Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Balapan?


__ADS_3

"Tuh orangnya datang juga," tunjuk Rio pada mobil Raffan yang perlahan mendekat memasuki pelataran di depan bengkel.


Ketika turun dari mobil Raffan berdiam diri dulu sesaat melihat mobil Agam yang memang berada di samping mobilnya, jelas sekali Agam pasti juga ada di bengkel, karena bengkel itu juga milik Agam, seorang Raffan Alawi tidak bisa seenaknya mengusir Agam agar dia tidak melihat wajah temannya itu.


Tidak tahu kenapa semenjak Agam mendatangi pesantren guna meminta izin untuk lebih dekat dengan Deefa membuat Raffan menjadi semakin kesal kala harus bertemu muka dengannya, ada emosi yang menuntut untuk diluapkan tapi rasanya akan sangat konyol jika dia tiba-tiba memukuli Agam, padahal Agam bisa menaruh suka terhadap Deefa pun karena dirinya.


Dengan wajah sinis diapun kembali melangkah menuju bengkel dimana temannya sudah menunggu dengan berbagai ekspresi yang sulit diartikan.


Raffan langsung saja menghempaskan badannya di bangku dekat Gerry dengan helaan napas yang kencang.


"Capek banget kayaknya Lo Raf," celetuk Gumay yang selalu saja menempatkan dirinya sebagai seorang teman yang mengesalkan bagi siapapun, senyuman yang tersungging tampak tercetak jelas di wajahnya mengartikan ada kata makna lain yang tersirat dari ucapannya barusan.


"Capek tapi enak ya nggak masalah," cerocos Raffan dengan sengaja mengatakan hal tersebut karena dia memang sangat ingin memanasi satu temannya yang Raffan tahu sedang berpura-pura sibuk tapi telinganya tetap mendengarkan apa yang dia bicarakan.


"Aiish, si gila! ckckck," maki Rio menanggapi omongan Raffan.


"Encok Raf, encok anak orang Lo buat," sambar Gumay dengan ekspresi mengesalkannya.


"Balas dendam, dua bulan nggak gue apa-apain," sesumbar Raffan mengingat memang sudah menikah dua bulan tapi tidak pernah melakukan hubungan suami istri dengan Deefa.


Gerry melihat pada Agam yang mencoba untuk tidak peduli, tapi Gerry tahu pada masa ini temannya itu pasti merasa sedikit terluka tapi mau bagaimana lagi wanita yang Agam sukai itu kenyataannya adalah istri Raffan, Raffan mau berbuat apa pada istrinya ya sesuka dia.


"Si Marco nantang balapan tuh." akhirnya Gerry memilih untuk menghentikan obrolan-obrolan yang arahnya mungkin akan semakin merujuk pada hal sensitif sebelum semakin panjang lebih baik dia segera mengalihkannya.


Raffan melihat pada Gerry, menghentikan ocehan konyolnya yang menunjukkan kalau sikapnya amat kekanakan, jika ada Deefa mungkin dia sudah habis di ceramahi dari malam hingga ketemu malam lagi sampai telinganya benar-benar panas.


Dia yang biasanya santai ketika mendengar Marco menantang balapan kini menjadi tidak tenang.

__ADS_1


"Kenapa Lo?" tanya Gumay menangkap sinyal tak biasa yang diperlihatkan oleh Raffan.


Raffan menggeleng, "kapan?" tanyanya kemudian.


"Minggu malam, besok," jawab Rio seraya mengambil botol mineral lalu menumpahkan isinya ke dalam mulut.


"Ya udah, iyain," jawab Raffan yang menerima tantangan dari Marco.


"Lo punya istri Raf, lebih baik Lo minta izin dulu sama Deefa, jangan terus seenaknya." Agam yang sejak tadi tidak bicara mulai angkat suara mengingatkan temannya yang memang selalu sesuka hati, tidak memikirkan orang lain padahal sekarang ada seorang wanita yang menjadi istrinya yang memang harus dimintai pendapatnya sebelum melakukan sesuatu.


Apalagi ini menyangkut tentang keselamatan, resiko balapan sangat besar, Agam yakin Deefa akan marah jika tahu suaminya itu balapan bahkan tidak meminta izin padanya, yang jelas sangat mustahil jika Deefa akan mengizinkan.


