
Akhirnya setelah menempuh perjalanan panjang mereka pun tiba di tujuan dengan selamat meski harus berpencar karena Raffan yang entah mengambil jalur mana.
Tadi pun begitu sampai ustad Imran langsung meneror putra berandalan nya itu dan terus menerus memperingatinya hingga membuat telinga Raffan berdengung.
Lalu sekarang mereka tengah duduk di ruang tamu milik kiyai Burhan dan istrinya berikut dengan orang tua kandung Deefa serta Salimah anak dari sang kiyai yang senantiasa selalu menemani Deefa sejak wanita itu menjejakkan kaki di pondok pesantren.
"Lebih baik kamu masuk ke dalam Salimah," kata sang kiyai kepada anaknya.
"Tapi Abah, Imah mau temani Deefa," katanya seperti menolak perintah Abah nya.
"Ini bukan urusan kamu Imah, masuk sana jangan membantah," tegas pria yang memakai Koko putih komplit dengan kain sarung kotak-kotak hitamnya.
"Baik Abah," ucap Salimah akhirnya menurut.
Benar yang Abah nya katakan ini memang bukan urusannya, ini urusan rumah tangga teman masa kecilnya sekaligus saudara baginya meski sebenarnya dalam hati sangat ingin ikut dalam pembicaraan yang pasti sangat serius itu tapi dia bisa apa jika Abah sudah berkata.
Kemarin bahkan saat kedatangan ustad Sabar dan keluarganya, dirinya pun tidak diperkenankan untuk keluar untuk turut serta bergabung dalam pembicaraan yang sempat tanpa sengaja dia dengar ketika menyebut-nyebut nama Deefa.
Lalu sekarang Deefa serta suami dan orang tua suaminya pun datang, lagi-lagi Abah memintanya keluar dengan ekspresi yang sangat serius, memangnya apa yang sedang terjadi?
Selepas Salimah pergi, Kiyai Burhan menatap pada Deefa bergantian dengan Raffan, pria tua itu tidak bicara sampai beberapa menit kemudian terdengar suara dia berdehem.
"Deefa," panggilnya pada wanita yang sejak datang tadi langsung duduk diantara Umi serta seorang wanita tua yang Raffan ketahui adalah ibu kandung dari istrinya.
"Iya Abah," sahut Deefa mengangkat wajahnya yang tadi menunduk.
Wanita itu seolah tidak punya kekuatan untuk sekedar melihat pada orang-orang yang mengambil napas bersamanya di ruangan yang sama itu, terlebih lagi kepada sosok suami yang sejak perjalanan tadi seperti melupakan haknya sebagai seorang istri.
Bayangkan saja pria itu sibuk berbicara dengan wanita bernama Fara, ya akhirnya Raffan menjawab telepon dari wanita itu yang nyatanya tak kunjung menyerah untuk menghubungi.
Kiyai Burhan menghirup napas lebih dulu sebelum melanjutkan apa yang ingin dia katakan, di hadapan dua keluarga itu kini dia yang akan menjadi penengah terlebih lagi dia merasa bertanggung jawab sebab dirinyalah yang sangat setuju kala sahabat lamanya, ustad Imran datang untuk melamar Deefa, tidak menyesalkan karena menerima pinangan sahabatnya tapi dia menyimpan kecewa karena tak menyangka hal seperti ini bisa terjadi.
"Melihat interaksi kalian saat datang tadi sudah cukup bagi Abah untuk mengetahui kalau pernikahan kalian tidak berjalan dengan baik, terlebih lagi saat kedatangan ustad Sabar beserta anak-anaknya kemarin yang memiliki tujuan.."
Kiyai Burhan menahan perkataannya guna menatap Deefa dan Raffan bergantian.
__ADS_1
Deefa yang menatap bingung dengan sejuta pertanyaan yang hinggap di kepalanya mendengar nama ustad Sabar di sebut-sebut.
Dia tahu dengan jelas siapa ustad Sabar, juga tahu dengan anak-anak yang disebutkan oleh sang kiyai, Agam dan juga Dinar, mungkin juga dengan suaminya Dinar, meski belum pernah bertemu tapi Kinara sudah sempat menceritakan kedua orang tuanya itu.
Sedangkan Raffan mengepalkan tangannya dengan bibir yang terkatup erat, membuat rahangnya mengetat sempurna.
Kiyai Burhan beralih pada ustad Imran yang juga sedang menatapnya menanti apa yang ingin temannya itu sampaikan.
