
Sudah dua hari Raffan tidak pergi ke kampus, ratusan pesan sudah terus masuk ke dalam handphonenya dari teman rusuhnya yang menanyakan bagaimana keadaannya.
Dan tampaknya di hari ketiga ini Raffan sudah mulai gerah dengan pesan-pesan yang teman-temannya itu kirimkan membuatnya pun bernafsu untuk berangkat kuliah.
"Mereka pikir kaki gue ini diamputasi, pakai tanya kaki gue masih ada apa nggak! otaknya pada setengah!" sungut Raffan sambil terpincang-pincang menuju lemari pakaian.
Dia baru saja selesai mandi dan akan memakai pakaian ketika pintu kamar di buka dan wajah lembut serta tatapan penuh cinta langsung Raffan dapatkan.
"Mas mau kemana?" tanya Deefa begitu melihat suaminya sudah memakai celana panjang robek dan akan memakai kaos serta di atas tempat tidur dia juga melihat jaket milik sang suami.
Dengan pakaian itu bukankah berarti suaminya itu akan keluar rumah kan? mau kemana? sedangkan kaki suaminya belum benar-benar sembuh terlihat dari cara jalannya masih sangat kesulitan.
"Kuliah," jawab Raffan singkat.
"Loh, memangnya sudah sembuh?"
"Memangnya aku sakit?" dengan konyolnya Raffan malah balik bertanya.
Sepertinya Deefa memang menjadi wanita pilihan dan salah satu kesayangan sang pemilik semesta karena memiliki suami yang selalu memberinya ujian di setiap tutur kata dan tingkah lakunya.
"Kaki kamu Mas, kan kata Ayah masih tidak boleh banyak bergerak," jelas Deefa.
"Tapi lebih dari satu hari kamu membuat aku terus bergerak, diminta kamu aja yang gerak malah nggak mau, alesan nggak bisa padahal mah bisa," cerocos Raffan malah melantur kearah lain membuat wajah istrinya merah padam karena ulahnya.
"Kan yang gerak bukan kaki." Deefa berusaha membela diri.
"Memangnya rubah posisi nggak pakai menggerakkan kaki?!" semprot Raffan tak mau tahu kala bibir istrinya mengerucut.
Tidak tahu kenapa saat seperti ini Raffan terlihat lebih dewasa ketimbang dirinya, pria itu sangat lebih pintar untuk urusan sensitif seperti ini membuat Deefa tidak bisa menjawab apapun lagi.
"Mas Raffan tidak suka? lain kali tidak usah minta lagi," tukas Deefa.
Raffan membelalakkan mata terkejut mendengar ucapan istrinya, ini sekedar ancaman atau memang Deefa tidak bersedia lagi melayani dirinya? mengingat selalu dirinyalah yang meminta lebih dulu, bertindak agresif pada istrinya yang pasif.
"Ya kaga begitu juga Adeefa Ranaya! gue kurung Lo ya ngomong begitu!" cecar Raffan dengan gaya bicara layaknya terhadap teman.
Deefa mengerucutkan bibirnya, wanita berusia 25 tahun ini terlihat merajuk mendengar suaminya berkata keras juga membentak dirinya.
Tidak tahu kenapa dia yang dulu begitu dewasa malah ketularan sikap Raffan bahkan rasanya sering sekali ngambek dengan pria 19 tahun itu, apa mungkin sifat mereka perlahan tertukar?
Raffan menyadari perubahan raut wajah istrinya juga pipi yang setia menggembung menunjukkan cemberutan di wajah yang biasanya akan sangat ramah pada siapapun.
Pria itupun terpincang menghampiri Deefa yang sengaja merapikan selimut padahal selimut di atas tempat tidur itu sudah terlipat rapi sejak dua jam yang lalu.
"Sensi banget sih Deef," ujar Raffan begitu berada dekat dengan wanita berkerudung peach itu.
"Sifat sensitif akan selalu ada pada setiap wanita, mau dia itu seorang wanita beriman sekalipun, dia akan tetap merajuk saat suaminya bersuara tinggi kepadanya bahkan membentak," tutur Deefa menyadarkan Raffan tentang apa yang dia perbuat barusan.
"Ya ya ya oke, aku minta maaf, mulut aku memang kayak gini harusnya kamu ngerti dong kan udah mau tiga bulan nikah udah tidur bareng juga, sifat-sifat aku kayak gimana mestinya kamu udah paham."
Meminta maaf tapinya akan selalu diiringi dengan pembelaan diri yang terlihat jelas kalau dia adalah tipe pria yang menjunjung tinggi sifat egois dan keras kepala.
__ADS_1
"Mas Raffan juga harusnya mengerti Deefa seperti apa, bagaimana pergaulan Deefa yang hanya dalam lingkup pesantren semestinya Mas Raffan tahu bahwa Deefa tidak sama dengan teman-teman wanita Mas Raffan yang lebih gaul dan mungkin akan biasa saja jika mendengar perkataan-perkataan yang tidak sesuai," papar Deefa panjang lebar memberi penjelasan yang setidaknya bisa di mengerti oleh suaminya.
Wanita itu tidak berharap Raffan mengerti semua hal tentang dirinya, tapi dari caranya berkata meminta Raffan sedikit saja mau mencoba memahami dirinya sebagai seorang wanita keluaran pesantren yang perilakunya mungkin akan sedikit berbeda dengan wanita-wanita kota.
"Kok jadi membandingkan antar wanita, menurut aku wanita ya wanita, tidak ada yang beda," sahut pria yang sudah memakai jaketnya.
