
"Gue juga aneh Gam, Raffan itu sekalipun ada masalah sama orang tuanya nggak pernah gue lihat kayak gini, mukanya itu kayak yang nyimpan masalah luar biasa besar," Rio yang duduk di samping Agam pun menanggapi apa yang Agam ceritakan tentang Raffan yang hari ini baru saja masuk kuliah setelah libur tiga hari lebih sudah membawa pribadi yang jauh berbeda, jelas membuat teman-temannya jadi keheranan dan bertanya-tanya ada apa dengan diri temannya itu.
"Ya waktu di kelas juga kan nggak banyak omong, perhatiin pelajaran yang diterangkan dengan begitu serius padahal kita tahu seperti apa kelakukan teman kita yang satu itu," kali ini Gerry menimpali.
Sekarang keempat orang sahabat itu tengah membicarakan tentang Raffan yang tidak seperti biasa.
"Gue yakin sih ada yang terjadi sama tuh anak," ujar Gumay yang wajahnya sudah sembuh sempurna dari babak belur yang diperbuat oleh Marco.
Agam, Rio dan Gerry pun mengangguk dengan begitu kompak serentak menyetujui apa yang diutarakan oleh Gumay, sudah sangat jelas memang ada masalah yang sedang menimpa salah satu teman mereka, tapi apa masalahnya mereka pun tidak tahu.
"Gue udah sempat tanya sama dia, dan bilang kalau ada masalah cerita aja tapi Raffan malah langsung pergi, mau ke rumah Ayah katanya," timpal Agam yang tadi memang sempat berbicara berdua dengan Raffan saat mereka akan pergi dari Mushola.
"Biar bagaimanapun kita tetap tidak akan bisa melakukan apapun jika Raffan nya sendiri bahkan tidak mau memberitahu apa masalahnya kepada kita semua," tutur Agam cukup tahu diri untuk tidak mencampuri terlalu dalam apa yang tengah terjadi pada sang teman terlebih lagi temannya itupun juga enggan memberitahu saat dia bertanya.
Gerry pun menyetujui apa yang Agam ucapkan, menurutnya setelah Raffan menikah dan ada masalah yang berhubungan dengan pernikahan mereka memang tidak bisa turut campur mungkin hanya sekedar memberi saran masih diperbolehkan itupun kalau orangnya yang langsung meminta saran, kalau tidak ya jangan coba-coba masuk karena nantinya hanya akan memperkeruh apa yang terjadi.
****
Mobil yang Raffan bawa sudah terparkir di halaman rumah orang tuanya dengan dipayungi oleh langit senja yang menguning.
Langkah Raffan terlihat berat, sebenarnya dia ini tidak mau datang ke rumah orang tuanya itu andai nya tidak di paksa, sebab dia tahu apa yang akan terjadi setelah dia datang ke rumah orang tuanya, terlebih lagi ibunya lah yang memintanya untuk datang, jelas ada maksud tertentu.
"Assalamualaikum."
Raffan berdiri didepan pintu sebelum tidak melangkah masuk sekalipun pintu itu terbuka sedikit, dia lebih memilih menunggu jawaban salam yang dia ucapkan.
"Wa'alaikumsalam," jawaban salam beserta seorang wanita yang tengah menuju ke pintu untuk menyambut kedatangan sang anak yang sejak terakhir kali datang menginap ke rumahnya mulai menjaga jarak dengannya.
Tentu saja semua itu karena perbuatannya juga yang mendadak meminta di berikan cucu, meminta menantunya untuk segera hamil sedangkan sebagai seorang manusia diapun tahu semua bisa terjadi atas kehendak sang maha kuasa, pemilik semesta yang paling berkuasa atas seluruh makhluk yang ada di dunia ini.
Raffan membungkuk lalu mengambil tangan sang ibu dan mencium punggung tangannya, biar bagaimanapun wanita itu adalah ibunya, wanita yang sudah berjuang melahirkannya ke dunia dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, dan setelah yang ibunya itu lakukan terhadap istrinya dia harus tetap memberi hormat menunjukkan bahwa dia bukan anak yang akan durhaka hanya karena masalah yang diapun sebagai seorang manusia tidak punya kuasa untuk melawan.
