
Sudah waktunya untuk bangun tapi Raffan masih begitu menikmati tidurnya yang terasa sangat amat damai dan nyenyak setelah wanita yang dia rindukan sudah kembali bisa dia dekap dan peluk sesuka hatinya saat tidur menjelang fajar tadi.
Dia itu memilih untuk tidak tidur guna menikmati kecantikan wajah istrinya yang tidur pulas setelah dia buat kelelahan sekitar beberapa puluh menit, memilih untuk begadang sambil menunggu waktu shalat subuh datang karena dia takut jika dia tidur malah akan kesiangan nantinya, dan tadi setelah menjalankan kewajibannya diapun kembali naik ke tempat tidur dan memejamkan mata, sebenarnya dia mengajak istrinya serta untuk tidur tapi wanita itu menolak mengatakan ingin membersihkan rumah juga menyiapkan makanan untuk suaminya nanti bangun tidur.
Deefa sudah sibuk menyapu sekaligus dengan mesin cuci yang tengah menyala mencuci pakaian-pakaian kotor miliknya dan juga beberapa potong pakaian milik sang suami, sepertinya saat Deefa di kampung suaminya itu menyempatkan diri untuk mencuci pakaiannya sehingga sekarang tidak menumpuk.
Wanita yang kembali berpakaian tertutup itupun tersenyum mengingat suaminya yang begitu agresif padanya tadi malam, begitu ketat menghimpit tubuhnya bahkan saat dia tidur tidak boleh jauh dari suaminya itu.
Wanita itu membuka pintu belakang padahal langit masih gelap dan tanah di halaman masih sangat basah bekas hujan tadi malam di tambah lagi dengan embun pagi yang terasa membuat cuaca pagi itu makin dingin dan lembab.
Melangkah keluar menuju halaman untuk memeriksa tanaman bunga yang sempat dia tanam sebelum pulang ke rumah orang tuanya, dia yakin suaminya tidak akan punya waktu untuk mengurus tanaman-tanaman miliknya yang berada di dalam pot-pot berukuran sedang.
"Ada yang mati," katanya ketika melihat beberapa tanamannya sudah kering bahkan seluruh daunnya sudah tidak ada.
Tanaman miliknya itu mati sebelum berkembang dan hanya beberapa lagi yang masih bertahan, wanita itu berjongkok untuk mencabut tanaman yang sudah tidak mungkin kembali hidup itu, mengeluarkannya satu persatu dari dalam pot dan mengumpulkannya jadi satu untuk nanti akan dia buang pada tempat sampah di depan pagar.
Terlalu larut dengan tanaman-tanamannya hingga tak terasa matahari mulai menampilkan sinarannya, menyinari bumi yang tadi malam di guyur oleh hujan seakan tengah mencoba untuk mengeringkannya.
Deefa yang tersadar bahwa dia belum masak untuk sarapan pun akhirnya bergegas untuk menyelesaikan apa yang dia kerjakan.
"Belum masak, tapi pasti tidak akan ada bahan masakan di kulkas, harus tunggu tukang sayur lewat dulu," katanya mengingat kalau bahan masakan sudah tidak ada lagi sayuran yang bisa di masak.
Untunglah di perumahan itu ada tukang sayur yang berkeliling di jam 6 pagi atau lewat, jadi tentu dia akan sangat merasa terbantu sekali saat ini karena dia harus dengan cepat menyiapkan makanan sebelum suaminya bangun kalau harus pergi ke pasar dulu tentu sangat tidak mungkin karena jarak pasar yang cukup jauh dari perumahan.
Wanita itu gegas masuk ke dalam rumah mencuci tangan lalu naik ke kamar untuk mengambil uang dan kembali ke luar rumah menunggu tukang sayur yang sepertinya sebentar lagi akan lewat dan benar saja tak lama Deefa menunggu suara sang tukang sayur yang menaiki sepeda motor pun mulai terdengar memang tidak terlalu komplit tapi setidaknya Deefa bisa masak untuk sarapan suaminya nanti saat bangun tidur.
"Pak." Deefa memanggil tukang sayur yang memang sengaja melambatkan laju motornya, karena memang dia tengah mencari pembeli sangat tidak mungkin apabila dia mengendarai motornya dengan kecepatan yang tinggi karena dia bukan seorang pembalap.