Istri mana yang mau suaminya menantang resiko sebesar itu? rasanya istri dari para pembalap resmi pun harus memiliki mental yang kuat karena harus setiap saat menyaksikan suaminya balapan.


Raffan melirik pada Agam yang baru saja mengingatkan dirinya, melihat dirinya dengan tatapan penuh peringatan.


Sebab perkataan Agam barusan seolah memberinya isyarat kalau temannya itu sangat memikirkan perasaan Deefa, tidak mau Deefa kecewa karena suaminya yang balapan tanpa meminta izin.


"Terserah Lo tapi yang jelas jangan melakukan apapun selama Lo belum dapat izin dari Deefa, gue peduli sama Lo Raf, Deefa type wanita yang tidak suka di bohongi."


"Sok tahu! gue lebih tahu gimana Deefa, gue suaminya, Lo cuma kenal berapa hari doang tapi seakan Lo paling mengerti dia, aneh!" sungut Raffan tak senang dengan Agam yang terus menerus menyebut nama istrinya.


"Lah Lo ngapain pada berdebat!?" oceh Rio.


Sejak tadi dirinya juga Gumay dan Gerry menjadi penonton atas perdebatan dua teman mereka, memperdebatkan sesuatu yang selama ini tidak pernah terjadi, biasanya Agam dan Raffan selalu berbicara santai dan tenang, tapi malam ini seolah ada kompor di tengah-tengah keduanya yang memanaskan suasana.


"Tuh dia yang mulai!" dengan konyol dan layaknya anak kecil Raffan menunjuk dan menyalahkan Agam.

__ADS_1


Agam menghela lalu menggeleng mendapati kalau nyatanya seorang Raffan masih memiliki sikap serta sifat yang sama seperti saat belum menikah.


"Nggak ada niat buat rubah kelakuan Raf? ilfil bisa-bisa istri Lo." Gerry terdengar menyindir Raffan yang mendengus tak terima.


"May, bilang sama Marco gue terima tantangan dia," ujar Raffan pada Gumay.


Mata Agam mendelik meyakinkan apa yang dia dengar, lalu memberikan tatapan yang begitu tajam pada pria yang dengan tenangnya membuka tutup botol mineral dan menenggaknya hingga tersisa setengah.


"Biasa aja Gam, gue juga bakal minta izin sama istri gue," cetus Raffan selalu menggunakan kata istri seperti sedang mengingat pada siapapun orangnya terutama Agam bahwa Deefa adalah istrinya.


"Aturan yang benar itu minta izin dulu dan kalau diizinkan baru Lo terima tantangan itu Raf, bukan terima dulu baru minta izin!" omel Agam menjelaskan susunan yang benar.


Raffan mengedikkan bahu menganggap remeh apa yang Agam katakan, padahal Agam bermaksud baik padanya agar jangan sampai hanya karena balapan malah nantinya bertengkar dengan Deefa, sungguh Agam memang menyukai Deefa tapi tidak mau juga jika harus merusak pertemanannya dengan Raffan, meski kecewa sudah pasti terselip dalam dirinya.


Gumay dan Rio pun saling pandang dan akhirnya memilih untuk kembali sibuk dengan hal lain ketimbang harus terus menerus melihat perdebatan dua teman mereka dengan Raffan yang memang tidak pernah mau mengalah, memperlihatkan egois yang tinggi yang terkadang menyesatkan dirinya sendiri.



"Udah biarkan aja Gam, lo kayak nggak tahu gimana si Raffan, kita ngomong sampai berbusa juga dia mah nggak bakal dengerin, suka-suka dia aja, toh kalau sampai dia nggak izin sama istrinya dan istrinya tahu juga dia yang bakal susah nantinya, memangnya di kira gampang apa ngebujuk perempuan yang lagi marah," ucap Gerry mengingatkan Agam untuk tidak lagi menasehati si keras kepala Raffan.



Agam pun menghela napas panjang namun matanya tetap melihat pada Raffan yang sekarang malah sibuk bermain game di handphonenya.



Nyatanya diantara mereka Agam lah yang paling dewasa sedangkan yang lain tingkahnya persis ABG labil yang sering kali ber ubah-ubah pikiran juga tak jarang emosinya sangat mudah tersulut.

__ADS_1


********


__ADS_2