakukan nya yang kadang melampaui batas.



"Lo coba-coba deketin Deefa, gue suruh Gumay buat bikin papan nisan buat Lo!" sentak Raffan dengan sorot mata tajam membunuh sarat akan peringatan yang tidak pernah main-main.



Gumay dan Agam pun saling memamerkan senyum, Gumay yang tadinya tegang, takut akan ada perkelahian babak kedua antara Agam dan Raffan pun merasa lega ketika Raffan mengakui kesalahannya dan menyesal.



"Tolong jagain Deefa selama gue nggak ada, gue sayang banget sama dia," aku Raffan pada kedua temannya yang kini malah jadi menggodanya.



"Dulu katanya sepupu?" ledek Gumay membuat Raffan menendang kakinya.



Gumay pun meringis merasakan sakit akibat perbuatan sang teman, sedang Agam mengangguk mengiyakan permintaan Raffan.


******

__ADS_1


__ADS_2