"Kamu nginep disini aja ya, Deefa masih di kampung kan? kamu nggak ada yang urus di rumah sana."
Baru saja ingin melangkah masuk tapi ibunya sudah mulai berbicara banyak, meminta dia untuk menginap padahal dia untuk datang ke rumah itu saja harus mengumpulkan banyak niat, karena dia harus menghadapi beragam pertanyaan dari sang ibu.
"Lihat saja nanti Bu," kata Raffan akhirnya yang sebagai anak tentu tidak enak hati andai dia langsung menolak.
__ADS_1
Pria itu lantas langsung naik ke atas menuju kamar saat masih belum menikah, dia itu ingin menghindari ibunya, menghindar agar tidak berdua saja karena dia tidak ingin mendapat pertanyaan mengenai hasil pemeriksaan.
Raffan memilih untuk mandi lalu mengganti kaos dengan baju Koko serta memakai kain sarung, di masjid dekat rumah sudah terdengar suara orang yang bershalawat, saat ini pasti Ayahnya juga sudah berada di masjid
"Raffan ke masjid Bu," pamitnya pada sang ibu yang baru akan masuk ke dalam kamar.
"Iya."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab sang ibu menatap sang anak yang mulai berlalu keluar dari rumah.
Wanita itu sadar benar bahwa anaknya, anak satu-satunya menjaga jarak dengannya semenjak kejadian waktu anak dan menantunya itu menginap memang hubungan antara ibu dan anak itu menjadi renggang, Raffan yang biasanya akan banyak bicara dan bertanya apa saja kini menjadi pendiam bahkan tidak bertanya bagaimana keadaannya saat ini, padahal dua hari lalu dia itu sakit, meskipun hanya sakit biasa tapi dia juga ingin mendapat perhatian dari anak semata wayangnya itu.
Begitu sampai di masjid, Raffan langsung mengisi shaf ketiga bersama dengan bapak-bapak dan anak-anak usia muda yang memang kerap memenuhi masjid saat waktu shalat datang.
"Luruskan dan rapatkan shaf," kata seorang pria sepuh berpeci putih dengan sorban yang menggantung di bahunya, pria itulah yang akan menjadi imam shalat Maghrib hari ini.
Lalu dengan serempak para jamaah shalat Maghrib pun merapikan barisan mereka agar shalat Maghrib segera dilaksanakan.
Tadi saat akan pulang dia melihat Ayahnya sedang berbicara dengan salah seorang pengurus masjid membuat Raffan langsung menghampiri lalu berbasa-basi sebentar pada pengurus masjid yang juga dia kenal lalu sengaja menunggu Ayahnya selesai berbicara agar mereka bisa pulang bersama.
"Tadi sebelum adzan Maghrib," sahut Raffan seraya berjalan berdampingan dengan Ayahnya menuju rumah.
"Deefa kapan kembali?" tanya Ayahnya lagi.
Ustad Imran tahu menantunya itu memang belum kembali, cukup maklum karena mungkin sang menantu masih tidak bisa meninggalkan ibunya sendiri di rumah.
"Belum tahu Ayah, nanti kalau Deefa sudah mau pulang dia kasih tahu Raffan," kata Raffan seraya meniti langkah mengimbangi langkah Ayahnya yang memang sudah sangat berhati-hati.
Ustad Imran mengangguk saja, "bagaimana dengan kuliahmu? sudah sering sekali tidak masuk Ayah khawatir kamu tidak akan jadi sarjana dalam waktu dekat," ucap ustad Imran seraya tersenyum, senyum penuh arti, sebenarnya karena dia cukup tahu kemampuan anaknya itu.
"Insha Allah Raffan akan jadi sarjana kok Yah, cepat atau lambat," tutur Raffan.
Menurutnya untuk saat ini dia lebih nyaman mengobrol dengan Ayahnya di banding dengan sang Ibu, karena dalam urusan rumah tangga yang Raffan jalani Ayahnya itu benar-benar tidak pernah ikut campur, sudah membiarkan Raffan menjadi sosok suami dan kepala rumah tangga, Ayahnya itu memang cukup mengerti dalam hal itu membuat dia cukup tenang karena yang memberi tekanan pada dia dan Deefa hanyalah ibunya saja bukan kedua orang tuanya, dan Raffan sangat berharap kalau Ayahnya bisa membantu dirinya seandainya ibunya terus memberi tekanan pada dia dan Deefa.