Bapak tukang sayur yang di panggil pun benar-benar menghentikan kendaraannya tepat di depan pagar rumah wanita yang memanggilnya.
"Eh si Eneng kemana aja baru kelihatan?" sapa pria yang memakai topi yang menutupi rambut putihnya.
Sang tukang sayur itu memang sudah mengenal Deefa, juga hampir seluruh orang yang tinggal di perumahan itu dia akan mengenalnya karena memang sudah berlangganan dengannya.
"Baru pulang dari kampung Pak," sahut Deefa seraya membuka pagar agar dia bisa memilih langsung apa saja yang ingin dia beli dan masak untuk suaminya.
"Oalah pantesan nggak pernah kelihatan," aku sang Bapak seraya membiarkan pelanggannya itu sibuk memilih sayuran yang dia jajakan.
Sayuran-sayuran itu terlihat masih sangat segar membuat Deefa sangat senang memilih dan sekarang malah jadi bingung ingin masak apa untuk suaminya.
"Deefa mau cabai dan bawanya ya Pak," kata Deefa pada Bapak yang langsung dengan sigap menyiapkan apa yang Deefa inginkan.
Membungkus cabai serta bawang sambil mendengarkan apa saja yang Deefa sebutkan, bumbu-bumbu dapur tidak lupa Deefa beli karena kulkas benar-benar kosong ada bawang dan cabai tapi semua sudah pada kering bahkan busuk tidak mungkin lagi dia pakai untuk masak.
Ibu-ibu yang lain pun satu persatu mulai berdatangan membuat motor yang berisi sayuran itu malah jadi tidak terlihat karena dikelilingi oleh mereka yang memang sejak tadi sudah menunggu kedatangan sang penolong mereka yang tidak sempat ke pasar kemarin atau juga yang hanya sekedar kekurangan tomat atau bumbu dapur untuk masak.
Obrolan di tukang sayur itu mulai mengalir sangat lancar dari yang hanya berbincang sehat sampai akhirnya malah jadi membicarakan salah satu tetangga mereka yang rumahnya berada di paling ujung yang bernama Aliya, wanita berusia 35 tahunan dan sudah lama menikah tapi belum memiliki anak, dan pembahasan tentang anak itulah yang sekarang menjadi topik.
"Ya pasti si Aliya itulah yang bermasalah nggak mungkin suaminya," kata salah satu wanita yang bertubuh agak gemuk.
"Masa nikah mau 8 tahun belum juga punya anak," timpal wanita yang lainnya.
Sungguh saat itu Deefa merasa sangat tersentil, merasakan ada sengatan yang membuat jantungnya berdebar cepat, pembicaraan anak memang akan selalu membuatnya resah, apalagi dia ingat tentang mertuanya.
Obrolan wanita itu makin menjadi bahkan salah seorang dari mereka yang tinggal tepat di depan rumahnya pun mulai mengajukan pertanyaan tentang anak kepada Deefa.
"Kamu udah isi belum Deef, jangan di tunda-tunda nanti malah kayak si Aliya, dia itu dulu nunda punya anak katanya mau puas-puasin kerja eh akhirnya malah sampai sekarang nggak di kasih anak juga." cerocos wanita itu yang diangguki oleh ibu-ibu lainnya.
Deefa tersenyum, senyum yang sebenarnya menahan sesak di dalam hatinya, "didoain aja ya Bu," katanya lalu tidak mau berlama-lama diapun segera meminta si tukang sayur untuk menghitung belanjaannya.
__ADS_1
"Mari Bu," Deefa pamit dan gegas masuk ke dalam pagar menuju rumah dengan langkah yang sangat cepat.
Mungkin setelah ini dialah yang akan jadi bahan pembicaraan kelompok wanita itu membuat hatinya makin teriris bahkan bola matanya pun sudah terlihat menyimpan air mata yang siap untuk meluncur membasahi kedua pipinya.
Deefa menutup pintu dengan kantong plastik berisi sayuran yang akan dia masak.
"Sayang."
Deefa terhenti mendengar suara suaminya dengan orangnya yang sudah berdiri di anak tangga paling bawah.