"Kalau semua wanita sama lalu kenapa Ayah dan Ibu menikahkan Mas Raffan dengan Deefa? kan bisa menikahkan Mas dengan wanita yang sudah Mas kenal sebelumnya seperti mantan kekasih Mas mungkin."
Dan saat inipun Raffan mengerti arah pembicaraan dari istrinya, mengerti kalau wanita itu masih menyimpan cemburu dengan video yang kemarin dia lihat, cemburu ketika mengetahui bahwa yang bertengkar itu adalah mantan kekasihnya.
"Cemburu Deef?" Raffan mendekat lalu menunjukkan ekspresi menggoda.
Deefa yang sedari tadi sengaja melakukan kesibukan malah jadi salah tingkah lalu tergagap dengan pertanyaan dari pria yang selalu mengerjainya saat akan tidur dan ketika menjelang sholat subuh.
"Tidak," jawab Deefa mengelak namun getar suaranya tidak bisa disembunyikan kalau pertanyaan suaminya itu memang benar.
Dirinya memang cemburu, tidak suka kesal marah dan hatinya terasa panas mengingat video yang kemarin Raffan lihat.
Katakanlah kalau dia ini memang berlebihan, tapi sebagai wanita dan Raffan adalah suaminya juga satu-satunya pria yang dia sayangi juga cinta selain Ayah dan kiai Burhan, sayang antara mereka pun berbeda tidak bisa disamakan.
Dia sungguh sudah begitu menyayangi serta mencintai Raffan Alawi meski dia masih menempatkan porsi yang cukup agar tidak terlalu mencintai sesama melebihi cinta kepada Allah.
Raffan menunjukkan senyuman tak terbaca mendengar jawaban yang terlontar dari mulut istrinya.
"Kalau mau jawab itu di pikir dulu," celetuk Raffan menyentil kening Deefa yang refleks memundurkan kepalanya.
"Deefa tidak cemburu," ucap Deefa mengelus bekas yang terkena sentil sang suami.
"Mau ketemu mantan pacar juga," sambung Raffan ketika melewati pintu.
Mata Deefa mendelik lebar lalu berlari mengejar suaminya yang meskipun belum bisa berjalan tapi ternyata bisa melangkah dengan cepat juga.
Deefa menuruni anak tangga mengikuti Raffan yang sengaja tidak menghentikan langkahnya.
"Dosa membuat istri cemburu," akhirnya mengakui dengan lantang apa yang dia rasakan.
"Dosa juga berbohong sama suami, cemburu tapi nggak mau ngaku!" cerocos Raffan tak mau mengalah.
Deefa menghentikan langkahnya.
"Assalamualaikum ya zaujati."
Deefa sempat tak bisa berkutik mendengar ucapan Raffan barusan, ya zaujati? sudut bibir Deefa berkedut ingin tersenyum namun dia menahannya.
"Wa'alaikumsalam salam ya zauji."
Jawaban yang begitu lirih karena menahan gejolak hati yang seperti ingin meledak, sungguh dia seperti orang yang tidak sadar diri padahal Raffan hanya menyebutnya wahai istriku dalam bahasa Arab.
Wanita itu bahkan tidak sempat menyadari kalau mobil yang dikendarai oleh suaminya sudah keluar dari halaman dan menghilang di balik pagar yang kembali di tutup.
*****
__ADS_1
Di kampus Raffan sudah di kerumuni oleh dua orang temannya yang rusuh, Rio dan Gumay.
Keduanya terus berceloteh menceritakan hal tidak penting yang membuat Raffan mendengus berulang kali.
"Gue pikir Lo bakal cuti kuliah," sindir Gerry.
Padahal baru saja datang tapi mulutnya sudah membuat Raffan kesal.
"Dateng juga akhirnya Lo," ketus Raffan dengan wajah sinis dan kesal.
Gerry mengerutkan kening sambil duduk di bangku yang biasa dia tempati di kelas itu.
"Nungguin gue? mau kasih hadiah atau gimana nih?" celetuk Gerry penasaran.
"Mau ngasih bogem!" kata Raffan sadis.
Rio dan Gumay saling pandang lalu cengengesan membuat Gerry melihat pada keduanya.
"Lo yang ngirim video Fara sama Raisya kan?!"
Padahal tadi sudah diberitahu oleh Rio dan Gumay tapi Raffan masih saja berbasa-basi.
"Mereka juga." Gerry tahu dirinya dalam bahaya karena pasti Rio dan si ember Gumay biang keladinya.
"Mereka udah gue tampol, tinggal Lo doang!" kata Raffan bohong padahal dia tidak melakukan apapun pada Rio dan Gumay.
"Gara-gara Lo Deefa ngambek terus sama gue," Raffan sudah mengangkat kepalan tangannya.
"Ampun-ampun Raf, kaga lagi-lagi dah." meminta ampun saja ketimbang wajah tampannya bonyok oleh temannya sendiri.
"Bodo amat."
Buk!
Langsung saja meninju perut Gerry tanpa kekuatan, hanya asal tinju namun Gerry malah melakukan drama kesakitan yang sangat berlebihan.
"Aduh aduh aduh," memegangi perutnya dengan wajah yang meringis lebay.
"Gue tampol beneran nih ya?!" ancam Raffan kembali melakukan ancang-ancang.
"Iya nggak!" cetus Gerry ketakutan.
"Raffan!" seruan dari arah pintu membuat semua mata beralih melihat ke arah luar sana.
"Penggemar Lo," kelakar Gumay dengan cengiran kurang ajar mengejek Raffan yang meliriknya dengan sinis.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1