Berjalan sambil berbincang tidak terasa membuat keduanya sekarang sudah tiba di rumah di sambut dengan wanita yang masih mengenakan mukena berwarna putih.
__ADS_1
"Kita makan dulu ya, kamu pasti belum makan," kata sang ibu melihat pada Raffan yang hanya mengangguk kecil tanpa bersuara.
"Sebentar ibu buka mukena dulu." lalu berlalu pergi masuk ke dalam kamar.
"Jangan terlalu di ambil hati apa yang pernah ibumu katakan, karena semakin tua manusia maka akan semakin banyak perbuatannya yang berlebihan, Ayah cuma minta kamu buat maklum dan sabar," pinta ustad Imran kepada sang anak yang berdiri di sebelahnya.
"Iya Ayah, Raffan ngerti hanya saja kan Deefa tidak mengenal ibu dengan baik," sahut Raffan.
"Maka dari itu Ayah minta kamu untuk terus menguatkan Deefa, menguatkan istri bukan berarti kamu harus melawan orang tua kan? kamu bisa bersikap adil, Ayah akan senantiasa membantu kamu untuk membujuk ibu agar tidak terus memaksakan keinginannya," nasihat ustad Imran sambil mengelus punggung anaknya yang sekarang sudah mempunyai tanggung jawab.
"Kenapa masih berdiri di sini? ayo ke ruang makan," Hayati yang keluar dari kamar menatap dua pria yang langsung terdiam ketika dia datang.
"Ayo Raffan," ajak sang Ayah kepada putra yang dulu kerap kali memancing emosinya.
Putra yang tidak betah berada di rumah dan lebih senang berkumpul bersama teman-temannya sampai pagi kini sudah sangat jauh berubah, banyak sekali perubahan yang dia lihat semenjak anaknya itu dia nikahkan dengan wanita santun bernama Deefa.
Bersyukur? sudah tentu dia sangat bersyukur anaknya itu tidak lagi membuat darah tingginya naik dengan segala kelakukan menyebalkannya yang kerap berbuat onar sudah tidak lagi ada, semoga saja anaknya benar-benar berubah dan bertaubat.
Ketiga orang itu sudah duduk di meja makan, menikmati makan malam selepas shalat Maghrib, padahal biasanya Ustad Imran dan istrinya baru akan makan setelah shalat isya, tapi mereka tahu anaknya itu pasti belum makan hingga memutuskan memajukan jam makan malam mereka.
"Makan mu sedikit sekali Raf?" tanya ibunya yang memperhatikan di piring makan anaknya hanya ada sedikit nasi dan satu macam sayur saja, padahal hari ini dia sudah sengaja masak berbagai macam makanan kesukaan anaknya itu tapi malah tidak di makan.
"Ini sudah cukup Bu, tadi sebelum kesini Raffan sudah makan soalnya," bohong Raffan, jelas dia tidak mungkin mengatakan pada orang tuanya terutama sang ibu bahwa sejak kemarin dia tidak berselera untuk makan.
Memasukkan makanan ke dalam tubuhnya menjadi sesuatu yang sangat sulit setelah dia menerima dan mengetahui hasil pemeriksaan dari sang istri.
Suami mana yang tidak akan menjadi begini ketika dokter memvonis istrinya mandul? tidak akan bisa memberinya anak, Raffan ingin sekali tidak percaya tapi dokter sudah memberikan keterangan yang sangat rinci membuat langit seakan runtuh di atas kepalanya lalu perlahan menimpa dan membenamkan tubuhnya ke dalam bumi.
Raffan menggenggam sendok dengan erat di tangannya kala dia kembali terngiang apa yang dokter katakan kepadanya, matanya mendadak berkabut kala air mata yang tidak dia inginkan malah memenuhi kelopak matanya, sungguh dia tidak boleh menangis di depan orang tuanya apalagi ibunya, bukankah itu hanya akan membuat mereka bertanya dan nantinya malah akan mengetahui dia tengah menyimpan kesedihan seorang diri.
***
__ADS_1