"Kamu dari mana? aku cariin kamu," aku Raffan dengan wajah yang sebenarnya masih mengantuk tapi terbangun dan mencari-cari istrinya.
"Beli sayur buat masak di kulkas nggak ada yang bisa di masak," jelas Deefa mengangkat kantong plastik yang ada di tangannya.
"Ya udah nanti siang kita ke belanja."
Raffan melangkah turun mendekati sang istri lalu mengernyit mendapati ada tetesan air mata yang mulai turun dari kedua matanya.
"Loh kamu kenapa? katanya abis beli sayur tapi kok malah nangis?" Raffan malah jadi bingung.
"Mas Raffan sudah ambil hasil pemeriksaan belum? kalau belum kita ambil aja ya hari ini," mengabaikan pertanyaan dari suaminya.
Raffan bimbang haruskah dia jujur atau kembali berkata bohong sama seperti yang dia lakukan kepada orang tuanya, jadi semakin dilema kala dia mendapati wajah istrinya yang menampilkan kesedihan air mata sudah bukan lagi hanya tetesan-tetesan saja tapi sudah berderai dengan deras layaknya hujan yang turun tadi malam.
Seandainya dia jujur tentu dia bukan lagi melihat kesedihan tapi juga penderitaan dan putus asa yang mungkin akan dirasakan oleh wanita yang dia cintai.
Istrinya itu mungkin akan merasa bersalah padanya karena sebagai seorang wanita dan istri dia tidak sempurna tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya, tidak bisa mewujudkan keinginan mertuanya yang ingin memiliki cucu.
Raffan tidak akan pernah tega dan sanggup menyaksikan istrinya terpuruk padahal dia sendiri tidak akan pernah mempermasalahkan tentang keturunan mau bagaimana pun Deefa, Raffan akan tetap menerimanya dan mencintai dengan setulus hati segenap jiwa dan raga.
Bahkan yang lebih Raffan takutkan lagi adalah Deefa yang mungkin saja akan mempunyai pikiran sama dengan ibunya yaitu memintanya menikah lagi atau mungkin malah lebih parah meminta cerai darinya.
"Mas," Deefa kembali bersuara dengan suara yang sangat lirih ketika suaminya hanya dia menatap dalam netra nya.
Bibir Raffan mulai sedikit bergerak tanda dia akan bersuara dengan istrinya yang masih dengan penuh harap menanti apa yang ingin dia katakan.
"Aku sebenarnya sudah ambil hasil pemeriksaan," aku Raffan dengan suara yang berat.
Deefa menautkan kedua alisnya membalas tatapan sang suami, "sudah di ambil? lalu hasilnya?"
Raffan mengangguk lemah dengan bibir yang kembali terkatup rapat seolah menunggu waktu lagi untuk bisa memberikan jawaban atas pertanyaan kedua yang istrinya lontarkan.
Deefa bisa melihat betapa suaminya itu sangat berat meski hanya untuk sekedar membuka mulut saja guna mengatakan hasil pemeriksaan mereka berdua.
Pemeriksaan yang sangat dia tunggu dan ingin ketahui hasilnya membuat Deefa makin tidak sabar lagi meski hanya beberapa detik saja.
"Mas, hasilnya bagaimana? kita sehat kan? tidak ada masalah dengan kita dan kita akan punya anak," tutur Deefa seraya menghapus linangan air mata yang tak mau berhenti.
Entahlah dia merasa saat ini dia itu tengah berada diambang dua rasa, sedih atau gembira nantinya setelah tahu apa yang akan dia dengar dan harapan yang paling besar adalah kegembiraan yang akan dia dengar dari mulut suaminya jangan kesedihan karena dia tidak akan sanggup untuk mendengarnya.
Bibir Raffan mulai berkedut, bergetar padahal dia belum juga mengatakan apapun pada istrinya, otaknya itu masih terus berpikir untuk mencari jalan agar tidak membuat istrinya terpuruk saat dia berbicara.
"Kamu tidak ada masalah," akhirnya mampu berkata meski dengan intonasi yang sangat rendah, dan diapun berkeputusan untuk berbohong, kebohongan yang kedua kalinya dia lakukan setelah sebelumnya berbohong pada Ibu dan Ayahnya, semoga dosanya diampuni karena dia terpaksa melakukan ini.