Teman lama yang selalu dengan senang hati menerima kedatangannya dengan tangan terbuka termasuk saat Imran yang mengutarakan niatnya untuk menjadikan Deefa menantu.
"Kamu tentu ingat dengan teman lama kita itu kan?" tanya kiyai Burhan.
ustad Imran mengangguk, bagaimana bisa lupa sedangkan belum lama pun dia bertemu dengan sang teman yang memintanya untuk mencarikan guru mengaji di TPA kepunyaan temannya itu.
"Ustad Sabar menyampaikan niat kedatangannya yang sungguh membuat aku tidak bingung bagaimana menyikapinya," jelas kiyai Burhan.
Kiyai Burhan kembali menghela napas panjang, tidak tahu kenapa napasnya terasa begitu berat.
"Katakan saja kami akan mendengarkan semuanya," pinta ustad Imran dengan istrinya yang duduk berdampingan dengannya.
Deefa menjawab dengan suara pelan dan terkesan lirih.
"Kedatangan Ustad Sabar kesini berniat untuk mengkhitbah kamu."
Deg!
Dalam sekejap jantung Raffan berdebar kencang tubuhnya pun serentak memanas.
Mengkhitbah? yang benar saja, mengkhitbah wanita yang sudah bersuami apa itu sebuah hal baik?
Ah tidak, lebih tepatnya hal gila yang tidak pernah Raffan dengar sebelumnya.
"Bagaimana bisa mereka mengkhitbah seenaknya padahal wanita yang mereka tuju jelas-jelas sudah menikah!" Raffan tidak lagi bisa menutup mulutnya, langsung saja mengeluarkan pendapatnya.
"Bisa saja," sahut kiyai Burhan diplomatis.
__ADS_1
Mata Raffan membola dengan jawaban sang kiyai, mulutnya pun gatal ingin mendebat kiyai di depannya itu.
"Jelas tidak bisa Abah, agama pun melarang, jangankan yang sudah menikah yang baru di khitbah saja di larang untuk di khitbah oleh laki-laki lain!" sentak Raffan mengeluarkan argumennya.
"Iya kalau mereka tahu wanita yang di khitbah itu sudah menikah? bagaimana jika mereka tidak tahu? apa Abah harus menyalahkan ketidaktahuan mereka?"
Serangan balik yang sangat sempurna yang di lontarkan oleh kiyai Burhan, membuat Raffan yang tadinya begitu ngotot pun dalam sekejap berubah membeku dengar raut wajah memerah.
"Padahal Agam itu teman kamu, Abah heran bagaimana bisa dia tidak mengenal istri temannya sendiri."
"Itu.." Raffan tidak bisa menyelesaikan perkataannya, sungguh dia sangat bingung.
"Itu karena kesalahan kamu yang tidak mengakui Deefa sebagai istri, dan yang lebih fatalnya lagi kamu malah mengatakannya sebagai sepupu," ucap kiyai Burhan.
"Astaghfirullahaladzim Raffan!" ibu dan Ayahnya pun beristigfar dengan kelakuan sang anak.
Mereka tidak pernah mengetahui perihal yang baru saja di katakan oleh kiyai Burhan, pantas saja saat menghubunginya kemarin ada nada kecewa yang terdengar jelas saat kiyai Burhan berbicara.
"Ibu dan Ayah kan tahu, Raffan belum siap untuk menikah tapi Ibu dan Ayah memaksa jadi jangan salahkan Raffan jika hal ini sampai terjadi, Raffan tidak siap jika teman-teman tahu kalau Raffan sudah menikah dan istri Raffan lebih tua dari Raffan," cetus Raffan membela diri, menyalahkan semua yang terjadi pada orang tuanya.
"Kamu dan Agam usianya sama, tapi Agam tampaknya tidak masalah dengan itu dan terlihat jauh lebih siap ketimbang kamu Raf, Abah juga bisa melihat bahwa Agam memang bersungguh-sungguh ingin memperistri Deefa."
Entah kenapa kiyai Burhan seperti sedang membuat Raffan kesal dengan segala yang dia sampaikan.
"Kalau begitu suruh saja Deefa pilih, Raffan tidak masalah," kata Raffan akhirnya memperlihatkan bagaimana sifat keras kepalanya itu.
Bagaimana bisa dia meminta istrinya untuk memilih, tidak adakah dia berniat untuk sedikit saja merubah sikapnya dan berusaha untuk mengambil hati Deefa yang akan semakin sakit dengan sikapnya.
\*\*\*\*\*
__ADS_1