Ucapan Raffan makin membuat Deefa bingung, tidak mengerti hingga dia menatap dengan kedua mata yang basah lalu memegang kedua tangan pria jangkung di depannya.
__ADS_1
"Aku tidak ada masalah lalu Mas Raffan?" bertanya dengan rinci karena dia memang harus tahu apa maksud dari perkataan suaminya barusan.
Raffan menggeleng lambat dengan bibir yang membuka perlahan jelas dia ingin mengatakan sesuatu lagi tapi tak kunjung dia lakukan hingga Deefa kembali mengulangi pertanyaan.
"Bagaimana dengan Mas Raffan?!" kali ini setengah membentak karena dia benar-benar tidak sabar ketika suaminya malah membisu.
Wanita itu bahkan menggoyangkan kedua tangan suaminya tidak peduli kantong plastik berisi sayuran kini sudah tergeletak di dekat kaki mereka.
"Aku tidak sehat, aku yang tidak bisa memberikan kamu anak aku tidak mengatakan apapun karena aku takut kamu akan meninggalkan aku, aku takut kamu meminta cerai," beber Raffan dengan suara yang berat bahkan lebih berat dibanding yang tadi.
"Astaghfirullahaladzim," Deefa meluruh terduduk di lantai dekat kaki suaminya yang juga langsung ikut duduk dengannya.
"Maafkan aku, aku terpaksa," kata Raffan penuh penyesalan, penyesalan yang sebenarnya karena dia yang merasa sangat bersalah telah memilih untuk berbohong, membohongi istrinya tentang hasil pemeriksaan.
Sungguh dia hanya ingin melindungi istrinya dari siapapun termasuk ibunya, dia hanya ingin terus bersama dengan wanita yang sudah berhasil merubahnya dan membuat dia menjadi sosok pria dewasa bertanggung jawab.
Semoga Allah mau mengampuni apa yang dia lakukan.
Deefa menangis tersedu dengan dada yang sangat sesak, dia menangis bukan karena kecewa karena pengakuan suaminya tapi dia kecewa karena suaminya malah berpikir dia akan meninggalkan pria itu hanya karena tidak bisa memberikan dia anak, tidak bisa membuatnya hamil.
Sungguh Deefa tidak pernah berpikir untuk meninggalkan suaminya, selama ini dia memaksa untuk melakukan pemeriksaan hanya karena tuntutan Ibu mertuanya dia tidak ingin ibu mertuanya kecewa bahkan dialah yang akan rela mengalah dan membiarkan Raffan menikah lagi kalau masalah ada pada dirinya, tapi saat dia tahu suaminya yang bermasalah jelas dia tidak akan pernah meninggalkannya.
"Pasti kamu kecewa dan marah sama aku, aku tidak bisa memberikan kamu anak Deef, sekarang kalau kamu mau pisah dari aku nggak apa-apa, aku terima," kata Raffan.
Mendengar penuturan suaminya itu Deefa pun menghambur untuk mendekap tubuh suaminya, mencurahkan tangisnya pada dada bidang sang suami hingga kaos yang pria itu pakai basah oleh air mata yang begitu deras layaknya air terjun.
"Deefa tidak akan pernah meninggalkan kamu Mas, Deefa akan tetap menjadi istri Mas Raffan, temenin Mas Raffan sampai tua bahkan sampai Allah memanggil kita," ucap Deefa dengan suara lirih bahkan samar dengan isak tangisnya.
Raffan memejamkan kedua mata menciumi puncak kepala sang istri, dia merasa apa yang dia lakukan benar, berbohong menjadi pilihan yang terbaik karena dia sangat yakin Deefa tidak akan pernah meninggalkan dirinya dalam keadaan apapun, akan sangat menyedihkan kalau dia mengatakan yang sebenarnya karena dia tahu bagaimana istrinya, wanita itu pasti akan meminta untuk menikah lagi untuk bisa memenuhi keinginan ibunya yang mengharapkan cucu dari anak satu-satunya.
Raffan memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat, dengan batinnya yang terus mengucap maaf karena sudah mengatakan kebohongan.
Maaf
****
__ADS_1